728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Thursday, May 19, 2011

    Riwayat Al Baqi

    Riwayat Perkuburan Al Baqi

    Rabu 8 Syawal 1345 Hijriah bertepatan dengan 21 April 1925 mausoleum (kuburan besar yang amat indah) di Jannatul al-Baqi di Madinah diratakan dengan tanah atas perintah Raja Ibnu Saud. Di tahun yang sama pula Raja Ibnu Saud yang Wahabi itu menghancurkan makam orang-orang yang disayangi Rasulullah Saw (ibunda, istri, kakek dan keluarganya) di Jannat al-Mualla (Mekah).

    Penghancuran situs bersejarah dan mulia itu oleh Keluarga al-Saud yang Wahabi itu terus berlanjut hingga sekarang.

    Menurut beberapa ulama apa yang terjadi di tanah Arabia itu adalah bentuk nyata konspirasi Yahudi melawan Islam, di bawah kedok Tauhid. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah secara sistematis ingin menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar Kaum Muslim terputus dari sejarah Islam.

    Asal Muasal al-Baqi

    Secara harfiah “al-baqi” berarti taman pepohonan. Dikenal juga sebagai “Jannat al-baqi” karena “keramatnya” sejak keluarga dan sahabat Rasulullah dimakamkan di tempat ini.

    Sahabat pertama yang dimakamkan di al-Baqi adalah Usman bin Madhoon yang wafat 3 syaban tahun 3 hijiriah. Rasulullah memerintahkan menanam pepohonan di sekitar pusaranya. Rasul juga meletakkan dua buah batu di antara makam sahabatnya itu.

    Tahun berikutnya putra Rasulullah Ibrahim wafat saat masih bayi. Dengan derai air mata Rasulullah memakamkan putranya tercinta itu di al-Baqi. Sejak itulah penduduk Madina ikut juga memakamkan sanak saudaranya di al-Baqi. Apalagi setelah mendengar sabda Rasulullah,” Salam sejahtera untukmu wahai orang yang beriman, Jika Allah berkenan , kami akan menyusulmu. Ya Allah, ampunilah ahli kubur al-Baqi’.

    Tanah pemakaman al-Baqi perlahan pun diperluas. Tak kurang dari 7000 sahabat Rasulullah dikuburkan di sini. Termasuk juga ahlul baytnya yaitu Imam Hasan bin Ali, Imam Ali bin Husayn, Imam Muhammad Al_Baqir, dan Imam Ja’far al-Sadiq.

    Selain itu saudara Rasulullah yang dimakamkan di al-baqi adalah, Bibi Safiyah dan Aatikah. Di al-baqi dimakamkan pula Fatimah binti al-Asad (Ibunda Imam Ali bin Abi Thalib).

    Khalifah Usman dimakamkan di luar al-Baqi namun belakangan karena perluasan makam maka ia termasuk di al-Baqi. Imam mazhab sunni yang terkenal Malik bin Anas juga dimakamkan di al-Baqi. Tak pelak al-Baqi adalah tempat amat bersejarah bagi Kaum Muslimin di seluruh jagat raya.

    Al-Baqi Dalam Perspektif Ahli Sejarah

    Umar bin Jubair melukiskan al-Baqi saat ia berkunjung ke Madinah berkata,” al-Baqi terletak di timur Madinah. Gerbang al-Baqi akan menyambut anda saat tiba di al-baqi. Saat anda masuk kuburan pertama yang anda lihat di sebelah kiri adalah kuburan Safiyah, bibi Rasulullah. Agak jauh dari situ terletak pusara Malik bin Anas, Salah seorang Imam Ahlus Sunnah dari Madinah. Di atas makamnya didirikan sebuah kubah kecil. Di depannya ada kubah putih tempat makam putra Rasulullah Ibrahim. Di sebelah kanannya adalah makam Abdurahman bin Umar putra Umar bin Khatab, dikenal sebagai Abu Shahma. Abu Shahma dihukum cambuk oleh ayahnya karena minum khamar. Hukuman cambuk untuk peminum khamar seharusnya tidak hingga mati . Namun Umar mencambuknya hingga ajal merenggutnya. Di hadapan kuburan Abu Shahma adalah makam Aqeel bin Abi Thalib dan Abdulah bin Ja’far al-Tayyar.Di muka kuburan mereka terbaring pusara isteri Rasul dan Abbas bin Abdul Mutalib.

    Makam Imam Hasan bin Ali, terletak di sisi kanan dari gerbang al-Baqi. Makam ini dilindungi kubah tinggi . Di sebelah atas nisan Imam Hasan adalah makam Abbas bin Abdul Muthalib. Kedua makam diselimuti kubah tinggi. Dindingnya dilapisi bingkai kuning bertahtakan bintang indah. Bentuk serupa juga menghias makam Ibrahim putra Rasulullah. Di belakang makam Abbas berdiri rumah yang biasa digunakan Fatimah binti Rasulullah as. Biasa disebut “Bayt al-Ahzaan” (rumah duka cita). Di tempat ini putri Rasulullah biasa berkabung mengenang kepergian ayahnya tercinta rasulullah SAWW. Di ujung penghabisan al-Baqi berdiri kubah kecil tempat Usman di makamkan. Di dekatnya terbaring ibunda Ali bin Abi Thalib Fatimah binti Asad”.

    Satu setengah abad kemudian pengelana terkenal Ibnu Batutah mengunjungi al-Baqi dan menemukan al Baqi tidaklah berbeda dengan yang dilukiskan Ibnu Jubair. Ia menambahkan,” Al-Baqi adalah kuburan sejumlah kaum Muhajirin dan Anshar dan sahabat nabi lainnya. Kebanyakan mereka tidaklah dikenal’.

    Berabad-abad lamanya al-Baqi tetap keramat dengan berbagai perbaikan bangunan yang diperlukan. Semuanya berakhir diabad 19 kala Kaum Wahabi muncul. Mereka menajiskan pusara mulia dan menunjukkan sikap kurangajar pada para syahid dan para sahabat nabi yang dimakamkan di sana. Muslim yang tidak sependapat dicap sebagai kafir dan dikejar-kejar untuk dibunuh.

    Penghancuran Pertama al-Baqi

    Kaum Wahabi percaya menziarahi makam dan pusara Nabi, Imam dan para syuhada adalah pemujaan terhadap berhala dan pekerjaan yang tidak Islami. Mereka yang melakukanya pantas dibunuh dan harta bendanya dirampas. Sejak invasi pertama ke Irak hingga kini, faktanya, Kaum Wahabi, dan penguasa Negara teluk lainnya membantai Kaum Muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Tak pelak lagi seluruh dunia Islam sangat menghormati pemakaman al-Baqi. Khalifah Abu Bakar dan Umar bahkan menyatakan keinginannya untuk dimakamkan di dekat makam Rasulullah.

    Sejak 1205 Hijriah hingga 1217 Hijriah Kaum Wahabi mencoba menguasai Semenanjung Arabia namun gagal. Akhirnya 1217 Hijriah mereka berhasil menguasai Thaif dengan menumpahkan darah muslim yang tak berdosa. Mereka memasuki Mekah tahun 1218 Hijriah dan menghancurkan semua bangunan dan kubah suci, termasuk kubah yang menaungi sumur Zamzam.

    Tahun 1221, Kaum Wahabi masuk kota Madinah dan menajiskan al-Baqi dan semua mesjid yang mereka lewati. Kaum Wahabi bahkan mencoba menghancurkan pusara Rasulullah , namun entah dengan alasan apa usaha gila itu dihentikan. Di tahun-tahun berikutnya jemaah haji asal Irak, Suriah dan Mesir ditolak untuk masuk kota Mekah untuk berhaji. Raja al-saud memaksa setiap muslim yang ingin berhaji harus menjadi wahabi atau jika tidak akan dicap sebagai kafir dan dilarang masuk kota Mekah.

    Al-Baqi pun diratakan dengan tanah tanpa menyisakan apapun, termasuk nisan atau pusara .Belum puas dengan tindakan barbarnya Kaum Wahabi memerintahkan tiga orang kulit hitam yang sedang berziarah ke pusara Nabi untuk menunjukkan tempat persembunyian harta benda. Raja Ibnu Saud merampas harta benda itu untuk dirinya sendiri.

    Ribuan Muslim melarikan diri dari Mekah dan Madinah . Mereka menghindari kejaran Kaum Wahabi. Muslim seluruh dunia mengutuk tindakan Saudi dan mendesak khalifah kerajaan Otoman menyelamatkan situs-situs bersejarah dari kehancuran.

    Dibawah pimpinan Muhammad Ali Basha mereka menyerang Hijaz , dengan bantuan suku-suku setempat, akhirnya mereka menang.lalu ia mengatur hukum dan pemerintahan di Hijaz, khususnya Mekah dan Madinah. Sekaligus mengusir keluarga al-Saud. Muslim di seluruh dunia bergembira. Di Mesir perayaan berlanjut hingga 5 hari! Tak diragukan lagi kegembiraan karena mereka bisa pergi haji dan pusara mulia pun diperbaiki lagi.

    Tahun 1818 Masehi Khalifah Ottoman Abdul Majid dan penggantinya Abdul Hamid dan Mohammad, merekonstruksi semua tempat suci, memperbaiki semua warisan Islam yang penting. Dari 1848 hingga 1860, biaya perbaikan telah mencapai 700 ribu Poundsterling. Sebagian besar dana diperoleh dari uang yang terkumpul di makam Rasulullah.

    Tindakan Barbar Kedua Kaum Wahabi

    Kerajaan Ottoman telah mempercantik Madinah dan Mekah dengan memperbaiki semua bangunan keagamaan dengan arsitektur bercita rasa seni tinggi. Richard Burton, yang berkunjung ke makam rasulullah tahun 1853 dengan menyamar sebagai muslim asal Afghanistan dengan nama Abdullah mengatakan Madinah dipenuhi 55 mesjid dan kuburan suci. Orang Inggris lain yang dating ke Madinah tahun 1877-1878 melukiskan keindahan yang setara dengan Istambul. Ia menulis tentang dinding putih, menara berhias emas dan rumput yang hijau.

    Tahun 1924 Wahabi masuk ke Hijaz untuk kedua kalinya Untuk kedua kalinya pula pembantaian dan perampasan dilakukan. Orang-orang di jalan dibantai. Tak terkecuali perempuan dan anak-anak jadi korban. Rumah-rumah diratakan dengan tanah.

    Awn bin Hashim menulis: lembah-lembah dipenuhi kerangka manusia, darah kering berceceran di mana-mana. Sulit untuk menemukan pohon yang tidak ada satu atau dua mayat tergeletak di dekat akarnya.

    Madinah akhirnya menyerah setelah digempur habis Kaum Wahabi. Semua warisan Islam dimusnahkan. Hanya pusara Nabi Saw yang tersisa.

    Ibnu Jabhan (Ulama Wahabi) memberikan alasan mengapa ia merasa harus meratakan makam Nabi Saw, ” Kami tahu nisan di makam Rasulullah bertentangan dengan akidah dan mendirikan mesjid di pemakamannya adalah dosa besar’.

    Pusara Sang Syahid Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) beserta syahid perang Uhud lainnya dihancurkan. Masjid Nabi dilempari. Setelah protes dari Kaum Muslim dunia Ibnu saud berjanji akan memperbaiki bangunanbersejarah tersebut. Namun janji itu tidak pernah ditempati. Ibnu saud juga berjanji Hijaz akan dikelola pemerintahan multinasional, khsusnya menyangkut Madinah dan Mekah. Namun janji itu tinggalah janji.

    Tahun 1925 giliran Janat al-Mulla pemakaman di Mekah dihancurkan. Ikut juga dihancurkan rumah tempat Rasulullah dilahirkan. Sejak itulah hari duka untuk semua muslim di jagat raya.

    Tidakkah mengherankan Kaum Wahabi menghancurkan makam, pusara mulia dan semua tempat-tempat bersejarah bagi dunia islam (semuanya diam tak bergerak), sementara itu Raja-raja Saudi dijaga dengan ketat mengabiskan jutaan dolar?

    Hujan Protes

    Tahun 1926 protes massal Kaum Muslim bergerak di seluruh dunia. Resolusi diluncurkan dan daftar kejahatan wahabi dibuat. Isinya di antaranya adalah:

    1. Penghancuran dan penodaan tempat suci ,di antaranya rumah kelahiran Nabi, pusara Bani Hasyim di Mekah dan Jannat al-Baqi (Madinah), penolakan wahabi pada muslim yang melafalkan al-fatihah di makam-makam suci tersebut.

    2. Penghancuran tempat ibadah di antaranya Masjid Hamzah, Masjid Abu Rasheed, dan pusara para Imam dan sahabat.

    3. Campurtangan pelaksanaan ibadah haji

    4. Memaksa muslim mengikuti inovasi wahabi dan menghapus aturan atas keyakinan yang diajarkan para Imam mazhab

    5. Pembantaian para sayid di Thaif, madina, Ahsa dan Qatif

    6. Meratakan kuburan para Imam di al-Baqi yang sangat di hormati kaum Syiah

    Protes yang sama bermunculan di Iran, Irak, Mesir, Indonesia dan Turki. Mereka mengutuk tindakan barbar Saudi Wahabi. Beberapa ulama menulis traktat dan buku untuk mengabarkan dunia fakta-fakta yang terjadi di Hijaz adalah konspirasi karya Yahudi melawan Islam dengan berkedok Tauhid. Tujuan utama adalah menghapus secara sistematis akar sejarah Kaum Muslim sehingga nantinya Kaum Muslim kehilangan asal-usul keagamaannya.

    Tindakan barbar Kaum Wahabi boleh jadi menginspirasi peristiwa bersejarah lainnya.Sejarah perang dunia kedua mengingatkan kita akan kekejaman Nazi Jerman. Orang-orang Yahudi melarikan diri setelah dikejar-kejar untruk dibunuh Nazi. Kekejaman Hitler diperingati dunia (Khususnya Jerman dan sekutunya). Kini Nazi dilarang dan orang yang mengusung simbol-simbolnya bisa dihukum dan diusir dari Jerman. Hitler dan Nazi Jerman membantai jutaan Yahudi (versi Ahmadinejad tidak mungkin sebanyak itu). Hitler tidak merusak bangunan karya Yahudi. Hitler tidak merusak kuburan. Bandingkan dengan tindakan Kaum Wahabi yang tidak saja membunuh dan mengusir orang hidup tapi juga orang-orang yang sudah wafat juga ikut “dibunuh’!!!”

    Berikut ini daftar makam dan tempat yang juga dihancurkan Kaum Wahabi

    -Pemakaman al-Mualla di Mekah termasuk pusara isteri tercinta Nabi, Sayidah Khadijah binti Khuwailid , Makam Ibunda Rasul Siti Aminah binti Wahhab, makam pamananda Rasul Abu Thalib (Ayahanda Ali bin Abu Thalib) dan makam kakek Nabi Abdul Muthalib

    -makam Siti Hawa di Jedah

    -makam ayahanda Rasul Abdullah bin Abdul Muthalib di Madinah

    -rumah duka (baytl al-Ahzan) Sayidah Fatimah di Madinah

    -Masjid Salman al_Farisi di Madinah

    -Masjid Raj’at ash-Shams di Madinah

    -Rumah Nabi di Madinah setelah hijrah dari Mekah

    -Rumah Imam Ja’far al-Shadiq di Madinah

    -Komplek (mahhalla) bani Hasyim di Madinah

    -Rumah Imam Ali bin Abi Thalib tempat Imam Hasan dan Imam Husein dilahirkan

    -Makam Hamzah dan para syuhada Uhud di gunung Uhud

    Sumber: Buku 'Terbongkar !, lumbung dinar, jaringan Islam Radikal dan pertikaian faksi-faksi Wahabi", Penerbit Jassira Press, Bantul Jogyakarta, Cetakan Maret 2010
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    79 comments:

    1. mamo cemani gombongMay 20, 2011 at 6:42 AM

      wahai pengikut WAHABI dgn adanya artikel ini masih pantaskah antum menyebut pengikut salaf ?????? bertauhid paling murni ????? itibba Rosul ????? dikajilah kembali saudara2ku, apakah hal ini benar ????? kalau hal ini benar dan baik tentu sahabat sudah dahulu menghancurkannya ........salam .

      ReplyDelete
    2. assalamu'alaikum
      afwan....
      apakah datanya falid???

      ReplyDelete
    3. Walaikumsalam.
      Silahkan tanyakan pada sesepuh dari NU

      ReplyDelete
    4. afwan ...
      tolong antum tanyain dong..he he he..

      ReplyDelete
    5. asalnya, kuburan baqi' itu rata dengan tanah. ini pulalah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah. namun karena kejahilan dan kedzoliman, mulailah dibangun kubah. maka yang salah bukan yang membongkar kubah itu, namun justru yang membangun kubah yang salah.

      wahai kaum asy'ariyun yang ngakunya pengikut Imam Asy Syafi'i, coba simak perkataan Imam kalian:

      “Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu dari permukaan tanah” (Syarah Muslim 2/666, Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah,
      1/257)

      “Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok. Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam telah melarang kuburan dibangun atau ditembok. Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut. (al-Umm 1/277. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/258)

      “Saya melarang dibangun masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk shalat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau shalat menghadap kuburan. Apabila ia shalat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa”. (al-Umm 1/278. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/261)

      =========================================

      dalam artikel di atas ada sub judul "Asal Muasal Al-Baqi'". tapi kenapa tidak disebutkan keadaan Al Baqi' pada zaman Rasulullah? apakah keadaannya sudah ada kubah atau malah rata dengan tanah?

      justru yang disebutkan keadaan Al Baqi' yang sudah ada kubahnya adalah keadaan yang bukan pada zaman Rasulullah dan para sahabat masih hidup, melainkan sesudahnya. disebutkan 2 nama sebagai sumber, yakni Umar bin Jubair dan Ibnu Bathutah. Umar bin Jubair hidup sekitar abad 6 H dan Ibnu Bathutah sekitar abad 8 H.

      ReplyDelete
    6. @ajam
      kaum asy'ariyun kaum apa si???

      ReplyDelete
    7. Dari Abu Hayyaj berkata; Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku: ‘Maukah engkau aku utus kepada sesuatu yang Rasulullah telah mengutusku dengannya? (yaitu) jangan kamu membiarkan patung kecuali kamu hancurkan dan kuburan yang meninggi melainkan kamu ratakan.” (Riwayat Muslim)

      Perintah Sayyidina Ali ini adalah karena Abu Hayyaj akan diutus untuk menyebarkan Islam ke sebuah negeri yang mana penduduknya memang menjadikan patung dan kuburan sebagai sesembahan.

      Adapun umat Islam, maka tak pernah sekalipun ada sejarahnya umat Islam menyembah kubur. Umat Islam membina kubur hanya untuk memuliakan ahlul qubur (terlebih kubur orang yang sholeh), menjaga kubur daripada hilang terhapus zaman, dan memudahkan para peziarah untuk berziarah, dalam menemukan kubur di tengah-tengah ribuan kubur lainnya, juga sebagai tempat berteduh para peziarah agar dapat mengenang dan menghayati dengan tenang orang yang ada di dalam kubur beserta amal serta segala jasa dan kebaikannya.

      Sangat pantas sekali Sayyidina Ali menyuruh Abu Hayyaj untuk meratakan kubur-kubur sesembahan mereka dengan tanah. Tapi adapun untuk Umat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah: tidak.

      Komentar tersebut dapat dibaca pada http://sufimedan.blogspot.com/2010/11/makam-para-nabi-tinggi-tinggi-semua.html atau
      http://sufimedan.blogspot.com/2011/04/wisata-ruhani-ke-makam-para-auliya.html

      ReplyDelete
    8. di atas sudah ana sebutkan bahwa Imam Syafi'i membenci kubur yang dibangun dan beliau tidak mengingkari pembongkaran bangunan di atas kuburan.

      perintah Rasulullah kepada Ali dan kemudian Ali memerintahkan hal yang sama kepada Abu Hayyaj adalah dalam rangka untuk menutup jalan2 kesyirikan. Beliau sangat khawatir jika umatnya akan terjatuh ke dalam kesyirikan, karena itulah beliau berusaha menjauhkannya dari pintu2 kesyirikan.

      perintah meratakan kubur adalah sama pentingnya dengan perintah menghancurkan patung.

      bukankah salah satu alasan dilarangnya membuat gambar dan patung adalah karena hal tersebut merupakan pintu menuju kesyirikan? bukankah dilarangnya berkholwat antara laki2 dan wanita yang ajnabih adalah karena hal tersebut merupakan pintu menuju perzinahan? bukankah dilarangnya bergaul dengan ahli bid'ah adalah karena hal tersebut merupakan pintu menuju kebid'ahan?

      perintah meratakan kubur ini tetap berlaku untuk kaum mukminin, sekalipun itu para sahabat, sebagaimana tetap berlakunya perintah menghancurkan patung bagi mereka.

      ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa berkata : “Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka. Hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].

      dapat kita pahami dari perkataan Ummul Mu'minin bahwa sebenarnya para sahabat biasa menguburkan jenazah dengan kuburan yang nampak/terbuka, tidak dibangun kubah atau bangunan apapun. adapun kubur Rasulullah adalah pengecualian/pengkhususan bagi beliau.

      ReplyDelete
    9. kaum yang ngaku-ngaku sebagai pengikut Imam Abul Hasan Al Asy'ari

      ReplyDelete
    10. @ajam, tidak ada yg mengaku-ngaku. Apalagi ulama-ulama asyariyah juga mempunyai sanad kepada Imam Asy ari.

      ReplyDelete
    11. mamo cemani gombongMay 22, 2011 at 11:55 PM

      @ Ajam kalau nt dikata kata yang ngaku ngaku pengikut salaf gimana ????? hilangkanlah prasangka buruk Jam .....

      ReplyDelete
    12. bicara tentang Imam Abul Hasan Al Asy'ari tidak akan lepas dari pembicaraan tentang kitab Al Ibanah fii Ushuli Dinayah.

      kata orang2 yang menisbatkan dirinya sebagai pengikut beliau, kitab ini telah dipalsukan oleh orang2 yang menisbatkan dirinya sebagai pengikut salafush sholeh. tuduhan pemalsuan itu dikarenakan didapati perbedaan teks pada manuskrip yang ada.

      golongan asy'ariyun memiliki 3 teks manuskrip, yaitu:
      1. Dâr al-Anshâr Mesir edisi Doktor Fawqiyyah Husein Mahmûd
      2. Maktabah al-Mu’ayyad Saudi Arabia
      3. Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah Lebanon edisi ‘Abdullâh Mahmûd Muhammad ‘Umar.

      tuduhan pemalsuan ini berangkat dari kurangnya pengetahuan mereka tentang manuskrip kitab Al Ibanah. adapun manuskrip yang dimiliki oleh Salafiyun di antaranya:

      1. Daarul-Kutub Al-Quumiyyah Al-Mishriyyah di Kairo,
      2. Maktabah Jaami’ah ‘Utsmaniyyah di Heidar-Abad
      3. Maktabah Azhariyyah
      4. Cetakan Dr. Fauqiyyah Mahmud,
      5. Cet. Daarul-Bayan Beirut
      6. Cet. Daarun-Nafaais Beirut
      dll.

      justru manuskrip yang jadi pegangan oleh Asy'ariyun yang lebih banyak kesalahannya jika dikomparasi dengan seluruh manuskrip yang ada. tapi karena kemuliaan kaum Salafiyun, kami tidak pernah menuduh bahwa Asy'ariyun telah melakukan pemalsuan, sekalipun ada kesempatan besar untuk melakukannya.

