728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Monday, May 16, 2011

    Walau satu ayat

    Hakikat makna "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat"

    Zionis Yahudi mendirikan pusat-pusat kajian ke-Islam-an di beberapa tempat di dunia. Mereka dikenali juga sebagai "orientalis barat"

    Mereka tidak bersyahadat maka pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an dan Hadits terbatas pada pemahaman secara ilmiah / logika yakni pemahaman menggunakan pikiran dan memori.

    Mereka mengumpulkan dalil-dalil naqli (kerja memori) dan menterjemahkan (kerja pikiran).

    Mereka tidak bersyahadat maka mereka tidak mendapatkan karunia hikmah (pemahaman yang mendalam) atau mereka tidak mendapatkan pelajaran dari Al-Qur'an dan hadits karena karunia hikmah hanya diberikan oleh Allah Azza wa Jalla hanya kepada yang dikahendakiNya.

    Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya
    Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )

    Tentulah karunia hikmah tidak diberikan kepada yang dimurkaiNya dan mereka yang tersesat.

    Dalam hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“

    Zionis Yahudi mereka dengan pemahaman ilmiah/logika yakni yang mengumpulkan dalil-dalil naqli (kerja memori) dan menterjemahkan saja (kerja pikiran) ditengarai menyepakati untuk mengangkat kembali pemahaman ulama Ibnu Taimiyah metode pemahamannya serupa dengan mereka.

    Pemahaman ulama Ibnu Taimiyah sudah terkubur lama dan ditolak oleh jumhur ulama terutama pada masalah i'tiqod / akidah. Ulama Ibnu Taimiyah adalah ulama yang tidak sampai pada derajat imam mujtahid namun ingin pendapat (fatwa)nya didengar oleh orang banyak. Salah satu ulama yang mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyah adalah ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliaulah pendiri Wahhabi. Jumhur ulama sepakat memberikan nama paham/kaum mengikuti nama bapaknya, semata-mata untuk menghindari salaf tafsir jika diberi nama Muhammadi.

    Metode pemahaman ilmiah/logika inilah yang umumnya dipergunakan oleh mereka yang memahami ilmuNya secara otodidak (belajar sendiri).

    Imam Syafi'i ~rahimullah mengatakan "Tiada ilmu tanpa sanad", “Penuntut ilmu tanpa sanad, bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar di tengah malam, yang ia pakai sebagai tali pengikatnya adalah ular berbisa, tetapi ia tak mengetahuinya”.

    Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

    Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

    Banyak dari kita salah memahami perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka" (HR Bukhari)
    Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=42&ayatno=124&action=display&option=com_bukhari

    Hakikat hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.

    Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami sendiri namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam "mendengar" firman Allah Azza wa Jalla melalui malaikat Jibril. Selanjutnya ilmuNya mengalir dari lisan ke lisan orang-orang sholeh yang taat kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.  Itulah yang hakikat makna "Kami dengar dan kami taat".

    Salah satu contoh ulama yang lebih banyak belajar secara otodidak (belajar sendiri) ketimbang apa yang didengar dari gurunya adalah ulama Al Albani.

    Ustad Ahmad Sarwat Lc menuliskan tentang ulama Al Albani
    "Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa seorang Al-Albani ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu dia sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri. Sayangnya, para pendukung Al-Albani diyakinkan bahwa yang keluar dari mulut Al-Albani itulah isi dan makna Quran yang sebenarnya. Lalu ditambahkan bahwa pendapat yang keluar dari mulut para ulama lain termasuk pada imam mazhab dianggap hanya meracau dan mengada-ada".
    Tulisan selengkapnya dapat dibaca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

    Habib Munzir mengatakan tentang ulama Al Albani, "saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong"
    Sumber: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9

    Kesimpulannya kita sebagai muslim dalam memahami ilmuNya, sebaiknya tidak cukup dengan pemahaman secara ilmiah/logika namun wajib dilanjutkan dengan mengambil pelajaran atau hikmah (pemahaman yang dalam) mempergunakan akal dan hati.

