Tinggal di tempat yang lebih dekat dengan Tuhan

Tinggal di tempat yang lebih dekat dengan Tuhan

715
0
SHARE

Ada sebuah tawaran yang menarik bagi mereka yang berkeyakinan (beri’tiqod) bahwa Tuhan berada di atas langit di atas Arsy dalam pengertian “di atas” adalah arah atas dan segala sesuatu atau segala makhlukNya berada di arah bawah dari Tuhan

Tawarannya adalah tinggal di arah atas daripada planet bumi yakni planet mars sehingga “lebih dekat” dengan Tuhan yang mereka yakini

http://www.tempo.co/read/news/2013/04/22/061474940/Berminat-Tiket-untuk-Tinggal-di-Mars-Mulai-Dijual

tinggal di marsMars One, sebuah perusahaan dari Belanda akan menawarkan tiket sekali jalan ke planet mars tidak termasuk tiket pulang karena kepulangan kembali ke Bumi “tidak dapat diantisipasi atau diharapkan”

Roket menuju planet mars, meluncur ke arah atas.

Pada saat matahari terbenam (arah bawah) maka planet mars berada di arah atas karena jarak planet mars (228 juta km) berdasarkan jaraknya dari matahari lebih jauh dari planet bumi (150 juta km)

Sebagaimana pula informasi yang dapat kita ketahui contohnya dari http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=1942

***** awal kutipa ***** Bosscha memang sengaja membuka kawasan ini bagi pengunjung yang ingin ikut serta menyaksikan Planet Mars. Mereka bisa melihat jelas melalui teleskop. “Dengan membayar tiket Rp 10 ribu, pengunjung ikut jadi saksi fenomena alam yang terjadi 60 ribu tahun sekali,” ujar Cucu, salah satu panitia.

Khusus untuk menyaksikan Mars, Bosscha dibuka sejak Rabu (27/8) hingga Jumat (29/8). Sehari, panitia membuka tiga sesi yaitu jam 19.00 – 21.00, 21.00 – 23.00, dan 23.00 – 01.00. “Minat masyarakat untuk menyaksikan Mars sangat besar. Tiket sudah habis sejak jam 18.00,” lanjut Cucu.

Planet Mars purnama kali ini memang sangat istimewa. “Beruntung sekali Indonesia yang terletak di sebelah selatan. Sebab, Mars saat ini berada di langit sebelah selatan dengan jarak terdekatnya pada bumi. Biasanya Mars berada pada jarak 150 juta km dari bumi, sekarang hanya berjarak 55 juta km. Jarak terdekat ini hanya akan terulang sekitar 250 tahun lagi,” ujar Hakim Luthfi Malasan, seorang dosen Jurusan Astronomi ITB Bandung. ***** akhir kutipan *****

Mereka mengatakan bahwa Tuhan berada di atas langit di atas Arsy dalam pengertian “di atas” adalah arah atas dan segala sesuatu atau segala makhlukNya berada di arah bawah dari Tuhan

Sayyidina Ali bin Abu Thalib karamallahu wajhu berkata “Allah ta’ala wujud (ada) dan tiada tempat baginya. Dia sekarang ada pada apa yang sejak dahulu ada (Al Bahdadu. Al Farqu Bainal Firaq 1/321)

Imam Abu Hanifah pernah ditanya, “apakah engkau tahu apabila engkau ditanya: “Di manakah Allah?” Ia menjawab, “Allah ta’ala wujud (ada) dan tiada tempat bagiNya sebelum Dia menciptakan makhluk. Allah ta’ala wujud dan Dia tidak bertempat di manapun, tidak dicptakan dan tidak pula menyerupai apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu (Rasaa’il , Abu Hanifah , halaman 25)

Imam Syafi’i berkata “Sesungguhnya Allah ta’ala wujud (ada) dan tiada tempat (ruang) bagiNya. Dialah yang menciptakan tempat ketika Dia ada pada sifat azaliyah-Nya , seperti halnya ketika Dia sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagiNya perubahan terhadap DzatNya sendiri begitupula mustahil penggantian terhadap sifatNya. (Az Zabidi , ithaafu saadatil muttaqim 2/24)

