728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Friday, March 4, 2011

    Menghukum yang berdosa

    Berikut riwayat yang menjelaskan bagaimana sebaiknya orang-orang yang paham hukum agama (syariat) memperlakukan orang-orang yang telah berdosa dan ingin bertaubat.  Hindarilah menghukum atau menilai orang lain seolah-olah kita mengatasnamakan Allah Azza wa Jalla.  Hanya Allah ta'ala yang Maha Mengetahui dan Maha Memutuskan/Menghukum (Al Fattaah)

    Katakanlah: “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui” (QS Sabaa’ [34]:26 ).

    Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya” (QS al-A’raaf [7]:89 ).

    Orang-orang yang paham agama belum tentu bagian dari orang-orang sholeh (sholihin) atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim yang berakhlakul karimah.

    Sungguh orang-orang sholeh (orang-orang alim) berada pada jalan yang lurus,  jalan orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah Azza wa Jalla

    Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa [4]: 69 )
    Diriwayatkan dalam sebuah hadits Bukhari dan Muslim, bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israel, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Setelah sekian lama ia banyak membunuh, ia menyadari bahwa dirinya salah dan berada dalam dosa besar. Ia ingin bertobat, namun ia ingin jawaban, apakah ia masih bisa diterima Tuhan. Maka ia keluar dengan pakaian dan pedang yang masih berlumuran darah. Bagaikan orang yang bingung dan ketakukan, ia bertanya kepada setiap orang, “Apakah aku masih bisa diampuni?”. Orang-orang berkata kepadanya, “Kami akan menunjukkanmu kepada seorang rahib yang tinggal di kuilnya. Ke sanalah engkau, dan tanyakan kepadanya apakah dirimu masih bisa diampuni Tuhan”.

    Dengan langkah yang tergesa diiringi hati yang penuh penyesalan, pergilah si pembunuh tersebut ke tempat si rahib, berharap sekiranya orang yang paham hukum agama bisa memberikan jawaban atas niat tobatnya. Singkat kata, si pembunuh tersebut sampai di tempat si rahib, dan bukan kepalang kagetnya si rahib melihat siapa yang datang kepadanya.

    Dengan gemetar dan terbata-bata, si pembunuh tersebut bersuara, “Wahai rahib ahli ibadah, sesungguhnya aku telah membunuh 99 orang dengan tanganku, aku hanya ingin tahu, apakah dengan keadaan seperti ini Tuhan masih mau menerima tobatku, dan mengampuni semua dosa-dosaku?”

    “Tiiiidak ada tobat bagimu!!!” sang rahib membentak dengan seketika.

    Bukan main kecewa dan putus-asa-nya si pembunuh tersebut mendengar jawaban sang rahib yang diharapkannya bisa mengabarinya secercah harapan baik Ilahi. Dunia dilihatnya mendadak gelap. Amarahnya kembali memuncak. Seketika ia mengayunkan pedang, dan secepat kilat menebas leher sang rahib. Genaplah 100 orang manusia yang sudah dibunuhnya.

    Kembali ia berjalan keluar, dengan jiwa yang masih sangat menginginkan taubat dan kembali ke jalan Tuhannya, menemui orang-orang yang dijumpainya guna menanyakan kepada mereka, “Adakah jalan untuk bertobat untukku?”

    Akhirnya ada yang memberi tahu, “Pergilah engkau kepada fulan bin bulan, bukan rahib, ia seorang ‘alim, yang ahli tentang hukum Tuhan

    Si pembunuh itu tak banyak lagi bertanya, langsung bergegas menemui orang ‘alim yang dimaksud. Sesampainya di tempat yang dituju, dilihatnya orang ‘alim yang hendak ditemuinya itu sedang mengajari murid-muridnya. Orang ‘alim itu tersenyum menyambut kedatangannya, mendudukkannya di sebelahnya, dan dengan lembut bertanya, “Ada keperluan apa kiranya Saudara ini datang ke mari?”

    Ia menjawab, “Saya telah membunuh 100 orang, masih adakah kiranya jalan untuk tobat bagiku?”

    Sambil tersenyum hangat orang ‘alim itu menjawab, “Siapa yang bisa menghalang-halangi antara kamu dengan tobat dan siapa yang bisa mencegahmu dari melakukan tobat? Pintu Tuhan terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan-Nya, bergembiralah dengan perkenan-Nya, dan bergembiralah dengan tobat yang murni. Aku akan memohon kepada Allah, semoga Dia menerima tobatmu”

    Gemetarlah bibir si pembunuh, dan pecahlah air matanya penuh haru.

    Kemudian sang ‘alim tersebut berkata, “Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, yang mana ia akan selalu memberimu pengaruh untuk berbuat keburukan dan kejahatan. Oleh karena itu keluarlah kamu dari kampung yang jahat itu menuju kampung yang lebih baik. Gantikanlah tempat tinggalmu, cari kampung yang baik dan bergaullah dengan orang-orang yang shaleh yang akan senantiasa menolong dan membantumu untuk bertobat dan melakukan kebaikan”

    Si pembunuh itu pun pergi dengan langkah yang cepat dengan hati gembira yang meluap-luap. Gembira dengan berita dan pengharapan ini. Namun di tengah perjalanan, si pembunuh ini jatuh sakit, dan maut datang menjemputnya.

    Seketika turunlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab untuk mengambil ruh si pembunuh. Timbul perselisihan.

    “Sesungguhnya dia sudah bertobat dan hendak menuju kepada kehidupan yang taat, kembali kepada jalan Tuhannya, dan sejak itu dia dilahirkan kembali melalui tobatnya. Oleh karena itu dia adalah bagian kami,” kata Malaikat Rahmat.

    Malaikat Adzab bersuara, “Sesungguhnya dia belum pernah melakukan satu kebaikan pun. Dia tidak pernah bersedekah, tidak pernah sujud, maka dengan alasan apa dia berhak mendapatkan rahmat? Biarkan dia termasuk bagian kami”

    Allah kemudian mengirimkan malaikat lain dari langit untuk melerai persengketaan dua malaikat tersebut.

    “Lebih baik kalian ukur jarak antara lelaki ini dengan tanah yang ia tinggalkan, yaitu kampung yang jahat, dan jarak antara dia dengan kampung yang hendak ditujunya, yakni kampung yang baik”

    Diukurlah jarak tersebut, dan setelah diukur, ternyata didapati, lelaki pembunuh tersebut menghadapkan dadanya dan lebih dekat ke arah kampung yang baik. Akhirnya diputuskanlah bahwa lelaki pembunuh tersebut dibawa malaikat rahmat, untuk kemudian dimasukkan ke dalam sorga.

    ——Hadits Shahih Bukhari no. 3395, Shahih Muslim no. 6957, dan Ahmad no. 10924.

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menghukum yang berdosa Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top