728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Thursday, October 7, 2010

    Maulid Nabi saw

    Tidak ada larangan bagi kaum Muslim melakukan Maulid Nabi saw


    Ada sebagian ulama melarang kaum muslim melakukan peringatan Maulid Nabi saw semata-mata dengan sebuah kaidah yang membawa malapetaka yakni “Hukum asal ibadah adalah bathil/haram/terlarang kecuali ada dalil yang memerintahkan” Kaidah ini tidak pernah diketahui siapa pencetusnya pertama kali.

    Perihal yang terlarang jika melarang perbuatan/ibadah kaum muslim lainnya hanya dengan sebuah kaidah buatan manusia tanpa dalil/hujjah dalam Al-Qur'an dan Hadits karena kita sudah ketahui bahwa larangan/batas dan pengharaman bagi kaum muslim adalah merupakan hak Allah swt.

    Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

    Ada pula sebagaian ulama melarang perbuatan/ibadah peringatan Maulid Nabi saw dengan memahami perbuatan itu merupakan bid'ah dalam agama dan mereka menyatakan sebagai perbuatan/ibadah yang sesat/tertolak, berpegang pada dalil/hujjah salah satunya

    Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah menerangkan sbb: “Jauhilah olehmu sesuatu yang diada-adakan karena yang diada-adakan itu bid’ah dan sekalian bid’ah adalah dholalah (sesat)”.

    Inilah kesalahpahaman yang membawa malapetaka bagi dunia Islam yakni kesalahpahaman tentang bid'ah. Selengkapnya baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/17/kesalahpahaman-bidah/

    Bagi pemahaman mereka perbuatan/ibadah peringatan Maulid Nabi terlarang dilakukan karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in dan pada masa yang utama (Salafush Sholeh).

    Mereka salah memahami hukum seluruh perbuatan/ibadah yang dicontohkan Rasulullah saw atau salah memahami antara sunnah dalam arti hadits Nabi saw dan sunnah dalam arti anjuran Nabi saw.  Selengkapnya baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/27/gigitlah-sunnah/

    Bagi pemahaman mereka perbuatan/ibadah yang tidak pernah dicontohkan adalah bid’ah dan sesat (dholalah).

    Bagaimanakah mungkin Rasulullah saw menyatakan sesat/tertolak bagi perbuatan/ibadah yang hukum dasarnya Allah swt telah diamkan/bolehkan selama tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Bagaimanakah mungkin Allah swt telah mendiamkan/membolehkan kemudian Rasulullah saw tidak membolehkannya ?

    Kesimpulannya tentu bukan haditsnya (perkataan Nabi saw) yang keliru namun mereka salah memahami hadits “Jauhilah olehmu sesuatu yang diada-adakan karena yang diada-adakan itu bid’ah dan sekalian bid’ah adalah dholalah (sesat)

    Adalah sebuah kekeliruan kalau hanya berhujjah/berdalil dengan sebuah hadits dan hadits yang semakna, karena hadits-hadits saling menguraikan/menjelaskan, terutama hadits-hadits bersifat umum selalu dijelaskan oleh hadits-hadits bersifat khusus.

    Hadits “Jauhilah olehmu sesuatu yang diada-adakan karena yang diada-adakan itu bid’ah dan sekalian bid’ah adalah dholalah (sesat)” dan yang semakna, telah dijelaskan atau diuraikan oleh hadits lain seperti

    Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak” (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

    Sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa perbuatan/ibadah yang baru (bid’ah) dan tertolak adalah bid’ah dalam urusan kami. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/17/urusan-kami/

    Mustahil Rasulullah saw menyatakan tertolak untuk perbuatan/ibadah yang telah Allah swt diamkan/bolehkan.

    Jelaslah yang tertolak adalah bid’ah dalam urusan kami. Urusan kami adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt baik berupa kewajiban, larangan dan pengharaman.

    Kewajiban adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib.
    Larangan dan pengharaman adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya haram

    Marilah kita lihat kembali pemetaan perbuatan/ibadah
    Peta perbuatan/ibadah

    Ibadah mahdah (ibadah ketaatan), ibadah wajib, ibadah yang ditetapkan oleh Allah swt yakni
    • wajib dilakukan (perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib)
    • wajib dihindari (perbuatan/ibadah yang hukumnya haram, berupa yang dilarang dan diharamkan)

    Ibadah ghairu mahdah (ibadah kebaikan), ibadah boleh, ibadah yang didiamkan/dibolehkan oleh Allah swt yakni
    • sebaiknya dilakukan (perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-dianjurkan / sunnah / mandub)
    • sebaiknya dihindari (perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-boleh / mubah dan boleh-tidak disukai / makruh)

    Dasar/Hujjah/Dalil peta perbuatan/ibadah

    Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah [2]:277 )

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah [2]:110 )

    Tahapan perbuatan/ibadah adalah

    1. Menjadi Muslim, mengucapkan syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. (rukun Islam)
    2. Menjadi Mukmin, menjalankan perbuatan/ibadah yang wajib dijalankan dan wajib dihindari serta meyakini seluruh rukun iman (QS Lukman [31]:4)
    3. Menjadi Muhsin (muhsinin), menjalankan perbuatan/ibadah yang boleh-dianjurkan (sunnah/mandub) dan berupaya menjauhi perbuatan boleh-boleh (mubah) , boleh-tidak disukai (makruh) (QS Lukman [31]:3)

    Jadi dapat kita pahami bahwa bid’ah yang tertolak (dholalah) adalah bid’ah pada perbuatan/ibadah yang wajib dilakukan dan yang wajib dihindari (ibadah wajib/ibadah mahdah)

    Sedangkan bid’ah dalam perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh/ibadah ghairu mahdah asalkan tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan perbuatan baik atau bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah.

    Oleh karenanya sebagian ulama menganggap kaum Wahabi atau salaf(i) justru telah melakukan bid’ah dan sesat/dholalah karena mereka menetapkan perbuatan/ibadah sebagai hukum wajib padahal sesungguhnya perbuatan/ibadah tersebut adalah hukumnya sunnah/mandub atau sebaliknya mereka melarang/mengharamkan (hukumnya haram) padahal sesungguhnya perbuatan/ibadah tersebut adalah hukumnya sunnah/mandub, seperti melarang/mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-dianjurkan atau sunnah/mandub berdasarkan firman Allah swt

    Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad
    "Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu" (QS al Hasyr [59] : 18 )

    Jika dikatakan bahwa perbuatan/ibadah Maulid Nabi Muhammad saw meniru/mengikuti perbuatan kaum Nasrani yang memperingati hari kelahiran Nabi Isa as berdasarkan dalil/hujjah bahwasannya orang-orang kafir bergembira dengan perbuatan kaum muslimin yang menyerupai mereka adalah firman Allah ta’ala :

    وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

    Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” [QS. Al-Baqarah : 120].

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw bukanlah “mengikuti agama mereka” dan bukan pula “mengikuti kemauan mereka”.

    Agama mereka, kemauan mereka adalah menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan

    Sekali lagi kami sampaikan bukanlah sebuah kesalahan/dosa perbuatan kaum Nasrani memperingati hari kelahiran Nabi Isa as.

    Dosa / kesesatan mereka adalah menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan.

    Kesimpulannya adalah tidak ada larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits bagi kaum muslim yang melakukan perbuatan/ibadah Maulid Nabi saw.

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    13 comments:

    1. ya akhi, ana sangat menyayangkan ternyata antum masih menduga-duga kalau kaidah hukum asal ibada adalah mamnu' adalah kaidah yang membawa malapetaka?

      sungguh pernyataan antum inilah yang membawa malapetaka bagi ahlul 'ilm.

      kaidah itu diambil dari hadits 'Aisyah ra:

      man 'amila 'amalan laysa 'alaihi amruna, fa huwa roddun (Muslim)

      "barangsiapa yang mengerjakan suatu amal ibadah yang TIDAK ADA PERINTAH DARI KAMI, maka ia tertolak"

      jadi asal dari ibadah itu adalah perintah dari kami kata Nabi, bukan perintah kyiai, habaib ayau syaikh antum.

      Dari situlah ulama selanjutnya merumuskan kaidah tentang ibadah.

      Nah sekarang ana mau tanya kaidah yang antum bawakan bahwa semua ibadah itu boleh kecuali ada larangan, asalnya dari mana akhi? bisakah antum tunjukkan?

      Hadits imam Nawawi yang antum bawakan di atas tidak sama sekali bertentangan dengan hadits dari jalan 'Aisyah yang ana bawakan, hanya saja antum keliru memahami hadits an Nawawi tsb. Karena ada kaidah yang menjelaskan bahwa sesuatu yang umum harus dibawa kepada yang muqoyyad. Sedangkan hadits 'Aisyah tentang ibadah ini sifatnya muqoyyad, tidak bisa dikalahkan oleh yang umum sifatnya.

      ReplyDelete
    2. Ya akhi, pahami dengan baik hadits
      “barangsiapa yang mengerjakan suatu amal ibadah yang TIDAK ADA PERINTAH DARI KAMI, maka ia tertolak”

      Yang dimaksud amal ibadah adalah ibadah ketaatan (ibadah mahdah), ibadah yang telah Allah ta'ala tetapkan yakni berupa kewajiban (hukum/perkara wajib) , larangan dan pengharaman (hukum/perkara haram).

      Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/09/peta-perbuatan-ibadah/

      ReplyDelete
    3. Gampang aja mas, para sabahat yang mulia sepeninggalnya nabi saw dulu pada ngelakuin begituan kagak... emang mereka orang-orang beloon yaa yang ga tahu mana kewajiban, mana larangan dan mana anjuran...

      Ooh, barang kali ulama2 di jaman ini lebih dalam ya pemahamnya tentang Islam ketimbang para sahabat dan pengikutnya yang di jamin Allah karena kemuliaan dan keluhuran pengetahuannya...

      Masa Abu Bakar ra lupa ? kagak ngerayaan muludan, bawa2 tumpeng ke masjid...

      ReplyDelete
    4. Bukankah telah kami sampaikan dalam tulisan tentang kebutuhan umat muslim yang timbul karena masa kehidupannya telah jauh dari masa kehidupan Rasullah , para Sahabat maupun Salafush Sholeh. Sedangkan tata-cara pengisian acara maulid Nabi saw haruslah tidak melanggar ketentuan dalam Al-Quran maupun Hadits.

      ReplyDelete
    5. mamo cemani gombongJanuary 10, 2011 at 11:54 AM

      bang Zon usul aja bang ....penjelasan anda biar orang awam yang baca kaya saya mengerti ......ada contoh kongkrit ibadah ketaatan yang dimaksud .....salam

      ReplyDelete
    6. Silahkan baca tulisan di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/09/peta-perbuatan-ibadah/
      kalau masih belum membantu, silahkan kabari kami kembali

      ReplyDelete
    7. Mas ... dasarnya yang jelas dong.... jangan asal ngomong, kok semua pernyataannnya di pelintir pake nafsu sih, ngomong yang sesuai dengan al - qur'an, ngomong hanya untuk pembenaran kubu semata, liat tuh al-qur'an... jangan asal ngomong...

      ReplyDelete
    8. Mana bagian yang belum jelas bagi antum ?
      Mana bagian yang menurut pemahaman antum tidak sesuai dengan Al-Qur'an, jadi kami bisa koreksi segera kalau itu memang benar sebuah kesalahan.

      Terima kasih

      ReplyDelete
    9. kita memperingati maulid Nabi tiada lain hanya mengenang perjuangan Beliau, akhlak Beliau, keteladanan Beliau yang patut dicontoh oleh ummatnya. apalagi pada zaman sekarang yang mana anak-anak sudah hampir tidak mengenal siapa itu nabi Muhammad bahkan mereka lebih mengenal nama-nama artis yang mungkin dari sebagian mereka tidak petut dicontoh prilakunya. pertanyaanya mengapa Nabi Muhammad tidak menganjurkan untuk memperingati hari kelahiranya. Nabi Muhammad bukanlah orang yang sombong yang ingin mengagung agungkan dirinya.
      Saudara-saudaraku! kita memperingati hari kelahiran Nabi setiap tahun saja sudah banyak mengaku Nabi apalagi tidak.
      sekali lagi saya katakan kita memperingati kelahiran Nabi bukan untuk berpoya-poya tapi diisi dengan mauidhotul hasanah dan hikayat perjuangan Rasulullah Saw.

      ReplyDelete
    10. mamo cemani gombongMarch 25, 2011 at 6:34 AM

      saya sepakat dgn antum @arinie ......namun sebagian saudara kita punya pemahaman lain yang justru dgn pemahaman mereka muslim seperti anda dianggap melaksanakan bid'ah yang mana bid'ah menurut pemahaman mereka semuanya tanpa kecuali adalah sesat dan kesesatan adanya nanti dineraka .......apa nggak ngeri orang yang masih awam menerima hujjah tsb ??? seolah olah Islam itu mengerikan , nggak sejuk , nggak damai , padahal islam rahmatan lil 'allamiin........

      ReplyDelete
    11. Demi Allah,setelah saya membaca artikel diatas..saya jadi merasa bahwa anda adalah orang yang paling baik pendapatnya,paling bagus hujjahnya,paling benar dalilnya,dan paling indah bahasa penyampaiannya...daripada:

      kaidah yang telah banyak diketahui dan tidak terdapat perdebatan didalamnya,Insya Allah.

      Allah berfirman : “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

      Rosululllah bersabda:
      “Sebaik-baik manusia adalah masaku kemudian umat yang setelah mereka kemudian umat yang datang setelah umat tersebut.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu)

      Tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan maulid di seluruh penjuru dunia, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tapi diukur dengan dalil-dalil syar’i, sebagaimana Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani : “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikianlah itu (hanya) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah :’ Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang yang benar .” (QS. Al Baqarah : 111).
      Allah juga berfirman : “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. “(QS. Al An’aam : 116 ).


      Wallahu a’lamu bis showab.

      ReplyDelete
    12. Alhamdulillah, terima kasih atas kunjungan dan komentar mas Ahmad Yamin. Bagi kami ada kesalahpahaman dalam memahami firman Allah ta'ala dalam (QS Al An'aam : 6: 116). Inilah yang kami sampaikan bahwa kesalahpahaman dikarenakan menggunakan metodologi "terjemahkan saja" sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/. Kita harus dapat membedakan antara "kebanyakan orang-orang" dengan "kebanyakan orang muslim" atau "kebanyakan ulama sholeh" Ulama sholeh pastilah mereka yang telah berhasil mengikuti Rasulullah maupun para Salafush Sholeh. Ulama sholeh yang selalu istiqomah pada jalan yang lurus dan telah memperoleh karunia ni'mat dari Allah Azza wa Jalla. Kita sebaiknya tidak mengikuti ulama yang tidak terbukti ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an mereka.
      Maulid nabi bukanlah yang termasuk "urusan kami" namun merupakan amal kebaikan . Amal kebaikan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits tetaplah merupakan amal kebaikan walupun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah maupun para Salafush Sholeh. Saat ini sebagian ulama salah memahami tentang bid'ah sebagaimana yang telah kami uraikan dalam blog ini . Contohnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/17/kesalahpahaman-bidah/

      ReplyDelete
    13. assalammuala'ikum wr. wb.
      sukron, alhamdullilah mas jon untuk catatannya, dan terus terang saya tertarik dengan kitab anni’matul kubro ‘alaa al-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii, kebetulan saya tidak punya kitab tersebut, dan di maktabah pun tidak ada, jadi saya mau minta bantuan tentang infonya, kalau kitab tersebut sudah ada versi digitalnya untuk di download, saya minta tolong info linknya ?jazakalloh khairon katsiro wassalammua'alikum wr.wb

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Maulid Nabi saw Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top