Senada dengan itu, Imam ath Thahawi dalam kitabnya Aqiidah ath Thaahawiyah berkata “Barangsiapa yang enggan (tidak mau) menafikan sifat makhluk kepada Allah atau menyamakan-Nya dengan sifat makhluk, maka ia telah sesat dan tidak melakukan tanzih (mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk). Karena sesungguhny Tuhan kami yang Maha Agung dan Maha Mulia itu disifati dengan sifat-sifat wahdaniyyah (tunggal) dan fardaniyyah (kesendirian). Hal ini artinya, tidak ada satupun makhluk yang menyamaiNya. Maha Suci Allah dari segala macam batasan, tujuan, pilar, anggota dan aneka benda. Allah ta’ala tidak butuh enam arah seperti halnya makhluk ( Abu Ja’far Ahmad bin Salamah Ath Thahawi , Aqidah Ath Thahaawiyyah halaman 26)

Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu, Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atasMu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawahMu”. (HR Muslim 4888)

Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat.

Al-Imâm Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya berjudul Ihya’ Ulumiddin, pada jilid pertama menuliskan bab khusus tentang penjelasan akidah mayoritas umat Islam; akidah Ahlussunnah, yaitu pada bagian Qawa’id al-Aqa’id. Di antara yang beliau tulis adalah sebagai berikut:

“Allah Maha suci dari diliputi oleh tempat, sebagaimana Dia maha suci untuk dibatasi oleh waktu dan zaman. Dia ada tanpa permulaan, tanpa tempat, dan tanpa zaman, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat dan arah) ada seperti sediakala tanpa tempat dan dan tanpa arah” (Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 108).

Pada bagian lain dari kitab tersebut al-Imâm al-Ghazali menuliskan:

“Pokok ke empat; Adalah mengetahui bahwa Allah bukan benda yang memiliki tempat. Dia maha suci dari dibatasi oleh tempat. Argumen atas ini adalah bahwa setiap benda itu pasti memiliki tempat, dengan demikian ia membutuhkan kepada yang mengkhususkannya dalam tempat tersebut. Juga sesuatu yang bertempat itu tidak lepas dari dua keadaan; menetap pada tempatnya tersebut atau bergerak pindah dari satu tempat ke tempat alinnya. Dan kedua sifat ini jelas merupakan sifat-sifat dari sesuatu yang baharu. Dan sesuatu yang tidak lepas dari kebaharuan maka berarti sesuatu tersebut adalah sesuatu yang baharu” (Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 127).

“Pokok ke tujuh; adalah berkeyakinan bahwa Dzat Allah suci dari bertempat pada suatu arah. Karena arah tidak lepas dari salah satu yang enam; atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang.

Arah-arah tersebut diciptakan oleh Allah dengan jalan penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia dengan dua bagian; bagian yang mengarah ke bumi yaitu bagian kakinya, dan bagian yang berlawanan dengannya yaitu bagian kepalanya. Dengan adanya pembagian ini maka terjadilah arah, bagian ke arah kakinya disebut bawah dan bagian ke arah kepalanya disebut atas.

Demikian pula seekor semut yang merayap terbalik di atas langit-langit rumah, walaupun dalam pandangan kita tubuhnya terbalik, namun baginya arah atasnya adalah bagian yang ke arah kepalanya dan bagian bawahnya adalah adalah bagian yang ke arah bawahnya.

Pada manusia kemudian Allah menciptakan dua tangan, yang pada umumnya salah satunya memiliki kekuatan lebih atas lainnya. Maka terjadilah penamaan bagi tangan yang memiliki kekuatan lebih sebagai tangan kanan. Sementara tangan bagian lainnya yang yang berlawanan dengannya disebut dengan tangan kiri. Juga Allah menciptakan bagi manusia tersebut dua bagian bagi arah badanya; bagian yang ia lihat dan ia tuju dengan bergerak kepadanya, dan bagian yang berada pada sebaliknya. Bagian yang pertama disebut arah depan semantara yang bagian sebaliknya disebut dengan arah belakang” (Ihya ‘Ulumiddin, j. 1, h. 128)

