728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Friday, July 15, 2011

    Bid'ah dan Ibadah

    Kesalahpahaman tentang bid’ah diakibatkan kesalahpahaman tentang ibadah

    Segala sikap atau perbuatan seorang hamba Allah hendaklah merupakan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.
    Firman Allah ta’ala yang artinya
    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat [51] : 56)
    dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS Al Hijr [15]:99 )

    Umumnya pembagian ibadah terbagi kedalam ibadah mahdah (khusus) dan ibadah ghairu mahdah (umum)..

    Mereka berpendapat bahwa ibadah mahdah adalah ibadah yang berhubungan dengan Allah Azza wa Jalla atau habluminallah sedangkan ibadah ghairu mahdah adalah yang bernilai ibadah, berhubungan antar manusia (habluminannas), muamalah. Bahkan sebagian berpendapat bahwa ibadah ghairu mahdah adalah urusan dunia yang bernilai atau diniatkan sebagai ibadah.

    Setelah kami kaji lebih dalam ternyata pembagian ibadah dalam habluminallah dan habluminannas / muamalah tidak tepat karena ternyata tidak ada dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang dapat kita pergunakan untuk pembagian tersebut.

    Ada dalam Al Qur’an menyebutkan habluminallah dan habluminannas dalam,
    dhuribat 'alayhimudz dzillatu ayna maa tsuqifuu illaa bihablin mina allaahi wahablin minannaasi wabaauu bighadhabin mina allaahi”.
    "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah" (QS Ali Imran [3]:112)

    Ayat ini tidak ada kaitan dengan kaum muslim namun menerangkan bahwa kaum non muslim akan selalu diliputi kehinaan selama mereka tidak berpegang kepada tali (agama) Allah dan kaum non muslim tidak berpegang pada tali (perjanjian) dengan (pemerintahan) kaum muslim untuk mendapatkan perlindungan.

    Bagi kaum muslim diterangkan dalam surah yang sama pada ayat yang berbeda,
    "wa'tashimuu bihablillaahi jamii'an walaa tafarraquu"
    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai“ (QS Ali Imran [3]:103 )

    Jelas bahwa bagi kaum muslim seluruh sikap dan perbuatan haruslah berpegang kepada tali (agama) Allah (habluminallah ) atau selalu mengingat Allah (dzikrullah).

    Sehingga berhubungan dengan sesama manusia atau muamalah pun harus mengingat Allah (dzikrullah) atau mereferensi kepada Al Qur’an dan Hadits

    Dugaan kami pembagian ibadah kaitannya dengan habluminallah (ibadah mahdah) dan habluminannas (ibadah ghairu mahdah) malah memperkuat pemahaman kaum sekularisme bahwa ada perbuatan atau urusan manusia yang tidak perlu mereferensi kepada Al Qur’an dan Hadits namun atas kesepakatan antar manusia belaka.

    Oleh karenanya pada hakikatnya ibadah terbagi dalam dua kategori utama yakni amal ketaatan dan amal kebaikan.

    Amal ketaatan adalah segala kewajiban, batas/larangan dan pengharaman yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Dia tidak lupa. Kita tidak boleh memperbincangkan (mempertanyakan) lagi tentang amal ketaatan.

    Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

    Amal ketaatan disebut juga dibeberapa hadits sebagai “urusan kami”, “urusan dalam agama”

    Amal ketaatan adalah perkara syariat atau perkara menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya (batas/larangan dan pengharaman). Hakikat perkara syariat adalah syarat yang harus ditaati atau dipenuhi sebagai hamba Allah.

    Amal ketaatan atau perkara syariat , telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan telah dijelaskan oleh Rasulullah..

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)

    Makna dari “mendekatkan kamu dari surga” adalah menjalankan kewajiban
    Makna dari “menjauhkanmu dari neraka” adalah menjauhi batas/larangan dan pengharaman (perkara haram).

    Amal ketaatan atau perkara syariat telah sempurna. Tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Jika ulama menetapkan atau berfatwa dalam perkara kewajiban, larangan dan pengharaman, wajib berdasarkan atau “turunan” dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.

    Tidak boleh mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara kewajiban, larangan dan pengharaman. Inilah yang dimaksud bid’ah dlolalah yakni perkara baru dalam amal ketaatan (kewajiban, larangan dan pengharaman).

    Pada masa kini dapat kita jumpai ulama serampangan membuat larangan tanpa dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang pada hakikatnya mereka terjerumus ke dalam bid’ah dlolalah. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/04/terjerumus-bidah/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/05/membuat-perkara-baru/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/07/bidah-dalam-larangan/

    Kenapa membuat perkara baru dalam perkara kewajiban, larangan dan pengharaman dikatakan sebuah kesesatan (bid’ah dlolalah) karena mereka membuat perkara baru dalam perkara yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla untuk menetapkannya. Sehingga mereka yang menetapkan dan yang mengikuti adalah penyembahan terhadap sesama manusia. Hal ini jelas merupakan sebuah kesesatan.

    Betul! Tetapi mereka itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

    Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/03/bentuk-penyembahan/

    Amal kebaikan adalah segala perkara diluar amal ketaatan atau diluar perkara syariat yang sesuai atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

    Amal kebaikan tidak terkait dicontoh atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

    Selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits adalah perkara yang baik.

    Amal kebaikan tidak seluruhnya dicantumkan dalam Al Qur’an dan Hadits. Bisa saja terjadi perkara baru dalam amal kebaikan yang dilakukan manusia sampai akhir zaman.

    Hal ini telah kami uraiakan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/10/baru-tidak-tertolak/

    Perkara baru (tidak dicontohkan oleh Rasulullah) dalam amal kebaikan (amal sholeh) selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits tetap perkara baik.