      =========================================

      kembali pada ikap ngaku-ngaku Asy'ariyun sebagai pengikut Imam Abul Hasan, jelas ini adalah fakta karena aqidah mereka dibantah habis-habisan oleh Imamnya sendiri dalam kitab Al Ibanah.

      karena itu, tidak heran bahwa Asy'ariyun mati-matian membuat tuduhan pemalsuan kitab Al Ibanah oleh Salafiyun. anehnya, sebelum ini mereka menuduh bahwa kitab Al Ibanah ini hanyalah kitab rekaan Salafiyun yang dinisbatkan pada Imam Abul Hasan. akan tetapi setelah bukti keaslian eksistensi kitab tersebut ditunjukkan, sekarang mereka membelokkan tuduhan bahwa Salafiyun memalsukan kitab Al Ibanah.

      =========================================

      sebaiknya materi pembahasan kita kembalikan pada masalah kuburan Al Baqi'

      ReplyDelete
    13. Mas Ajam, semoga kesejukkan rahmatNya menaungi hari-hari antum.

      Banyak ulama (ahli ilmu) yang telah menguraikan adanya perbedaan kitab Al Ibanah. Salah satunya yang kami muat dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/11/al-ibanah/. Begitupula pada pertemuan “Forum Alumni Al Azhar VI" Dr. Ahmad At Thayyib juga memperingatkan adanya pihak-pihak yang jelas-jelas “mempermainkan” fiqih madzhab imam empat dan menggantinya dengan fiqih baru dan mewajibkannya kepada masyarakat.

      Beliau juga memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.” Info selengkapnya silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/

      Antum sebagai orang yang ditakdirkan lahir di Indonesia , mengapa harus fanatik dengan ulama-ulama dari dinasti Saudi ?
      Tengoklah apa yang melatarbelakangi pendirian organisasi massa Nahdatul Ulama, silahkan baca tulisan pada http://nu.or.id/page/id/static/9/Sejarah.html

      Wasallam

      ReplyDelete
    14. coba antum pikirkan hal ini:

      manuskrip kitab Al Ibanah itu ada banyak jumlahnya. jika manuskrip yang antum sebutkan digabungkan dengan manuskrip yang ana sebutkan, sudah ada 7 buah manuskrip. itu pun belum jumlah keseluruhan manuskrip yang ada. dari semua itu sudahkah mereka (ulama yang antum maksud) memeriksa semuanya?

      ana rasa mereka belum melakukannya, karena jika sudah tentu saja antum akan menyebutkannya dalam artikel di atas. lalu bagaimana bisa mereka berkata bahwa manuskrip yang mereka pegang adalah benar dan manuskrip yang kami pegang adalah palsu jika mereka belum memeriksa semua manuskrip yang ada?

      selengkapnya silakan baca http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/al-imam-abul-hasan-al-asyariy-asyaairah.html

      ======================================

      ana sama sekali tidak fanatik atau taqlid dengan ulama saudi atau wahabi. justru sebutan fanatik atau taqlid itu harusnya kepada antum. kita sama2 tahu bahwa antum bersikeras mengatakan bahwa ulama ahli hadits sepanjang sejarah sepakat menghukumi hadits jariyah itu mudhthorib, tapi ketika ana minta antum menyebutkan siapa ulama yang berkata demikian, antum tidak bisa menjawabnya. lalu siapa yang antum ikuti dalam menilai idhthirob hadits jariyah? apakah antum sudah benar2 yakin dengan orang yang antum ikuti?

      dan entah ini hanya terjadi pada sebagian saja atau keseluruhan, golongan antum mewajibkan taqlid pada salah satu madzhab.

      contoh lain dari sikap fanatik golongan antum

      1. menerima khobar dari seorang kafir, fasiq lagi majhul bernama Mr. Hempher untuk menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
      2. menerima khobar dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan yang riwayatnya munqothi' dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk menceritakan kedustaan tentang sejarah hitam wahabi.
      3. menuduh Syaikh Al Albani telah kafirkan Imam Al Bukhori.
      4. menuduh Syaikh Al Utsaimin telah kafirkan Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar
      5. dan yang sedang hangat kita bicarakan yakni menerima tuduhan tentang pemalsuan kitab Al Ibanah padahal menuduh itu belum memeriksa semua manuskrip yang ada.

      ReplyDelete
    15. @ajam...
      afwan ane mo nanya lagi...siapakah imam abul hasan al-asyari???
      kira2 d jaman siapa imam tersebut hidup...
      syukron

      ReplyDelete
    16. beliau imam ahlus sunnah yang sebelumnya terjerumus dalam kesesatan pemahaman Mu'tazilah dan Kullabiyah.

      ReplyDelete
    17. @ajam,

      'ana sama sekali tidak fanatik atau taqlid dengan ulama saudi atau wahabi'.

      Anda justru fanatik kepada abul jauzaa, kenapa anda percaya pada abul jauzaa?

      contoh kefanatikan kelompok antum :

      1. Tidak menerima kritik terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, padahal banyak ulama yang mengkritiknya beserta ajarannya (kenapa ajarannya yang sebagian berbeda dengan ajaran mainstrem tidak antum kritisi ?)
      2. Lebih percaya sama Albani yang menolak takwil Bukhari daripada takwil yang dilakukan Imam Bukhari.
      3. Lebih percaya pada ajaran akidah Syekh Utsaimin daripada akidah Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar (ente kenapa tidak mengkritisi kalau syekh utsaimin mengatakan ada beberapa penyimpangan akidah pada Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar)
      4. Lebih percaya kalau Asy'ariyah berbeda dengan akidah Imam Asy ari, walaupun ulama-ulama Ays ariyah yang merumuskan kembali akidah asy ariyah mempunyai sanad kepada beliau. (Bahkan ente fanatik banget menerima Imam asy ari telah tobat dengan kitab ibanahnya)

      ReplyDelete
    18. ikhwah...smua...
      perbedaan g akan selesai2 ni...
      intinye klo ane si...kite smua g keluar dari agama ini. sebab masing2 punya dalil....

      bersatulah...jgn berpecahbelah...

      wallahu 'alam..

      ReplyDelete
    19. 1. apa yang mereka katakan bukan kritikan, melainkan tuduhan. tuduhan bahwa beliau mengkafirkan seluruh umat islam kecuali pengikutnya, tuduhan beliau memberontak kepada daulah ustmaniyah, tuduhan bahwa beliau mengaku nabi dll. sampai detik ini, kalian pun belum bisa menunjukkan bukti2 tuduhan kalian tersebut.

      2. para sahabat saja tidak main takwil, jadi Al Albani lebih mengikuti para sahabat. lagipula, kalian salah paham dalam menangkap maksud dari perkataan Al Bukhori.

      3. memang benar aqidah An Nawawi dan Ibnu Hajar ada penyimpangan, yakni dalam hal asma wa shifat. aqidah yang diyakini oleh Ibnu Utsaimin lebih mencocoki pada para sahabat dan ulama lain daripada An Nawawi dan Ibnu Hajar.

      4. asy'ariyah dan Imam Abul Hasan Al Asy'ari sama sekali berbeda. justru asy'ariyah mengambil ajaran mu'tazilah yang telah ditinggalkan oleh Imam Abul Hasan Al Asy'ari.

      ReplyDelete
    20. 1. Apa yang perlu dibuktikan lagi ? para pengkritiknya bukan sembarang oran tetapi para ulama bahkan saudara kandung dan gurunya sendiri yang mengetahui sekali keadaan Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab. Adapun tuduhan beliau mengkafirkan seluruh umat islam kecuali pengikutnya maka apa arti ucapannya ini : “Aku telah mencari ilmu dan orang-orang yang mengenalku menyangka bahwa aku telah memiliki ilmu. Padahal saat itu aku tidak mengetahui makna “Laa Ilaaha Illallah” dan tidak mengetahui agama Islam, sebelum anugerah (pemahaman) yang telah dikaruniakan Allah kepadaku ini. Demikian juga guru-guruku, tidak ada seorang pun dari mereka mengetahui hal itu (makna laa ilaaha illallah dan Islam). Barang siapa dari kalangan ulama sekarang mengira bahwa ia telah mengetahui makna laa ilaaha illallah, atau mengetahui makna Islam sebelum saat ini, atau mengira guru-gurunya atau seseorang mengetahui hal itu maka sungguh ia telah berdusta dan mengaku-ngaku, serta mengelabuhi manusia dan memuji dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya”. (ad Durar as Saniyyah: 10/51) lau apa pula maksud ucapannya bahwa kaum musyrikin zaman sekarang ini lebih parah keadaanya daripada kaum musyrikin zaman jahilliah?
      Kalaulah hanya sedikit orang yang berbicara tentulah kita tidak mempercayainya.... tapi bila para ulama dan yang berbicara, bagaimana kita bisa menolaknya?
      2. Mayoritas ulama salaf termasuk Sahabat adalah tafwidh, tetapi seperti Ibnu Abbas, ada juga yang menakwil. Bukankah di situs Salafi sendiri ada artikel tentang 'takwil yang berarti tafsir'? kalau Albani mengikuti sahabat maka dia tafwidh, bukan memaknai zhahir ayat-ayat mutasyabihat. Kenapa anda mengatakan kami salah paham tentang ucapan Imam Bukhari ? kami juga bisa mengatakan bahwa kalian semua salah paham.
      3. Saya lebih percaya dengan Ibnu Hajar dan Imam Nawawi. Apa bandingannya Syekh Utsaimin berani mengatakan kedua Imam itu telah melakukan penyimpangan? saya melihatnya seperti sarjana yang menilai seorang profesor.
      4. Kalau ditinggalkan tentulah ditinggalkan, kenapa pula disebut diambil ? Tidak semua ajaran Muktazilah itu jelek atau salah, maka para Imam adalah orang yang adil dan mendalam ilmunya, mereka mengetahuimana pendapat yang layak diambil dan mana pendapat yang harus dibuang sesuai pedoman agama.

      ReplyDelete
    21. 1. Perkataan Syaikh Ibnu Abdil Wahab itu antum ambil dari kitab Durar As Saniyah karya Syaikh Ahmad bin Zaini Ad Dahlan. Syaikh Ibnu Zaini tidak sejaman dengan Syaikh Ibnu Abdil Wahab tapi kenapa bisa menukil perkataan beliau tanpa menyebutkan dari mana beliau mengambil sumber.

      dari hal ini seharusnya antum paham, kita semua paham, bahwa sejarah hidup Syaikh Ibnu Abdil Wahab yang diungkapkan oleh Syaikh Ibnu Zaini adalah munqothi' atau terputus rantai sanadnya. antum tahu kan bagaimana status hadits atau khobar atau riwayat yang munqothi'?

      apakah Syaikh Ibnu Zaini itu bisa disebut sebagai saksi? apakah kitab Ad Durar As Saniyah itu bisa disebut sebagai bukti? tentu saja tidak ya akhi fillah.

      bukti yang benar2 bukti malah berkata lain. coba antum baca kitab2 karya Syaikh Ibnu Abdil Wahab. apakah ada pengkafiran beliau kepada seluruh umat islam kecuali pengikutnya? bacalah sendiri bagaimana manhaj beliau dalam wala' dan baro', dalam hal takfir mutlaq dan mu'ayyan, dan lainnya. tidak ada perkataan beliau, baik yang dhohir maupun majaz yang menunjukkan pengkafiran beliau kepada seluruh umat islam kecuali pengikutnya.

