728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Wednesday, July 7, 2010

    Berdalil atau berdalih

    Pada zaman modern ini,  kita dapati firqah atau aliran Islam yang memilah-milah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang mana mereka sukai, atau berdasarkan kepentingan (pragmatis)  aliran mereka, atau dengan kata lain  memperturutkan hawa nafsu.

    Sejak dahulu ketika kenal aliran Khawarij dan Murji’ah

    Aliran Khawarij mengambil teks Alquran dan Hadis yang nadanya keras dan sempit. Sebaliknya, aliran Murji’ah hanya mengambil ayat-ayat Alquran dan Hadis yang bernada ringan dan amat mudah.

    Sebagai contoh aliran khawarij,  pemahaman mereka terhadap hadits-hadits berikut,

    Sesungguhnya yang pertama kali dihisab bagi seorang hamba adalah sholat. Maka apabila sholatnya baik, sungguh dia telah beruntung dan selamat. Dan apabila sholatnya rusak, sungguh dia telah celaka. (H.R. Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

    Sesungguhnya perbedaan antara seorang pria mukmin dan kafir adalah meninggalkan sholat. (H.R. Muslim)

    Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah sholat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah menjadi kafir. (H.R. Tirmidzi)

    Hadis ini dipahami mereka secara harfiah, tekstual, atau dzahir.

    Menurut mereka, bahwa orang yang meninggalkan shalat berarti telah menjadi kafir. Dengan demikian, berarti orang-orang yang meninggalkan shalat itu boleh diperangi.

    Sedangkan aliran murji’ah berpegang pada hadits-hadits antara lain,

    “Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan masuk neraka bagi seorang yang mengucapkan laa ilaaha illallah yang semata-mata mengharapkan ridha Allah”. (H.R. Bukhari)

    Tidak ada seorang hamba pun yang sudah mengucapkan laa ilaaha illallah kemudian ia wafat kecuali orang tersebut masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

    Berkaitan dengan hadis ini, ketika itu Rasulullah ditanya oleh para sahabat, “Ya Rasulullah, apakah ia akan tetap masuk surga walaupun telah berbuat zina ataupun mencuri?”

    Rasulullah menjawab, “Ya, meskipun ia berzina dan mencuri.”

    Kemudian ditanya lagi oleh para sahabat dengan pertanyaan yang sama, lalu dijawab Rasulullah dengan jawaban yang sama pula, bahkan terulang hingga tiga kali.

    Hadits lainnya

    Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka. (H.R. Bukhari dan Muslim)

    Hadis ini disampaikan Rasulullah ketika mengadakan perjalanan ke luar kota bersama Mu’adz bin Jabal.

    Lalu dengan penuh semangat Mu’adz mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apakah boleh berita ini aku sampaikan kepada semua orang, supaya mereka berbahagia?”

    Rasulullah pun mengatakan, “Kalau begitu Mu’adz, nanti orang akan meremehkan agama.”

    Maka sejak itu Mu’adz tidak berani menyampaikan hadis ini, sampai ia memasuki usia tua. Ketika rambutnya sudah memutih beruban, tulangnya sudah rapuh, pandangan matanya sudah agak kabur, dia khawatir kalau dia termasuk orang yang menyembunyikan hadis. Karena itulah, ia menyampaikan hadis ini kepada orang-orang yang bisa memegang amanah.

    Hadits-hadits ini sangat disukai aliran mereka yang menyukai kebebasan (liberalis), dengan pemahaman mereka secara harfiah, tekstual atau dzahir.

    Hadits-hadits yang disukai firqah murji'ah sebenarnya dapat menyadarkan firqah khawarij untuk tidak gemar tajrih, tahdzir, boikot, hajr, tabdi, takfir. Sesungguhnya hadist-hadist yang disukai khawarij dipergunakan sebagai intropeksi diri atau menghisab diri sendiri, tidak digunakan untuk menilai saudara muslim lainnya, "seolah-olah" mewakili Tuhan.

    Dikhawatirkan secara tidak disadari malah timbul kesombongan dengan meremehkan saudara muslim lainnya.  Kita ketahui kesombongan akan menghabiskan amal kita di dunia sehingga tidak masuk surga. Lihat juga tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/

    Hadist-hadist yang disampaikan oleh Khawarij dapat dipergunakan oleh Murji'ah sebagai peringatan bahwa kalau mereka  hanya syahadat, tapi tidak shalat, maka berarti syahadatnya tidak betul dan juga bohong.

    Syahadatnya tidak “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu), namun hanya sampai di bibir saja.  Kalau syahadatnya betul, pasti dia melaksanakan shalat,  karena syahadat merupakan pernyataan untuk tunduk dan patuh pada Allah yang konsekuensi logisnya harus mentaati perintah Allah, dan salah satu perintah Allah adalah salat. Demikian juga dengan perintah Allah yang lainnya, yaitu puasa, zakat, haji dll.

    Untuk itulah, saya menyarankan untuk meninggalkan metode pemahaman secara harfiah, tekstual atau dzahir.

    Kita harus berpemahaman secara mendalam (al-hikmah), menyeluruh (holistis) dan kaffah.  Kita harus berserah diri dan bersandar hanya kepada Allah, bukannya memperturutkan hawa nafsu atau kepentingan.

    Tujuan memperturutkan hawa nafsu atau kepentingan (pragmatis) sesuai dengan jawaban  Saidina ‘Ali ra, ketika Beliau disampaikan semboyan orang khawarij La hukma illah lillah, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Beliau menjawab:  “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan/kalimat yang benar dengan tujuan yang salah)

    Kita sebaiknya tidak hanya mengambil satu atau sebagian ayat, melainkan setiap ayat dikaitkan dengan ayat lain. Tidak hanya itu, juga dikaitkan dengan hadis, serta pandangan-pandangan para sahabat Rasulullah.  Kita beriman pada seluruh ayat-ayat dan kita yakin seluruhnya datang dari sisi Allah.

    Firman Allah, yang artinya

    "Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."  (QS al Mu'min 40 : 56)

    Selain itu, kita juga harus bersikap tawazzun (seimbang), karena segala sesuatu yang seimbang itu baik. Selain itu, kita harus bersikap i’tidal (lurus).

    Jangan sampai ada yang “menggunakan” ayat yang sesungguhnya hanya sebagai “pembenaran” aliran atau kaumnya, semata-mata bukan menegakkan kebenaran.

    “Menggunakan” ayat untuk PEMBENARAN inilah yang disebut “BERDALIH”

    Menyampaikan ayat untuk menegakkan KEBENARAN inilah yang disebut “BERDALIL”

    Wassalam

    Zon di Jonggol
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 comments:

    1. mantap mas zon ulasannya ,syukron :)

      ReplyDelete
    2. barakallahu fik.. artikel yg bagus, pak.. monggo dilanjut..

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Berdalil atau berdalih Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top