Mukhlis

Mukhlis

386
0
SHARE

Tulisan sang Budayawan Banyumas.

Artikel jernih Mas Mohamad Sobary ini lama sekali mengendap di laptop , dan hari ini ia hadir di ingatan sekaligus meminta untuk di share, semoga bermanfaat sebagai renungan di waktu puasa.

*MUKHLIS*

Pemuda kurus, tinggi dan agak pucat, dan kelihatan lemah tapi baik hati dan sopan santun pada siapa pun, yang selama ini menjadi imam masjid kami dan menjadi guru ngaji anak-anak di kompleks perumahan kami itu, tiba-tiba lenyap bagai ditelan Bumi. Tak seorang pun tahu ke mana ia pergi, tak sepatah kata pun pesan ditinggalkan pada RT, RW, atau pengurus masjid yang selama ini memberinya tumpangan tempat tinggal.

Memanga ia bukan penumpang gratis. Sebaliknya, ia memberi kami lebih banyak dari yang ia peroleh. Kecuali menjadi imam masjid dan guru ngaji anak-anak, ia juga guru kami. Pemuda inilah yang mengajari kami tahlilan, membaca doa, menyanyikan pujian, salawat, dan yasinan dan ritus-ritus lain. Ia kami kagumi karena kesalehannya.

Kompleks perumahan kami dihuni kaum terpelajar, orang kota, modern, maju, pegawai kantoran, punya status terhormat, dan makmur tapi tak satu pun bisa membaca kitab suci Al Quran. Tak seorang pun, ibaratnya, bisa membedakan
huruf ‘alif’ sebesar tugu Monas, dan ‘ba’ selebar danau Singkarak. Kalau ada yasinan, semua mencoba memegang kitab, dan kalau orang sebelahnya membalik halaman berikutnya. mereka pun mengikuti, sambil komat-kamit, se-olah2 bisa membaca. Ada yang memakai pici, dan bahkan surban, se-olah2 ia kiai keren.

Hilangnya anak in membuat kami mati kutu, dan tak bisa lagi berbuat serba seolah-olah seperti tadi. Kami lalu sibuk mencari. Mustahil kalau ia hilang beneran dan tak bisa ditemukan. Sebanyak itu penghuni, mustahil tak bisa menemukannya. Dan memang mustahil, karena tiba-tiba – ini yang membuat banyak pihak “shock” kaget, dan diam-diam kami kagumi itu ditemukan mabuk-mabukan dan ditangkap polisi bersama segerombolan pemuda anggota “Panguci”: Paguyuban Ngunjuk Ciu, alias rombongan peminum serius.

“Edan, ternyata kita tertipu,” kata seseorang.

Kekecewaan pun menggumpal dihati seluruh penduduk kompleks. Orang-orang yang cepat memuja, cepat memuji, cepat kagum, cepat terpesona, di mana-mana, akhirnya menemui kegetiran dan ironi hidup: mereka cepat pula kecewa.

“Salah kalian sendiri,” pikir saya.

Suatu hari, ia kembali ke masyarakat tapi tak seorang pun menegurnya. Ia juga tidak lagi dijadikan imam, atau guru ngaji. Ia disingkang-singkang oleh mantan para pemujanya. Dan ia tampak tak gusar menghadapi perubahan sikap ini. Ia-seperti dulu- tetap tenang. Bahkan ia masih tenang-tenang ketika dilarang tinggal di kamar khusus yang dulu disediakan untuknya. Maka, ia pun tidur di serambi seperti -maaf- kere tidur di emper toko.

Saya dekati ia dengan cara khusus. Saya bawa ia pada suatu malam, ketika tak seorangpun tahu, ke rumah saya. Kami lalu dialog perkara hidup. Hakikat dan inti ibadah ia paparkan. Ia mengajari saya tindakan ikhlas, lahir batin, tanpa pamrih. Orang ikhlas, dalam bahasa dia, disebut mukhlis.

“Saya ingin menjadi mukhlis tapi gagal. Di sini orang memuji-muji saya, dan diam-diam saya senang. Lama-lama, saya ngaji, shalat, berdoa, berzikir, buat memperteguh citra bahwa saya saleh. Saya shalat bukan menyembah Allah, tapi menyembah citra diri saya, dan kepentingan saya. Dan ini bukan tindakan ikhlas. Saya bukan sorang mukhlis. Saya takut pada Allah. Saya tinggalkan Rumah-Nya. Saya mabuk-mabukan, dan baru kemudian, di tengah caci maki orang banyak, saya temukan kedamaian. Baru tadi saya sholat buat Allah, menyembah Allah dan bukan meyembah citra diri….”

“Edan,” pikir saya. Setua ini belum pernah saya punya kesadaran macam itu. Dan bocah ini memilikinya. Saya malu. Malu sekali pada diri sendiri. Ia memberi saya banyak pelajaran. Ia memang guru. Guru sejati. Dia guru kehidupan. (Copqs dari sebelah)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY