728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Tuesday, July 20, 2010

    Menolak tentang Ihsan

    Mengapa sebagian muslim tidak mengimani bahwa kita dapat seolah-olah melihat Allah ?

    Tasawuf adalah salah satu pokok dari tiga pokok ajaran agama Islam yang menguraikan tentang Ihsan. Pokok ajaran lainnya adalah Fikih yang menguraikan tentang Islam (rukun Islam) dan Ushuluddin yang menguraikan tentang Iman (rukun Iman).

    Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan perbuatan yang baik,  akhlak dan budi pekerti, bertobat, bertalian dengan hati (tazkiyatun nafs) , cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, qanaah, tawakal, zuhud, ma’rifatullah dan lain-lain

    Namun sebagaian muslim terpengaruh istilah-istilah dari orang lain atau dari yang keliru memahami tentang Tasawuf.

    Coba perhatikan pendapat yang sebagian muslim pahami yang berasal dari para ulama kaum mereka,

    Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam. Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.

    Orang-orang ahli Tasawuf, dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, (mereka) berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang dipegang oleh orang-orang Nashrani. Yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal kejujurannya. Kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan seorang (nabi/rasul) yang terjaga dari kesalahan. Maka (demikian pula yang dilakukan orang-orang ahli tashawwuf), mereka menjadikan para pemimpin dan guru-gurunya sebagai penentu/pembuat syari'at agama bagi mereka, sebagaimana orang-orang Nashrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai penentu/pembuat syari'at agama bagi mereka”.

    Sesungguhnya Tasawuf itu adalah tipuan / makar paling rendah / hina dan tercela. Setan telah membuatnya menipu para hamba Allah dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan rasulNya. Sesungguhnya tasawuf adalah (sebagai) topeng kaum Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang Rabbani , bahkan juga topeng semua musuh agama ini (Islam). Bila diteliti ke dalam akan ditemui di dalamnya (ajaran sufi itu) Brahmaisme, Budhisme, Zaratuisme, Platoisme, Yahudisme, Nashranisme, dan Paganisme.

    Begitulah contoh indoktrinasi dari para ulama mereka yang sesungguhnya kemungkinan para ulama mereka terkena perang pemahaman (ghazwul fikri) dari  orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan terhadap orang-orang mukmin.

    Secara tidak disadari para ulama mereka menjauhkan ummatnya dari kemungkinan memperdalami perbuatan-perbuatan baik, akhlakul karimah dan salah satunya adalah tentang zuhud. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

    Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

    Dari hadits ini bisa kita pahami bahwa ulama-ulama mereka secara tidak disadari menjauhkan ummatnya dari kemungkinan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.

    Sungguh,  dengan mengamalkan Tasawuf ,  kita dapat mencapai muslim tingkatkan Ihsan atau orangnya disebut Muhsin, jamaknya Muhsinin  yaitu kita menyembah kepada Allah seolah-olah  kita melihatNya padahal  kita tidak melihatNya. Yang dimaksud dengan seolah-olah melihat  Allah disini adalah bukan dengan kasat mata (mata kepala) namun dengan mata hati (bashirah).

    Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.”

    Ketika saya sampaikan kepada sebagian muslim bahwa kita dapat seolah-olah melihatNya  sebagaimana tulisan saya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/19/terhalang-melihat-allah/

    Ada tanggapan negatif yang diberikan oleh sebagian muslim baik bantahan, olok-olokan, tuduhan, ketidak percayaan dan perbuatan tidak berguna lainnya.

    Kenapa mereka tidak mengimani apa yang telah saya sampaikan dari Al-Qur’an dan Hadits ?

    Apakah mereka taqlid buta kepada ulama-ulama mereka ?

    Padahal ulama mereka pernah ada yang menganjurkan untuk tidak perlu taqlid pada Imam Madzhab yang empat karena kata ulama mereka, Imam Madzhab tidak maksum , lalu mereka sekarang malah taqlid begitu saja pada ulama mereka yang tentu tidak maksum juga.

    Coba kita tanya kepada mereka , mana yang lebih banyak kemungkinan menyalahi  Al-Qur’an dan Hadits , ulama-ulama mereka atau Imam Madzhab yang empat ?

    Padahal saya sangat yakin perkataan Imam Madzhab bahwa jika kita menemukan pendapat mereka yang keliru maka kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits adalah semata-mata agar kita selalu merujuk Al-Qur’an dan Hadits dan sikap tawadhu yang mereka tunjukkan. Suatu akhlak yang terpuji.

    Mari kita simak nasihat/diwan salah satu imam madzhab yang empat, yakni Imam Syafi’i tentang tasawuf.

    Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fikih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fikih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?"
    [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

    Dengan menjalankan Tasawuf ,  kita dapat mencapai muslim tingkatkan Ihsan atau orangnya disebut Muhsin, jamaknya Muhsinin

    Pengertian Muhsinin
    Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang berbuat baik, Ihsan perbuatan atau tingakatannya, orangnya disebut Muhsin, kalau jamak muhsinin, Ihsan itu ialah kita menyembah kepada Allah seolah-olah kita melihatNya padahal kita tidak melihatNya.

    Sifat-sifat Muhsinin
    Pertama, muhsinin adalah orang yang menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah Artinya setiap perilakunya / akhlaknya selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktunya penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.

    Allah menjadikan Al Qur’an ini sebagai obat/rujukan untuk orang yang muhsinin,
    Mereka itu orang-orang yang selalu berbuat baik dengan mengikuti syari’at.
    Kadang-kadang orang memahami syari’at itu sempit, potong tangan, rajam begitu pemahaman sebagian orang ketika syari’at itu akan ditegakan.
    Padahal, bersikap adil, qanaah, zuhud, ikhlas, taqarub, dan akhlakul karimah yang lain  juga syari’at.

    Tentang muhsinin , lihat QS Lukman 1-7

    [31:1] Alif Laam Miim
    [31:2] Inilah ayat-ayat Al Quraan yang mengandung hikmah (pemahaman yang dalam).
    [31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)
    [31:4] (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
    [31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
    [31:6] Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
    [31:7] Dan apabila dibacakan kepadanya  ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

    Semoga kita dapat mengimani firman Allah secara menyeluruh, sebaiknya tidak memilah-milah berdasarkan kepentingan atau pembenaran pemahaman saja. Seluruh pokok-pokok ajaran agama Islam harus dapat kita pahami dan jalani.

    Dengan tulisan ini saya sekedar ingin menyampaikan bahwa kita harus memahami ketiga pokok ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah).
    Kenyataan yang ada saat ini, kerusakan telah timbul banyak dikarenakan akhlak yang buruk,  seperti tawuran. materialisme, individualisme, hubud dunya, al wahan, rakus, tamak, bakhil, tidak malu, tidak jujur, kerusuhan pilkada, bunuh diri, lebih baik mereka lapar daripada tidak bisa mengikuti gaya hidup dll.

    Semua ini karena kita dan para ulama secara tidak sadar melupakan salah satu pokok ajaran Islam yakni tentang ihsan yang semuanya diuraikan dalam kitab Tasawuf. Kita mau saja dibodohi oleh orang-orang yang mempunyai rasa permusuhuan besar terhadap kaum mukmin, bahwa kitab Tasawuf adalah klasik, kolot, melemahkan semangat, menghambat modernisasi agama dan stigma negatif yang lainnya.

    Ulama-ulama kita dahulu yang mengajarkan kitab Tasawuf, bisa kita temukan  masyarakat yang terkenal santun, ramah dan teguh berpendirian. Para ulama dan umara pun diakui di kancah dunia.

    Untuk itulah saya mengajak baik diri pribadi saya maupun para pembaca untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits secara menyeluruh.

    Apapun profesi kita lakukanlah dengan profesional, istiqomah, tawakal dan berakhlakul karimah.

    Akhlakul karimah, akhlak yang selalu sadar dan mengingat Allah.

    Wassalam

    Zon di Jonggol
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    11 comments:

    1. Kalo boleh tahu, yang dimaukan dengan sebagian kaum muslimin menokak ihsan itu seperti apa, ya? Apa karena tidak setuju dengan tasawuf kemudian kesimpulannya dia menolah ihsan...?

      Kemudian, bagaimana dengan perkataan Imam Syafi'i tentang tasawuf yg riwayat ini dibawakan oleh Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah sampai sanadnya kepada Imam Syafi'i bahwa beliau berkata :
      "Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu."
      Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya"
      Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullah hal. 13-15)

      Wallahu a'lam..

      ReplyDelete
    2. Marilah kita perhatikan sekeliling kita,

      Ada muslim tapi melakukan perbuatan korupsi
      Ada muslim tapi melakukan perzinaan
      Ada muslim tapi melakukan pornografi, pornoaksi
      Ada muslim tidak melakukan pornografi, pornoaksi namun mereka menyetujui perbuatan itu dengan berbagai alasan.
      Ada muslim tapi melakukan larangan Allah lainnya.

      Mengapa mereka melakukan perbuatan itu ?

      Mereka tidak beriman akan "Seolah-olah melihatNya", mata hati (bashirah) mereka belum mampu seolah-olah melihatNya atau mereka tidak yakin bahwa Allah melihat mereka. (tentang Ihsan)
      atau bisa jadi mereka memang belum pernah mendapatkan pengetahuan tentang Ihsan atau tentang Akhlak dikarenakan guru atau ulama tidak pernah menyampaikan kepada mereka.

      Mengapa guru dan ulama mereka tidak menyampaikan tentang Ihsan atau tentang Akhlak ?
      Bisa jadi guru dan ulama mereka termasuk yang terkena pengaruh istilah-istilah Tasawuf yang keliru atau pengaruh stigma-stigma negatif yang dihujatkan kepada Tasawuf.

      Marilah berupaya menjadi muhsinin, sehingga seluruh amal, perbuatan, perilaku, akhlak kita harus selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.

      Bohong besar apa yang dipahami kaum sekuler bahwa ada permasalahan atau kebutuhan manusia yang tidak ada petunjuknya dalam al-Qur'an dan Hadits atau seolah-olah Allah tidak mengetahuinya. Padahal Allah Maha Mengetahui.

      Dengan merujuk kepada al Qur'an merupakan salah satu cara mengingat Allah, sehingga kita seolah-olah sedang berkomunikasi dengan Allah, seolah-olah sedang bertemu dengan Allah, seolah-olah sedang melihatNya.
      Sehingga kita bisa merasakan kebersamaan dengan Nya, Allah Yang Maha Kuasa yang mencukupi apapun kebutuhan kita dan hanya pertolongan Nya kita dapat selamat mengarungi perjalanan di alam dunia mengikuti jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat.

      Sedangkan mengenai perkataan imam Syafi'i yang disampaikan, saya belum pernah mendapatkan makna seperti itu dari para guru saya dan bertolak belakang dengan nasehat imam Syafi'i dalam tulisan saya. Kemungkinan bisa saja terjadi salah penafsiran atau termasuk literatur/tulisan/kitab yang "dirusak" oleh orang lain ketika perperangan dahulu atau kemungkinan-kemungkinan yang lain.
      Namun seperti biasanya kalau terjadi perselisihan atau perbedaan , kita kembali pada Al-Qur'an dan Hadits.

      Wassalammualaikum

      ReplyDelete
    3. Jika demikian jawaban yang disampaikan, berati tidak mesti dong orang yang tidak setuju dengan tasawuf berarti dia menolak ihsan...? Yang saya tangkap dalam artikel di atas adalah anda berusaha meyakinkan pembaca bahwa jalan untuk mencapai derajat al ihsan adalah dengan tasawuf, inilah hal yang ingin saya tanyakan.

      Apakah benar bahwa seorang yang tidak mau ikut ajaran tasawuf kemudian dia tidak dapat mencapai derajat ihsan, atau berarti dia menolak al ihsan...? Sementara dia mengetahui dari sebagian ajaran tasawuf yg paling ekstrimnya adalah seorang yang telah sampai pada derajat yang tinggi yaitu hakikat atau ma'rifat, maka dia tidak perlu lagi untuk terikat dengan syariat, tidak perlu shalat, tidak perlu puasa, karena dia tidak lagi di tingkatan syariat (tingkatan paling rendah menurut mereka). Maka dari mana kami bisa mengikuti ajaran yang seperti ini, sementara Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam beliau adalah manusia paling tinggi derajatnya di sisi Allah, beliau adalah manusia yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah di antara kita, ternyata beliau begitu luar biasa dalam menjalankan ibadah-ibadah, sampai-sampai 'Aisyah mendapati tumit beliau bengkak karena seringnya beliau shalat malam. Seperti inilah ibadahnya manusia yg paling utama, tinggi derajatnya, yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka, siapakah yang dicontoh kaum sufiyyah yang meyakini seseorang yang sudah sampai tingkat ma'rifat maka dia tidak perlu lagi syariat, tidak perlu shalat, tidak perlu puasa?

      Dan tentang berbuat baik, ahlak yang mulia, zuhud, wara', tawakkal, dll. walhamdulillah banyak para ulama besar umat Islam yang mengajarkan hal yg demikian melalui kitab-kitab karangan mereka, seperti Riyadhush Shalihin karya Imam Nawawi, atau Adabul Mufrad karya Imam Bukhari dan kitab-kitab ahlak dan adab lainnya yang dijadikan pegangan para ulama masa kini dalam menyampaikan masalah ahlak dan adab kepad umat. Apa iya kami mesti ikut tasawuf...?

      Tentang perkataan Imam Syafi'i, iya memang yang saya bawakan bertentangan dengan apa yang anda sampaikan. Akan tetapi, riwayat yang saya bawakan tentang perkataan Imam Syafi'i saya sebutkan pula tentang siapa yang mengeluarkan riwayat tersebut yaitu al Imam Al Baihaqi dan disebutkan riwayat ini bersambung sanadnya sampai kepada Al Imam Asy Syafi'i. Bukankah ini lebih ilmiah? Dan yg saya bawakan dari perkataan Imam Syafi'i tentang tasawuf pun lebih banyak dari yang anda bawakan...

      ReplyDelete
    4. Bagi saya, menemukan uraian tentang Ihsan ada dalam kitab-kitab klasik atau Tasawuf yang tentu merujuk kepada Al-Qur'an dan Hadits. Jadi mustahil seorang yang telah sampai pada derajat yang tinggi yaitu ma’rifat, maka dia tidak perlu lagi untuk terikat dengan syariat. Bagaimana mungkin dikatakan sampai (wushul) ke hadhirat Allah namun tidak melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
      Silahkan baca tulisan pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/20/tasawuf-dalam-islam/

      ReplyDelete
    5. Dengan pernyataan mustahil anda di atas, secara tidak langsung anda telah membantah salah satu ajaran dalam tasawuf mengenai konsep tingkatan derajat syari'at, hakikat, dan ma'rifat. Mungkin anda belajar tentang tasawuf belum sampai pada materi tersebut, maka lebih baik anda kembali sebelum tertipu dengan syubhat yang membolehkan seorang muslim untuk keluar dari syariat Nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam...

      Pada kenyataannya, fenomena yg semacam ini terjadi pada sebagian yang dianggap sebagai wali atau dianggap memiliki karamah, seperti kisah seorang yang dianggap wali tapi manakala hadir waktu shalat Jum'at dia tidak mendatangi shalat Jum'at tersebut bersama-sama dengan kaum muslimin yang lain yang melaksanakan SYARIAT ini. Dan orang-orang awam yang tertipu pun pada berujar: "Oh... dia kan wali, jum'atannya di Mekkah" masya Allah...
      Atau, kisah aneh sebagian tokoh yang hobinya telanjang, namun dianggapa wajar oleh masyarakat sekitar karena dia dianggap adalah seorang wali...

      La haula wala quwwata illa billah... Sungguh, cukup bagi kita Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sebagai teladan, karena Rabb kita telah berfirman : "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian bagi siapa yang mengharap wajah Allah dan hari akhir"

      Wabillahit taufiq...

      ReplyDelete
    6. Syari'at, Hakikat, Ma'rifat bukanlah tingkatan , namun pokok-pokok ajaran dalam Agama Islam yakni Syariat = Rukun Islam (kitab Fikih), Hakikat = Rukun Iman (kitab Ushuluddin) dan Ma'rifat = Ihsan (Kitab Tasawuf).

      Oh ya, mengenai salah satu hadits yang menurut antum, diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah sampai sanadnya kepada Imam Syafi’i bahwa beliau berkata :
      Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.

      Bertolak belakang dengan
      Abu Nu`aim meriwayatkan dari Muhammad ibn `Abd al-Rahman ibn al-Fadl, dari Abu al-Hasan [Ahmad ibn Muhammad ibn al-Harith] ibn al-Qattat [al-Misrî], dari Muhammad ibn Abî Yahya, dari Imam Yunus ibn `Abdal-A`la, dari Imam Syafi'i.”

      حدثنا محمد بن عبد الرحمن حدثني أبو الحسن بن القتات، حدثنا
      محمد بن أبي يحيى، حدثنا يونس بن عبد الأعلى، قال: سمعت
      الشافعي يقول: لولا أن رجلا عاقلا تصوف لم يأت الظهر حتى
      يصير أحمق

      Syafi'i berkata: “Seandainya seseorang tidak menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.

      Juga ,

      Imam ‘Ajluni meriwyatkan bahwa Imam Ash-Syafi'i berkata :
      Tiga hal di dunia ini yang aku cintai: Menghindari kepura-puraan, Memperlakukan orang dengan baik, dan hidup dengan jalan orang-orang tasawuf!

      Al-hafiz al-Suyuti mengatakan tentang Imam Syafeei mengenai tasawuf :

      Ta'yid al-haqiqa al-'aliyya hal 15 :

      Imam Syafi'i berkata "Saya bersama Sufi dan mendapatkan manfaat dalam 3 kata :
      ""Perkataan mereka bahwa waktu adalah pedang, jika tidak kita potong maka kita akan dipotong ;
      Perkataan mereka bahwa kalau hati kita tidak disibukkan dengan kebenaran maka hatimu akan sibuk dengan kebohongan;
      Kehilangan adalah kebebebasan"

      Begitu juga perkataan guru-guru saya sejak tahun 70' an tidak ada yang berubah, berlandaskan nasehat Imam Syafi'i.
      "Jadilah seorang fiqih dan sufi. Jangan hanya menjadi salah satunya"

      ReplyDelete
    7. Ya sudah, biarlah para pembaca yang menyimpulkan berbagai pertanyaan yang saya ajukan dengan jawaban yang anda sampaikan... Termasuk perkataan Imam Syafi'i rahimahullah dengan riwayat berbeda dan bertentangn ungkapannya...

      ReplyDelete
    8. Yup, lebih baik begitu. Klo berbeda mari kita putuskan masing-masing berdasarkan al-Qur'an dan hadits.

      ReplyDelete
    9. rupanya abu salman keliru memahami Tashowuf.

      ReplyDelete
    10. mamo cemani gombongJanuary 8, 2011 at 9:51 PM

      he...he...he....ngloyooor biasa ......syukron @admin

      ReplyDelete
    11. menggapai ihsan dalam kemusyrikan adalah angan2 kosong.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Menolak tentang Ihsan Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top