728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Friday, March 4, 2011

    Siapa kami

    Siapa kami dan bagaimana pemahaman kami

    Zon merupakan bagian dari nama pemberian orang tua kami.  Dari bahasa Belanda yang artinya matahari. Dengan nama itu merupakan doa orang tua kami agar kami dapat memberikan cahaya kepada keluarga dan siapapun juga. Amin ya Robbal Alamin.

    Waktu kecil memang kami tinggal di lingkungan warga NU namun Ayah kami lebih condong ke Muhammadiyah yang dalam berdalil selalu berkeinginan untuk mencari yang lebih kuat atau tarjih sebagaimana kebiasaan kaum Muhammadiyah.

    Namun Ayah kami sangat menghormati kaum NU bahkan madrasah yang kami ikuti sepulang SD Negeri, ustadz-ustadznya dari kalangan NU. Ayah kami tidak mempermasalahkan pendidikan kami ditangani ustadz-ustadz dari kalangan NU, prinsipnya semua adalah berupaya mengikuti jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah ta'ala. Jalannya Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.

    Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa [4]: 69 )

    Ulama yang sangat dihormati oleh keluarga kami pada waktu itu adalah Buya Hamka.

    Buya Hamka adalah salah satu ulama yang mencontohkan bagaimana bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin,  bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan  tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Sebagaimana firman Allah ta'ala yang artinya,

    …kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Maidah: 54)

    Beliau terkenal tegas kepada orang-orang yang tidak bersyahadat, contohnya beliau medakwahkan untuk tidak mengucapkan "selamat" kepada kaum Nasrani namun beliau memperlakukan kaum nasransi sebagaimana seharusnya memperlakukan ciptaan Allah ta'ala yang lainnya.
    Di mata beliau tetap kaum nasrani bukanlah termasuk orang-orang beragama dan bukanpula orang-orang beriman sebagaimana yang beliau uraikan dalam tafsirnya. Silahkan baca sehubungan itu dalam tulisan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/28/2009/04/23/jangan-memfitnah-buya-hamka/
    dan tafsir beliau atas surat Al Baqarah [2]: 22-26
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/28/2009/04/23/toleransi-beragama/

    Oleh karenanya berdasarkan dari  tafsir beliau dan diolah dari pemahaman kami maka kami tuliskan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/03/2011/01/21/agama-hanya-islam/
    dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/03/2010/10/27/orang-orang-beriman/

    Buya Hamka lah yang menyadarkan kami ketika dewasa  bahwa ada Tasawuf dalam Islam yakni tentang Ihsan, Akhlak yang disebut beliau dengan "Tasawuf Modern" artinya bagaimana penerapan Tasawuf dalam Islam di zaman modern ini.  Tasawuf sebagaimana sejak Rasulullah ajarkan dan diikuti oleh para Salafush Sholeh yakni tentang Ihsan atau akhlak
    Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
    Sebagaimana yang kami telah jelaskan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/rasulullah-bertasawuf/
    dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/penjelasan-bertasawuf/

    Ketika dewasa kami memperdalam tasawuf dari seseorang yang tinggal daerah LIDO perbatasan kab Bogor dengan kab Sukabumi.  Beliau sanad ilmunya InsyaAllah terhubung ke baginda Rasulullah melalui Imam Sayyidina Ali kw.

    Ketika kecil,  di madrasah dengan ustadz-ustadz dari kalangan NU, mereka memperkenalkan Allah ta'ala  dengan "Sifat 20",  Asma ul Husna yang 99 dan sebagaimana Allah ta'ala mengenalkan diriNya seperti firman-firman Allah ta'ala berikut

    "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" ( Al Baqarah: 186).

    Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).

    Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

    Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

    Tidak pernah kami dikenalkan dengan hadits jariyah. Maha suci Allah dari "di mana" dan "bagaimana"

    Menarik sekali ketika kami melihat video-video dari cerita mereka yang mengaku warga NU tersebut.

    Dari video http://www.youtube.com/watch?v=1iI6CATMeVg pada detik ke 55 mereka mengaku mengikuti paham sebagaimana yang di dakwahkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Dari video http://www.youtube.com/watch?v=CaT4wldRLF0 mulai pada menit ke 03 detik 15 mereka meyakini bahwa Allah ta'ala punya tangan namun tangan Allah tidak serupa dengan makhluk.

    Inilah salah satu pangkal perbedaan atau perbedaan utama antara  pemahaman kami dengan pemahaman saudara-saudaraku Salafi/Wahhabi adalah dalam memaknai ayat-ayat mutasyabihat.

