728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Monday, June 6, 2011

    Mengapa harus Salafi

    Mengapa harus Salafi

    Salafi pada hakikatnya adalah pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang kita sepakati kaum tersebut bernama Wahhabi karena kalau kita ambil nama beliau, menjadi Muhammadi tentu akan menimbulkan kesalahpahaman dikemudian hari.

    Pada hakikatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi, yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah kaum Wahhabi yang telah diekspor oleh pemuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia.

    Dikarenakan istilah Wahhabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi.

    Kesan negatif dari sebutan Wahhabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud—yang membonceng seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—atas semua kabilah di jazirah Arab dan atas dukungan kolonialisme Inggris.

    Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut.

    Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi.

    Sedang pemikiran ulama Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara Saudi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Ulama Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain di luar wilayah Saudi.

    Jadi dapat kita pahami bahwa Salafi adalah mereka yang mengikuti ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab mengaku-aku mengikuti ulama Ibnu Taimiyah

    Lalu kenapa kita harus mengikuti ulama Ibnu Taimiyah ?

    Ulama Ibnu Taimiyah yang menamakan pemahaman beliau terhadap Al-Qur'an dan Hadits bermanhaj atau bermazhab salaf, tidak jelas yang dimaksud beliau salaf yang mana ?. Padahal dibeberapa hadits dikatakan ikutilah Salaf yang shalih.

    Bagaimana bisa benar persamaan berikut
    Manhaj Salaf = Manhaj Salaf yang Sholeh
    Mazhab Salaf = Mazhab Salaf yang sholeh
    Sedangkan penamaan Mazhab atau Manhaj atau tharekat disandingkan kepada nama perorangan bukan untuk banyak orang atau suatu kaum

    Kenapa harus mengikuti Ulama Ibnu Taimiyah, sedangkan beliau masih saja bertanya "Di mana Allah ta'ala". Maha suci Allah ta'ala dari dimana dan bagaimana.

    Jadi, jika kita tidak mempunyai kompetensi sebagai mujtahid, tidak mempunyai dana, tidak mempunyai waktu untuk berijtihad maka lebih baik bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat.

    Imam Mazhab yang empat adalah termasuk (minimal) Tabi'ut Tabi'in atau termasuk Salaf yang Sholeh atau Salafush Sholeh.

    Ikutilah Ulama salaf (terdahulu) yang sholeh atau ulama khalaf (kemudian) yang sholeh. Yang penting adalah sholeh karena ke-sholeh-an adalah sertifikat sebagai pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/06/ikutilah-orang-sholeh/

    Indikator manusia telah beragama adalah sholeh karena tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus Allah ta'ala adalah menjadikan manusia yang sholeh.

    Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Pada hakikatnya manusia yang tidak sholeh, jasmaninya saja berwujud manusia sedangkan ruhaninya berwujud binatang karena mereka telah memperturutkan hawa nafsu semata.

    …Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )
    Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )

    Jadi kalau mau mengikuti jalan Allah ta'ala dan RasulNya maka janganlah memperturutkan hawa nafsu.

    Pengenalan hawa nafsu, pengenalan diri, jasmani dan ruhani, tazkiyatun nafs yang berujung kepada akhlakul karimah yakni bagaimana kita berakhlak kepada Allah Azza wa Jalla, bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain termasuk berakhlak kepada sesama manusia, semua itu ada dalam Tasawuf.

    Dari sejak dahulu kala tasawuf adalah tentang akhlak , tentang Ihsan.
    Di seluruh perguruan tinggi Islam, sejak dahulu kala, tasawuf termasuk bidang akhlak.

    Jelaslah ulama yang mencitrakan bahwa Tasawuf adalah sesat, pada hakikatnya mereka memalingkan manusia dari jalan Allah ta'ala dan RasulNya. Wallahu a'lam

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    14 comments:

    1. Akhi MZ, biarkanlah kaum Salafi lebih tahu tentang mereka sendiri. Ndak baik kita menilai orang (kaum) lain.

      ReplyDelete
    2. Alhamdulillah, kami tidak bermaksud menilaiorang (kaum) lain. Kami sekedar menyampaikan bahwa pada hakikatnya manhaj Salaf atau mazhab Salaf itu tidak ada pernah disampaikan oleh Salafush Sholeh atau bahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
      Silahkan baca tulisan terkait yang lain pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/04/adakah-manhaj-salaf/
      dan
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/06/ikutilah-orang-sholeh/

      Penamaan manhaj (tharekat) atau mazhab itu dinisbatkan pada nama perorangan bukan pada suatu kaum.