      2. tidak ada tafwidh dalam memahami sifat Alloh. nama2 dan sifat2 Alloh yang disebutkan dalam Alquran dan Assunnah itu keseluruhan adalah bahasa arab. bagaimana mungkin orang arab tidak mengetahui makna dari bahasanya sendiri? antum yang orang indonesia aja pasti paham arti kata yadulloh, wajhulloh, 'ulluw dan istiwa'.

      bahkan Alloh sendiri berfirman bahwa Alquran itu diturunkan ke dalam bahasa arab agar kita bisa memahami. jika kata yadulloh, wajhulloh, 'ulluw, istiwa' dll itu tidak bisa antum pahami, berarti antum tidak bisa mengambil hikmah dari firman Alloh tersebut.

      3. An Nawawi dan Ibnu Hajar adalah orang2 yang terpercaya lagi tinggi ilmunya. memang Syaikh Ibnu Utsaimin tidak ada apa2nya dibanding mereka, bahkan Syaikh Al Albani, Ibnu Baz, ataupun Ibnu Abdil Wahab ana rasa tidak ada apa2nya dibandingkan dengan An Nawawi dan Ibnu Hajar.

      namun yang perlu antum camkan adalah perkataan Imam Malik: "Setiap perkataan manusia bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Nabi". perlu antum camkan juga perkataan Ibnu Abbas: "Hampir saja batu turun dari langit menghujani kalian. Aku katakan 'Nabi bersabda begini', kalian malah berkata 'Abu Bakar dan Umar berkata begini'."

      mengambil atau menerima perkataan seseorang jangan antum lihat dari seberapa tinggi kedudukannya, melainkan kesesuaian perkataannya dengan Assunnah. dalam hal ini perkataan An Nawawi dan Ibnu Hajar tidak sesuai dengan sunnah, jadi ana tinggalkan demi mengikuti sunnah Rosululloh.

      4. tidak semua ajaran mu'tazilah itu jelek? sebenarnya ana agak ragu dengan perkataan antum, namun ana tidak menyalahkan. hanya saja masalahnya bukan itu.

      yang menjadi masalah adalah asy'ariyah telah mengambil ajaran mu'tazilah (aqidah Imam Abul Hasan yang lama) yang menyimpang dari sunnah. dalam blog UMMATI sudah ana sebutkan persamaan Asy'ariyah dengan Mu'tazilah dan Jahmiyah, yaitu menyelewengkan ayat2 tentang sifat Alloh dari makna dhohir.

      sudah ana sebutkan celaan beberapa ulama ahlus sunnah, termasuk Abul Hasan Al Asy'ari sendiri kepada Mu'tazilah dan Jahmiyah karena menyelewengkan kata istiwa' dengan istaula' (menguasai), menyelewengkan kata yad (tangan) dengan kekuasaan atau kekuatan, dan penyelewengan2 lainnya. bukankah aneh jika celaan itu hanya diarahkan kepada Mu'tazilah dan Jahmiyah saja, padahal Asy'ariyah juga berbuat hal yang sama?

      ReplyDelete
    22. mamo cemani gombongMay 27, 2011 at 10:00 PM

      mas Ajam bagaimana sanad dari syaikh Ibnu abdil Wahab itu sendiri ????? coba nt share disini apa terputus atau nyambung sampai ke Rosullulloh ???

      ReplyDelete
    23. cool down....
      please...ya ikhwahh....

      ReplyDelete
    24. ana tidak tahu. yang ana tahu beliau berguru pada ulama besar di zamannya.

      ReplyDelete
    25. 1. antum menyebut kitab Ad Duror As Saniyah adalah sumber bukti bukan? kitab itu ditulis oleh Syaikh Ahmad bin Zaini Ad Dahlan yang tidak sezaman dengan Syaikh Muhammad maupun Syaikh Sulaiman. lantas bagaimana bisa beliau mengambil Syaikh Sulaiman sebagai saksinya padahal beliau tidak pernah berinteraksi langsung dengan Syaikh Sulaiman? bagaimana dia bisa tahu Syaikh SUlaiman bekata begini begitu?

      lagipula, tidak semua isi dari kitab Ad Duror As Saniyah itu bersumber dari Syaikh Sulaiman maupun orang lain yang hidup sezaman dengan Syaikh Muhammad. bahkan lebih banyak merupakan cerita dari Syaikh Ahmad sendiri. misalnya tuduhan bahwa Syaikh Muhammad naik mimbar dan mengaku Nabi.

      pertanyaan antum itu berangkat dari kesalahpahaman. tidak ada yang mengatakan bahwa kondisi umat islam saat ini lebih parah dari kondisi musyrikin jahiliyah. yang betul adalah, kondisi kesyirikan saat ini lebih parah dari kesyirikan musyrikin quroisy jahiliyah. kenapa lebih parah? yaitu karena musyrikin quroisy hanya melakukan kesyirikan di saat senang/bahagia/nikmat. adapun di saat bencana mereka kembali beriman. sedangkan musyrikin saat ini melakukan kesyirikan baik waktu nikmat maupun bencana.

      2. sudah ana katakan sebelumnya bahwa jangan lihat pada kedudukan orang yang berkata, namun lihatlah kesesuaian perkataannya dengan sunnah.

      Alquran diturunkan dalam bahasa arab agar manusia memahami. begitu pula Rosululloh adalah orang arab yang menerangkan Alquran itu dengan bahasa arab juga. tentu saja Alquran dan Alhadits itu di dalamnya mencakup masalah sifat2 Alloh. lalu dari mana antum bisa mengecualikan ayat2 tentang sifat Alloh itu dari ayat2 lain? dari mana asal pembedaan bahwa ayat2 tentang sifat itu mutasyabihat dan ayat2 lain itu muhkamat padahal keduanya sama2 berbahasa arab?

      seandainya ayat2 tentang sifat Alloh itu adalah mutasyabihat, yaitu tidak ada yang mengetahui artinya kecuali Alloh, tidak mungkin Rosululloh bertanya "Dimana Alloh?" dan tidak mungkin pula beliau membenarkan jawaban "Di atas langit".

      3. antum bisa melihat sendiri ketidaksesuaiannya. siapa pendahulu An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam menyelewengkan sifat2 Alloh? apakah para sahabat? apakah tabi'in? apakah tabi'ut tabi'in? kalo ada silakan antum bawakan dalilnya disini.

      kemudian perhatikan celaan ulama ahlus sunnah kepada Mu'tazilah dan Jahmiyah karena menyelewengkan sifat2 Alloh dari dhohirnya. bukankah ini saja sudah menjadi bukti bahwa perkataan An Nawawi dan Ibnu Hajar tidak sesuai dengan sunnah, namun sesuai dengan Mu'tazilah dan Jahmiyah?

      kalo memang perkataan An Nawawi dan Ibnu Hajar tentang sifat2 Alloh itu sesuai dengan sunnah, seharusnya ada dalil bagi mereka. ingat, masalah asma wa shifat merupakan perkara tauqifiyah, bukan perkara ijtihadiyah. jadi tidak boleh berkata tentang asma wa shifat Alloh kecuali dengan dalil. lalu apa dalilnya bahwa makna "Tangan Alloh" adalah "Kekuasaan/Kekuatan Alloh"? apakah Nabi pernah berkata seperti ini? apakah para sahabat berkata seperti ini?

      4. Imam Abul Hasan bukan seorang ahlu tafwidh. beliau memahami sifat Alloh sesuai dhohirnya dan menetapkan makna kepadanya. beliau berkata: "Dan mereka (ulama Ahlus-Sunnah) telah berijma’'...dst", sampai berkata: "...bahwasannya Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, dan bukan di bumi-Nya". (Risaalah ilaa Ahlits-Tsaghar hal. 75)

      dari perkataan beliau kita bisa tahu bahwa beliau memahami makna keberadaan Alloh di atas langit, yaitu benar2 di atas langit, bukan di bumi. sekiranya beliau tidak memahami hal ini, tentu saja beliau tidak akan berkata "bukan di bumi".

      ReplyDelete
    26. akan ana beri contoh bentuk khianat kalian dalam upayanya memfitnah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab. Syaikh Alwi dalam kitabnya Jala'udz Dzolam menyebutkan hadits tanpa sanad "Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah Bani Hanifah seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin".

      ReplyDelete
    27. 1. Apakah benar kitab itu ditulis oleh Syaikh Ahmad bin Zaini Ad Dahlan ? Bukannya itu adalah kitab kumpulan Risalah Syekh Muhammad? Bukankah kelompok antum sendiri membela Syekh dengan kitabnya ini?
      Lalu memang kenapa dengan Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan. Apakah anda ingin mengatakan beliau berdusta? Bukankah Syekh Zaini Dahlan adalah seorang mufti yang dengan jelas mengetahui huru hara di zaman itu, walaupun kata anda beliau tidak sezaman dengan Syekh Muhammad bin AW.
      Maaf, saya lebih percaya pada Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan. Lagi pula masalah ini bukan hanya dibahas oleh Syekh Ahmad tetapi juga oleh para ulama lainnya.

      Anda bisa saja katakan saya salah paham, tetapi siapa objek yang wahabi musyrikkan itu tak lain adalah kaum muslimin sendiri. Bukankah kalian juga mengatakan bahwa kelompok lainnya adalah musuh-musuh dakwah tauhid, bukankah kalian yang meletakkan mayoritas umat islam (kelompok Asy ariyah dan Maturidiyah) adalah kelompok yang menyimpang? Secara nyata mungkin memang tidak ada perkataan bahwa kelompok lain selain kelompok Syekh Muhammad bin AW adalah kafir, tetapi secara tersirat jelas terlihat.

      2. "lihatlah kesesuaian perkataannya dengan sunnah".
      Bukankah sunnah yang antum maksud adalah pemahaman kelompok antum?

      lalu dari mana antum bisa mengecualikan ayat2 tentang sifat Alloh itu dari ayat2 lain? dari mana asal pembedaan bahwa ayat2 tentang sifat itu mutasyabihat dan ayat2 lain itu muhkamat padahal keduanya sama2 berbahasa arab?

      Apakah anda tidak memahami makna muhkamat? yaitu ayat yang jelas sekali maknanya dan bagaimana anda bisa memahami 'kedua tanganKu' 'Wajah Allah', 'bersemayam di atas Arsy' ?

      contoh yang baik adalah perkataan ini :
      “Saya percaya dengan apa yang Allah turunkan sesuai makna yang diinginkan-Nya, dan apa yang Rasulullah sampaikan sesuai dengan makna yang dia maksud.”

      Kalau ayat-ayat ini muhkamat, tidaklah mungkin ulama salaf bersikap diam dan memperincinya.

      kata antum : seandainya ayat2 tentang sifat Alloh itu adalah mutasyabihat, yaitu tidak ada yang mengetahui artinya kecuali Alloh, tidak mungkin Rosululloh bertanya “Dimana Alloh?” dan tidak mungkin pula beliau membenarkan jawaban “Di atas langit”.

      Kenapa anda berputar-putar kembali ke dalil ini dari dulu, tidak ada dalil lainkah? sudah dijelaskan kalau hadist ini oleh sebagian ulama ditakwil sehingga tidak mengartikan Allah bertempat di langit.

      Sekarang saya perlu katakan bahwa saya lebih percaya dan meyakini bahwa perkataan Imam Bukhari lebih sesuai sunnah daripada perkataan Albani.

      Para ulama yang menggolongkan ayat-ayat ini termasuk mutasyabihat para ahli ulumul Quran, seperti Zarkasyi dalam Al Burhan, Suyuthi dalam Al Itqan, Zurqani dalam Manahilul ‘Irfan. Begitu juga bersebrangan dengan para ulama hadis seperti Imam Al Khattabi dalam Ma’alim Sunan, Imam Al Baihaqi dalam Asma’ Wa Sifatdan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Demikian juga dengan pakar usul fikih semisal As Syathibi dalam muwafaqatnya, pakar sejarah Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya dan masih banyak lagi.
      3. Pendahulu An Nawawi dan Ibnu Hajar serta kedua Imam ini tidak menyelewengkan sifat2 Alloh?

      dalilnya sudah saya jelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabihat ini harus ditakwil dengan 2 metode takwil.


