728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Wednesday, May 5, 2010

    Tauhid jadi tiga

    Pembagian Tauhid Menjadi Tiga

    Dewasa ini berkembang pandangan pembagian Tauhid menjadi tiga, yakni Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid al-Asma’ wal al-Shifat.

    Bahkan pradigma Tauhid menjadi tiga tersebut, kini juga masuk dalam kurikulum akidah dan akhlak yang diajarkan di sekolah-sekolah agama. Oleh karena itu, disini perlu dipaparkan bagaimana sebenarnya pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut.

    Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ululiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, belum pernah dikatakan oleh seorangpun sebelum masa Ibn Taimiyah.

    Rasulullah Saw juga tidak pernah berkata kepada seseorang yang masuk Islam, bahwa di sana ada dua macam Tauhid dan kamu tidak akan menjadi Muslim sebelum bertauhid dengan Tauhid Uluhiyyah.

    Rasulullah Saw juga tidak pernah mengisyaratkan hal tersebut meskipun hanya dengan satu kalimat. Bahkan tak seorangpun dari kalangan ulama salaf atau para imam yang menjadi panutan yang mengisyaratkan terhadap pembagian tauhid tersebut. Hingga akhirnya datang Ibnu Taimiyah pada abad ketujuh Hijriah yang menetapkan konsep pembagian Tauhid menjadi tiga.

    Menurut Ibnu Taimiyah Tauhid itu terbagi tiga:

    Pertama, Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja. Menurut Ibn Taimiyah, Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.

    Kedua, Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Ibn Taimiyah berkata, “Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya.76

    Ketiga, Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal di kalangan manusia.

    Pandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab perintis ajaran Wahhabi.

    Dalam pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna Rabb atau rububiyyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya. Sedangkan makna Ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai Dzat yang berhak untuk disembah dan menjadi tujuan  dalam beribadah.

    Tentu saja, pembagian Tauhid menjadi tiga tadi serta pembatasan makna-maknanya tidak rasional dan bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits dan pendapat seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah77.

    Ayat-ayat al-Qur’an , hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak ada yang membedakan antara makna Rabb dan makna Ilah.

    Bahkan dalil-dalil Al-qur’an dan Hadits mengisyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan)”  (QS Ali-Imran : 80)

    Ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah seperti Malaikat dan para Nabi.

    Dengan demikian berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyyah.

    Konsep Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang kafir sebenarnya mengakui Tauhid Rububiyyah, akan semakin fatal apabila kita memperhatikan pengakuan orang-orang kafir sendiri kelak di hari kiamat seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an al-Karim yang artinya, “ Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam” QS al Syu’ara :97-98)

    Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di Akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan).

    Pendapat Ibn Taimiyah yang mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan ayat berikut ini yang artinya,  “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya” (QS. Yusuf : 39-40)

    Ayat di atas menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid Rububiyyah dan menyembah-nyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah. Disamping itu, ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan Uluhiyyah, sehingga dapat disimpulkan konotasi makna Rububiyyah itu pada dasarnya sama dengan Uluhiyyah.

    Dalam surat al-Kahfi, mengisahkan pengakuan seorang Mukmin yang tidak melanggar Tauhid Rububiyyah dan seorang kafir yang mengakui telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

    Orang Mukmin tersebut berkata: yang artinya “tetapi aku (percaya bahwa): dialah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” QS al Kahfi : 38)

    Sedangkan orang kafir tersebut berkata, yang artinya: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” (QS al Kahfi : 42)

    Kedua ayat di atas memberikan kesimpulan bahwa antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah ada keterkaitan (talazum) yang sangat erat. Disamping itu, ayat kedua di atas membatalkan pandangan Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah. Justru dalam ayat tersebut, orang Musyrik sendiri mengakui kalau telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

    Konsep pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut akan batal pula, apabila kita mengkaitkannya dengan hadits-hadits Nabi Saw. Misalnya dengan hadits shahih berikut ini, yang artinya.  Dari al Barra’ bin Azib, Nabi Saw bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh itu” (QS. Ibrahim : 27).  Nabi Saw bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu ?” Lalu dia menjawab, “Allah, Rabbku, dan Muhammad Saw Nabiku” H.R. Muslim 5117).

    Hadits diatas memberikan pengertian, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir, akan bertanya kepada si mayit tentang Rabb, bukan Ilah, karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

    Seandainya pandangan Ibn Taimiyah dan Wahhabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah itu benar, tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit dengan, “Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”, bukan “Man Rabbuka (Siapa Tuhan Rububiyyah-mu)?” atau mungkin keduanya akan menanyakan semua, “Man Rabbuka wa man Ilahuka?” 78

    Sekarang apabila pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut batil, lalu apa sebenarnya makna yang tersembunyi (hidden meaning) di balik pembahgian Tauhid menjadi tiga tersebut ?

    Apabila diteliti dengan seksama, dibalik pembagian tersebut, setidaknya mempunyai dua tujuan:

    Pertama,  Ibn Taimiyah berpendapat bahwa praktek-praktek seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain yang menjadi tradisi dan dianjurkan sejak zaman Nabi Saw adalah termasuk bentuk kesyirikan dan kekufuran. Nah, untuk menjustifikasi (pembenaran) pendapat ini, Ibn Taimiyah menggagas pembagian Tauhid menjadi tiga, antara lain Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah. Dari sini, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa sebenarnya keimanan seseorang itu tidak cukup hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah semata, karena Tauhid Rububiyyah atau pengakuan semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang musyrik, hanya saja mereka tidak mengakui Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, keimanan seseorang akan sah apabila disertai Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

    Kemudian setelah melalui pembagian Tauhid tersebut, untuk mensukseskan pandangan bahwa praktek-praktek seperti Tawassul, Istighatsah, Tabarruk, Ziarah kubur dan lain-lain adalah syirik dan kufur.

