728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Friday, February 4, 2011

    Abdullah Hamba Allah

    Abdullah artinya hamba Allah

    Kita paham bahwa Abdullah artinya hamba Allah. Namun sebagian muslim  ada yang meyakini bahwa ayahanda Rasulullah, Abdullah pastilah masuk neraka karena menurut mereka ayahanda Rasulullah termasuk orang kafir.

    Kami belum bisa mengerti mengapa pemahaman seperti itu tersebar cukup luas. Pemahaman seperti itu sejalan dengan penyebar luasan keyakinan/i'tiqad "pemisahan" Allah ta'ala. Mereka memahami bahwa dzatNya bertempat di atas Arasy sedangkan Allah itu dekat dengan ilmuNya. Maha suci Allah dari "di mana" dan "bagaimana".

    I'tiqad "pemisahan" Allah, serupa dengan keyakinan orang-orang Nasrani bahwa Tuhan bertempat di surga sedangkan Yesus yang dekat dengan manusia. Selain kita membantah trinitas, kita juga paham bahwa surga adalah salah satu ciptaan Allah ta'ala dan Allah ta'ala tidak membutuhkan ciptaanNya atau Allah ta'ala tidak membutuhkan tempat.

    Ini semua akibat konsep yang kami katakan dengan konsep "terjemahkan saja". Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

    Kita harus berhati-hati dengan propaganda yang dilakukan oleh orang-orang yang telah diperingatkan bagi kita oleh Allah ta’ala yakni “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

    Untuk mudahnya orang-orang yang seperti itu kita sebut saja "Kaum SPILIS" (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme) karena sesengguhnya orang-orang Yahudi dan orang-orang musyriklah yang atas kehendak Allah ta'ala mereka menyebarkan paham-paham tsb. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

    dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/01/26/kekeliruan-pluralisme/

    dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia

    Orang-orang Nasrani adalah termasuk orang-orang yang terkena pengaruh kaum SPILIS atau orang Yahudi dan orang Musyrik. Mereka "berpura-pura" menjadi pengikut Nabi Isa as dan mereka mensesatkan orang-orang Nasrani atas kehendak Allah Azza wa Jalla. Sehingga orang-orang Nasrani tersesat dengan konsep trinitas, "pemisahan" Allah, padahal sejak Nabi Adam a.s sampai dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan tentang tauhid, atau pada hakikatnya mengajarkan Islam dan seluruh nabi telah bersyahadah.
    Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  ‘Setiap kali Allah swt. mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah swt. menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah saw. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

    Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

    Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.

    Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

    Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/

    Sayang sekali sebagian ulama/syaikh/ustadz ada pula yang terkena propaganda kaum SPILIS karena mereka menerima konsep dari kaum SPILIS yakni konsep "terjemahkan saja"

    Kalau konsep “terjemahkan saja” dapat diterima oleh saudara-saudara kita yang telah bersyahadat maka kaum SPILIS akan menyampaikan apa yang mereka pahami terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

    Jelas kaum SPILIS membaca dan memahami Al-Qur’an tanpa berwudhu dan mereka tidak akan mendapatkan karunia hikmah (pemahaman yang dalam).

    Kaum SPILIS membaca dan memahami Al-Qur’an dan Hadits untuk menumpahkan rasa kebencian mereka kepada kita.

    Kesalahan besar sebagian ulama/syaikh/ustadz itu adalah  membiarkan diri mereka (tidak disadari) "bersekutu" dengan 'kaum SPILIS.

    Kita tidak membenci orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik, karena mereka memang diciptakan oleh Allah ta'ala dengan peran yang diikuti rasa kebencian/permusuhan.

    orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )

    Kita tidak membenci mereka namun kita membenci sikap/perbuatan mereka terhadap kita, seperti penjajahan tanah Palestina

    Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

    Wassalam

    Zon di Jonggol

    *****
    Bagaimana bahayanya konsep "terjemahkan saja" sehingga sebagian muslim berkeyakinan bahwa Ayahanda Rasulullah termasuk orang kafir, diuraikan salah satunya dalam tulisan berikut ini,

    Sumber: http://www.forsansalaf.com/2009/sanggahan-orang-tua-nabi-kafir/

    Assalamualaikum
    Ana mau tanya menurut akidah habaib bagaimana hukum orang tua nabi mukmin ato musrik?

    FORSAN SALAF menjawab :

    Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :
    أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

    Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

    Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
    “اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

    Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

    Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

    Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

    Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :
    لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

    Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

    Kemudian turun ayat yang berbunyi :
    { إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

    Jawaban :

    Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab, yaitu :
    يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

    Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

    sampai ayat 129 :
    وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

    Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

    Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :
    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

    “dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

    Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

    Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :

    * Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

    الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

    Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

    Sebagian ulama’ mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.

    Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.

    * Hadits Nabi SAW :

    قال رسول الله (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

    “ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

    Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

    * Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.

    Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab ‘Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    8 comments:

    1. Artikel yang bagus pak...
      http://kasatrianstks.wordpress.com/
      mampir di blog kami...barangkali bisa tukar link dan tukar artikel juga mengikat tali silaturrahmi...

      ingin banyak yang mengunjungi blog mu?!
      coba buka link ini:
      http://kasatrianstks.wordpress.com/2011/02/05/pengen-traffic-pengunjung-blogmu-kuenceng-abizz-buktikan-disini/

      ReplyDelete
    2. Alhamdulillah.
      Terima kasih atas kunjungannya, kalau memang bagus menurut antum, tolong bantu kami menyebar luaskan blog ini , seluas-luasnya , namun tentu dengan cara-cara yang dicintai Allah Azza wa Jalla

      ReplyDelete
    3. bukannya banyak orang2 'sipilis' yg bcokol di organisasi NU pak, semacam ulil absar abdala dan gerombolan yg sepemikiran dgannya, juga pemikiran2 gusdur dulu..?

      ReplyDelete
    4. kok tiba2 larinya ke 'wahabi' ya.., katanya tidak benci.. Tapi gk tahu ada apa dgn komen saya tiba2 larinya ke wahabi..

      ReplyDelete
    5. Kami tidak mengatakan bahwa antum berpemahaman wahhabi. Kami sekedar menjelaskan bahwa "tercemar" pemahaman kaum SPILIS tidak saja di kalangan organisasi NU. Sejauh ini "kurikulum" organisasi di NU , sejauh yang kami tahu belum tercemar namun baru sebatas orangnya saja yang berpemahaman SPILIS.

      Kebetulan saat ini masalah yang sangat serius bagaimana tercemarnya kurikulum pendidikan/pengajaran di wilayah kerajaan dinasti Saudi karena kita tahu bahwa tadinya kiblat ilmu adalah kepada ulama-ulama di wilayah dua tanah suci namun saat kini perlu dikaji ulang.

      Insyallah kami tidak pernah membenci kaum Wahhabi apalagi mereka adalah saudara kita yang sama-sama telah bersyahadat. Pada hakikatnya keberadaan pemahaman Wahhabi adalah kehendak Allah ta'ala. Pada prinsipnya ikhtilaf adalah kehendak Allah. Perihal ini sudah diperlihatkan bagaimana Allah Azza wa Jalla mengizinkan muslim dengan berbagai pemahaman untuk menunaikan ibadah haji. Allah Azza wa Jalla telah mempersiapkan agar tidak terjadi perselisihan atau pertengkaran karena perbedaan pemahaman dengan larangan untuk berselisih/bertengkar selama ibadah haji.

      ReplyDelete
    6. Sipilis memang penyakit berbahaya...

      ReplyDelete
    7. Bukan mas, tapi SPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme)

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Abdullah Hamba Allah Rating: 5 Reviewed By: Jass
    Scroll to Top