728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Thursday, March 18, 2021

    Maaf Mereka Semakin Mirip Dengan Khawarij

     

    Maaf, mereka semakin mirip dengan khawarij

    Pada zaman kekhalifahan Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib r.a terjadi perpecahan besar dalam umat Islam
    Bermula  dari golongan yang tidak setuju dengan sikap Sayyidina Ali ra yang  menerima arbritase / tahkim dalam perang Shiffin sebagai jalan untuk  menyelesaikan persengketaan tentang khilafah dengan Muawiy…ah Ibnu Abi  Sufyan.

    Golongan inilah yang kemudian dinamakan sebagai  kaum Khawarij, yang dalam bahasa arab berarti keluar,  yakni keluar  dari barisan Sayyidina Ali ra dan Muawiyah ra yang tidak menyelesaikan  perkara dengan hukum Allah.
    Setelah menyatakan keluar dari  barisan, Abdullah Ibn Wahb Al Rasyidi dijadikan Imam mereka, mengganti  Ali, khalifah keempat. Perlawanan kepada Ali pun terjadi, namun mereka  mengalami kekalahan. Tetapi, pada akhirnya, mereka berhasil membunuh Ali  melalui tangan Abdul Rahman Ibnu Muljam.

    Kaum Khawarij  menuduh kafir para pendukung Ali dan juga Muawiyah yang menerima  arbritase sebagai jalan penyelesaian masalah. Sebab, Al-Qur’an jelas  menyatakan bahwa “Barang siapa yang membuat keputusan hukum dengan selain yang diturunkan Allah, maka ia adalah kafir” (Al-Maidah: 44). Ayat itulah yang akhirnya memunculkan semboyan La Hukma Illa Lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah) yang menjadi pegangan perjuangan mereka.

    Jadi, kalau  khawarij semboyannya “La hukma illa lillah”, “tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah”.
    Hukum Allah yang dipahami oleh kaum khawarij yang “keluar”  (berbeda) dari pemahaman   Imam Sayyidina Ali ra

    Sedangkan mereka semboyannya “tidak ada pemahaman yang benar melainkan pemahaman Salafush Sholeh”
    Pemahaman  Salafush Sholeh yang dimaksud mereka adalah pemahaman (kaum) mereka  terhadap lafazh / nash / tulisan ulama Salaf yang sholeh,  yang mana  pemahaman mereka bisa benar dan bisa pula salah dan kenyataannya  pemahaman merekapun sering  “keluar” (berbeda) dari pemahaman as-sawaad al-a’zhom (jama’ah kaum muslimin yang terbanyak)

    Kita  bisa saksikan bahwa apa yang mereka katakan sebagai bid’ah dlolalah  pada hakikatnya bukan perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat.  Contoh, berdzikir menggunakan tasbeh, sholat menggunakan sajadah,  peringatan Maulid maupun Isra Mi’raj, sholawat Nariyah, sholawat Badar,  ratib Al Haddad adalah bukan termasuk amal ketaatan atau perkara syariat  namun sesuatu yang baik atau perkara kebaikan atau amal kebaikan (amal  sholeh). Hal ini telah kami jelaskan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/15/bidah-dan-ibadah/ dan  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/08/2011/07/10/baru-tidak-tertolak/

    Beberapa contoh lain
    Mereka  berpendapat bel/lonceng sebagai tanda masuk disekolah-sekolah negeri  ini telah menyalahi Sunnah Rasulullah karena menyerupai kaum non muslim  atau kaum kafir.
    Mereka berpendapat upacara bendera disekolah-sekolah telah menyalahi atau dapat mengganggu ketauhidan.
    Berdzikir menggunakan tasbeh menyalahi Sunnah Rasulullah
    Ada  juga yang berpendapat jangan mempergunakan sajadah, kita wajib kembali  sholat di atas tanah  sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam dan pendapat-pendapat mereka lainnya yang  pada hakikatnya tidak terkait perkara syariat.
    Pendapat-pendapat mereka menyelisihi atau “keluar” dari pendapat jumhur ulama.
    Mereka  mengada-ada dalam perkara larangan yang tidak pernah disampaikan oleh  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau tidak ada hadits Rasulullah  yang maknanya sesuai dengan apa yang mereka maknai sebagai dasar  larangan. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/04/hati-hati-beristinbath/

    Perkara  syariat adalah perkara yang meliputi kewajiban, batas (larangan) dan  pengharaman yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya dan  Allah ta’ala tidak lupa.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya  Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan  dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas (larangan), maka jangan  kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu  pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai  tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu  perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

    Perkara syariat atau KetetapanNya berlaku dari sejak Nabi Adam a.s sampai dengan akhir zaman nanti.
    Perkara syariat atau ketetapanNya telah dirampungkan pada zaman Nabi terakhir, sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
    Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Pada  hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan  kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” ( QS Al Maaidah [5]:3 )

    Yang  dimaksud “agama“, “dalam agama“, “perkara syariat“, “urusan kami”  adalah amal ketaatan atau segala perkara kewajiban, larangan dan  pengharaman yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sejak Nabi  Adam a.s dan telah sempurna pada masa Rasulullah shallallahu alaihi  wasallam.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,  “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan  menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath  Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
    Makna “mendekatkan kamu dari surga” adalah perkara kewajiban
    Makna “menjauhkanmu dari neraka” adalah perkara larangan dan pengharaman

    Jadi perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (yang artinya):
    “Barang  siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum  pernah ada, maka ia tertolak “. (HR. Bukhari Muslim)
    Makna  “mengada-adakan satu perkara (dalam agama)” adalah mengada-ada dalam  amal ketaatan atau mengada-ada dalam perkara kewajiban, larangan dan  pengharaman yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla untuk menetapkannya.
    Jika  ulama hendak menetapkan atau berfatwa sehubungan perkara kewajiban,  larangan dan pengharaman maka wajib mengikuti atau “turunan” dari apa  yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan.
    Jika ulama menetapkan  atau berfatwa dalam perkara amal ketaatan tanpa dalil dari Al Qur’an dan  Hadits maka jelaslah mereka terperosok atau terjerumus dalam bid’ah  dlolalah. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/04/terjerumus-bidah/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/05/membuat-perkara-baru/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/07/bidah-dalam-larangan/

    Sedangkan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (yang artinya)
    Barang siapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama) maka ia tertolak“.
    “Dalam agama” atau amal ketaatan , hukum dasarnya adalah haram sampai dengan ada dalil yang memerintahkan.
    Perbuatan diluar amal ketaatan , hukum dasarnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya.

    Jika  perbuatan diluar amal ketaatan sesuai atau tidak bertentangan dengan Al  Qur’an dan Hadits maka disebut amal kebaikan (amal sholeh)

    Amal  ketaatan (perkara menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya)  hanya berlaku dan diperhitungkan sepanjang nyawa dikandung badan atau  selama kita hidup. Sedangkan amal kebaikan (amal sholeh) adalah berlaku  jauh lebih lama daripada amal ketaatan.
    Firman Allah ta’ala yang artinya,
    “Dan  Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat  petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di  sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya”. ( QS Maryam [19]:76 )
    Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/20/perkara-dalam-agama/  dan  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/21/terkait-dengan-agama/

    Sekali  lagi kami ingatkan, perkara baru diluar amal ketaatan atau diluar  perkara syariat,  tidak terkait dengan dicontohkan atau tidak  dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.  Cara  menetapkan hukum atas perkara baru diluar amal ketaatan atau diluar  perkara syariat landasannya adalah Al Qur’an dan Hadits.  Jika  bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits maka termasuk amal keburukan  atau bid’ah dlolalah. Jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan  Hadits maka termasuk amal kebaikan (amal sholeh) atau bid’ah mahmudah  sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syafi’i ketika beliau menjelaskan  perkara baru dalam kebaikan yang artinya,
    Apa yang baru  terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau  ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang  baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal  tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)

    Jadi  tidak seluruh yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi  wasallam maupun para Sahabat adalah perkara yang tertolak. Hal ini  telah kami sampaikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/10/baru-tidak-tertolak/