    Ibn Taimiyah membuat kesalahan lagi, yaitu mendefinisikan ibadah dalam konteks yang sangat luas, sehingga praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain dia kategorikan juga sebagai ibadah secara syar’i.

    Dari sini Ibn Taimiyah kemudian mengatakan, bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para wali dan nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah sehingga dia divonis syirik.79

    Tentu saja pradigma Ibn Taimiyah tersebut merupakan kesalahan di atas kesalahan.

    1. Dia mengklasifikasi Tauhid menjadi tiga tanpa ada dasar dari dalil-dalil agama.

    2. Dia mendefinisikan ibadah dalam skala yang sangat luas sehingga berakibat fatal, yaitu menilai syirik dan kufur praktek-praktek yang telah diajarkan Rasulullah Saw dan para Sahabatnya.80 Dan secara tidak langsung pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut berarti mengkafirkan Rasulullah, para Sahabat dan seluruh kaum Muslimin selain golongan / kelompok nya (Ibn Taimiyah).


    Kedua, berkaitan dengan teks-teks mutasyabihat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menyangkut nama-nama dan sifat-sifat Allah, Ibn Taimiyah mengikuti aliran Musyabbihah yang mengartikan teks-teks tersebut secara literal (zhahir). Dalam upaya menjustifikasi (pembenaran) pandangannya yang cenderung menyerupakan Allah dengan mahlukNya. Ibn Taimiyah menggagas Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat. Dari sini dia kemudian mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang melakukan ta’wil terhadap teks-teks Mutasyabihat dan tidak mengartikannya secara literal, telah terjerumus dalam kebid’ahan dan kesesatan karena melanggar Tauhid al-Asma wa al-Shifat.81

    ************************




    76 Ibn Taimiyah, al Risalah al Tadmuriyyah, hal 106.

    77 Abu Hamid bin Marzuq, al-Tawassul bi al-Nabiy wa bi al-Shalihin,  Istanbul, Hakikat Kitabevi, 1993 hlm 23.

    78 Umar Abdullah Kamil, Kalimah hadi’ah fi Bayan Khatha’ al Taqsim al Tsulatsi bil Tauhid, Ammand : Dar al Razi, 2007, hlm 13

    79 Ibarahim al Samannudi, Sa’adat al Darain fil al-Radd ‘ala al Firqatain al Wahhabiyyah wa Muqallidat al Zhahiriyyah, Ajuzah: Maktabah al-Imam hal 22

    80 Abu Hamid bin Marzuq,al-Tawassul bi al-Nabiy wa bi al Shalihin, Istanbulm Hakikat Kitabevi, 1993 hlm 22.

    81 Umar Abdullah Kamil, Kalimah hadi’ah fi Bayan Khatha’ al Taqsim al Tsulatsi bil Tauhid, Ammand : Dar al Razi, 2007, hlm 13

    Sumber:  Muhammad Idrus Ramli, Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ? (Jawaban Terhadap Aliran Salafi), Penerbit Khalista,  Surabaya hal 224 s/d  230

    Tulisan sejenis dengan yang di atas

    http://al-ashairah.blogspot.com/search/label/Kebathilan%20Tauhid%20Tiga%20T

    Contoh tulisan pembagian Tauhid menjadi tiga dari Wahhabi

    http://statics.ilmoe.com/kajian/users/sunniy/Syarh-Qawaidul-Arba-Indonesia.zip

    ===============================================
    Berikut tulisan tentang Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian bersumber pada http://allahadatanpatempat.wordpress.com/2010/05/09/membongkar-kesesatan-ajaran-wahabi-yang-membagi-tauhid-kepada-3-bagian-aqidah-mereka-ini-nyata-bidah-sesat/

    Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut.

    Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Lebih lanjut klik SEDIKIT BANTAHAN AHLUSSUNNAH TERHADAP KAUM WAHABI YANG SANGAT APRIORI TERHADAP ILMU KALAM.

    Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

    أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)

    “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darang-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

    Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam. Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

    Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang Islam ahi tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât. Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu Billâh.

    Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah. Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam. Dan ajaran inilah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Apa bila ada seorang kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd. Sementara kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Ulûhiyyah” itu sama saja dengan ”Rubûbiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.

    Kemudian kita katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan tauhid Rubûbiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Ulûhiyyah!!”. Inilah pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ”tauhid Ulûhiyyah” sama saja dengan ”tauhid Rubûbiyyah”.
    Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

    ”Tauhid Ulûhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rubûbiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”. Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilâhikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rubûbiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”. Dan karena itu pula dalam hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”. Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna tauhid Ulûhiyyah.
    Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rubûbiyyah dan tauhid Ulûhiyyah. Tauhid Rubûbiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Ulûhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Ulûhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rubûbiyyah saja tidak cukup”. Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?! Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Ulûhiyyah dan tauhid Rubûbiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”. Bagi seluruh orang Islam tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Ulûhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.

    (Masalah): Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid Ulûhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Adapun tauhid Rubûbiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia, baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah dalam QS. Luqman:

    وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

    “Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

    (Jawab): Perkataan mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rubûbiyyah?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid?! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid; Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus bertauhid Ulûhiyyah! Oleh karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:

    أَأَرْبَابٌ مُتَفَرّقُوْنَ خَيْرٌ أمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهّار (يوسف: 39

    ”Adakah rabb-rabb yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).

    Dalam ayat ini Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak disembah.
    Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Ulûhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rubûbiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.

    Dalam majalah Nur al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:

    [[“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkannya. Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam. Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. Adapun firman Allah:

    وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

    “Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)
    Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah). Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri. Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:

    إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ (هود: 54)

    ”Kami katakan bahwa tidak lain engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS. Hud: 54).

    Sementara Ibn Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:

    وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ (الأنعام: 136)

    ”Lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).
    Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.

    Kemudian lihat lagi ayat lainnya tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:

    و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا (الأنعام: 94)

    ”Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala) yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu”(QS. al-An’am: 94).
    Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.

    Lihat, apa yang dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).

    Anda pahami teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang membagi tauhid kepada dua bagian tersebut!! Dan anda akan paham siapa sesungguhnya Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka semua sama dalam tauhid Rubûbiyyah!”]].
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    39 comments:

    1. ini baru Bid'ah menyatakan tauhid menjadi 3 macam,karena pada jaman nabi dan sahabat tidak ada pembagian tauhid seperti itu.

      ReplyDelete
    2. sebenarnya ada 4 yaitu Tauhid Mulkiyah yaitu pengakuan bahwa Allah yang satu2nya berhak membuat hukum dan aturan, dan hanya aturan dan hukum Allohnya yang boleh di patuhi.............ayat qur'an, hadist mana yang bersebrangan dengan pembagian tauhid tersebut...dan ulama-ulama besar mana yang membantahnya kecuali ulama-ulama syiah dan ulama sufi......yang lain tidak ada, karena Ibnu Taimiyah keras terhadap ulama seperti mereka yang sering membuat umat tergeelincir ke sesattan..........tunjukan pada saya ayat mana yang bertentangan dengan ucapan ibnu taimiyah dan ulama mana selain syiah dan sufi yang menentangnya.............mana dalilmu

      ReplyDelete
    3. Apakah antum belum membaca tulisan dengan seksama ?

      ReplyDelete
    4. Hmmm...
      Mantab artikelnya
      izin copas ya kang...

      ReplyDelete
    5. saran saya kalo bisa disertakan arabic-nya kang

      ReplyDelete
    6. Saya belum punya tools untuk menulis arabic font

      ReplyDelete
    7. Artikel di atas bukan tulisan saya pribadi. Sudah saya sebutkan sumbernya. Nanti kalau copas tetap sebutkan sumber aslinya. Begitulah etika di dunia internet.

      ReplyDelete
    8. klo tool utk ngetik arabic pake aja "arabic pad"
      bisa dicari via google

      ReplyDelete
    9. Bagaimana tanggapan dari teman2 di JT?

      ReplyDelete
    10. Maptab artikelnya kang izin copas y kang...

      ReplyDelete
    11. Ok, jangan lupa cantumkan sumber tulisan sebagaimana kami cantumkan di atas

      ReplyDelete
    12. Jakarta, 15 Maret 2011

      Abu Ihsan:

      Saya setuju dengan Descrates bahwa "sebenarnya ada 4 pembagian tauhid ditinjau setelah memahami seluruh isi Al-Qur'an dan Al-Hadist yaitu: (1) Tauhid Rububiyyah, (2) Tauhid Uluhiyah, (3) Tauhid al-Asma’ul wal Shifat, dan (4) Tauhid Mulkiyah. Dimana pengertian Tauhid Mulkiyah itu adalah "pengakuan bahwa Allah yang satu2nya berhak membuat hukum dan aturan, dan hanya aturan dan hukum Allah saja yang boleh di patuhi". Jadi memang inti dari semua ajaran rasul adalah "Tauhid", dan kalau di kaji inti sarinya ajaran tauhid maka yang kita dapatkan adalah "tauhid yang empat" tersebut. Sebebarnya tidak ada pertentangan pemahaman tauhid antara kaum salafiyyin dengan kaum ahlul sunnah wal jama'ah. Yang beda dari sudut pandang tinjauannya saja dan prakteknya dalam keseharian.
      Coba renungkan, semua sistem yang pernah dipakai manusia selama ini (sosialisme, komunismme, liberalisme kolonialisme, kerajaan, demokrasi, dll.) pada gagal total mengatur tatanan sosial manusia. Tapi Islam pernah berjaya selama kurang lebih 1300 tahun mengatur tatanan sosial dan tatanan lainnya ummat manusia di bawah sistem pemerintahan ke "khilafahan". Mengapa bisa demikian?, karena semua ummat islam diwaktu itu konsekwen melaksanakan semua jenis tauhid yang disebutkan di atas, utamanya tauhid jenis ke-4 yaitu "Tauhid Berhukun dan Mematuhi Hukum Allah saja". Tauhid ini erat kaitannya dengan "konsep berbegara" yang diredhoi Allah.
      Teman2, silahkan berpolemik tentang jenis tauhid ke-4 ini, negara kita lagi terperosok ke sistem "Demokrasi Kriminal" kata Dr. Rizal Ramli (mantan menkeu kabinet ibu Megawati Sukarno), atau sistem "Demokrasi Liberal" karena semua udara, angin, air dan api (energi) bakal di Liberalisasi" - pada hal kata nabi "udara, angin, air, api" milik bersama (berserikat). Negara berkewajiban mengelolanya untuk kepentingan seluruh rakyat dan dengan harga semurah-murahnya (subsidi haram dicabut) atau kalau perlu digratiskan.
      Kalau perintah shalat, puasa, haji, zakat dalam Islam hukumnya adalah wajib. Maka perintah Allah mengenai Tauhid jenis ke-4 tsb juga wajib dijalankan (jihad) ummat Islam.