      4. Imam Abul Hasan seorang ahlu tafwidh.
      Tidak perlu saya jelaskan, Kitab Ibanah yang asli adalah menggunakan metode tafwidh ini,

      ReplyDelete
    28. Al-Allamah Rasyid Ridha rahimahullahu berkata tentang Ahmad Zaini Dahlan: 'Diantara para pencela yang paling masyhur adalah seorang Mufti Makkah al-Mukarromah, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada tahun 1304, dia menulis sebuah risalah (yang mencela Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, pent.) yang mana keseluruhan permasalahan (yang ditulisnya) hanya berputar pada dua poros, yaitu poros kedustaan dan fitnah terhadap syaikh, dan poros kebodohan dimana ia menyalahkan sesuatu yang benar dari Syaikh.' (Lihat: Muqoddimah Shiyahatul Insan, hal. 6, Maktabah Ahlul Hadits, www.ahlalhdeeth.com). (Dinukil dari: http://geocities.com/abu_amman/Imam-Ibnu-Abd-Wahhab.htm).
      Adapun Mr. Hampher, ia seorang kafir yang majhul, yang gemar minum minuman keras sampai mabuk, bahkan dia menyebut kalau dirinya seorang pembohong. Syaikh Malik Bin Husain berkata tentang Hampher: 'Sesungguhnya apa-apa yang disebutkan dalam mudzakkarat Hamver adalah omong kosong belaka, dan perkataan yang tidak berlandaskan dalil sama sekali. Dan hal ini tidaklah keluar kecuali dari dua macam manusia:
      1.Orang yang bodoh kuadrat, tolol tidak bisa membedakan antara telapak tangannya dengan sikunya.2.Orang yang memperturutkan hawa nafsu, ahlul bid’ah dan musuh dakwah tauhid.Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya daging para ulama itu beracun, barangsiapa yang mencela para ulama maka Allah akan mengujinya sebelum ia mati dengan kematian hatinya. Kita memohon kepada Allah perlindungan dan keselamatan. (Lihat: http://www.almanhaj.or.id/content/827/slash/0).

      ReplyDelete
    29. Adakah ilmu bagi orang yang suka copy paste seperti ini?

      ReplyDelete
    30. Sebuah bantahan yang tidak mencerahkan. Bagaimana bisa mencerahkan... semua yang menentang Syekh Muhammad Abdul Wahab dianggap musuh dan menentang dakwah tauhid dan layaknya orang kafir, maka wajar saja Wahabi dianggap tafkiri, karena situs-situs mereka isinya adalah menjelekkan dan 'menampilkan kesesatan' semua kelompok diluar kelompoknya... bahkan ulama kontemporer saat ini diluar wahabi juga tidak lepas dari celaan mereka. Bahkan bantahan seperti inipun tidak lupa mereka menetapkan celaan dan penyesatan terhadap yang dibantahnya....luar biasa.

      ReplyDelete
    31. Tidak bisa diambil inti sarinya lalu dituangkan menurut tuliasan anda....... copy paste sampah.

      ReplyDelete
    32. mamo cemani gombongJune 3, 2011 at 7:44 PM

      mas Dianth kayaknya mulai nggak bermanfaat deh coba nt simak kata2 ini dan mohon dipahami "Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati." biarlah mas Ajam dgn keyakinannya mas ......maaf kalau nggak berkenan mas Dianth .........salam

      ReplyDelete
    33. Mas Mamo, saya mengerti maksud mas mamo....

      saya hanya akan menyampaikan apa yang perlu saya sampaikan, selanjutnya saya akan menghindari perdebatan.

      Salam

      ReplyDelete
    34. mamo cemani gombongJune 4, 2011 at 9:42 AM

      terimakasih atas mengertinya mas Dianth .........saya hanya mengingatkan nt mas sebab nt udah ana anggap saudara .......salam

      ReplyDelete
    35. mamo cemani gombongJune 5, 2011 at 11:56 AM

      alhamdulillah ..........dari pengalaman Ajam vs Ahmad Syahid di Ummati , Ajam vs Artikel Islami , Ajam vs Bang Zon disini , TERakhir Ajam vs Dianth ........awalnya semua dialog sangat baik dan berilmu , namun lama lama terjadi debat ngeyel yang nggak ada ujungnya maaf Ajam kalau nggak berkenan .........silahkan nt meyakini ilmu nt namun hindarilah berprasangka buruk sesama muslim . Ana akui nt alim dalam ilmu Syariat namun ana mengingatkan islam itu satu paket Islam , Iman , dan Ikhsan ...........penjabarannya ana yakin nt dah tau ana hanya mengingatkan dan letak dari perbedaan yang akhirnya berbeda keyakinanya adalah dalam memahami ayat2 Alloh kalau Aswaja dalam memahami Ayat2 Alloh dgn ILMU ALAT ...............mengaji/sekolah biar matang itu dari tk,SD ,SMP,SMU dst ............nggak langsung kuliah ...........sekali lagi maaf mas Ajam dan ana ngga minta tanggapan dari nt ....wallohu'alam .....wassalam.....

      ReplyDelete
    36. ya....sudahlah....
      musuh2 Allah sudah bikin alat2 perang canggih...
      sedang kan kita....????

      http://ustadchandra.wordpress.com/2011/06/07/inilah-10-kendaraan-tempur-militer-termahal-milik-amerika-serikat/

      ReplyDelete
    37. al akh dianth berkata:
      Percuma saja saya tuliskan segala bukti toh semua itu akan anda katakan dusta, malah anda akan menambah-nambah dengan mengatakan ulama membuat-buat hadits palsu.

      ana jawab:
      antum tidak percaya? itu terserah antum, yang jelas Syaikh Alwi telah membawakan hadits palsu seperti yang ana kemukakan di atas. jika antum adalah seorang yang berpikir ilmiah dan berhati luhur, seharusnya antum membantahnya dengan 2 cara:
      1) benar Syaikh Alwi membawakan hadits itu, namun hadits itu shohih (lalu jelaskan keshohihannya); atau
      2) benar hadits itu palsu, namun Syaikh Alwi tidak pernah menyebutkannya dalam kitab beliau manapun.

      jangan heran jika ulama atau kyai antum doyan hadits palsu untuk "menghalalkan segala cara" dalam mempertahankan aqidah sesatnya. dan jangan heran pula jika akhirnya mereka membawakan kisah/sejarah palsu.

      ReplyDelete
    38. "jangan heran jika ulama atau kyai antum doyan hadits palsu untuk “menghalalkan segala cara” dalam mempertahankan aqidah sesatnya. dan jangan heran pula jika akhirnya mereka membawakan kisah/sejarah palsu".

      Akidah kami adalah akidah Rasulullah.

      Tidak ada yang perlu dengan hadist palsu dan kisah/sejarah palsu untuk mempertahankan Akidah kami.

      Akidah ulama kami adalah akidah ulama yang bersanad hingga Rasulullah.

      Akidah kami adalah akidah ahlul bait.

      Akidah para habib kami adalah akidah habib yang tersambung nasab kepada ahlul bait.

      Akidah kami adalah akidah yang mensucikan Allah dari sifat-sifat materi dan benda yang mati.

      Akidah kami adalah akidah yang menetapkan bagi Allah sifat-sifat yang Agung dan indah.

      Sesungguhnya Allah yang hayyu dan qoyyum telah memberikan kita jalan untuk mengenalnya dengan sifat-sifat kehidupan.

      Allah telah memberikan kita hidup, sehingga kita dapat mengenal Nya melalui sifat-sifat kehidupan kita.

      Maka kenalilah dirimu yang sesungguhnya..... karena dirimu yang sejati bukanlah jasadmu, bukan jisimmu bukan materi yang menyusun tubuhmu.

      Dirimu yang sejati adalah hidupmu, hati nuranimu, ruhmu.

      Maka perhatikanlah bahwa engkau bisa melihat, mendengar, engkau bisa menyayangi, bisa mengasihi, engkau bisa menyadari, bisa mengetahui adalah karena engkau diberi sifat hidup dari Allah.


      salam.

      ReplyDelete
    39. antara perkataan antum dengan fakta di lapangan sangat bertolak belakang. mungkin kalo tidak ditunjukkan buktinya antum tidak akan percaya.

      salah satu contohnya sudah ana sebutkan, yaitu hadits tanpa sanad yang dibawakan Syaikh Alwi. selain itu, beliau juga bawakan hadits palsu tentang Nabi Adam bertawasul dengan lafadh nama Nabi Muhammad.

      antum ingat2 lagi kemaren di topik yang membahas perihal ghoib, antum bawakan atsar Abu Bakar dan Umar, namun ketika ana tanya sanadnya antum tidak bisa jawab. malah ketus jawabnya, seolah-olah bertanya tentangs anad itu perkara dosa.

      ingat2 juga di situs UMMATI dalam topik yang membahas khulafaur rosyidin merayakan maulid nabi, disebutkan beberapa atsar sahabat tentang anjuran merayakan maulid Nabi. tapi ketika ditanya sanadnya tidak ada satupun yang bisa menyebutkan sanadnya.

      kalo ada waktu, insyaAlloh ana akan mengumpulkan hadits2 palsu yang biasa digunakan oleh Asy'ariyun sebagai hujjah dan dalil mereka.

      semoga ALloh memudahkan

      ReplyDelete
    40. mamo cemani gombongJune 12, 2011 at 4:12 AM

      mas Ajam udahlah sesama muslim jangan diperpanjang dialog tersebut sebab ana melihat nt dah sangat memojokan lawan diskusi .......kalaulah syaikh Alwi membawakan hadits palsu itu menjadi tanggung jawab beliau seperti kesalahan2 Syaikh Al Albani juga menjadi urusan beliau dan........nt juga instropeksi ....berapa kali nt ana tanya jawabnya juga " tidak tau " nah tidak tau juga bukan brarti salah kan .........akhirilah @Ajam diskusi nt sebab kalau dilanjutin hanya menambah dosa mas .........maaf kalau nggak berkenan tulus ana hanya mengingatkan sesama muslim .......salam

      ReplyDelete
    41. Mas Mamo,

      justru Akh Ajam ini menanyakan hadist tersebut secara sanad karena amanah ilmiah, tidak memojokkan..Akh Dianth harusnya bisa membawakan sanadnya, tidak asal bunyi atau taqlid buta kepada Syaikh Alwi...sudah tahu salah nggak mau ngaku..itu namanya jahil murakkab atau abu jahle...
      Rasulullah Shallallahu alayhi wassallam bersabda: " barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka bersiapsiaplah mencari tempat duduknya di dalam neraka" Al Hadist.
      Rasulullah Shallallahu alayhi wassallam bersabda: " barang siapa yang meriwayatkan dariku satu hadist dan dia mengetahui bahwa hadist itu Palsu, maka dia termasuk pendusta" Al Hadist.
      Hadist Rasulullah ini adalah ancaman ditujukan kepada semua pembawa hadist-hadist palsu.

      wallahu 'alam.

      ReplyDelete
    42. Antum baca bener2 artikelnya bagaimana tuduhan Wahhabi itu dilakukan oleh para penjajah, inggris.
      Ajibnya, para penjajah dan para Ahli Bid'ah (kalangan kuburiyyun dan mustasyrikun) memusuhi dakwah Syaikh yang barokah ini, seolah-olah mereka sama dalam memusuhi Ahlul Haq yaitu pengemban dakwah Nabi yaitu dakwah Tauhid.
      mereka telah menuduh dakwah tauhid ini sebagai Wahhabi namun Allah memuliakan namanya karena Wahhabi adalah salah satu dari nama Allah, Al Wahhab (Maha Pemberi).