    Pada  hakikatnya Imam Mazhab yang empat telah menguraikan hampir seluruh  perkara syariat atau amal ketaatan dalam kitab-kitab fikih. Namun mereka  telah menyelisihi apa yang telah disampaikan oleh para Imam Mazhab  karena mereka memperturutkan pemahaman mereka sendiri berdasarkan  akal/ra’yu/rasio mereka sendiri. Hal ini telah kami sampaikan dalam  tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/

    Sehingga  mereka “keluar” dari pemahaman jumhur ulama sebagaimana yang telah kami  sampaikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/28/keluar-dari-keumuman/

    Hal  ini ditengarai terjadi karena mereka terkena pengaruh (ghazwul fikri)  pusat-pusat kajian Islam yang didirikan oleh kaum non muslim seperti  kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan  pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/10/2011/06/24/perang-melalui-pemahaman/

    Bahkan  di negeri di mana berada dua tanah suci  mereka menyusun kurikulum  pendidikan bekerjasama dengan kaum non muslim, khususnya Amerika yang  dibelakang mereka adalah kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang telah kami  sampaikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

    Lihatlah  ghazwul fikri yang dilancarkan oleh kaum non muslim,  khususnya Amerika  yang dibelakang mereka adalah kaum Zionis Yahudi  telah berhasil  mempengaruhi mereka bahwa tidak masalah bekerjasama dengan Amerika   selama terikat dalam perjanjian walaupun telah jelas bahwa Amerika  mendukung dan membantu Yahudi Israel menjajah tanah/negeri saudara  muslim kita bangsa Palestina.  Hal ini telah kami sampaikan dalam  tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/30/pengganggu-ukhuwah-islamiyah/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/16/ingin-menjadi-tuhan/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/18/paham-individualisme/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/09/butuh-fatwa-ulama/

    Kaum  Khawarij pun memperlakuan baik kaum ahli kitab yang meminta  perlindungan mereka dan memperlakukan keras kepada kaum muslim yang  menurut pemahaman mereka telah menyelisihi hukum Allah. Bahkan mereka  membunuh Imam Sayyidina Ali ra yang kita tahu pemahaman Beliau  terhadap  Al Qur’an dan Hadits jauh lebih baik dibandingkan pemahaman kaum  khawarij. Hal ini ditengarai terjadi pula pada mereka, mereka keras  terhadap kaum muslim yang sudah taat mengerjakan sholat, melaksakan  kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang  diharamkan-Nya, menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan  syi’ar-syi’ar-Nya. Bahkan mereka membunuh saudara-saudara muslim yang  tidak sesuai dengan pemahaman mereka sebagaimana yang disampaikan  pada
    http://www.facebook.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629
    http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html
    http://oase.kompas.com/read/2011/07/08/0537412/Menyingkap.Sisi.Gelap.Gerakan.Wahabi atau
    http://zulfiifani.wordpress.com/2011/03/09/review-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

    Semoga  saudara-saudara muslim kita,  baik yang berada di wilayah dua tanah  suci berada  kembali bermazhab ketimbang mengikuti pemahaman ulama Ibnu  Taimiyah atau ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang kerap salah pikir  (fikr) atau salah paham. Pada zaman sekarang ini sangat sukar untuk  memenuhi syarat-syarat sebagai Imam Mujtahid karena tidak seluruh hadits  telah dibukukan dan terlebih pada zaman sekarang ada ditemukan  pemalsuan kitab-kitab karya ulama klasik  sebagaimana yang disampaikan  pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/23/pemalsuan-kitab/ dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/23/2011/03/11/al-ibanah/
    Juga banyak kitab-kitab imam mazhab yang telah ditahrif oleh mereka yang bukan pengikut mazhab.

    Dr. Said Ramadhan Al-Buthy setelah berdialog dengan Al Albani menuliskan kitab berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah.  Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah :  Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat  Islam.

    Kita sudah melihat adanya perbedaan pemahaman  terhadap Al Qur’an dan Hadits atau bahkan telah terjadi perselisihan di  mana-mana.  Jika kita ingin termasuk ke dalam kaum Ahlussunnah wal  Jama’ah maka kita wajib mengikuti sunnah Rasulullah untuk mengikuti as-sawaad al-a’zhom (jama’ah kaum muslimin yang terbanyak)
    Rasulullah bersabda “Sesungguhnya  umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila  kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas  (as-sawad al a’zham).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at  Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam  Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

    Jama’ah kaum muslimin yang terbanyak (as-sawaad al-a’zhom) adalah  kaum muslim yang mengikuti Imam Mazhab yang empat, para Imam yang  mempunyai kompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Imam Mazhab yang  empat  melihat langsung bagaimana implementasi dari pemahaman Salafush  Sholeh bukan mereka yang mengetahui pemahaman Salafush Sholeh dari  membolak-balik kitab dan memahaminya dengan ra’yu/akal/rasio mereka  sendiri.

    Sebaiknya jangan mengikuti ulama yang  memahami Al Qur’an dan Hadits dengan ra’yu/akal/rasio sendiri atau  mereka yang lebih bersandar kepada pemahaman secara ilmiah atau secara  harfiah atau pemahaman secara apa yang tertulis atau pemahaman yang  “tidak melewati kerongkongan” atau  pemahaman dengan metodologi  “terjemahkan saja” sebagaimana yang telah kami sampaikan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

    Pemahaman  yang “tidak melewati kerongkongan” besar kemungkinan akan menyelisihi  pemahaman Salafush Sholeh maupun pemahaman Rasulullah shallallahu alaihi  wasallam sendiri
    Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami,  Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu  Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said  Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah,  sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang),  dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani  Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!”  Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat  adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi  kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku,  wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan  saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara  kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau  dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya  dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak  sampai melewati tenggorokan mereka……

    Pemahaman  yang melewati kerongkongan tidak akan pernah dicapai oleh kaum non  muslim seperti kaum Zionis Yahudi yang mendirikan pusat-pusat kajian  Islam  karena mereka tentu tidak dikehendaki Allah Azza wa Jalla. Setiap  manusia yang menolak atau berpaling dari syahadat  atau mendustakan  ayat-ayat Nya pastilah Allah Azza wa Jalla akan mensesatkan mereka lebih  lanjut.
    Firman Allah ta’ala yanga rtinya,
    Dan  orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan  berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah  (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya . Dan barangsiapa yang  dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia  menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus”.(  QS Al-An’am [6] : 39 )

    Seluruh  manusia yang mengaku mengikuti ahli kitab , setelah kedatangan  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan  mereka mengenal   Nabi  Muhammad Shallallahu alaihi seperti mereka mengenal anak mereka sendiri  namun mereka berpaling maka mereka tidak lagi  termasuk orang-orang  beriman
    Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri  Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal  anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka  menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )
    Ataukah  kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim,  Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi  atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah,  dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah  yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )
    Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/
    Dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

    Pemahaman  yang melewati kerongkangan adalah pemahaman secara hikmah atau   pemahaman yang dalam atau pemahaman dengan hati atau mengambil pelajaran  sebagaimana Ulil Albab.

    Ulil Albab dengan ciri utamanya adalah,
    “(yaitu)  orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam  keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan  bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini  dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa  neraka” (Ali Imran [3] : 191)
    Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah  menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan  As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang  dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang  banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman  Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )

    Ulil Albab  melakukan ta’wil atau tafwid dalam rangka mengambil pelajaran atau  hikmah dari firman Allah Azza wa Jalla namun mereka tidak “mencari-cari”  takwil. Hal ini dibenarkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya  yang artinya, “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )

    Selengkapnya,
    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu.
    Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.
    Adapun  orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka  mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk  menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang  mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.
    Dan orang-orang  yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang  mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”
    Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab“. (QS Ali Imron [3]:7 )

    Wassalam
    Next
    This is the most recent post.
    Older Post
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Maaf Mereka Semakin Mirip Dengan Khawarij Rating: 5 Reviewed By: Jass
    Scroll to Top