Bid’ah dalam larangan

Bid’ah dalam larangan

190
2
SHARE

Mereka membuat larangan bertawasul dengan orang sholeh yang sudah wafat

Mereka berdiskusi pada note kami http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150253178209817 dan salah satu komentar, mereka menyampaikan larangan bertawassul dengan orang yang telah wafat. Orang yang telah wafat disini adalah orang-orang sholeh karena kita boleh bertawasul dengan 4 golongan manusia disisi Allah Azza wa Jalla yakni, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.

Larangan bertawasul dengan orang sholeh yang sudah wafat tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka membuat perkara baru dalam batas atau larangan yang tidak ada dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits. Ini adalah perkara baru (bid’ah) yang dlolalah yakni perkaran baru dalam kewajiban, batas/larangan dan pengharaman. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan sebelumnya pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/05/membuat-perkara-baru/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/04/terjerumus-bidah/

Mungkin bagi pemahaman mereka bertawasul dengan orang sholeh yang sudah wafat adalah meminta pertolongan kepada orang sholeh yang sudah wafat. Padahal kita, kaum muslim sudah paham, bahkan yang awam pun paham bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana firmanNya, wa-iyyaaka nasta’iin, “dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan“.

Bertawasul adalah bagian dari akhlak, adab dalam berdoa.

Bertawasul pada hakikatnya adalah penghormatan, pengakuan keutamaan derajat mereka (yang ditawasulkan) di sisi Allah Azza wa Jalla dan rasa syukur kita akan peran mereka menyiarkan agama Islam sehingga kita dapat mendapatkan ni’mat Iman dan ni’mat Islam.

Bertawasul yang paling sederhana adalah dengan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.

Bertawasul yang lain adalah sebelum berdoa meng”hadiah”kan bacaan al fatihah untuk orang-orang sholeh umumnya untuk yang telah wafat. Ini termasuk bertawasul dengan amal kebaikan/sholeh kita.

Hadits riwayat ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, bahwa Rasulullah menyebutkan dalam doanya (bertawasul dengan para nabi): “Dengan haq NabiMu dan para Nabi-Nabi sebelumku

Allah ta’ala saja mengutamakan mereka disisiNya, bagaimana kita sebagai hamba Allah ta’ala tidak mau mengakui keutamaan mereka ?

Sungguh barang siapa mengakui hak wasilah (perantara) dan keutamaan Rasulullah , maka ia berhak mendapatkan syafa’at Beliau pada hari kiamat.

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Abu Hamzah dari Muhammad Al Munkadir dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berdo’a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA’IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA’ADTAH (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan) ‘. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR Bukhari)
http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=12&action=display&option=com_bukhari

Kitapun tanpa disadari telah bertawasul dengan orang-orang sholeh atau bersholawat kepada orang-orang sholeh setiap hari dengan mengucapkan, Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, “Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

Para Sahabat menyampaikan bahwa “sesungguhnya jika kita mengucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit maupun di bumi“. Perkataan ini dilukiskan dalam hadits pada
http://www.indoquran.com/index.php?surano=60&ayatno=25&action=display&option=com_bukhari

Hamba-hamba shalih yang di langit adalah hamba-hamba shalih yang secara dzahir sudah wafat namun mereka hidup di sisi Allah Azza wa Jalla sebagaimana para Syuhada, sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla yang artinya.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan(sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Jadi pada hakikat bertawasul dengan mereka yang disisi Allah ta’ala tidak ada bedanya ketika mereka hidup maupun telah wafat karena mereka tetap hidup di sisi Allah Azza wa Jalla. Begitupula dengan manusia yang paling utama dan paling mulia yakni Nabi kita Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, beliau tetap hidup di sisi Allah Azza wa Jalla.
Hal ini telah kami sampaikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/rasulullah-hidup/

Bahkan Ulama Ibnu Taimiyah berkomentar dalam kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu:
Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yg dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian sahabat bahwa telah diperintahkan kepada orang2 yang punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kepada nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rosulullah) kemudian mereka bertawasul kpd Rosulullah dan hajat mereka terkabul, demikian diriwayatkan al-Thabary

Sekali lagi kami ingatkan bahwa orang-orang yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla yakni para Nabi, para Shiddiqin , para Syuhada dan orang sholeh-sholeh walaupun mereka secara dzhahir telah wafat namun mereka hidup dan ditempatkan oleh Allah Azza wa Jalla ditempat/kedudukan (maqom) yang dikehendakiNya

Anas bin Malik berkata, “Lalu dia menyebutkan bahwa dia mendapati pada langit-langit tersebut Adam, Idris, Isa, Musa, dan Ibrahim -semoga keselamatan terlimpahkan kepada mereka semuanya- dan dia tidak menyebutkan secara pasti bagaimana kedudukan mereka, hanya saja dia menyebutkan bahwa beliau menjumpai Adam di langit dunia, dan Ibrahim di langit keenam.” (HR Muslim)
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=229&action=display&option=com_muslim

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. ( QS Al Hujurat [49]:13 )

Tentulah tempat/kedudukan (maqom) yang paling mulia, paling dekat, di sisi Allah Azza wa Jalla adalah manusia yang paling mulia, sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Dekat disini jangan diartikan sebagai jarak namun dekat kaitan dengan hati atau ruhani karena Allah Azza wa Jalla , dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak.

Pemahaman dan keyakinan bahwa walaupun mereka telah wafat seperti Rasulullah dan para Nabi, para Shiddiqn, para Syuhada, orang-orang sholeh, mereka tetap hidup sebagaimana yang telah difirmankan Allah ta’ala dalam (QS Al Baqarah [2]: 154 ) dan (QS Ali Imran [3]: 169) , agak sukar dipahami dan diyakini oleh mereka dengan pemahaman secara dzahir , harfiah, atau pemahaman sebagaimana apa yang tertulis/tersurat atau yang kami katakan pemahaman denga metodologi terjemahkan saja sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/23/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Padahal pemahaman Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman secara dzahir atau harfiah, besar kemungkinan akan terjerumus dalam kekufuran i’tiqad atau aqidah, khususnya dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat.

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, betempat), ia kafir secara pasti.

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan:
Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri
Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Tulisan ini adalah tentang tasawuf, tentang akhlak atau tentang Ihsan atau bagaimana kita menjadi muslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin atau sholihin. Sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak. Dari manusia jahilyah menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Parameter orang yang telah beragama dengan baik dan benar adalah mereka yang berakhlakul kharimah , mereka yang berakhlak baik, mereka yang Ihsan, mereka yang selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita atau yang terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan.

Firman Allah Azza wa Jalla terkait dengan tasawuf dalam Islam atau hati untuk memandang, mendengar dan melangkah menuju kepadaNya,

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra [17]: 72 )

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. ” (QS Al Hajj [22]:46 )

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).” (QS Ar Ruum [30]:53 )

Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? ” (QS Az Zukhruf [43]:40 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830