728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Tuesday, May 25, 2010

    I’tiqad Salafi

    I'tiqad aliran salafi (madzhab Taimiyah)

    Berikut tulisan-tulisan mengenai perbedaan pada bagian yang mendasar/pokok yakni i'tiqad antara metode pemahaman salafi (madzhab Taimiyah) dengan metode pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah

    Subhanallah….! Allah Mahasuci dari Kebutuhan Tempat dan Arah
    Memaknai di atas langit dengan mata hati
    Pembagian Tauhid Menjadi Tiga
    Tuhan Turun Ke Langit Dunia Setiap malam
    Taqlid dan Ittiba’

    Sedangkan berikut ini tulisan yang  diambil dari buku karya saudara kita, Muhammad Idrus Ramli, semoga beliau dirahmati Allah, dengan judul:  “Madzhab Al-Asy’ari”, Jawaban Terhadap Aliran Salafi, Penerbit KHALISTA Surabaya, 2009.

    Buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki umat Muslim sebagai bahan kajian lebih lanjut agar dapat diketahui dan dipahami letak perbedaan Aliran Salafi sesungguhnya.

    Untuk melihat cuplikan/bagian dari buku tersebut silahkan klik di sini


    Madzhab Al-Asy'ari

    Muhammad Idrus Ramli - Madzhab Al-Asy'ari

    Dapat pula di download ebook terkait yang menjelaskan perbedaan Madzhab Taimiyah (aliran Salafi) dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah

    Inilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh A. Shihabuddin
    (Kumpulan Dialog Membela Faham Aswaja Dari Faham Salafy Wahabi)

    Penerbit menganjurkan bagi setiap muslim untuk mencetak ulang dan menyebarkan serta mengajarkan materi buku tsb  ke seluruh pelosok dunia, dan semoga baginya pahala dari Allah ‘azza wa jalla.

    Untuk download silahkan melalui link dibawah ini.

    Alternatif 1
    4shared.com

    Alternatif 2
    docstoc.com

    Alternatif 3 (download langsung)
    docstoc.com (direct download)

    Dalam blog ini ada beberapa tulisan-tulisan saya pribadi dan tulisan-tulisan yang saya sebutkan sumbernya,  dalam rangka untuk mengingatkan saudara-saudaraku Salafy (khusus untuk pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman).

    Salah satu kelemahan mereka, saya telah tuangkan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/
    salah satu kelemahan mereka adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat).

    Andaikan saja saudara-saudaraku salafy mau meluangkan waktu dan membaca kitab/buku, sebagai contoh “Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta. InsyaAllah dengan buku/kitab tersebut, saudara-saudara ku Salafy dan pembaca pada umumnya dapat memahami tentang dasar-dasar Ma’rifatullah sehingga dapat memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Allah “di atas langit”.

    Syaikh Al-Qusyairy adalah seorang imam dalam majelis tadzkir. Pembicaraannya amat berpengaruh hingga meresap kedalam sanubari para jama’ahnya. Abu Hasan Ali bin Hasan Al-Bakhirizi yang hidup di tahun 462 H/ 1070M, sering menyebut-nyebut kehebatannya, bahkan memujinya dengan sanjungan yang amat istimewa. Beliau mengatakan, “seandainya sebuah batu cadas diketuk dengan “tongkat peringatan”-nya niscaya akan meleleh menangis, dan seumpama iblis tetap aktif mengikuti majelis tadzkirnya, niscaya dia akan tobat.  Subhanallah.

    Kesimpulan:

    Kita harus bisa membedakan antara Salaf dan Salafi.

    Memang kita sebaiknya  mengikuti Rasulullah , Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in.

    Namun berhati hati kalau mengikuti orang yang berupaya mengikuti Rasulullah, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’Tabi’in.

    Salafi adalah mengikuti orang yang berupaya mengikuti Salaf.

    Semoga saudara-saudaraku Salafi dapat memahami perbedaannya.

    Semua ini karena Syaikh Ibnu Taimiyah menggunakan nama madzhab "generik" sehingga membingungkan orang.

    Beliau "membungkus" metode pemahamannya (hasil ijtihadnya) dengan nama madzhab "salaf",  seharusnya  semua yang merupakan upaya/hasil ijtihad beliau, lebih baik diberi nama madzhab Taimiyah. Sehingga umat muslim dapat menilai batas dan bagaimana ijtihad beliau sesungguhnya.

    Sekali lagi kami menghimbau untuk berhati-hati mengikuti "orang yang berupaya" mengikuti salaf, apalagi kalau perbedaan pemahaman ada dibidang i'tiqad.

    Wassalam

    Jonggol,  Mei 2010

    .

    .

    Metode pemahaman Salaf(i) Wahabi dalam I'tiqad atau Akidah.

    Kita perhatikan terlebih dahulu pemahaman mereka dalam i'tiqad atau akidah.

    Sumber: Studi Kritis Tentang Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan Sikap Pergerakan Islam Modern Terhadapnya, Prof. DR. Nashir bin Abdul Kariem al-’Aql

    Allah Subhaanahu Wata'ala menyatakan diri-Nya dan begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwasanya Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Berbicara, Maha Hidup, Maha Berkehendak dan bahwasanya Allah bersemayam (istawa) di atas ‘arasy, di atas hamba-hamba-Nya, dan Allah Subhaanahu Wata'ala itu meridhai, murka, mencintai dan membenci, datang dan turun; tertawa dan kagum sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya (dengan pasti menafikan tasybih) sebagaimana diungkapkan dan dinyatakan oleh Allah tentang diri-Nya dan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Dia, (bahwasanya Allah itu mempunyai) wajah, tangan (yadd), mata dan lain-lainnya yang dijelaskan oleh al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.

    Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini sifat-sifat Allah sebagaimana Allah ungkapkan mengenai Diri-Nya dan sebagaimana pula diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa tasybih, takyif, tamtsil, ta’thil dan tidak juga ta’wil.

    Beriman kepada Allah Subhaanahu Wata'ala mengesakan rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya dan nama dan sifat-sifat-Nya.

    Sumber: AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS, Abu Isma'il Ash-Shabuni

    Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas 'Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
    Mereka mengatakan:"Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal"(QS Ali-'Imran:7).
    Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

    Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

    Inilah yang saya katakan sebagai metode pemahaman secara lahiriah, tekstual atau dzahirnya.

    Allah telah berfirman yang artinya,

    Kami, kata Allah, menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu fikirkan dan teliti (memahaminya) .” (Surat Yusuf : 2)

    Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran : 7 ).

    Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

    "Orang-orang berakal" (Ulil Albab).

    Jika dipahami dengan metode pemahaman lahiriah, tekstual atau dzahir maka orang-orang berakal adalah mempunyai akal atau menggunakan akal.

    Allah telah menerangkan bahwa maksud dari orang-orang berakal, salah satunya adalah sebagaimana firmanNya yang artinya,
    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).

    Oleh karenanya, untuk memahami ayat mutasyabihat, sebaiknya kita tidak bertumpu kepada kemampuan, ilmu kita, pendidikan, penguasaan bahasa Arab, banyaknya kitab yang telah dibaca namun kita harus bertumpu kepada Allah, kita harus "mengingat Allah" agar dapat "menemui" Allah karena Allah-lah yang akan mengajari kita sebagaimana firman Allah yang artinya,
    "…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).

    Kita harus meninggalkan maksud literal (makna dzahir) ayat-ayat mutasyabihat tersebut, dan mengembalikan pemahamannya dan berpegang teguh kepada ayat yang muhkamat seperti ayat, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”. (QS.al-Syura : 11)

    Allah telah memerintahkan kepada kita agar pikirkan, teliti (memahaminya), dan mengambil pelajaran dengan mengharapkan anugerah dari Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

    Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat terhadap lafadznya namun kami mengambil pelajaran dengan mengharapkan pertolongan, anugerah dari Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

    Syaikh Ibnu Athoillah memberikan nasehat,
    "Allah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”

    Kita dapat mengenal Allah (ma'rifatullah) bukan karena kemampuan atau upaya kita namun semuanya atas kehendak Allah.

    Untuk itulah saya mengajak saudara-saudara muslimku untuk mendalami Tasawuf dalam Islam.
    Sebagian ulama-ulama setelah zaman Salafush Sholeh ada yang menampik Tasawuf dalam Islam.

    Janganlah terpengaruh oleh fitnah yang dilontarkan oleh musuh-musuh orang beriman atau prasangka buruk terhadap kami yang mendalami Tasawuf atau berdasarkan hasil pengamatan terhadap mereka yang keliru mendalami Tasawuf dalam Islam.

    Sebaiknya tidak mengkhawatirkan kami karena kami berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Hadits.

    Kami berupaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW, antara lain anjuran Beliau agar kita bersikap Zuhud di dunia

    Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

    Harapan kita adalah Allah akan mencintai kita dan begitu pula dicintai oleh manusia lainnya.

    Ketika Allah mencintai kita, maka seperti apa yang disampaikan dalam sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman: “Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku

    Wassalam

    Zon di Jonggol
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 comments:

    Item Reviewed: I’tiqad Salafi Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top