      ReplyDelete
    43. kenapa ana mempermasalakan hadits palsu yang dibawa oleh Syaikh Alwi? itu karena hadits itu dijadikan pegangan oleh mayoritas pencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

      betapa besar fitnah yang ditimbulkan oleh Syaikh Alwi karena hadits ini. jangan kira ini semata-mata urusan pribadi Syaikh Alwi dan orang lain tidak ada sangkut-pautnya.

      andaipun apa yang dilakukan oleh Syaikh Alwi ini tidak diikuti atau dibela oleh orang lain, namun sikap diam kita apabila melihat hal ini sebagai kemungkaran, akan membawa fitnah besar pula.

      kesalahan Syaikh Alwi ini tidak bisa disamakan dengan kesalahan Syaikh Al Albani dalam menghukumi hadits. Syaikh Al Albani meskipun salah, beliau tetap berpegang pada kaidah ilmu hadits. ijtihad beliau apabila salah insya Alloh masih mendapat 1 pahala.

      sedangkan kesalahan Syaikh Alwi ini bukan hasil ijtihad, namun sangat terang benderang karena hawa nafsunya. bagaimana mungkin hal itu disebut hasil ijtihad, lha wong sanadnya aja tidak ada. kalo tidak ada sanad, tidak perlu seorang ahli hadits, anak SD pun pasti tahu bahwa itu hadits palsu.

      ReplyDelete
    44. coba liat orang yg hendak menghancurkan kubah makam Nabi malah mati disambar petir dan jenazahnya lengket disana sampe skrg ga bisa diturunkan..akhirnya ditutup pake peti hijau dikubahnya

      adekunya.wordpress.com/2011/04/12/mau-menghancurkan-kubah-masjid-nabawi-disambar-petir-hingga-mati/

      ReplyDelete
    45. Aneh bin ajaib

      saya tidak pernah mengutip hadist yang dibawakan oleh Syekh Alwi, kenapa jadi saya yang ditanya-tanya?

      "kenapa ana mempermasalakan hadits palsu yang dibawa oleh Syaikh Alwi? itu karena hadits itu dijadikan pegangan oleh mayoritas pencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

      Kalau mau disebut dijadikan pegangan, maka yang sering dipakai adalah hadist tentang tanduk setan dari arah timur.

      Tidak perlu pegang-pegang hadist dan ayat untuk mencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena para ulama melihat dan telah meneliti bahwa dari ajaran Syaikh sendiri adalah ajaran tafkiri. Buktinya Ajam sendiri sebagai pengikutnya berani mengatakan para ulama mayoritas, akidahnya sesat.

      Permasalahan hadist untuk menunjuk sesorang itu adalah pendapat para ulama, namun ini adalah sebuah kabar yang bisa benar bisa salah. dan merupakan perbedaan pendapat tentang masalah hadisst, Jadi kenapa saya mesti repot-repot cari sanad hadist tersebut.

      Adapun masalah tentang Nabi mengetahui perkara yang ghaib, saya memang tidak mencantumkan sanadnya karena saya rasa om ajam sudah mengetahui riwayat tersebut.... ternyata tidak tahu, makanya saya tidak mau lanjutkan diskusi lagi, nanti ndak nyambung.

      Demikian om ajam n donpay

      ReplyDelete
    46. Mas Mamo, mas ajam suka dialog yang ndak tentu arahnya, memang begitu.

      Mas Ajam sebenarnya tidak memojokkan lawan diskusi, tapi nggak bisa jawab jadi larinya ke masalah-masalah yang nggak ada hubungannya.

      Alhamdulillah Mas Mamo masih menganggap Mas Ajam seorang muslim, padahal mas Ajam telah mengatakan akidah ulama kita sesat , berarti akidah kita sesat dong ?

      Ya sudahlah Mas Mamo, tuduhan itu bila tidak benar akan kembali kepada orangnya.

      ReplyDelete
    47. Akh Dianth,
      katanya Akidah ulama antum bersanad sampai Rasulullah, tapi antum malas cari sanad, piye tho?gimana antum mau memastikan sanadnya bersambung sampai Rasulullah?
      Masalah takfiri adalah masalah yang besar. kita tahu saat ini mayoritas kaum muslimin adalah ikut-ikutan karena kejahilan mereka. Tidak mungkin Syaikh menghukumi kafir kepada mereka. harap dibedakan antaran ajarannya dan orangnya karena keawaman mereka dan yang telah terpengaruh oleh AHli bid'ah.
      Antum bacalah kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan cek apakah ada yang menyimpang dari akidah Rasulullah. apakah Syaikh adalah bermanhaj Takfiri seperti khawarij dan mu'tazilah.
      coba baca kitab syaikh, teliti (khan nggak ada ruginya meneliti dan membandingkan, jangan apatis dulu), antaralain kitabnya:
      1. Ushul tsalasah
      2. kitab tauhid
      3. kasyfu Syubhat
      4. Al Qowa'idul Arba'
      5. Ksyfu Subhat
      6. Al Ushulus Sittah
      7. Ushulul Iman
      bace deh, asyik lhooo,,isinya Al Quran dan Hadist.

      ReplyDelete
    48. mamo cemani gombongJune 13, 2011 at 6:42 AM

      mas Dianth Alhamdulillah ana juga mengiklhaskan apapun pendapat dari mas Ajam biarlah dia meyakini apa yang dia yakini sekarang yang penting kita dah mengingatkan selebihnya biar Alloh SwT yang punya kehendaknya ..........

      ReplyDelete
    49. ana katakan bahwa antum jangan heran jika ulama antum doyan berdusta, seperti Syaikh Alwi dan Syaikh Ahmad Zaini. apa yang ana sampaikan hanya untuk memberikan contoh kedustaan mereka, beserta contoh-contoh yang lain.

      memang hadits fitnah dari nejd juga dipakai sebagai dalil untuk mencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. hadits ini tidak kami persoalkan dari segi keshohihannya. namun kenapa harus menambah-nambahi dengan hadits palsu?

      antum rupanya sudah menjadikan dusta sebagai hobi, sebagaimana ulama idola antum. kapan ana katakan ulama ana akidahnya sesat? silakan tengok kembali perkataan ana, yang ana katakan adalah bahwa An Nawawi dan Ibnu Hajar terjerumus dalam sebagian akidah sesat Asy'ariyah. terkait hal ini Syaikh Al Albani pernah berkata: "Tidak setiap orang yang jatuh pada kekufuran, maka kekufuran jatuh padanya dan tidak setiap orang yang jatuh pada kebid'ahan, maka kebid'ahan jatuh padanya."

      artinya, An Nawawi dan Ibnu Hajar memang terjerumus dalam akidah sesat Asy'ariyah, namun hal itu tidak menyebabkan mereka menjadi Asy'ariyun atau akidah mereka sesat. mereka tetap seorang salafiyun dan ahlus sunnah.

      memang pada kenyataannya antum suka sekali dengan hadits, atsar dan kisah palsu. kisah yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Zaini tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sampai sekarang tidak jelas sanadnya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat tahun 1206 H sedangkan Syaikh Ahmad Zaini lahir tahun 1232 H. sudah jelas bahwa Syaikh Ahmad Zaini tidak mungkin sebagai saksi mata kisah hidup Syaikh Muhammad. harus ada orang lain yang menjadi rantai sanad kisah tersebut.

      ReplyDelete
    50. Lucu sekali, mengapa anda begitu percaya pada pendapat Ustadz Abu Ihsan Al Atsary, tanpa mengkritisi lebih jauh, apalagi beliau mengutip perkataan ulama tidak secara lengkap, dan kalau anda mempunyai wawasan dan ilmu agama yang luas, maka anda akan memahami bahwa para ulama besar banyak yang bemazhab akidah asy ariyah, dan mayoritas ulama dari jaman imam asy ari sampai sekarang menganggap bahwa akidah asy ariyah dan maturidiyah adalah Ahlussunah wal jamaah.

      Justru banyak ulama yang meragukan wahabi termasuk ahlussunah wal jamaah, karena golongan ini telah memisahkan diri dari jamaah.

      Mohon anda perbanyak sedikit referensinya.... kasihan kalau antum terus begini.

      ReplyDelete
    51. cape ngomong sama ajam...

      ente katakan ulama ana

      "jangan heran jika ulama atau kyai antum doyan hadits palsu untuk “menghalalkan segala cara” dalam mempertahankan AQIDAH SESATNYA"

      udah deh terserah ente aja

      ReplyDelete
    52. mas, dulu saya juga sering beli buku-buku kayak gini....

      tak ada manfaatnya... beneran.

      Carilah buku yang ditulis oleh para imam yang tidak diragukan lagi kapasitas keilmuannya dan diakui kesalehannya oleh mayoritas ulama.

      Semua buku yang dikarang ulama isinya Al Qur an dan Sunnah, nah buku yang paling baik tentu buku yang mengajarkan kita mencintai Allah dan RasulNya serta kaum muslimin seluruhnya, bukan sebaliknya.

      ReplyDelete
    53. Kenapa anda begitu percaya dengan pendapat Ustadz Abu Ihsan Al Atsary atau Syekh utsaimin ?

      Apakah anda tidak tahu bahwa sebagian besar para ulama bermazhab akidah asy ariyah dan maturidiyah.

      Kenapa ya ....?

      saya rasa anda perlu membaca banyak lagi, coba deh baca buku-buku para imam yang muktabar.

      ReplyDelete
    54. Nasehat untuk Akh Dianth,

      --ikuti orang karena dia benar, jangan ikuti kebenaran karena orang, kenalilah kebenaran niscaya engkau akan tahu siapa yang benar--

      ReplyDelete
    55. wah, hobi dusta akut emang ga bisa disembuhkan.

      kalo ucapan ana di atas dijadikan alasan tuduhan bahwa ana menganggap ulama ahlus sunnah seperti Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar aqidahnya sesat, berarti antum menuduh juga bahwa ana menuduh mereka doyan hadits palsu, atsar palsu, dan kisah palsu.

      padahal ulama yang ana maksud sesat aqidahnya dan doyan hadits palsu, atsar palsu dan kisah palsu adalah Syaikh Alwi dan Syaikh Ahmad Zaini. ana sama sekali tidak pernah menyebutkan Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar doyan hadits palsu.

      ReplyDelete
    56. setidaknya, Syaikh Utsaimin bukan seorang pendusta seperti Syaikh Alwi atau Syaikh Ahmad Zaini

      ReplyDelete
    57. @Donpay

      ucapan anda bagus sekali, tetapi apakah anda tidak berusaha terlebih dahulu terapkan untuk anda sebelum menasehati orang lain ?

      ada yang ingin saya tanyakan : Apakah anda punya alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa tulisan yang anda copas itu adalah sebuah kebenaran, sedangkan ulama-ulama yang berbeda pendapat dengan tulisan antum bukanlah sebuah kebenaran.

      kalau anda punya alasan tersebut, maka saya akan ikuti kebenaran itu, tapi kalau anda tidak punya alasan, hanya percaya begitu saja... maka lebih baik anda intropeksi diri.

      ReplyDelete
    58. @ajam

      saya rasa anda perlu refresing, kalau perlu terapi, kayaknya ada yang nggak beres.

      akidah ulama kami semua sama, Imam Nawawi, Ibnu Hajar sama dengan akidahnya Syekh Alwi dan Syaikh Zaini.


      Memang begitulah.... apa yang ente bicarakan sudah tidak jelas lagi.