    Kami menolak memaknai ayat-ayat mutasyabihat secara dzahir sedangkan saudara-saudaraku Salafi/Wahhabi memaknai ayat-ayat mutasyabihat sesuai makna dzahir berpegang pada "dengan bahasa Arab yang jelas" (QS Asy Syu'ara [26]:195) Inilah yang kami katakan sebagai konsep/metodologi "terjemahkan saja"  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

    Kami tidak memaknai dzahir ayat-ayat mutasyabihat untuk menghindari kekufuran sebagaimana yang disampaikan Al  Imam Ahmad  ar-Rifa'i  (W.  578 H) dalam  al Burhan al Muayyad berkata:  "Jagalah aqidah kamu  sekalian dari berpegang kepada dzahir ayat  al Qur'an  dan  hadits Nabi Muhammad  shallallahu  'alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran".

    Benar bahwa Al-Qur'an "dengan bahasa Arab yang jelas"  (QS Asy Syu'ara [26]:195)  namun yang tahu jelas makna ayat-ayatnya adalah kaum yang mengetahui atau yang berkompeten atau yang ahlinya yang telah dikaruniakan al-hikmah oleh Allah ta'ala .
    Sebagaimana firman Allah ta'ala yang artinya,
    "Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui" (QS Fushshilat [41]:3 )

    "Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."(QS Al Baqarah [2]:269 )

    Jika di dalam Al-Qur'an dan Hadits kita menemukan sifat Allah yang makna dzahirnya adalah sifat manusia maka harus ditinggalkan karena Al Imam ath-Thahawi  mengatakan:  "Barangsiapa menyifati Allah dengan  salah  satu  sifat manusia maka  ia telah kafir".

    Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada satu tempat dan sebagainya.

    DzatNya adalah kekal, tidak berubah, tidak berpindah, tidak mempunyai ukuran/dimensi. Yang berubah, berpindah dan berukuran/dimensi  adalah manusia.

    Imam malik bin anas ra menghadapi hadis ”Allah turun di setiap sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi ( turunnya perintah dan rahmat Allah ) pada setiap sepertiga malam “adapun Allah Azza wa Jalla, adalah tetap tidak bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yg tiada tuhan selainNya"  lihat pada  "at tamhid"  8/143,  "siyaru a’lamun nubala" 8/105   "arrisalatul wafiyah" hal 136 karangan Abi Umar Addani dan dalam kitab  syarah an-nawawi ala shohih muslim 6/37  dan juga  al-inshaaf karangan ibnu sayyit al-bathliyusi hal 82.

    Berikut uraian dari habib Munzir
    Hadirin hadirat, sampailah kita kepada Hadits Qudsi, dimana Sang Nabi Saw bersabda menceritakan firman Allah riwayat Shahih Bukhari “Yanzilu Rabbuna tabaaraka wa ta’ala fi tsulutsullailil akhir…” (Allah itu turun ke langit yang paling dekat dengan bumi pada sepertiga malam terakhir).

    Maksudnya bukan secara makna yang dhohir Allah itu ke langit yang terdekat dg bumi, karena justru hadits ini merupakan satu dalil yang menjawab orang yang mengatakan bahwa Allah Swt itu ada di satu tempat atau ada di Arsy.

    Karena apa? kalau Allah itu sepertiga malam turun ke langit yang paling dekat dengan bumi, kita mengetahui bahwa sepertiga malam terakhir itu tidak pergi dari bumi tapi terus kearah Barat. Disini sebentar lagi masuk waktu sepertiga malam terakhir misalnya, Lalu sepertiga malam terakhir itu akan terus bergulir ke Barat, berarti Allah terus berada di langit yang paling dekat dengan bumi. Tentunya rancu pemahaman mereka.

    Yang dimaksud adalah Allah itu senang semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat kepada hamba hamba Nya disaat sepertiga malam terakhir semakin dekat Kasih Sayang Allah.

    Allah itu dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak. Berbeda dengan makhluk, kalau dekat mesti ada sentuhan dan kalau jauh mesti ada jarak. “[I]Allah laysa kamitslihi syai’un[/I]”  ([I]Allah tidak sama dengan segala sesuatu[/I]) (QS Assyura 11)

    Allah Swt turun mendekat kepada hamba Nya di sepertiga malam terakhir maksudnya Allah membukakan kesempatan terbesar bagi hamba hamba Nya di sepertiga malam terakhir.

    Sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih dinihari.., kalau malam dibagi 3, sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih, sampai sebelum adzan subuh itu sepertiga malam terakhir, waktu terbaik untuk berdoa dan bertahajjud.

    Disaat saat itu kebanyakan para kekasih lupa dengan kekasihnya. Allah menanti para kekasih Nya. Sang Maha Raja langit dan bumi Yang Maha Berkasih Sayang menanti hamba hamba yang merindukan Nya, yang mau memisahkan ranjangnya dan tidurnya demi sujudnya Kehadirat Allah Yang Maha Abadi. Mengorbankan waktu istirahatnya beberapa menit untuk menjadikan bukti cinta dan rindunya kepada Allah.

    Hadirin hadirat, maka Allah Swt berfirman (lanjutan dari hadits qudsi tadi) “Man yad u’niy fa astajibalahu” (siapa yang menyeru kepada Ku maka aku akan menjawab seruannya).

    Apa maksudnya kalimat ini?

    Maksudnya ketika kau berdoa disaat itu Allah sangat….,. sangat… ingin mengabulkannya untukmu. “Man yasaluniy fa u’thiyahu” (barangsiapa diantara kalian adakah yang meminta pada Ku maka Aku beri permintaannya).

    Seseorang yang bersungguh sungguh berdoa di sepertiga malam terakhir sudah dijanjikan oleh Allah ijabah (terkabul).

    Kalau seandainya tidak dikabulkan oleh Allah berarti pasti akan diberi dengan yang lebih indah dari itu. “Wa man yastaghfiruniy fa aghfira lahu” (dan siapa yang beristighfar mohon pengampunan pada Ku disaat itu, akan Kuampuni untuknya).

    Betapa dekatnya Allah di sepertiga malam terakhir. Hadirin hadirat, disaat saat itu orang orang yang mencintai dan merindukan Allah pasti dalam keadaan bangun dan pasti dalam keadaan berdoa.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari “manusia yang paling khusyu’ (Sayyidina Muhammad Saw) didalam tahajjudnya beliau berdoa “Allahumma lakal hamdu antanurrussamawati wal ardh, Allahumma lakal hamdu anta qayyimussamawati wal ardh, Wa lakal hamdu anta rabbussamawati wal ardh””.

    “Allahumma lakal hamdu antanurrussamawati wal ardh” (Wahai Allah bagi Mu puji – pujian yang indah, Engkaulah Cahaya langit dan bumi, yang Maha Menerangi langit dan bumi dengan kehidupan, kesempurnaan dan kemegahannya). Cahaya langit dan bumi, Dialah Allah. “Allahumma lakal hamdu anta qayyimussamawati wal ardh” (Wahai Allah bagi Mu puji – pujian yang indah, Engkaulah yang Membangun langit dan bumi). “Wa lakal hamdu anta rabbussamawati wal ardh” (dan untuk Mu puji – pujian, Engkaulah yang Memelihara langit dan bumi).

    Sumber: http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=181&Itemid=1

    Wajar, kalau beberapa pemahaman kami sama dengan kaum Syiah karena kami meyakini apa yang disampaikan oleh Khataman Khulafaur Rasyidin yakni Imam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah.  Namun kami berbeda pemahaman dengan kaum Syiah dibanyak sisi yang lain.

    Imam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah  adalah Wali Allah sebagaimana Rasulullah dan satu-satunya Khulafaur Rasyidin yang berpredikat Imam.

    Karramallahu wajhah artinya Allah memuliakan wajahnya, gelar untuk sayyidina Ali yg tak pernah memandang yang tidak Haq. Beliau hanya memandang Allah Azza wa Jalla. Berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.

    Begitu pula riwayat yang selalu kami sampaikan
    Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani, "Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"
    Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
    "Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat (zahir)
    tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ...". (batin)

    Imam Sayyidina Ali KW yang selalu memandang Allah Azza wa Jalla mengatakan
    "Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat" (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).

    Hal itu sesuai pula dengan hadits berikut
    Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

    Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath menyatakan: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada (pada azal) dan belum ada tempat serta makhluk, dan Dia pencipta segala sesuatu”.

    Begitupula Imam Sayyidina Ali KW yang selalu memandang Allah Azza wa Jalla mengatakan
    "Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya" (diriwayatkan oleh Abu manshur al baghdadi dalam kitab alfarq baynal firoq hal 333)

    Kami selalu menyampaikan maha suci Allah ta'ala dari "di mana" dan "bagaimana" berdasarkan perkataan Imam Sayyidina Ali KW yang selalu memandang Allah Azza wa Jalla, "Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana dan sesungguhnya yang menciptakan al kayf (sifat-sifat benda) tidak dikatakan bagi-Nya bagaimana"

    Demikianlah sekilas perkenalan diri kami dan bagaimana kami mengenal Allah Azza wa Jalla dari semula kami diajarkan oleh guru-guru kami sampai kami dewasa saat ini

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comments:

    1. hallo mas slm kNl ya, sya tertarik dan sya dapt pngetahuan dgn Mbaca artikel mas di blog....o ya mas klw bisa follow blog sya ya....biar sya bs dgn mudah tuk brkunjung ke blog mas.....

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Siapa kami Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top