      ReplyDelete
    3. ketika dulu temen2 memberi komentar tentang NU, bang Zon kasih komentar supaya teman2 jangan menilai NU, mereka lebih tahu tentang diri mereka sendiri...

      sekarang, kalo bang Zon bikin berbagai tulisan tentang Wahabi, boleh dong kita sampaikan kalimat yang sama: "Akhi MZ, biarkanlah kaum Salafi lebih tahu tentang mereka sendiri. Ndak baik kita menilai orang (kaum) lain."

      atau..., ada standar ganda nih..., kalo komentar tentang NU gak boleh.. tapi kalo komentar tentag Wahabi..., silakan....

      Saya yakin insya Allah, kaum yang bang MZ sebut dengan
      Wahabi lebih tahu tentang perkara mereka sendiri, lebih tahu dari bang Zon yang bukan bagian dari mereka...

      Inget bang Zon, menurut anda sendiri ndak baik menilai kaum lain... terserah istilah anda 'sekedar menyampaikan' atau 'bukan menilai'... tapi toh substansinya sama, para pembaca tentu paham akan hal ini...

      barakallahu fik...

      ReplyDelete
    4. mamo cemani gombongJune 7, 2011 at 11:22 AM

      @panitia maaf nimbrung .........kalau paham wahabi ngga membuat sejarah berdarah dan sampai sekarang terlalu banyak membuat vonis , bid'ah ,syirik, kafir, dgn pemahamannya sendiri lantas dihantamkan kesesama muslim lain maka muslim lain pasti nggak akan cari2 permasalahan tentang paham wahabi yang kontrofersial di dunia ini . Ada apa dgn wahabi ????? yang jargonnya tauhid murni namun dalam bermasyarakat kok merasa paling tauhid dan yang nggak sepaham dianggap kafir , halal darahnya , halal hartanya , halal kehormatannya ????? apakah dahulu Nabi SAAW mengajarkan spt ini ????? dgn pertannyaan2 diatas maka banyak umat muslim yang awam menjadi bingung ..........naaah kalau nt berpaham tersebut silahkan crosscek baik2 dan berdialog dgn muslim yang mumpuni ilmunya contoh Habib Mundzir Al Musawa ........di majelis Rosullulloh .............InsyaAlloh bermanfaat .....salam ....

      ReplyDelete
    5. Kang Cemani, sebaiknya anda ingat2 nasihatnya bang MZ, apa itu? Jangan suka menilai kaum lain, enggak baik!! Biarkanlah kaum salafi, mereka lebih tahu tentang ada yang ada pada mereka sendiri.. Maaf, anda tidak lebih tahu dari pada mereka, jd jangan suka menilai kalo mereka suka mengkafirkan, membid'ahkan, dll dari tuduhan2 keji yang tidak layak mereka sandang.. Kalau antum mau paham tentang salafy, cobalah antum dgn ikhlas utk mencari al haq duduk di majlis ilmu yg diisi ustadz2 yg menisbahkan dirinya dgn salafy, pengikut salafush shalih.. Insya Allah, antum akan dapati bagaimana mereka benar2 berusaha untuk mengikuti pemahaman salafus shalih serta para ulama yang mengikuti jejak mereka dalam memahami Al Qur'an maupun As Sunnah.
      Tidak cukup, antum ambil tulisan dari tokoh di luar salafy yg tentunya menilai salafy dari luar saja sebagaimana keadaan mereka, kemudian merekapun para tokoh tadi membuat penilaian kalo salafi itu begini, takfiri, suka mencela, membid'ahkan, dan ketidakadilan lainnya hasil dari penilaian dari luar saja. Sudah pun demikian, orang2 seperti anda merujuk pd ucapan2 mereka utk kemudian mencela dan menilai salafy sedemikian rupa, la haula wala quwwata illa billah.. Coba hadir di majlis salafy kang Cemani, semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu.. Amin.., ya mujibassailin..

