728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Thursday, April 28, 2011

    Remehkan Wali Allah

    Mereka meremehkan Wali Allah



    Mereka tanpa disadari telah meremehkan Wali Allah jika berkeyakinan bahwa pada umumnya atau siapa saja atau seluruh orang beriman dan bertaqwa adalah Wali Allah.

    Mereka berkeyakinan seperti itu berdasarkan “menterjemahkan” firman Allah ta’ala yang maknanya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS Yunus [10]:63 )

    Mereka memahami Al-Qur’an dan Hadits secara ilmiah atau logika dengan menggunakan pikiran dan memori. Mereka baru tahap mengumpulkan dalil-dalil naqli dan menterjemahkan saja.

    Kegiatan menterjemahkan menggunakan pikiran sedangkan mengumpulkan dalil-dalil naqli menggunakan memori/ingatan atau pembuktian. Namun mereka tidak melanjutkannya kepada tahap mengambil pelajaran atau pemahaman yang dalam (hikmah) dari dalil-dalil naqli. Pemahaman yang dalam (hikmah) menggunakan akal dan hati.

    Perbedaan antara pemahaman secara ilmiah/logika dengan menggunakan pikiran dan memori dengan pemahaman secara hikmah menggunakan akal dan hati, kami telah jelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/24/jarh-wa-tadil/

    Mereka berpegang hanya pada satu atau beberapa dalil naqli yang terkait dan sekedar diterjemahkan saja tanpa mereka pahami secara menyeluruh (holistik) atau memahami dengan kaitan nash-nash Al-Qur'an dan Hadits lainnya . Sebagaimana mereka berkeyakinan pada sebuah hadits dengan memahami tempat bagi Allah ta'ala berdasarkan pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “di mana Allah” kepada seorang budak Jariyah yang diriwayatkan oleh Mu`awiyah bin Hakam. Pertanyaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "di mana Allah", janganlah dimaknai secara dzahir sebagai pertanyaan tentang tempat bagi dzatNya namun maknailah dengan hakikat keimanan (hikmah). Mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya “di mana Allah” adalah tentang keberadaan dzatNya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”. Hal ini telah kami jelaskan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/25/langit-dan-bumi/

    Firman Allah ta’ala dalam (QS Yunus [10]:63 ), pada hakikatnya hanyalah untuk menerangkan bahwa Wali Allah pastilah golongan manusia yang beriman dan bertaqwa namun sebaiknya tidak dipahami bahwa setiap orang yang beriman dan bertaqwa adalah Wali Allah

    Rasullullah telah menjelaskan secara terperinci tentang Wali Allah. Wali Allah adalah manusia bukan dari golongan Nabi yang kewaliaannya pun diketahui oleh hamba Allah tertentu yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla

    Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya

    Abu Yazid al Busthami mengatakan: "Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya".

    Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.

    Jadi jelas bahwa Wali Allah adalah manusia bukan dari golongan Nabi namun mempunyai keistimewaan atau derajat di sisi Allah Azza wa Jalla yang untuk mengenal dan mendekat kepada mereka hanyalah bagi hamba Allah yang dikehendakiNya

    Dari Abu Umamah ra, Rasulullah saw bersabda: "berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung: “Diantara para wali-Ku di hadhirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu’min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam shalat, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya pas-pasan, tetapi iapun sabar dengan hal itu.

    Kemudian Beliau saw menjentikkan jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya”. (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)

    Dari hadits di atas bisa diketahui bahwa Wali Allah adalah mereka yang paling baik ibadatnya, paling taat kepadaNya dan paling zuhud di dunia

    Zuhud di dunia adalah sikap dan perbuatan manusia yang menimbulkan kecintaan bagi Allah Azza Wa Jalla, sehingga menjadikan mereka bagian dari kekasih Allah atau Wali Allah.

    Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

    Wali Allah adalah suatu kaum atau orang-orang beriman, bertaqwa dan berlaku zuhud di dunia sehingga Allah ta’ala mencintai mereka dan manusia mencintai mereka.

    Hal inilah yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits berikut “Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (wilayah) mereka di sisi Allah Swt"
    Seorang dari shahabatnya berkata, "siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka".
    Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: "Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita". (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

    Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.
    Seorang laki-laki bertanya : “Siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya".
    Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus [10]:62 )

    Jadi jelaslah Wali Allah adalah mereka yang beriman, bertaqwa, berlaku zuhud di dunia, mempunyai kedudukan (wilayah) di sisi Allah Azza Wa Jalla dan dirindukan oleh para Nabi.

    Sekaligus kita bisa paham hakikat makna dari kata Wali yang berasal dari kata ‘al-wilayah’ adalah kedudukan, kewenangan (wilayah) di sisi Allah Azza Wa Jalla atau kedekatan di sisi Allah Azza wa Jalla atau secara umum yang kita kenal sebagai kekasih Allah ta’ala.

    Sedangkan, kita dapat temukan muslim umumnya yang memanggil seorang atau menganggap seseorang kyai atau ulama sholeh sebagai Wali semata-mata sebagai penghormatan karena mereka melihat ciri-ciri Wali Allah ada sebagian umum terlihat pada Kyai atau ulama sholeh yang mereka panggil Wali. Namun ketetapan Wali Allah adalah kehendak Allah ta’ala semata.

    Jadi kalau ada ulama yang menyatakan kepada khalayak umum bahwa dirinya wali maka jelas itu adalah kebohongan semata. Sungguh ke-wali-an hanya dapat diketahui oleh sebagian hamba Allah yang dikehendakiNya sebagaimana hadits qudsi yang disampaikan di atas.
    Tulisan kami lainnya tentang siapakah Wali Allah dapat ditemukan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/2011/01/14/siapakah-wali-allah/

    Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi.

    Oleh karennya kita wajibpula memerangi mereka yang meremehkan Wali Allah.

    Namun janganlah dipahami “memerangi mereka” dengan “membunuh mereka” sebagaimana pemahaman mereka yang salah memahami tentang jihad di jalan Allah atau pemahaman mereka yang melakukan bom bunuh diri, maksud dari “memerangi mereka” adalah "sampaikan kebenaran" kepada mereka. Tugas kita hanyalah menyampaikan saja sedangkan mereka mendapat taufiq dan hidayah adalah semata-mata kehendak Allah Azza wa Jalla.

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Remehkan Wali Allah Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top