      ReplyDelete
    13. @Abu Ihsan
      Semoga Kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya menaungi hari hari @Abu Ihsan

      Kami tidak sependapat dengan adanya pembagian tauhid menjadi 3. Hal ini sudah kami perjelas dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/08/pembagian-tauhid/ Khususnya antara tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tidak bisa dikatakan seseorang bertauhid Rububiyah saja dan bertauhid Uluhiyah saja. Kedua tauhid tersebut saling membatalkan jika salah satu tidak terpenuhi.

      Sedangkan tauhid mulkiyah pengakuan bahwa Allah ta'ala yang satu2nya berhak membuat hukum dan aturan, dan hanya aturan dan hukum Allah saja.

      Bagi kami hukum Allah ta'ala adalah landasan utama dari hukum-hukum buatan manusia. Sebagai contoh fatwa ulama boleh diterbitkan berlandaskan apa yang telah ditetapkan (hukum) Allah ta'ala.

      Sedangkan hukum di pemerintahan masih terlampau jauh untuk kembali kepada sistem khalifah karena kenyataannya kaum muslim terpecah-pecah dalam nation state (kesatuan dalam bentuk negara). Khalifah adalah berfungsi kalau kesatuan dalam bentuk kesatuan dalam akidah. Agar kita bisa dapat kembali ke sistem khalifah maka harus dijalankan syariat Islam pada masing-masing negara (nation state). Khusus negara kita sebenarnya demokrasi pancasila sebagaimana yang dimaksud para pendiri bangsa ada kesesuaian dengan syariat Islam. Demokrasi yang sebagaimana diterapkan saat ini adalah demokrasi bukan demokrasi panasila sejati namun demokrasi kebablasan.
      Tentang konsep kepemimpinan telah kami uraikan dalam beberapa tulisan antara lain

      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/kedaulatan/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/09/08/petunjuk-allah/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/16/berjamaah-dan-kepemimpinan/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/03/2009/11/16/kezuhudan-pemimpin/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/03/2010/10/17/pemimpin-dalam-islam/

      ReplyDelete
    14. Mas Mutiara Zuhud,
      sebelum Ibnu Taimiyah sudah banyak Imam yang memberikan kaidah pembagian tauhid. antum cek lagi, antum ngak takut dosa karena sok tau?atau karena semata-mata membela kelompok antum atau antum cuma taqlid saja menyebarkan fitnah terhadap Wahabi tanpa mengecek kebenarannya?
      semoga Allah memberikan kemudahan kepada antum untuk mengetahui yang benar.

      Tauhid itu dibagi tiga berdasarkan penelitian para Ulama. dan ini tidak bertentangan sama sekali dengan syariat.
      Di jaman Nabi, kaum musrikin mempunyai 7 tuhan. namun mereka mengakui adanya Allah dan mereka juga menyembah 6 tuhan lainnya. walaupun mereka mengakui adanya Allah (Tauhid Rububiyah) namun mereka belum disebut muslim.
      Mereka sangat mengerti bahasa Arab dan mereka adalah kaum yang fasih. karena Jika mereka bersyahadat "Laa Ilaha Illallah" maka konsekuensinya mereka harus membuang 6 tuhan lain dan hanya menyembah Allah semata (Tauhid Uluhiyah).

      contoh lain, pembagian tauhid menjadi tiga itu seperti dalam kaidah Nahwu dimana dalam jumlah/kalimat dibagi menjadi 3, yaitu Isim, Fiil dan Harf. sebenarnya tidak bertentangan dengan bahasa Arab. ulama menyusun kaiah Nahwu untuk memudahkan orang islam. begitu pula pembagian tauhid menjadi tiga, itu untuk memudahkan pemahaman kita.
      dulu di jaman Nabi , Al Quran kagak ada titik komanya, apakah entebisa baca atau paham kalo Al Quran nggak ada harakat dan titik koma ???, nahh ulama memberikan titik koma agar memudahkan kita, ini adalah mashlahat mursalat bukan bid'ah.

      kalo antum belajar kimia, antum tahu definisi atau rumus air apa?
      rumus air adalah H2O. pembagian rumus air menjadi H2O adalah satu kesatuan dan tidak bertentangan dengan ilmu itu sendiri, kalo hanya H2 atau O2 saja maka itu bukan air.
      begitu pula tauhid dibagi menjadi tiga. kalo hanyamngakui Tauhid Rububiyah saja maka belum muslim seperti penjelasan di atas.
      fahimtum???

      Wallahu 'alam.

      ReplyDelete
    15. Mas Donpay memang bukan ulama Ibnu Taimiyah yang melahirkan tauhid jadi tiga namun beliau yang menyebarluaskan sebagai pembenaranya terhadap pemahaman TBC (Tahayul Bid'ah dan Khurafat). Bagaimana kesalahpahaman tauhid jadi tiga berdasarkan apa yang kami pahami dari Al-Qur'an dan HAdits silahkan baca tulisan kami pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/05/2011/02/08/pembagian-tauhid/

      Begitu pula pendapat ulama lain seperti Ustadz Abou Fateh, berikut cuplikan pendapat beliau
      "Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yang menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah.

      Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

      أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)

      “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

      Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam (ber-tauhid). Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya."
      Selengkapnya silahkan baca pada, http://ummatiummati.wordpress.com/2011/05/31/membantah-pembagian-tauhid-jadi-3-trinitas-wahabi-dengan-dalil-dalil-shahih/

      Atau dapat temukan pendapat para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah dari mesir pada
      http://ummatiummati.wordpress.com/2011/03/20/fatwa-ulama-aswaja-mesir-atas-kesesatan-pembagian-tauhid-salafy-wahabi/

      Jadi semakin jelas kesalahapaham-kesalahapahaman mereka dari mulai kesalahpahaman tentang bid'ah, kesalahpahaman tentang tasawuf, kesalahpahaman tentang tauhid menjadi tiga dan kesalahpahaman-kesalahpahaman lainnya telah mereka sebar luaskan kepada kaum muslim.

      Semua itu ditengarai didukung dana dari "Timur Tengah" dimana saudara-saudara kita dari "Timur Tengah" itu ditengarai telah diperalat oleh Amerika yang dibelakangnya adalah Zionis Yahudi untuk meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah dengan membenturkan kesalahpahaman-kesalahpahaman diantara sesama muslim.

      Wassalam

      ReplyDelete
    16. dalam Al Quran, ketika para Nabi dan Rasul menyeru umatnya yang kafir/musyrik untuk menyembah pada Alloh, mereka menggunakan lafadh "Sembahlah Rabb kalian", bukan menggunakan lafadh "Sembahlah Ilah kalian".

      mengapa demikian?

      itu karena mereka (kafirun/musyrikun) sudah mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Rabb mereka. maka lafadh "Sembahlah Rabb kalian" artinya adalah "Sembahlah Alloh".

      sedangkan Ilah mereka ada banyak. selain Alloh sebagai Ilah yang haq, mereka juga mengangkat berhala-berhala sebagai Ilah-Ilah bathil di samping Alloh. maka jika menggunakan lafadh "Sembahlah Ilah kalian" artinya adalah "Sembahlah Alloh dan berhala-berhala", maka tidak mungkin dipakai lafadh ini.

      ReplyDelete
    17. wahabi bahlul..ente gak tau ya lafadhnya syahadat??? pake Rabb atau Ilah?

      ReplyDelete
    18. al akh rejeb, apakah ustadz atau kyai antum tidak pernah mengajari antum cara berdiskusi yang baik?

      kami, yang antum sebut wahabiyun, mujassimun, musyabbihun, tidak memuliakan ahli bait, benci sholawat, mengharamkan ziarah dan lain2, sangat ditekankan untuk menjaga adab dalam dakwah. bagaimana menghadapi orang awam, bagaimana menghadapi ahli bid'ah, bagaimana menghadapi ulama yang keliru, dll.

      ada suatu nasihat yang sangat baik dari Syaikh Abdurrozaq Al Badr: "Hendaknya engkau menasihati seseorang yang keliru atas dasar kecintaan padanya."

      apa yang antum kehendaki dari memanggil ana "wahabi bahlul" seperti itu? pahala dari Alloh kah? ridha dari Alloh kah? surga kah? syafaat Rasulullah kah? tepuk tangan kah? award kah?

      ReplyDelete
    19. ok ane minta maaf..itu karena ente keterlaluan..wahabi bertentangan dengan non wahabi bukan hanya dalam hal Fiqh tapi juga bahkan dalam Akidah.

      tidak tahukah ente bahwa banyak muslimin di Indonesia atau mungkin di dunia yg kesulitan mengucapkan lafadh Allah sesuai bhs Arab? lalu mereka menambahkan kata yg mrk pahami spt Tuhan, Gusti, God, dll, tujuannya adalah spy lebih meresap maknanya di hati. jadi apakah mereka musyrik?

      ReplyDelete
    20. ana rasa tidak ada seorang pun ulama wahabi yang mempersoalkan penyebutan Tuhan, Gusti, God, Lord, Alloh dll sesuai bahasa mereka. jadi tidak perlu kita perpanjang persoalan ini.

      yang menjadi persoalan adalah lafadh Robb dan Ilah. menurut anggapan golongan antum, lafadh Robb dan Ilah adalah sama maknanya, tidak ada perbedaan sama sekali.

      sedangkan golongan yang antum sebut wahabi membedakan lafadh Robb dan Ilah.

      ReplyDelete
    21. aneh banget ente..makanya syahadat itu tidak ada ilah selain Allah

      berarti hanya Allah yg ilah dan Robb dan God dan Tuhan dan Gusti, dll.

      gak ada beda khan? trus knapa kalian beda2kan?

      ReplyDelete
    22. kalo antum mencermati seruan Nabi/Rasul kepada kaumnya yang musyrik "Sembahlah Rabb kalian!", niscaya antum akan tahu letak perbedaan antara lafadh Rabb dengan Ilah.

      Rabb digunakan untuk menyatakan perbuatan Alloh atas makhluq, seperti menciptakan, memberi rizki, mengatur, menguasai, menurunkan hujan, menyembuhkan penyakit, menghidupkan, mematikan, mendatangkan manfaat, menghindarkan mudhorot dll.