      ReplyDelete
    6. Semoga rahmat Allah selalu menaungi, kita yang tak lelah mencari ilmu dan berbuat kebaikan
      Bang zon yang saya hormati, suatu saat saya berhujjah dengan salafiah , beberapa hal yang disimpulkan
      1. hadits doif , tak dipakai karena tak ada asal-usul, sehingga dianggap tak benar,
      2. adanya paksaan dalam beragama, seperti melakukan pelarangan2 ini atau itu seperti halnya boleh menghancurkan bangungan kubah kuburan
      3. beribadah sesuai dicontohkan Rasul , kalo ngak tidak, maka dinilai bid'ah
      4. Percaya hadist shahih walaupun ada bilang kurma nabi bisa menangkal sihir, disamping baik untuk kesehatan, (mirip kasus syirik tanpaknya), ketika ditanya siapakah yang menangkal sihir, jawabannya cuma ngotot aja:)
      dan beberapa hal yang saya lihat kemajuan dari kalangan mereka adalah
      1. Memiliki kitab hadist cetakan penerbit salafiyun lengkap, sedangkan kalangan aswaja adakah niat menerbitkan ulang2 kitab klasik masih asli atau terjemahannya, melalui situs2 blogger ini, saya berpikiran alangkah adanya jalan kesana, kalangan muslim tak akan berat menyisihkan sedikit pendapatan mereka untuk membeli soft kopinya
      2. Kalangan ahli agama di Indonesia, belumlah diakui oleh mereka sebagai ulama, baru cuma dai dst, entah apa ulama dikenal oleh mereka, sehingga telah meresahkan umat islam di lingkungan akibat provokasi mereka, sampai masalah hormat bendera di sekolah:)
      Di tempat saya, gerakan mereka mulai intensif, suatu saat saya akan liat akan timbul gesekan hebat, bisa jadi mereka sekarang masih ngotot berhujjah, suatu saat bisa seperti dimesir, berlaku kasar, intimidasi seperti dirasakan ulama asjawa kalangan univ, Al Azhar baru2 ini ketika akan ceramah agama,
      Semoga kekewatiran kita mulailah cepat ditanggapi, dengan menyiakan literatur lengkap berupa kitab2 penanding dengan hujjah baik, supaya energi kita tak habis untuk meladeni kelakuan mereka,
      Semoga rahmat Allah selalu menaungi kita menghadapi fitnah akhir zaman ini, thank much':)

      ReplyDelete
    7. Mas panitia, silahkan komentari tulisan-tulisan kami. Kami menyampaikan kesalahpahaman-kesalahpahaman selama ini dari kaum Wahhabi / Salafi bukannya memberikan penilaian suatu kaum. Semua tulisan kami ada topik / subjek yang dibahas bukan semata-mata membahas kaumnya. Mereka memahaminya sepert itu kami memahaminya seperti ini , itulah yang kami uraikan dalam bentuk tulisan.

      ReplyDelete
    8. mamo cemani gombongJune 8, 2011 at 12:33 AM

      @panitia ini ana copasin komennya abu jupri di blog ummati ............hal ini apa nggak membuat umat islam yang mengamalkannya tertuduh kafir secara tidak langsung ??? "kaum musyirikin (menduakan Allah dalam beribadah dalam firman Allah disebutkan “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah orang-orang tersebut, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3).
      mereka menjadikan berhala2 orang2 shalih tersebut sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah Azzawajallah (bukan menyembah mereka).
      kalo cuma yang dimaksud tauhid adalah dengan tidak MENYEMBAH ORANG SHALIH YANG WAFAT YANG PENTING NGAK NYEMBAH MEREKA, TETAPI BERTAWASUL PADA MEREKA MAKA AYAT TERSEBUT UNTUK MEREKA YANG BERTAWASUL DENGAN MAYYIT (G DA BEDA MAYYIT AMA BERHALA KAU MUSYIRIKN)..kalo begitu ya mana bisa dibilang tauhid mas.
      tasyabbuh dan penyerupaan yang paling tepat pada kaum NASHRANI/HINDU ADALAH:
      NATAL NABI => MAULID NABI
      DANYANGAN => HAUL
      SELAMATAN => TAHLILAN
      TINGKEPAN => NUJUH BULAN
      BELUM LAGI SYAIR2 DARI BUSHIRI, BARZANJI, SALAWAT2 YANG GHULUW PADA RASULILLAH SALLALLAHUALAIHIWASALLAM DSB…
      @Zulvar
      SILAHKAN DISEBAR KARENA KEBENARAN ITU AKAN SELALU MENANG…
      WALLAHUALAM"
      marilah kalau mau mengkaji bersama namun jangan merasa benar sendiri dan memvonis muslim lain dgn seenaknya saja .......salam

      ReplyDelete
    9. Assalamu'alaikum

      Ya Akhi...
      Sungguh, agama itu nasihat..
      Adapun nasihat kami padamu,
      ketahuilah, daging ulama itu beracun..
      Daging ulama itu beracun!..
      Wallahi,,daging ulama itu beracun!!..

      Tahanlah lisan kita!
      Wallahi, tahan lisan kita!!
      Ilmu kita ini masih sedikit...
      Namun kita sudah berani men"Jarh" ulama-ulama besar, layaknya mereka orang-orang yang keliru atau pikun..

      Apakah dengan ilmu yang sedikit ini, kita dapat menyamai perjuangan-perjuangan dan keilmuan para ulama dalam membantah paham2 menyimpang dan kesesatan?

      Apakah keilmuan kita sama dengan Imam Ahmad bin Hambal, yang membela Tauhid Asma wa Sifat, ketika fitnah Mu'tazilah terjadi di zamannya?

      Apakah keilmuan kita sama dengan Imam Ibnu Abdul Wahhab yang membela Tauhid Uluhiyah, ketika fitnah Syirik dan Khurofat (Takhyul) merebak di zamannya?

      Apakah keilmuan kita sama dengan Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Muhammad Nashirudin Al-Albani, Imam Ibnu Bazz, Imam Al-utsaimin, yang mereka tak henti-henti nya, membedah fitnah2, seperti khawarij, murji'ah, dsb?

      Bukankah dahulu Imam Abu Musa Al-Asy'ari juga telah rujuk dari paham Mu'tazilahnya?
      Bahkan Imam Syafi'i, sang pembela sunnah (Nashirussunnah), menolak disamakan dengan paham mu'tazilah-asy'ariyah..

      Wahai..
      Akhi..
      Bacalah buku2 mereka dahulu, yang engkau juluki Wahabi itu..

      Engkau telah menambahkan kata 'zuhud' pada namamu..
      Maka hendaknya, sekarang engkau zuhud juga terhadap lisan dan tulisan mu..

      Wabillahit taufiq..
      Semoga Allah menunjuki jalan, bagi kami & kamu..

      Wassalam 'alaykum..

      ReplyDelete
    10. Alhamdulillah penjelasan yang terang benderang seperti matahari tanpa awan ...................

      ReplyDelete
    11. Kalaulah, begitu..

      Akhaani MZ & Cemani
      Bagaimana antuma memahami makna nash-nash, seperti :

      -Allah bersemayam di atas Arsy'?
      -WajahNya, yg diyakini dapat dilihat di yaumil akhir oleh orang beriman
      -TanganNya, yang meremukkan semesta alam ini ketika kiamat
      -KakiNya, yang dapat memenuhi Jahannam

      Ataupun yang selainnya yg seperti itu, pada banyak Zhahir nash-nash Quran & Hadits?

      Karena bagi kami, cukuplah kami meyakini, apa yang Ia Azza wa Jalla kehendaki bagi Diri-Nya. Jika Ia menghendaki itu semua bagi DiriNya, tiadalah pilihan bagi kami, selain berserah diri, mengimani hal itu. Karena akal manusia yang sangat terbatas, manalah mungkin memahami yang Maha Sempurna, dan tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya...

      Wallahu'alam

      ReplyDelete
    12. Mas Muslim

      الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

      Allah, Tuhan yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arsy (QS. Thaha 5)

      Bersemayam maksudnya menguasai ‘Arasy, sebagaimana seorang raja duduk diatas kursi singgasananya mangandung makna menguasai atau penguasa.
      Karena ketika kata “bersemayam” diartikan mentah (zhahir) maka akan terbayang Allah sedang bersemayam dan ini membuat kufur, keluar dari agama Islam, menyerupakan sesuatu dengan Allah.
      Istawa yang artinya bersemayam disebutnya kalimat majaz.

      wajahNya, tanganNya, kakiNya adalah kalimat majaz

      Sebaiknyalah berpegang pada pendapat para ulama seperti
      Pendapat Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad yang sebaiknya kita ingat selalu agar kita terhindar dari kekufuran dalam i’tiqod / akidah.
      “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”
      “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

      Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, betempat), ia kafir secara pasti.”

      ReplyDelete
    13. mas Muslim ( semoga nama yang sebenarnya ) ..........semua pertannyaan nt jawabnya ada di artikel blog Mutiara Zuhud mas dan jawabannya panjang sekali kalau di jabarkan capek juga ngetiknya ......secara singkat Bang Haji Zon udah menjawabnya namun untuk lengkapnya ada di artikel blog ini ...........salam .

      ReplyDelete
    14. @Al-akh MZ
      Syukron, sudah memberikan pendapat & penjelasannya, mengenai pemahaman antum..

      @Al-akh Cemani
      Salam juga..
      Ana muslim, dengan kuniyah Ibnu Yahya..
      Ok, secara garis besar ana paham, pemahaman antum..


      Namun demikian,
      inilah perpisahan jalan bagi kita..
      Cukuplah ana mengimani, tanpa takyif, tamtsil, tahrif, & ta'thil..
      Wallahu'alam..

      Dengan keterbatasan ilmu yg ana punya, ana menyatakan berlepas diri terhadap pemahaman antuma..

      Semoga Allah menunjuki hidayah, bagi kami & kamu..
      Wassalamu'alaykuma, ya akhaan...

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Mengapa harus Salafi Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top