Berkata Imam Ahlus Sunnah Abu Mansur Al-Maturidi: “Adapun mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, hak Allah menyuruh hamba-Nya dengan apa yang Ia kehendaki, dan mengarahkan mereka kemana yang Ia kehendaki, dan sesungguhnya sangkaan seseorang bahwa mengangkat pandangan ke langit karena Allah di arah itu, sungguh sangkaan itu sama dengan sangkaan seseorang bahwa Allah di dasar bumi karena ia meletakkan muka nya di bumi ketika Shalat dan lain nya, dan juga sama seperti sangkaan seseorang bahwa Allah di timur/barat karena ia menghadap ke arah tersebut ketika Shalat, atau Allah di Mekkah karena ia menunaikan haji ke Mekkah” [Kitab At-Tauhid – 75]

Berkata Imam Nawawi: “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah di langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah Ka’bah, karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat” [Syarah Shahih Muslim jilid :5 hal :22]

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Ibnu Batthal berkata: sesungguhnya langit itu qiblat doa, sebagaimana Ka’bah itu qiblat Shalat” [Fathul Bari, jilid 2, hal 296]

Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa” [Ittihaf, jilid 2, hal 170]. kemudian Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi juga berkata: “Jika dipertanyakan, ketika adalah kebenaran itu maha suci Allah yang tidak ada arah (jihat), maka apa maksud mengangkat tangan dalam doa ke arah langit ? maka jawaban nya dua macam yang telah disebutkan oleh At-Thurthusyi :

Pertama: sesungguhnya angkat tangan ketika doa itu permasalahan ibadah seperti menghadap Ka’bah dalam Shalat, dan meletakkan dahi di bumi dalam sujud, serta mensucikan Allah dari tempat Ka’bah dan tempat sujud, maka langit itu adalah qiblat doa.

Kedua: manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu, dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat, dan Malaikat-lah yang memberikan kepada penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit ada syurga yang menjadi cita-cita tertinggi, manakala adalah langit itu tempat bagi perkara-perkara mulia tersebut, dan tempat tersimpan Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”[Ittihaf, jilid 5, hal 244]

Pada hakikatnya ‘Arsy diciptakan untuk menunjukkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla sehingga tidak ada yang patut dijadikan Raja Manusia sebagaimana firmanNya malikinnaas, “Raja manusia” (QS An Naas [114]:2)

Rasulullah bersabda “wa Robbal ‘arsyil ‘azhiimii” , “Tuhan yang menguasai ‘Arsy” (HR Muslim 4888)

Imam Sayyidina Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya”

Prof DR Ali Jum’ah , mufti agung Mesir yang telah diketahui dan diakui kompetensinya dalam ilmu agama menuliskan kitab berjudul “Al Mutasyaddidun, manhajuhum wa munaqasyatu ahammiqadlayahum” dan diterjemahkan dan diterbitkan oleh Khatulistiwa Press dengan judul Menjawab Dakwah Kaum ‘Salafi’ pada halaman 22 berkata

***** awal kutipan ***** Allah ta’ala mustahil berada di sebuah arah dan tempat. Dan itu merupakan keyakinan kaum muslimin yang benar. Maksudnya, Allah ta’ala itu qadim (yang paling awal dan wujudnya tanpa sebab), bahwa mereka menetapkan sifat qidam (yang dahulu, awal) kepada Allah secara Dzatiyah. Dalam artian dzat Allah tidak diawali dengan wujud yang lain atau tidak ada yang lebih awal dari wujud Allah, sebagaimana terkandung dalam firmanNya yang artinya “Dialah yang awal” (QS Al Hadiid [57]:3)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda “Engkaulah Dzat yang Awal maka tiada sesuatupun sebelum Engkau” (HR Muslim)

Sifat Qidam berarti menafikan adanya wujud lain yang mendahului wujud Allah atau wujud lain yang bersamaan dengan wujud Allah. Oleh karena itu, sifat Qidam menghilangkan substansi pendahuluan bagi makhluk sebelum Allah. Begitupula dengan sifat-sifat Allah, semuanya qadiimah, tidak berubah dengan penciptaan makhluk yang sifatnya hadits (baru).