      ReplyDelete
    59. alasan ana :
      1. Sumbernya terpecaya, bisa antum cek sendiri, jika anda berkenan.
      2. Masalah Aqidah, Ulama mazhab/imam yang empat telah Ijma. antum cek sendiri lah kitab-kitab mereka. Sedangkan Ibnu Hajar dan Imam Nawawi Rahimahumullah datang belakangan.
      3. Imam antum Abu Hasan Al asyari sudah tobat, namun antum koq masih ngeyel.
      3. antum bisa baca di kitab Syarah ushulul sunnah, bagaimana akidah Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yakni Imam Ahmad bin Hambal, sangat bersebrangan dengan akidah antum.
      4. sesuai fitrah manusia, kalo kita berdoa adalah mengangkat tangan dan menuju ke atas, namun kalo aqidah antum bagaimana berdoanya?apakah tangannya menuju kemana-mana atau gimana sunnah asyariah nya?

      ReplyDelete
    60. alasan ana :
      1. Sumbernya terpecaya insyaAllah, bisa antum cek sendiri, jika anda berkenan.
      2. Masalah Aqidah, Ulama mazhab/imam yang empat telah Ijma. antum cek sendiri lah kitab-kitab mereka. Sedangkan Ibnu Hajar dan Imam Nawawi Rahimahumullah datang belakangan.
      3. Imam antum Abu Hasan Al asyari sudah tobat, namun antum koq masih ngeyel.
      3. antum bisa baca di kitab Syarah ushulul sunnah, bagaimana akidah Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yakni Imam Ahmad bin Hambal, sangat bersebrangan dengan akidah antum.
      4. sesuai fitrah manusia, kalo kita berdoa adalah mengangkat tangan dan menuju ke atas, namun kalo aqidah antum bagaimana berdoanya?apakah tangannya menuju kemana-mana atau gimana sunnah asyariah nya?

      wallahu 'alam.

      ReplyDelete
    61. dianth

      bagaimana tidak jelas, wong sudah jelas bahwa Syaikh Alwi dan Syaikh Ahmad Zaini seorang pendusta, tidak sama dengan An Nawawi dan Ibnu Hajar.

      antum sendiri membawakan atsar tapi ditanya sanad tidak bisa jawab. masih ana ingat di situs UMMATI yang membahas atsar khulafa'ur rasyidin yang menganjurkan peringatan maulid nabi, disitu disebutkan beberapa atsar tanpa sanad juga.

      begitu pula hadits2 untuk mendukung tawasul, baca quran di kuburan, ziarah ke makam nabi, dan amalan bid'ah lainnya kebanyakan adalah hadits lemah dan palsu.

      mau antum bela sampai kapan aqidah sesat seperti ini?

      ReplyDelete
    62. yg membela menolak bangunan makam Nabi mati disambar petir..ente gak liat diatas ya..hehe

      ReplyDelete
    63. Mas Rajeb ini,

      itu sih bukan dalil Mas untuk membenarkan bangunan di atas kuburan. apalagi dalilnya jelas dari sunnah.

      wassallam.

      ReplyDelete
    64. itu dalil mas..karena agama bukan hanya teori..

      coba kasi contoh ada gak makam ulama wahabi yg bisa membuat keajaiban spt makam nabi dan makam para ulama aswaja..spt misalnya makam habib kwitang memancarkan belasan mata air..ato makam seorang ulama di aceh yg tidak disentuh tsunami?

      klo wahabi ga bisa buat keajaiban trus apa bedanya sama agama lain spt kristen, dll

      ReplyDelete
    65. siapa bilang saya tidak bisa jawab atsar yang saya bawa, saya memang tidak mau menjawab aja dan memperpanjang diskusi masalah tersebut.

      Masalah hadist lemah dan palsu kan sudah saya bilang itu adalah perbedaan pendapat para ulama.

      kalau mau saya tulis banyak mas kedustaan wahabi yang tidak punya dasar yang jelas, nih contohnya :

      - An Nawawi dan Ibnu Hajar mempunyai penyimpangan akidah,
      - Imam Asy ari bertobat dari akidah asy ariyah
      - Asy ariyah dan maturidiyah bukan ahlussunah wal jamaah
      - Tawasul dengan perantara orang yang telah wafat adalah syirik
      - ziarah ke makam nabi bid ah
      - Orang musyrik Qurais bertauhid rubbubiyah
      - Kemusyrikan yang dilakukan zaman ini lebih dahsyat dari kemusyrikan zaman jahilliyah ( aneh kan kaum muslimin kok disamakan dengan kaum musyrikin)
      - dll

      kebanyakan kalau saya tulis semua.
      semua ini menyebabkan fitnah loh.... makanya hati-hati mas.
      Sampai kapan mas ajam membela ajaran wahabi yang tidak jelas dasarnya?

      Kalau akidah kami akidah yang sangat jelas, bahkam mayoritas ulama dari zaman imam asy ari sampai sekarang berakidah asy ariyah dan maturidiyah.

      Bahkan sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqoha dalam Islam adalah pemeluk mazhab aqidah al-As-‘ari. Seperti: Al-Baqillani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Fakhrurrazi, Al-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnuddaqiq Al-‘Id, Ibu Sayyidinnas, Al-Balqini, Al-‘Iraqi, An-Nawawi, Ar-Rafi‘I, Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, As-Suyuti. Sedangkan dari wilayah barat khilafat Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (aljad), Ibnul Arabi, Al-Qadhi ‘Iyyadh, Al-Qurthubi dan Asy-Syatibi. Jangan lupa juga bahwa universitas Islam terkemuka di dunia dan legendaris menganut paham Al-Asy‘ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Marokko, Deoban di India. Dan masih banyak lagi Universitas dan madrasah yang menganutnya.
      Para ulama pengikut mazhab Al-Hanafiyah adalah penganut paham Al-Maturidiyah Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi‘iyyah adalah penganut paham Al-Asy‘ariyah.

      Sekali lagi saran saya buat mas ajam dan mas donpay banyak-banyak lagi belajar dan perluas wawasan.

      ReplyDelete
    66. Syeh Albani

      Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firman allah :

      كل سيء هالك إلا وجهه

      قال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه

      Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :

      (( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))
      ” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “.

      Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523.

      ReplyDelete
    67. Akh Rajeb,
      namanya dalil itu, sebagai berikut
      sumber utama adalah :
      1. Al Quran
      2. Sunnah
      3. Ijma (kalo sudah ijma,tidak bisa dibatalkan dg ijma lain; emang mau batal-batalan:)).
      Rasulullah Shallalahu alayhi wassallam bersabda : " Tidak lah (selamanya) umatku bersepakat/ijma pada kesesatan". Al Hadist.

      sumber pendukung :
      4. Akal (akal yang sehat mengikuti selaras dengan sumber utama diatas, akal yang sakit adalah yang tidak selaras), bukan akal-akalan seperti asyariyun
      5. Fitrah

      ReplyDelete
    68. Dijelaskan pada kitab Mughniy Almuhtaj fi Syarahil Minhaj oleh AI Imam khatiib syarbiniy
      bab washaya bahwa diperbolehkan membangun kuburan para Nabi atau Shalihin, demi
      menghidupkan syiar dana mengambil keberkahan.

      Disebutkan pula pada Kitab Raudhatuttaibin oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi Bab
      Washaya : Diperbolehkan untuk Muslim atau kafir dzimmiy (kafir dzimmiy adalah kafir
      yang tak memusuhi atau memerangi muslimin) untuk berwasiat membangun Masjidil Aqsha, atau masjid lainnya, atau membangun kubur para Nabi dan para shalihin untuk menghidupkan syiar dan bertabarruk padanya.

      ReplyDelete
    69. @Dianth,

      1. Maksud ana, sumber artikel itu terpercaya, Akh Dianth.

      ''Pendapat yang benar adalah, Al Asy’ariyah termasuk Ahli Kiblat (kaum muslimin), tetapi mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ketika para tokoh dan pembesar Al Asy’ariyyah jatuh dalam kebingungan, mereka keluar dari pemikiran Al Asy’ariyah. Diantaranya adalah Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazzali dan lainnya. Jika mereka benar-benar berada di atas As Sunnah dan mengikuti Salaf, lalu dari manhaj apakah mereka keluar? DAN KENAPA MEREKA KELUAR? Hendaklah ORANG YANG BIJAK memahaminya, karena ini adalah kesimpulan akhir.''

      lihatlah para Imam seperti Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazali tobat dari pemikiran Asyariah, antum cs koq nggak mengikuti pendahulu/salaf antum:)

      2. Syaikh Ali bin Abdul Aziz bin Ali Asy Syibil berkata :
      Ahlu Sunnah Wal Jamaah sepakat bahwa MENETAPKAN NAMA DAN SIFAT ALLAH SECARA HAKIKI SESUAI DENGAN YaNG LAYAK BAGI ALLAH TABARAKA WATA'ALA TANPA MENTAKYIF DAN TAMTSIL, TANPA TAHRIF DAN TA'THIL. inilah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
      saya rasa ini sudah dijelaskan oleh Akhul Kirom Ajam, tapi koq ente keras kepala ya?

      3. Antum lihat Al Imam khan kembali ke Manhaj Salaf Ahlus Sunnah Wal Jamaah maka ikutilah kaidah Asma wa Shifat seperti pada point 2.

      4. Imam Ahmad (IMAM AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH) berkata dalam Ushulus sunnah:
      Pondasi Ahlus Sunnah menurut kami :
      - berpegang teguh pada jalan hidup para Sahabat Rasulullah Shallallahu Alayhi wassallam.
      - berqudwah (mengambil teladan) pada mereka.
      - Meninggalkan Bid'ah-bidah.
      - Setiap Bid'ah adalah kesesatan.
      - As SUnnah menurut kami adalah atsar-atsar Rasulullah Shallallahu Alayhi wassallam.
      - As SUnnah adalah penjelas Al Quran yakni petunjuk-petunjuk dalam Al Quran.
      - Di dalam As Sunnah/Aqidah tidak ada Qiyas.
      - As Sunnah/Aqidah tidak boleh dibuat pemisalan dan tidak dapat diukur dengan akal dan hawa nafsu, akan tetapi dengan ittiba' dan meninggalkan hawa nafsu.

      5. ana bilang secara fitrah bahwa kita itu berdoa meminta ke atas, ehh koq antum nolak pake akal atau kaidah antum sendiri.
      menurut antum kalo Allah tidak diatas langit, maka ente ketika berdoa keyakinan antum menetapkan Allah dimana? tidak diatas, tidak dibawah,tidak dikiri atau tidak dikanan?kayfa?
      lihatlah orang-orang kafir ketika main sepak bola, secara fitrah mereka melihat TUhannya ada di atas ketika menggolkan atau melesat ketika nendang ke gawang:).
      Lihatlah dalam hadist-hadist mashur, naiknya amalan-amalan khan ke atas. Malaikat setiap hari ada yang naik ke Langit dan turun ke Bumi untuk mencatat Amalan Manusia.

      Allah Tabaraka wata'ala berfirman:
      "(yang datang) dari Allah, Yang mempunyai TEMPAT-TEMPAT NAIK. Malaikat-malaikat dan Jibril NAIK (menghadap Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima ribu tahun'. (Al Ma'aarij:3-4)

      bisa terima sekarang alasan ana???kayfa Akh??

      Wallahu 'alam.

      ReplyDelete
    70. Akh Dianth,

      kalo bisa tolong jangan nyebut-nyebut Wahabi, karena nama Syaikh adalah Muhammad bin Abdul Wahhab. perkataan antum dicatat nanti sama Malaikat. Harusnya antum nyebutnya Muhammadi dong bukan Wahhabi. (kalo emang antum adil).
      Kalo Wahhabi dinisbatkan kepada Allah Tabaraka Wata'ala.

      ya kalo ngaku-ngaku para Ulama adalah Asyariun ya bisa saja. terserah antum.
      buktinya tidak seperti itu:)

      seperti kata pepatah,

      SEMUA MENGAKU KEKASIH LAILA,
      TAPI LAILA TIDAJ MENGAKUINYA.

      Untuk nasehatnya ana ucapkan terima kasih.