      Ilah digunakan untuk perbuatan makhluq kepada Alloh, seperti menyembah, sujud, berdoa, memohon ampun, bernazar, berqurban, bersumpah, dll.

      bagi mukminin, Rabb dan Ilah itu adalah sama, yakni Alloh 'azza wa jalla. adapun bagi musyrikin, contohnya adalah musyrikin quroisy, Rabb mereka adalah Alloh, namun Ilah mereka adalah Alloh dan juga berhala-berhala.

      dalil pengakuan mereka bahwa Alloh adalah Rabb mereka adalah firman Alloh:

      "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka (musyrikin): "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Luqman 25)

      "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (musyrikin): "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri." (Az Zumar 38)

      dalil bahwa mereka menjadikan Alloh sebagai Ilah dan bersama dengan itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai Ilah-Ilah di samping Alloh:

      "(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Ilah yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)." (Al Hijr 96)

      ==============================================================

      setelah antum pahami perbedaan lafadh antara Rabb dan Ilah, maka antum akan lebih mudah memahami kenapa Nabi/Rasul ketika menyeru kepada kaumnya yang musyrik untuk menyembah Alloh menggunakan lafadh Rabb, bukan lafadh Ilah.

      "Hai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa." (Al Baqoroh 21)

      kenapa menggunakan lafadh Rabb? karena memang mereka itu sudah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb mereka. sebagaimana telah ana bawakan dalilnya di atas, yaitu ketika mereka ditanya siapa pencipta langit dan bumi, siapa yang menurunkan hujan, siapa yang memberi rizki, dll, mereka menjawab Alloh

      dan kenapa tidak menggunakan lafadh Ilah? karena mereka menjadikan berhala-berhala sebagai Ilah-Ilah mereka di samping Ilah yang haq, yaitu Alloh. jika diperintahkan untuk menyembah pada Ilah mereka, maka sama saja perintah itu untuk menyembah pada berhala-berhala.

      Rabb kalian = Alloh
      Sembahlah Rabb kalian = sembahlah Alloh (benar)

      Ilah kalian = berhala-berhala
      Sembahlah Ilah kalian = sembahlah berhala (salah)

      ===========================================================

      pertanyaannya, kenapa Tauhid Rubbubiyah dan Uluhiyah itu harus terpisah?

      jawabnya adlaah karena ada suatu golongan yang mereka bertauhid dalam hal Rubbubiyah, namun syirik dalam hal Uluhiyah. ada suatu golongan yang mereka mengakui ALloh sebagai pencipta langit dan bumi, namun mereka menyembah pada patung, pohon, bintang, kuburan dll.

      ReplyDelete
    23. thoyib, antum sudah memahami bahwa mereka (musyrikun) mengakui bahwa Alloh adalah Rabb yang menciptakan mereka, menciptakan bumi dan langit dan sebagainya.

      lalu yang antum katakan bahwa musyrikun itu mengakui akan adanya sifat Rubbubiyah pada berhala-berhala yang mereka sembah atas dasar apa? apakah berhala itu juga ikut menciptakan, memberi rizki, mengatur, melindungi, menurunkan hujan, menyembuhkan penyakit dll? jika tidak, lalu apa sifat Rubbubiyah yang dimiliki berhala-berhala itu yang diyakini oleh musyrikun?

      padahal kenyataannya, mereka menafikan sifat Rubbubiyah pada berhala yang mereka sembah. ketika mereka berthowaf di ka'bah, mereka mengucapkan bacaan talbiyah: "Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu yang Engkau menguasainya dan dia tidak memiliki apa-apa”.

      bukankah bacaan talbiyah itu sudah menjelaskan bahwa mereka mengesakan Alloh dalam hal Rubbubiyah.

      Ibnu Abbas yang berkata : “Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, siapakah yang menciptakan bumi?, siapakah yang menciptakan gunung?, mereka menjawab : Allah. Namun mereka berbuat kesyirikan” (Tafsir At-Tobari 13/373)

      disitu disebutkan bahwa mereka beriman dalam hal Rubbubiyah. jika menurut antum mereka mengangkat berhala-berhala itu sebagai Rabb juga, tidak mungkin dikatakan oleh Ibnu Abbas "termasuk keimanan".

      =============================================================

      kembali pada persoalan seruan Nabi/Rasul: "Sembahlah Rabb kalian!". jika yang dimaksud adalah "sembahlah Rabb kalian yang sesungguhnya", sedangkan keadaan mereka adalah menganggap adanya Rabb-Rabb yang lain selain Alloh, maka mereka akan kembali menyembah berhala-berhala tersebut, karena tidaklah mereka menyembah kecuali beranggapan bahwa apa yang mereka sembah adalah Rabb yang sesungguhnya.

      jika mereka beranggapan bahwa patung yang mereka sembah adalah Rabb, kemudian dikatakan kepada mereka "sembahlah Rabb kalian!", maka mereka akan kembali menyembah apa yang mereka anggap sebagai Rabb, yaitu patung. mereka akan berkata "ya, inilah Rabb kami yang engkau perintahkan pada kami untuk menyembahnya".

      jika Nabi/Rasul ingin memalingkan mereka kepada penyembahan terhadap Rabb yang sesungguhnya, yaitu Alloh, maka ia harus berkata "sembahlah Rabb kalian yang sesungguhnya" atau "sembahlah Rabb kalian yang haq".

      dan sepanjang pengetahuan ana yang pendek ini, tidak ada perkataan Nabi/Rasul yang menafikan adanya Rabb lain di samping Alloh. yang ada hanyalah menafikan adanya Ilah yang lain di samping Alloh. kenapa tidak ada penafian seperti itu? dikarenakan memang pada dasarnya mereka (musyrikun) itu tidak mengakui adanya Rabb lain di samping Alloh. karena itulah, dari sisi ini Ibnu Abbas mengatakan "termasuk keimanan mereka".