Menetapkan arah dan tempat kepada Allah mengandung pengertian bahwa sesungguhnya Allah tidaklah bersifat fauqiyah (di atas) kecuali setelah Allah menciptakan alam semesta. Maka, sebelum penciptaan itu, Allah ta’ala tidak berada di arah ‘atas’ karena belum adanya sesuatu yang berada di arah ‘bawah’. Dengan demikian, keberadaan di tempat ‘atas’ merupakan sifat baru yang dihasilkan dengan adanya sesuatu yang baru. Oleh karena itu, sifat yang seperti ini tidak layak disematkan bagi Allah.

Kaum muslimin juga meyakini bahwa Allah ta’ala berbeda dengan segala sesuatu yang bersifat baru, maksudnya dalam konteks hakikatnya. Maka dari itu, sifat jirmiyah (zat), aradhiyah (sifat), kulliyah (keumuman), juz’iyyah (kekhususan), dan juga hal-hal yang melekat pada keempat sifat itu tidak dapat dialamatkan kepada Allah. Hal yang melekat pada jirmiyah membutuhkan arah dan tempat, sementara aradhiyah butuh kepada zat lain agar bisa terwujud. Adapun kulliyah merupakan hal yang besar dan bisa dibagi , sedangkan yang melekat pada juz’iyyah adalah kecil, dan lain sebagainya.

Berangkat dari itu, jika setan datang membisikan hati seseorang, “Andaikan Allah itu tidak jirim, aradh, kulli, atau juz’i, lantas apa hakikat Allah sebenarnya?” Maka jawablah godaan itu dengan, “Tidak ada yang tahu hakikat Allah kecuali hanya Allah semata”

Perbedaan sifat Allah dengan makhlukNya itu tertuang dalam firmanNya yang artinya “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat” (QS Asy Syuura [42] : 11)

Dan juga diambil dari sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ra, “Sesungguhnya kaum musyrikin pernah berkata, “Wahai Muhammad, jelaskan kepada kami hakikat Tuhanmu” Lalu Allah ta’ala menurunkan ayat yang berbunyi

“Katakanlah: “Dia lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. (QS Al Ikhlas 1-2)

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (QS Al Ikhlas 3-4)

Untuk ayat ketiga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan, “Karena sesungguhnya tidak ada satupun yang dilahirkan kecuali ia akan mati. Dan tidak ada sesuatu yang mati itu kecuali ia akan diwarisi. Sedangkan Allah itu adalah Zat yang tidak mati, dan juga tidak diwarisi”

Sedangkan untuk ayat keempat dijelaskan oleh beliau, “Tidak ada satupun yang bisa menyamai dan menandingi Allah. Dan tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya”

Dari dalil di atas, Allah ta’ala mensifati diriNya dengan menghilangkan sifat sepadan dan sifat-sifat lain yang tidak pantas dimiliki oleh-Nya. Begitupula yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari sini kaum muslimin dapat memahami bahwa pada hakekatnya Allah ta’ala berbeda dengan segala sifat yang dimiliki semua makhluk.

Dengan demikian, tidak boleh hukumnya mensifati Allah dengan sifat-sifat yang baru, termasuk juga bertanya dengan beberapa pertanyaan yang bisa mengarah ke sana. Tidaklah boleh bertanya tentang Allah dengan pertanyaan seperti, “Di manakan Allah ?” dengan tujuan untuk mengetahui arah dan tempat di mana Zat Allah ta’ala berada. Akan tetapi, boleh menanyakan hal itu dengan bertujuan untuk mengetahui kekuasaan Allah ta’ala atau malaikat yang bertugas untuk-Nya ***** akhir kutipan *****

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang kita untuk bertanya atau memikirkan tentang DzatNya

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ” Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berpikir tentang Dzat Allah”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “…Janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah, tapi pikirkanlah ciptaan-Nya.…” (HR Ahmad dan Ath-Thabarani).

Para ulama mengatakan “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah, sebab memikirkan tentang Dzat Allah akan menggoreskan keraguan dalam hati”.

Sedangkan kaum muslim tidak boleh ragu tentang Allah, sebagaimana diriwayatkan dari Fudhalah bin ‘Ubaid, dari Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda “Tiga jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya,

1. Orang yang merampas selendang Allah, sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan-Nya, sarung-Nya adalah kemuliaan. 2. Orang yang ragu tentang Allah. 3. Dan orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (590), Ahmad (IV/19), Ibnu Hibban (4559), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (89) dan al-Bazzar (84, lihat Kasyful Astaar)

Begitupula harus kita ingat selalu bahwa pertanyaan “di mana” dalam arti menanyakan tempat hanya diperuntukkan kepada makhlukNya yang dibatasi dimensi ruang dan waktu.

Pertanyaan “di mana” tidak layak ditujukan pada Allah ta’ala.

Imam Sayyidina Ali ra juga mengatakan yang maknanya:“Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“

Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221:“Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?.”

Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerihpayah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya,atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

Hadits kisah budak Jariyah di dalam kitab Sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami tidak bisa dijadikan landasan untuk i’tiqod karena pertanyaan “di mana” tidak patut disandarkan kepada Allah ta’ala

Hadits kisah budak Jariyah tidak diletakkan dalam bab tentang iman (i’tiqod) namun pada bab tentang sholat.

Hal pokok yang disampaikan oleh hadits terebut adalah pada bagian perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya,“Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia,karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.”

Pada saat Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami meriwayatkan kisah budak Jariyah, beliau dalam keadaan baru masuk Islam yang dapat diketahui dengan pernyataannya “Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang Islam”.

Jadi redaksi/matan kisah budak Jariyah adalah periwayatan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami secara pribadi yang kemungkinan besar masih dipengaruhi keyakinan (aqidah) kaum sebelumnya seperti paganisme , bahwa ‘alam Tuhan’ itu berada di langit, seiring dengan ‘alam dewa-dewa’ keyakinan non muslim.

Alam dewa dan alam Tuhan selalu dikaitkan dengan alam tinggi, yang dipersepsi berada di langit, dalam arti ruang yang sesungguhnya. Sehingga, kita sering mendengar cerita-cerita tentang ‘turunnya’ para dewa-dewi, bidadari, atau bahkan ‘Tuhan’ sendiri dari langit nun jauh di sana menuju ke Bumi. Keyakinan pagan adalah keyakinan yang menyembah dewa-dewi dan unsur-unsur alam. Di antaranya adalah keyakinan penyembah Matahari, Bintang, Bulan, penyembah api, penyembah pepohonan, gunung-gunung, dan lain sebagainya.

Pengaruh keyakinan bahwa “alam Tuhan” itu berada di langit mengakibatkan segelintir umat Islam berkeyakinan (beri’tiqod) Tuhan berada (bertempat) di langit (fis sama) atau di atas ‘Arsy (alal ‘Arsy) atau diatas Sidratul Muntaha atau berada di alam tinggi, di atas awan sana. Di langit seperti negeri dongeng jaman dahulu kala, yang tidak akan pernah anda temui ketika anda naik pesawat ruang angkasa sekalipun, baik dengan teknologi pesawat ruang angkasa pada masa kini maupun nanti.

Oleh karenanya ada di antara umat Islam yang berpendapat, untuk bertemu Allah kita harus mengarungi jarak ke langit, ke luar angkasa sana. Termasuk ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Mi’raj. Beliau datang ke Sidratul Muntaha itu dipersepsikan untuk bertemu Allah. Sebab, dalam persepsi mereka, Allah itu di langit, jauh dari kita dalam arti mempunyai jarak, ruang dan waktu.

Ibn Al Jawzi berkata “Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Para ulama (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah menetapkan bahwa Allah tidak diliputi oleh langit dan bumi serta tidak diselimuti oleh segala arah. Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan Allah”

Begitupula Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’ diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).

Tentang hadits pada matan kisah budak Jariyah, berkata Imam asy-Syafi’i–rahimahullah- :

واختلف عليه في إسناده ومتنه، وهو إن صحفكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلامكانوا يعتقدون في الأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أيناللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرفأنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله، أو أشار،وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب.