      ReplyDelete
    71. @ Rajeb, yahdikumullah

      maksud antum apa sih dengan sanad?
      Qola Ba'dhus Salaf: kalo bukan karena Sanad, maka manusia akan berkata seenaknya.

      Jelas dalil Al Quran dan Hadist Shahih( sanadnya sahih) dan Ijma (yang sahih sanadnya).
      tapi kalo Akh Dianth, disuruh membawakan SANAD yang Sahih atas permintaan Akhul Kirom Ajam koq tidak bisa, kayfa?ehh, malah membawa referensi/hadist yang dibawakan oleh Syaikh Alwi dan Syaikh Ahmad Zaini yang la asla lahu(tidak ada sanad)?
      dan beralasan bahwa penilaian hadist Sahih dan Dhaif dan seterusnya adalah perbedaan pendapat ulama, tanpa dia membandingkan mana yang sahih dan tidak.

      ketika Nabi menjelang ajalnya, maka Rasulullah Shallalahu alayhi Wassallam bersabda :
      "Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid". Al Hadist.

      perhatikanlah, Nabi jelas-jelas mengharamkan kuburan sebagai tempat ibadah (Shalat, ngaji, ngalap berkah dll).

      ReplyDelete
    72. Mas Rajeb,
      kalo sudah ada Hadis shahih yang melarang seputar kuburan yaaa mbo yaa diikutin hadist Nabi , jangan ikut perkataan lain.

      Wallahu 'alam.

      ReplyDelete
    73. diatas khan ane bawa hadits sahih Bukhari Muslim..ente baca gak?

      sekarang siapa yg lebih paham hadits? para ulama salaf atau kita?

      dimasa para ulama salaf masih terdpt jutaan Hadits.

      Imam Bukhari hafal 600 ribu hadits tp hanya 7 rb yg sempat ditulis.

      Imam Ahmad hafal 1 juta hadits tp hanya 20 ribuan yg sempat ditulis.

      blom lagi Imam2 Hadits dan Imam Mahzhab yg lain.

      mrk tdk sempat menulis semuanya krn masa itu susah tdk spt skrg. dan mrk msh berkeliling berbagai negeri utk mengumpulkan hadits, serta mengajar murid2nya, dan beribadah tekun siang malam.

      Imam Bukhari tiap akan menulis sebuah hadits sholat 2 rakaat dulu.

      padahal jaman sekarang hadits hanya tersisa 100 ribuan.

      jika kita tdk berpegang sanad yg bersambung ke para salafush sholeh jelas nyungsep. khan dah ane kasi diatas dalilnya sanad.

      ReplyDelete
    74. @Dianth,

      1. Ente lihatlah dicatatan kaki sumbernya dari mana.

      2. --- Syaikh Ali bin Abdul Aziz bin Ali Asy Syibil itu siapa? ulama wahabi kah ? darimana beliau mendapat sumbernya?----

      InsyaAllah, beliau bukan seorang kazzab atau pendusta. beliau murid terdekat Syaikh Bin Baz (mufti Kerajaan Saudi dimasanya). dan kitabnya yang berjudul "PERINGATAN ATAS KESALAHAN AQIDAH DALAM FATHUL BAARI" telah mendapat sanjungan dari Kibarul Ulama Saudi, tanpa merendahkan sedikitpun Al Hafiz Ibnu Hajar.

      --- saya kutipkan anda ayat Al Qur an yang menjadi dalil mengapa kami menggunakan 2 jalan, yaitu takwil ijmali dan takwil tafsili :
      “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah . Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal -----

      itu menurut tafsiran kelompok antum. coba antum cek di Tafsir Ibnu Katsir, gimana penafsiran ayat tersebut yang shahih.


      4. ------Apa bedanya kami dengan pendapat Imam Ahmad, kami juga berusaha meninggalkan bidah-bidah yang jelek. Adapun masalah setiap bidah itu sesat maka kami pahami sesuai penjelasan para imam bahwa bidah yang jelek dan tidak sesuai syar i itulah yang sesat, adapun kaum wahabi juga menganggap bidah itu adalah bidah diniyah.
      Masalah Qiyas, itu pembahasan para imam mazhab bung, masalah akal hawa nafsu dsbnya itu relatif bung, kami menggunakan akal untuk menjelaskan dalil, karena dalil dijelaskan dan dipahami dengan akal bukan dengan dengkul.----

      Ya jelas beda lahh...
      Sudah jelas Al Imam menyatakan setiap bid'ah (secara syar'i) adalah kesesatan.
      Lafaz "Kullu" dalam hadist, "kullu bid'atin dhalalatun...", menurut orang Arab asli adalah artinya 'semua'.
      kalo antum nanya kepada bukan orang arab asli yaa mungkin dia bilang tidak semua bid'ah (istilah syari) adalah sesat.

      5. ---- Masalah fitrah, ini sungguh aneh pakai bawa-bawa orang kafir pula.
      Mengangkat tangan waktu berdoa itu adalah sunnah. masalah fitrah itu hanya pendapat saja, tidak bisa dijadikan dalil. ---

      Mengenai Allah berada diatas langit maka dalilnya sudah jelas dari Al Quran dan Sunnah seperti yang dijelaskan Akhul Kirom Ajam yang membawakan perkataan Imam Malik. Istiwa' ma'lumun wa kayfiyatu majhulun, bertanya mengenainya Bid'ah.
      adapun fitrah adalah sumber pendukung dari Al Quran da Sunnah serta Ijma.

      Wallahu 'alam.

      ReplyDelete
    75. @donpay

      saya rasa pembicaraan saya dengan mas ajam sudah menjelaskan masalah akidah, asma wa shifat.

      Saya hanya mau memberitahukan ente bahwa ulama salaf dan khalaf termasuk ibnu taimiyah sendiri dan ulama wahabi juga telah melakukan takwil.
      Masalah bidah, ulama wahabi juga membagi bidah menjadi bidah dunia dan bidah agama.

      Saya rasa tidak ada penjelasan yang bisa jelas selain hanya sebuah pendapat dengan rasa fanatisme yang mengatakan akidah asy ariyah bukan termasuk ahlussunah, lalu mengatakan golongannya lah yang ahlussunah.

      Saya rasa perilaku dan perbuatan yang berakibat fitnah ini bukanlah perilaku pengikut salaf.

      Saya sarankan anda untuk belajar memahami agama secara menyeluruh dan lengkap.

      Saya rasa tidak ada yang perlu saya diskusikan lagi, karena hanya mengulang-ngulang saja.

      Dianth

      ReplyDelete
    76. 1. PERKATAAN IMAM AL IMAM ABU HANIFAH
      Abu Hanifah berkat : " Sesungguhnya Allah di Langit bukan di Bumi". (lihat Al-Uluw karya Adz Zahabi dan al asma' wash Shifat karya Al-Baihaqi.

      2. PERKATAAN al Imam MALIK
      beliau berkata : "Allah di langit dan Ilmu Nya di setiap tempat, tiada satu tempat pun yang luput dari Ilmu Nya". (lihat Asy Syariah karya Al Ajurri, Syarah Ushul I'tiqod karya al Laalikai)

      3. Perkataan al Imam Asy Syafii
      beliau berkata : ...Dan bahwa Sesungguhnya Allah di atas 'Arasy di atas Langit. Dia mendekati hambaNya sesuai cara yang Dia kehendaki dan Dia turun ke Langit dunia sesuai cara yang Dia kehendaki." (lihat Itsbat Shifatil 'Uluw karya Ibnu Qudamah dan Al Uluw karya az zahabi)

      4. Perkataan Al Imam Ahmad Bin Hambal
      Beliau berkata :" Ya, Allah di atas Arasy, dan Ilmu Nya tidak satupun tempat yang tersembunyi." (lihat Mukhtashor Al- Uluw karya Adz Dzahabi dan Syarh Ushul I'tiqod karya al Lalikai)

      Berkata al Imam Abul Hasan Al Asy'ari dalam kitabnya, Risalah ila Ahli Tsaghor.
      "Bahwasanya sesungguhnya Allah Ta'ala di atas segal langit di ata Arsy, bukan di Bumi....".

      ReplyDelete
    77. Donpay, anda bisa lihat penjelasan saya pada mas Ajam.

      ReplyDelete
    78. Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

      أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

      بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

      Ketika Para Mujtahid [ katakanlah Mujtahid Mutlaq yang 4 ] ber IJTIHAD...dan dari hasil ijtihadnya itu terdapat cacat atau kesalahan , maka dalam satu riwayat orang yang ber ijtihad tadi mendapatkan nilai 1 ( satu ) , nilai 1 ( satu ) ini hanya untuk Mujtahid tadi , bukan untuk yang bertaqlid atau 'ittiba kepadanya , dan apabila orang yang mengikuti fatwanya tunduk dan mengamalkannya , maka pengikut tadi jadi TERKUTUK , karena berjalan diluar rel yang telah disepakati oleh mayoritas Ulama.

      AlBani / Abdul Wahab- apakah beliau menguasai ilmu untuk berijtihad , apabila ternyata FATWA dari hasil ijtihadnya itu bertentangan dengan Hadits yang sudah mapan, maka gelar Muhaditsun untuk AlBani / Abdul Wahab otomatis batal.

      Timbul pertanyaan , apakah AlBani dan Abdul Wahab lebih mulya dari Imam Ahmad bin Hambal, sehingga begitu mati-matian membela mereka berdua...???...sementara Imam Ahmad bin Hambal hanya dijadikan sebagai perisai. [ hanya mengambil gelar Ahsussunah wal Jamaah nya saja ].

      Kita ber Agama itu untuk supaya selamat sampai akhirat nanti ,

      Apabila Ulama yang kita ikuti itu punya Akhlak yang goncang [ istilah Abu Jauza :Mudzabdzab atau Al-Kadzdzab ] untuk apa kita bela dan kita jadikan mascot.

      Pertanyaan kemudian , apabila AlBani dan Abdul Wahab itu tidak ada dukungan dan didanai oleh KSA [ Kerajaan Saudi Arabia ] dalam menyebarluaskan faham Mudzabdzab atau Al-Kadzdzabnya...apakah bisa sampai ketelinga kita dan diangkat kemudian sangat dimulyakan oleh para Fans Manianya.

      Apabila Aqidah [ Faham ] Ibnu Tamiyah tidak dibesarkan oleh Keluarga ALLUSI al-Hanafi di India , apakah bisa dikenal sebagai Syaih al Islam.

      Awalnya ...Faham Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah itu adalah Madzhab Imam Hambali , tapi setelah AlBani muncul , seluruh fatwanya mengadopsi dari Imam Hanafi , dicampur dengan fatwa dari Dzahiri - Mu'tazili , bahkan Injil dan Zabur [ yahudi ] pun turut dicampur aduk dan di abadikan dalam Aqidah Salafi / Wahabi.

      Bagaimana mungkin , sesama Salafi / Wahabi saling caci maki - saling mengkafirkan apabila Aqidah yang mereka usung itu adalah yang akan menuntun ke jalan yang lurus.

      Bagaimana mungkin antara fatwa AlBani - Bin Baz - Usaimin - Ibnu Taimiyah bisa saling silang saling kecam dan saling kafirkan.

      AlBani / Bin Baz sangat mengecam Taqlid , tapi kenapa yang ngekor pada mereka begitu gigihnya membela dan membenarkan Fatwanya yang nyata-nyata bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits.

      lalu tujuan ME WAHABI KAN masyarakat itu apa.......???...masyarakat sudah tahu kejanggalan Aqidah Salafi / Wahabi....maka sebaiknya para Simpatisan Salafi / Wahabi itu banyak-banyak ber Istighfar.

      Syaikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I’lamu Al-Muwaqqi’in juz Ihal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata:

      ’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi saw, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar ”.



      لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

      “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”

      (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

      Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

      http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Riwayat Al Baqi Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top