      ReplyDelete
    24. mamo cemani gombongJuly 3, 2011 at 8:23 PM

      saudaraku ans hanya mengingatkan sesuai artikel Bang Zon yang terakhir http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/04/terjerumus-bidah/#respond
      jadi silahkan diresapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada satu kaum yangg tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yg suka bertengkar. (QS Az-Zuhruf [43]: 58 )” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad) maaf apabila nggak berkenan ......salam

      ReplyDelete
    25. `ajam silahkan baca lagi artikel bang zon diatas ,saya dah baca dialog ajam dengan mas dianth dan saya nilai ajam banyak mengambil kesimpulan yang salah meski "kadang" premisnya benar , semoga Allah menunjukkan hidayahnya amien.

      ReplyDelete
    26. antum salah menilai

      ReplyDelete
    27. tolong jelaskan letak kesalahannya dimana ? dan yang benarnya seperti apa ?

      ReplyDelete
    28. @Ajam

      Lihat sendiri penjelasan ulama antum, tapi anehnya dia sendiri memisahkan tauhid rubbubiyah dengan tauhid ulluhiyah.

      Para ulama menjelaskan bahwa kalimat rabb disini maksudnya adalah ilah, karena sangat eratnya hubungan antara rububiyyah dengan uluhiyyah, dimana pengakuan terhadap rububiyyah sesuatu mengharuskan dia untuk menyembah sesuatu tersebut, dan sebaliknya orang yang menyembah sesuatu menunjukkan bahwa dia meyakini rububiyyahnya.

      Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa Rabb dan Ilah di dalam bahasa arab termasuk 2 kata yang jika bersatu maka berpisah, dan jika berpisah maka bersatu, maksudnya jika berada dalam satu tempat maka memiliki makna yang berlainan, dan jika tidak berada dalam satu tempat maka dia memiliki makna yang satu. (Lihat At-Tamhid Syarh Kitabit Tauhid, Syeikh Shalih Alu Syeikh hal: 415-416)

      ReplyDelete
    29. entahlah...ana cuma mengikuti cara antum yang menyalahkan ana tanpa menjelaskan letak kesalahannya dan bagaimana benarnya.

      ReplyDelete
    30. yang benar adalah apa yang dipaparkan mas dianth , yang salahnya banyak diantaranya :
      1. kalian menyatakan jika kafir Quresy bertauhid
      2. kalian memisahkan makna Robb dengan makna Ilah seolah keduanya memiliki perbedaan Makna yang esensi sehingga bisa dipisahkan
      3. kalian membagi Tauhid tanpa ada perintah dari Allah dan Rosulnya para sahabat pun tidak ada yang mengajarkan Tauhid model ini.

      pesan saya coba renungi firman Allah dalam surat al-mu`minun ayat 90

      ReplyDelete
    31. bersikaplah amanah dalam menukil

      ReplyDelete
    32. bersikaplah amanah dalam menyampaikan, banyak ayat qur`an menyatakan jika kafir quresy pun mengambil Arbab selain Allah.

      obyektiflah dalam menyampaikan , ayat 3 surat azzumar jangan diputar balikkan.

      ReplyDelete
    33. bersikaplah amanah. mereka tidak mengangkat arbab selain Alloh. tidak ada dalam Alquran yang menyatakan bahwa mereka mengakui berhala yang mereka sembah mampu mendatangkan manfaat maupun mudhorot. yang ada adalah, mereka mengira berhala itu mampu memberi mereka syafaat atau perantaraan untuk mendatangkan mafaat atau menghindarkan mudhorot.

      belum cukup kalian berdusta atas nama Nabi dengan membawakan hadits2 palsu dan tanpa sanad, sekarang berdusta pula atas nama Alloh.

      cukuplah Mujahid, murid Ibnu Abbas untuk membantah kalian: beliau berkata: “Keimanan mereka adalah perkataan mereka : Allah pencipta kami dan Yang memberi rizki kepada kami dan mematikan kami. Inilah keimanan (mereka) bersama kesyirikan mereka dengan beribadah kepada selain Allah” (Tafsir At-Thobari 13/374)

      ReplyDelete
    34. tidakkah kalian melihat laata Uzza dan manat Isaf dan Nailah sebagai Arbab arab jahiliyah , tidak pernah kah kalian mendengar akalat hanifatu Robbaha..?

      tidak cukupkah kalian mengkafirkan muslimin selain golongan kalian tidak cukupkah kalian menolak Hadist-hadist yang tidak sesuai dengan tujuan kalian sehingga kalian hukukumi dengan Dhaif dan palsu hanya karena hadist-hadist itu tidak sesuai dengan Bid`ah yang kalian munculkan

      cukuplah Hadist Rosulallah untuk membantah kebathilan Aqidah kalian“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

      lalu siapakah yang menyuruh kalian untuk membagi Tauhid ....? dan kenapa kalian masih mengkafirkan orang yng sudah mengucapkan dua kalimah syahadat....?

      ReplyDelete
    35. @ajam

      Cukuplah firman Allah menjelaskan kesyirikan kaum musyrikin Allah walaupun ente berusaha melarikannya ke persoalan lain.

      Terlebih dahulu ingin saya tanyakan ke antum....

      Antum lebih percaya pada perkataan Allah atau perkataan kaum musyrikin Quraisy ?

      lihat perkataan kaum musyrikin ini :

      -“Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”.
      -“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”

      antum menjelaskan : dalam QS Yunus 18 disebutkan bahwa kaum musyrikin mengira berhala yang mereka sembah mampu memberi mereka syafaat. mereka mengira berhala itu mampu menjadi perantara untuk mendatangkan manfaat dari Alloh atau menghindarkan mudhorot dari Alloh. makna seperti ini bersesuaian dengan QS Az Zumar, dimana mereka mengira berhala yang mereka sembah dapat mendekatkan diri mereka kepada Alloh.

      Lihat perkataan Allah ini :

      - “Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka” (Surah maryam : 81)

      - “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah"

      - “Bahkan mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah"

      - dan di banyak ayatnya Allah mengatakan bahwa mereka menyembah Illah selain Allah.


      Belum cukup jelaskah arti selain Allah ?

      Selain Allah itu artinya mereka telah menjadikan tandingan atau menjadikan tuhan mereka sama dengan Allah. Sebagai pelindung artinya ada pelindung lain yang mampu melindungi mereka secara independen lepas dari kekuasaan Allah. Pemberi syafaat artinya ada pemberi syafaat bagi mereka secara independen tanpa campur tangan Allah. Ini semua artinya mereka telah menjadikan berhala mereka Rabb bagi mereka yang melindungi mereka dan memberikan syafaat bagi mereka lain dan berbeda dari perlindungan Allah dan syafaat Allah dan mereka menjadikan perlindungan dan syafaat berhala mereka setara dengan perlindungan dan syafaat dari Allah. Ini semua adalah syirik dalam Rubbubiyah.

      Inilah makna SELAIN ALLAH. Kalau tidak demikian tentu bukan selain Allah, tetapi sebagai perantara perlindungan dan syafaat Allah. Yang mengatakan perantara itu kaum musyrikin, tetapi Allah telah menjelaskan dengan mengatakan isi hati dan keyakinan mereka yang sebenarnya akan Illah-Illah mereka yaitu sebagai pelindung dan pemberi syafaat selain Allah.

      berbeda dengan penjelasan antum, kenapa antum berusaha menjelaskan perkataan Allah atau menyimpulkan perkataan Allah itu dengan perkataan kaum musyrikin?

      seharusnya antum menjelaskan atau menyimpulkan perkataan kaum musyrikin itu dengan perkataan Allah, karena Allah Maha tahu akan segala isi dan keyakinan manusia.

      Allah telah mengatakan mereka berdusta dan sangat ingkar, dan Allah telah menjelaskan hakikat keyakinan mereka yang sebenarnya.

      Saya rasa tidak perlu panjang lebar lagi bukan.... kalau anda mengimani firman Allah maka anda harus percaya bahwa Kaum musyrikin itu mengambil pelindung dan pemberi syafaat selain Allah. Sudah jelas hal ini adalah syirik dalam Rubbubiyah, dan itulah kenyataannya, mereka menyembah berhala karena berhala mereka diyakini mempunyai sifat-sifat rubbubiyah sebagai pelindung dan pemberi syafaat, walaupun dalam ucapannya mereka katakan sebagai perantara. Dan anda tentu paham, bila telah menyembah maka itu berarti meyakini ada sifat-sifat rubbubiyah pada yang disembahnya, dan Allah telah mengatakannya.

      Saya rasa anda akan bisa memahami perbedaan akan meminta syafaatnya kaum musyrikin yang MENYEMBAH berhalanya dengan meminta syafaatnya kaum muslimin yang MEMULIAKAN hamba-hamba Allah yang saleh.

      Salam.

      ReplyDelete
    36. Mas Syahid, tinggal kita tanya saja pada mereka.... lebih percaya pada firman Allah atau lebih percaya pada perkataan kaum musyrikin Quraisy.

      ReplyDelete
    37. mamo cemani gombongJuly 5, 2011 at 11:22 PM

      kok komen ana hilang ya ?????

      ReplyDelete
    38. Silahkan diulang saja mas Mamo, kami sudah periksa di box terhapus (kotak sampah) tidak ada.

      ReplyDelete
    39. mamo cemani gombongJuly 6, 2011 at 7:33 AM

      @ajam ......nt ngeyeeeel terus ya menurut ana Syirik dan Tauhid tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam. Mungkinkah bersatu siang dengan malam serentak?Begitulah juga tidak adanya syirik dan tauhid bersatu dalam diri seseorang. Sama ada dia Tauhid atau Musyrik. Tidak ada kedua-duanya sekali. Jelas ini adalah ajaran sesat dan bidaah yang dipelopori oleh puak Wahabi & kini telah merebak ke dalam pengajian Islam teruatamnya di Timur Tengah. Kaum Wahabi yang sesat ini menciptakan pengajian baru dengan maksud untuk menggolongkan manusia yang datang menziarahi makam Nabi di Madinah, bertawasul dan amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang lain sebagai orang “kafir” yang bertauhid Rububiyah dan yang mengikuti mereka sahaja adalah tergolong dalam Tauhid Uluhiyah.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Tauhid jadi tiga Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top