“Dan telah terjadi khilaf pada sanaddan matan nya (hadits jariyah), dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya, maka Nabi bertanya : “Dimana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”. [Lihat Kitab Tafsir Imam asy-Syafi’ipada surat al-Mulk -قال الله عزَّ وجلَّ: أَأَمِنْتُمْ مَنْفِي السَّمَاءِ dan [Lihat Kitab Manaqib Imam Syafi’i jilid 1 halaman 597 karangan Imam Baihaqqi, pada Bab -ما يستدل به على معرفة الشَّافِعِي بأصولالكلام وصحة اعتقاده فيها- ]

Penjelasannya

واختلف عليه في إسناده ومتنه

“Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya”

Maksudnya : Khususnya pada matan (redaksi) hadits Jariyah telah banyak terjadi perbedaan pendapat ulama Hadits, baik dalam keshohihan sanad nya atau dalam matan nya, sepantasnya Hadits ini ditinggalkan bagi orang yang ingin beraqidah dengan aqidah yang selamat, karena ketidak-jelasan status Hadits ini.

وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم– خاطبها على قَدرِ معرفتها

“dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya”

Maksudnya : Bila ternyata Hadits Jariyah itu benar Hadits Shohih, atau bagi orang yang menganggapnya sebagai Hadits Shohih, maka jangan di telan mentah-mentah, pahami dulu bagaimana maksud Nabi sesungguhnya dalam Hadits tersebut, Imam Syafi’i mengatakan bahwa maksud Nabi bertanya kepada hamba itu dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah bertanya menurut kemampuan kepahaman hamba tersebut, artinya Nabi bertanya “Siapa Tuhan nya” sebagaimana didukung oleh sanad dan matan dalam riwayat yang lain, Nabi tidak bermaksud menanyakan arah atau tempat keberadaan Allah.

فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدونفي الأوثان أنها آلهة في الأرض

“karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi”

Maksudnya : Cara Rasulullah bertanya untuk mengetahui statusnya muslim atau non muslim dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah menyesuaikan dan mempertimbangkan keadaan hamba tersebut yang masih awam, karena mereka sebelum datang Islam, mereka menyembah dan meyakini bahwa berhala yang bertempat di bumi adalah Tuhan mereka, maka sesuailah keadaan tersebut dengan pertanyaan Nabi “Di mana Allah”. Sementara Allah tidak seperti Tuhan-Tuhan mereka yang bertempat.

فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟

“maka Nabi ingin mengetahui keimanannya, maka Nabi bertanya : Dimana Allah ?”

Maksudnya : Nabi bertanya “Dimana Allah” untuk mengetahui status keimanan hamba tersebut, artinya Rasul bertanya siapa Tuhan yang ia imani, Nabi tidak bermaksud bertanya di mana tempat berhala nya berada bila hamba itu seorang penyembah berhala, dan tidak bermaksud menanyakan di mana tempat Allah berada bila hamba tersebut percaya kepada Allah, tapi hanya menanyakan apakah ia beriman kepada Allah atau bukan.

حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غيرمؤمنة

“sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam”

Maksudnya : Mempertimbangkan keadaan orang-orang dimasa itu yang masih banyak menyembah berhala, maka ketika Rasul ingin mengetahui status hamba tersebut, Rasul bertanya dengan pertanyaan “Di mana Allah” agar mudah bagi nya menjawab bila ia penyembah berhala, maka ia menunjukkan tempat berhala yang ia sembah, dan otomatis diketahui bahwa ia bukan orang yang percaya kepada Allah.

فلما قالت: في السماء، عرف أنها برئت منالأوثان

“maka manakala ia menjawab : “Diatas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala”

Maksudnya : Ketika hamba itu menjawab “Di atas langit” maka Nabi mengetahui bahwa ia adalah bukan penyembah berhala, jawaban hamba ini juga tidak bisa dijadikan alasan bahwa Nabi mengakui “Allah berada (bertempat) diatas langit” karena tidak ada hubungan antara jawaban dan pertanyaan Nabi,seperti dijelaskan di atas bahwa maksud Nabi bertanya demikian adalah ingin mengetahui status hamba muslim atau non muslim, maka jawaban hamba ini dipahami sesuai dengan maksud dari pertanyaan, Nabi tidak menanyakan apakah ia beraqidah “Allah ada tanpa arah dan tempat” atau “Allah ada di mana-mana” atau “Allah berada (bertempat) di atas langit” atau lain nya, bukan itu masalah nya disini.

وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفيالأرض إله

“dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”

Maksudnya : Dan dari jawaban hamba tersebut dapat diketahui bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi. Allah di langit bukan berarti Allah berada (bertempat) di langit, dan Allah di bumi bukan berarti Allah berada (bertempat) di bumi atau di mana-mana, tapi Allah adalah Tuhan sekalian alam, baik di langit atau di bumi, makhluk dilangit bertuhankan Allah, dan makhluk di bumi juga bertuhankan Allah. Firman Allah ta’ala yang artinya “Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS Az Zukhruf[43]:84]

أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب

“atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”

Maksudnya : Imam Syafi’i berkata kemungkinan tanya-jawab Nabi dan hamba di atas tidak pernah ada, Nabi hanya mengisyarah tidak bertanya dengan kata-kata, dan hamba juga menjawab nya dengan isyarah tanpa kata, dan kata-kata di atas hanya berasal dari perawi atau pemilik hamba yang menceritakan kejadian tersebut, maka tidak mungkin sama sekali menjadikan Hadits Jariyah ini sebagai landasan dalam i’tiqod.

Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali , terhadap riwayat yang lain yang menerangkan bahwa budak wanita ini adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit. Dialog ini dilakukan oleh Rasul shallallahu alaihi wasallam karena para sahabat menyangka budak wanita sebagai seorang penyembah berhala di rumah-rumah penyembahan berhala. Rasul shallallahu alaihi wasallam ingin mengetahui kebenaran prasangka mereka terhadap keyakinan sang budak, maka sang budak memberitahukan kepada mereka keyakinannya bahwa sembahannya bukanlah berhala-berhala yang ada di rumah-rumah penyembahan berhala, sebagaimana yang disangkakan terhadapnya (Abu Hamid AlGhazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009,Hal.: 245)

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu”

Berikut kutipan percakapan antara Imam Abu Hanifah dengan seorang atheis yang menanyakan tentang DzatNya

Orang Atheis : ” Bagaimana bentuk Dzat Tuhan, apakah dia seperti air, besi atau seperti asap ?” Imam Abu Hanifah : “Pernahkah anda melihat orang sakratul maut dan meninggal? apakah yang terjadi?” Orang Atheis : “Keluarnya ruh dari jasad “. Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana bentuk ruh ?” Orang Atheis : “Kami tidak tahu” Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana kita bisa menjelaskan ruh Dzat Tuhan, sementara ruh ciptaan -Nya saja anda tidak tahu”.

Orang Atheis : “Lantas di tempat manakah tuhan berada?” Imam Abu Hanifah : “Kalau kita menyuguhkan susu segar, maka di dalam susu itu adakah minyak samin?” Orang Atheis : “ya.” Imam Abu Hanifah : ” Dimanakah letak minyak samin?” Orang Atheis : “Minyak samin itu bercampur menyebar di dalam kandungan susu”. Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana aku harus menujukkan dimana Allah berada, kalau minyak samin yang ciptaan manusia saja tidak dapat anda lihat dalam kandungan susu itu?”

Syaikh Nawawi al Bantani berkata, Barang siapa meninggalkan 4 kalimat maka sempurnalah imannya, yaitu

1. Dimana 2. Bagaimana 3. Kapan dan 4. Berapa

Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Dimana Allah ? Maka jawabnya : Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh masa Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana sifat Allah ? Maka jawabnya : Tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Kapan adanya Allah ? Maka jawabnya : Pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Ada Berapa Allah ? Maka jawabnya : Satu Sebagaimana firman Allah Ta`ala di dalam Qalam-Nya Surat Al-Ikhlas ayat pertama : “Katakanlah olehmu : bahwa Allah itu yang Maha Esa (Satu). Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana Dzat dan sifat Allah ? Maka jawabnya : Tidak boleh membahas Dzat Allah Ta`ala dan Sifat-sifatnya. Karena meninggalkan pendapat itu sudah termasuk berpendapat. Membicarakan Zat Allah Ta`ala menyebabkan Syirik. Segala yang tergores didalam hati anda berupa sifat-sifat yang baru adalah pasti bukan Allah dan bukan sifatnya.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY