Sanad Ilmu

Sanad Ilmu

135
0
SHARE

Yang membuat umat terpecah belah pada zaman sekarang karena kesalahpahaman-kesalahpahaman diantaranya tentang bid’ah , tauhid jadi tiga, kekufuran i’tiqod , tentang tasawuf dan kesalahpahaman lainnya

Dahulu para Sahabat memahami tentang bid’ah bertanya langsung dengan Rasulullah bukan membaca kitab. Begitu juga dengan Tabi’in, mereka bertanya langsung kepada pada Sahabat. Begitu pula dengan Tabi’ut Tabi’in, mereka bertanya langsung dengan Tabi’in.

IlmuNya mengalir dari lisan ke lisan , inilah yang dinamakan sanad ilmu atau sanad guru. Ulama jaman sekarang ada yang belajar secara otodidak sehingga pemahaman mereka bercampur dengan ra’yu atau akal mereka sendiri bahkan bercampur dengan kepentingan atau hawa nafsu. Pada hakikatnya segala yang memperturutkan hawa nafsu adalah kesesatan. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan sebelumnya tentang bid’ah dlolalah atau bid’ah yang memperturutkan hawa nafsu pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/03/bentuk-penyembahan/

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya “…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )

Imam Syafi’i ~rahimullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Banyak dari kita salah memahami perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=42&ayatno=124&action=display&option=com_bukhari

Hakikat hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.

Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami sendiri namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “mendengar” firman Allah Azza wa Jalla melalui malaikat Jibril. Selanjutnya ilmuNya mengalir dari lisan ke lisan orang-orang sholeh yang taat kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya. Itulah yang hakikat makna “Kami dengar dan kami taat”.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY