728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Thursday, May 5, 2011

    Bid'ah yang sesat

    Bid'ah yang sesat hanyalah pada bidang kewajiban, batas/larangan dan pengharaman

    Sampai dengan tulisan ini kami buat, dari kalangan mereka belum juga kunjung menyampaikan hujjah dari Al-Qur'an maupun Hadits terhadap kaidah “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) maka kita dapat simpulkan bahwa,

    Amal kebaikan (amal sholeh) yang baru, walaupun belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun para Sahabat tetaplah merupakan amal kebaikan (amal sholeh) jika tidak bertentangan dengan Al-Qur'an maupun Hadits

    seperti contohnya,

    Sholawat Badar, Sholawat Nariyah, Sholawat Imam Syafi'i ~rahimullah dan sholawat lainya,

    Untaian doa dan dzikir ratib al hadad, al matsurat , doa robithoh, dan untaian doa lainnya,

    Sholat dengan alas sajadah, dzikir menggunakan tasbeh, dan segala kebaikan dan kemudahan bagi pelaksanaan ibadah.

    Istilah Fiqih, Istilah Ushuluddin, Istilah Tasawuf, Mazhab, Istinbath, Sifat wajib 20 Allah ta'ala dan istiqra (telaah) ulama lainnya yang baik.
    Contoh yang buruk adalah istiqra' (telaah) pembagian tauhid menjadi tiga sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan kami pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/03/2011/02/08/pembagian-tauhid/
    atau
    http://ummatipress.com/2011/03/20/fatwa-ulama-aswaja-mesir-atas-kesesatan-pembagian-tauhid-salafy-wahabi/
    atau
    http://ummatipress.com/2011/05/31/membantah-pembagian-tauhid-jadi-3-trinitas-wahabi-dengan-dalil-dalil-shahih/

    Firman Allah ta'ala yang artinya
    Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]:7)
    atau
    Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).
    Keduanya menjelaskan bahwa kita disuruh meninggalkan sesuatu terbatas pada apa yang dilarang Rasulullah, bukan pada apa yang tidak dikerjakannya atau yang tidak pernah dicontohkannya.

    Bid'ah dlolalah bukanlah pada bidang amal kebaikan (amal sholeh) namun mengada-ada dalam kewajiban, batas/larangan maupun pengharaman. Bid'ah pada bidang kewajiban, batas/larangan maupun pengharaman inilah yang disebut bid'ah menyesatkan dan tempatnya di neraka

    Contoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghindari bid’ah pada kewajiban.
    Rasulullah bersabda, “Pada pagi harinya orang-orang mempertanyakannya, lalu beliau bersabda: “Aku khawatir bila shalat malam itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687)
    Matan hadits selengkapnya silahkan baca pada http://www.indoquran.com/index.php?surano=47&ayatno=76&action=display&option=com_bukhari

    Dalil untuk menghindari bid’ah dalam pelarangan maupun pengharaman.
    Sungguh sebesar-besarnya kejahatan diantara kaum muslimin adalah orang yang mempermasalahkan hal yang tidak diharamkan, kemudian menjadi diharamkan karena ia mempermasalahkannya“. (HR. al-Bukhari)

    Betul! Tetapi mereka itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

    Sedangkan perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh) adalah baik selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Walaupun perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh) tersebut belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para Sahabat contohnya bentuk-bentuk sholawat seperti sholawat Nariyah, sholawat Badar, untaian doa dan dzikir seperti Ratib Al Hadad , Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diisi dengan kegiatan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits dll

    Imam as Syafi’i ra membolehkan perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh), dikatakan beliau sebagai, “apa yang baru terjadi dari kebaikan“

    Imam as Syafii ra berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”

    Rasulullah pun membolehkan perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh) yang tidak diatur/disyariatkan secara khusus oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dikatakan beliau sebagai “perkara yang baik”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

    Maknanya: “Barangsiapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”. (H.R. Muslim dalam Shahih-nya)

    Ada ulama yang berpendapat bahwa hadits Nabi diatas adalah tentang sedekah.

    Hadits tersebut adalah memang tentang sedekah atau amal kebaikan atau amal sholeh. Hadits itu yang menjelaskan bahwa perkara baru dalam amal kebaikan atau amal sholeh adalah perkara baik atau bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah. Sedekah atau amal kebaikan atau amal sholeh adalah luas sekali sebagaimana yang disampaikan dalam hadits berikut ini.

    Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

    Jadi kita boleh bersedekah atau beramal sholeh dengan yasinan, tahlilan, sholawat, istighotsah dll

    Jadi jelaslah kekeliruan , “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) karena tidak ada dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits.

    Jika kita membuat larangan yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka sama saja menganggap Allah ta’ala lupa atau telah melakukan bid’ah dlolalah.

    Barangsiapa yang mentaati larangan yang tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, sama saja menyembah kepada pembuat larangan.

    “Betul! Tetapi mereka itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

    Mohon sebarluaskan hasil kajian kami bahwa kaidah “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) tidak ada landasannya baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Sebagaimana kami telah uraikan juga dalam

    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/04/apa-kaitannya/
    dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/20/jika-itu-baik/
    dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/03/lagi-tentang-bidah/

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    6 comments:

    1. Mas Emzed, dalil andalan mereka: “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” mejadi tumpul setelah diulas di sini, syukron Mas Emzed.....

      Terbuktilah bahwa hujjah yg mereka bawakan seringkali merupakan dalil lemah bagaikan sarang laba-laba seperti yg sudah dijelaskan di sini. Semoga ini bisa menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yg mencintai kebenaran.

      ReplyDelete
    2. Alhamdulillah, setelah mereka menunjukkan bahwa “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” berdasarkan perkataan Ibnu Katsir, namun setelah kami cermati perkataan itu tidak ada kaitannya dengan ayat yang ditafsir, Jadi perkataan Ibnu Katsir (atau pihak lain yang menyisipkan ke dalam kitab tafsir) tersebut tidak ada dalil atau hujjah dari Al-Qur'an dan Hadits. Prinsipnya perkataan/pendapat/kaidah adalah kebenaran jika berlandaskan Al-Quran atau hadits, karena kebenaran hanyalah berasal dari Allah Azza wa Jalla

      ReplyDelete
    3. mamo cemani gombongMay 8, 2011 at 6:04 AM

      sangaaaaaaaat sepakat ustadz ...........alhamdulillah bagi pengunjung blog yang lain semoga artikel di atas dapat menambah iman kita dari syubhat2 yang " mereka" lancarkan ........trim bang Zon teruslah berkarya bang semoga Alloh merahmati antum sekeluarga amiin ......

      ReplyDelete
    4. yups ... begitulah ... mbok klu ada artikel baru di share juga toh ke akun kami, tmk yg ini juga dishare aja ya Mas .. thanks Mas Zon :-)

      ReplyDelete
    5. Mas "mantan tasawuf", indikator pengikut Rasulullah adalah tidak akan menuliskan kata-kata yang seperti mas tuliskan seperti "GUOOOBLOK TENANNNN"

      Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).

      Pengikut Rasulullah sebenarnya telah kami uraikan dalam tulisan pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/2011/05/10/sertifikat-pengikut-rasulullah/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/2011/03/05/pengikut-salafush-sholeh-sebenarnya/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/2011/06/06/ikutilah-orang-sholeh/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/2011/03/10/ulama-yang-sholeh/

      Kaidah “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) adalah kaidah tanpa dalil dari Al Qur’an dan Hadits.. Kesalahpahaman kaidah ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/08/lau-kaana-khoiron/

      Perkataan “Lau kaana khoiron lasabaquna ilahi” diperkatakan salah satunya oleh ulama Ibnu Katsir ketika beliau menyampaikan tafsir firman Allah Azza wa Jalla “waqaalal ladziina kafaruu lilladziina aamanuu lau kaana khairan maa sabaquunaa ilaihi” , “Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya” (QS Al Ahqaaf [46]:11 ). Perkataan ulama Ibnu Katsir tersebut tidak ada kaitannya dengan apa yang ditafsirkan olehnya atau tidak ada kaitannya dengan perkataan orang-orang kafir dalam (QS Al Ahqaaf [46]:11). Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/04/apa-kaitannya/

      Perkataan ulama Ibnu Katsir, “Lau kaana khoiron”, “seandainya hal itu baik” adalah khusus ketika beliau menyampaikan pendapat bahwa para Sahabat tidak pernah melakukan “pengiriman pahala bacaan al-Qur’an“. Sama sekali beliau tidak bermaksud membuat kaidah apalagi ayat yang dijelaskan tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan kaidah “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” Hal ini telah kami jelaskan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/20/jika-itu-baik/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/03/lagi-tentang-bidah/

      ReplyDelete
    6. namanya aja mantan tasawuf@ ........la sekarang jadi apa ???

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Bid'ah yang sesat Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top