    Sebagian ulama (ahli ilmu) pada zaman modern ini memahami ilmuNya secara ilmiah/logika yakni menggunakan pikiran dan memori.
    Jumhur ulama sejak dahulu memahami ilmuNya secara hikmah yakni menggunakan akal dan hati

    Pikiran adalah akal dalam bentuk jasmani yakni penggunaan otak. (mengetahui, memahami dengan menterjemahkan)
    Berakal adalah akal dalam bentuk ruhani yakni menggunakan akal. (mengetahui, memahami dengan mengambil pelajaran)

    Berpikir dapat terpenuhi oleh anak sejak dini seperti kemampuan membaca, berhitung
    Berakal dapat terpenuhi saat anak telah masuk wajib sholat.

    Hati dalam bentuk jasmani adalah “segumpal darah”
    Hati dalam bentuk ruhani adalah “hati yang lapang”

    Salah satu permasalahan ulama (ahli ilmu) saat ini adalah menggunakan tafsir bil ma’tsur atau “mengumpulkan” landasan naqli yang shahih dengan metodologi “terjemahkan saja” atau menggunakan alat bahasa terbatas (seperti tidak menggunakan balaghah) kemudian “disampaikan”. Padahal perlu langkah pemahaman yang dalam (hikmah) sebelum “disampaikan”.

    Pemahaman dengan metode “terjemahkan saja” sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/ adalah pemahaman menggunakan logika(pikiran dan memori) atau pemahaman secara ilmiah, belum pemahaman yang dalam atau hikmah yang menggunakan akal dan hati dijalan Allah ta’ala dan RasulNya

    Pemahaman secara ilmiah atau secara logika (pikiran dan memori) adalah yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai “membaca Al-Qur’an tidak melampaui kerongkongan” atau tidak menggunakan akal dan hati atau tidak masuk ke dalam hati.

    Logika/ilmiah (pikiran dan memori) berbeda dengan yang dimaksud dengan hikmah (akal dan hati). Dalam Al Qur’an disebut “orang berakal” dan syarat kewajiban beragama adalah berakal. Contoh salah satu syarat wajib sholat adalah berakal disamping Islam dan Baligh. Seorang yang sanggup berpikir dan mengingat (memori) belum memenuhi syarat wajib sholat sebelum berakal.

    Berikut ilustrasi untuk dapat membedakan antara logika/ilmiah (pikiran dan memori) dengan hikmah (akal dan hati).

    Ummi: “Abi, Abi sayang ndak sama ummi ? “
    Abi : “Umi ini bagaimana sih seperti orang bodoh yang mengulang-ulang pertanyaan”

    Dialog ini benar secara logika / ilmiah (pikiran dan memori) karena (berdasar memori si Abi) orang yang mengulang-ngulang pertanyaan adalah menunjukkan kebodohannya namun dialog ini keliru atau bermasalah kalau ditinjau dengan hikmah (akal dan hati).

    Pemahaman terhadap petunjukNya (Al-Qur’an dan Hadits) tidak cukup berbekal pikiran dan memori yakni “terjemahkan saja” (pikiran) dan bukti-bukti / dalil-dalil naqli (memori) atau apa yang tersurat (apa yang “terlihat”) atau secara dzahir namun harus dengan hikmah, akal dan hati atau apa yang tersirat (di balik yang “terlihat”) atau secara hakikat.

    Kita harus bisa membedakan antara pemahaman/pendapat dengan akal dan pemahaman/pendapat menggunakan akal di jalan Allah ta’ala dan RasulNya.

    Marilah kita gunakan akal yang dikaruniakan oleh Allah Azza wa Jalla yang membedakan kita dengan ciptaanNya yang lain untuk memahami petunjukNya sehingga mendapatkan tempat yang mulia di sisiNya.

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Walau satu ayat Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top