    Imam as Syafi’i ~rahimullah membolehkan perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh), dikatakan beliau sebagai, “apa yang baru terjadi dari kebaikan“

    Imam Asy Syafi’i ~rahimullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”

    Jadi dapat kita pahami bahwa perkara peringatan Maulid, Isra Mi’raj, untaian doa dan dzikir (ratib) Al Hadad, Sholawat Nariyah, Sholat Ba’dar dan sholawat-sholawat lainnya yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah adalah termasuk amal kebaikan (amal sholeh) selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

    Mereka salah pikir (fikr) atau salah paham bahwa mereka memasukkan sebagai contoh peringatan Maulid Nabi sebagai perkara syariat atau amal ketaatan atau kewajiban bagi kaum muslim padahal jumhur ulama tidak ada yang menetapkan bahwa peringatan Maulid sebagai perkara syariat atau kewajiban bagi muslim. Kalau ulama yang menetapkan seperti itu maka itulah yang dikatakan membuat perkara baru dalam syariat atau kewajiban yang merupakan bid’ah dlolalah

    Mereka mengada-ada dalam larangan terhadap peringatan Maulid, peringatan ulang tahun ataupun haul seorang ulama. Namun di sisi selain sebagian mereka melakukan kegiatan sejenis haul bagi ulama mereka seperti yang diuraikan dalam http://www.forsansalaf.com/2011/di-balik-pemujaan-wahabi/

    Peringatan Maulid Nabi dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah, bagi kehidupan kita hari ini maupun esok. Firman Allah Azza wa Jalla, Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad “, Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 ) . Sedangkan kegiatan perayaannya, selama tidak dilakukan secara berlebihan atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits adalah boleh saja, bahkan bermanfaat untuk mempererat tali silaturahim dan menebarkan salam diantara sesama saudara muslim.

    Dalam perkara sholawatpun, Imam Mujtahid Mutlak, Imam Syafi’i ~ rahimullah yang telah disepekati oleh mayoritas umat muslim, juga memiliki matan (redaksi) sholawat yang merupakan perkara baru atau tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah yakni seperti,

    Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu
    atau
    Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, pe-nawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Say-yidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada ke-luarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.

    Sholawat adalah termasuk yang kami katakan “ungkapan cinta” atau segala amal kebaikan (amal sholeh) merupakan “ungkapan cinta” sedangkan menjalankan amal ketaatan adala sebagai “bukti cinta”.

    Orang yang menjalankan amal ketaatan atau “bukti cinta” adalah disebut orang beriman (mukmin)

    "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )

    "Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir" (QS Ali Imron [3]:32 )

    dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )

    Orang yang menjalankan amal ketaatan dan diikuti amal kebaikan disebut orang sholeh (sholihin/muhsin/muhsinin)

    Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran [3]:148 )

    mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebaikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh” . (QS Ali Imran [3]:114 )

    Orang sholeh (sholihin/muhsin/muhsinin) atau orang yang menjalankan amal ketaatan (orang beriman) dan mengerjakan amal kebaikan , dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla akan dimasukkan kedalam surga tanpa dihisab.

    Janji Allah swt dalam firmanNya yang artinya.
    ….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu’min [40]:40 )

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124

    “Bukti cinta” adalah upaya kita mendekatkan dari surga dan menjauhkan dari neraka
    Sedangkan “ungkapan cinta” adalah upaya kita mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla untuk meraih kecintaanNya. Atau keridhoanNya

    Kita tidak bisa mengandalkan “bukti cinta” atau amal ketaatan saja untuk mendapatkan kehidupan yang baik kelak di akhirat (masuk surga) namun kita perlu kecintaan atau keridhoanNya sehinga Allah Azza wa Jalla menempatkan kita pada kehidupan yang baik di akhirat kelak (masuk surga)

    Seseorang masuk surga bukan hanya karena amal ketaatan saja. Seseorang tidak bisa dipastikan masuk surga-walaupun ia telah melakukan amal ketaatan yang baik. (ibadahnya nampak ikhlas, dan ketaatannya demikian tinggi) dan jalan kehidupannya pantas untuk diteladani- kecuali jika diijinkan oleh Allah, sebagai keutamaan yang diberikan kepadanya. Maka dengan keutamaan dan karunia-Nya itu ia masuk surga.

    Karena amal ketaatan yang ia lakukan tidaklah dapat dilakukan dengan mudah kecuali karena kemudahan dari Allah. Jika Allah tidak memberi kemudahan (niscaya ia tidak dapat melakukannya. Dan jika Allah tidak mengarunianya hidayah) niscaya ia tidak mendapat hidayah selama-lamanya, (meskipun ia telah berupaya keras).

    Hal ini sebagaimana firman Allah ta'ala:"...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki..."(QS An-Nuur [24]:21 )

    Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:"..Dan mereka berkata:"segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.."(Al-A'raaf [7] : 43)

    Oleh karenanya untuk meraih kecintaan atau keridhoanNya maka lakukanlah dan berlomba-lombalah dalam amal kebaikan (amal sholeh)

    Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah [2]: 148)

    Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (QS Al Anbiyaa [21]:90 )

    Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran [3]:148 )

    Allah Azza wa Jalla mengatakan pula dalam sebuah hadits qudsi yang artinya,

    Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan (amal ketaatan). Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah (amal kebaikan / amal sholeh) hingga Aku mencintainya“. (HR Bukhari)

    Oleh karena mereka salah pikir (fikr) atau salah paham , mereka menolak kebaikan dalam bentuk salam setelah usai sholat berjama’ah. Bahkan mereka cemberut atau menangkis.

    Alangkah baiknya kita bersalam-salaman setelah sholat berjama’ah baik sebelum dzikir atau sesudah berdzikir berjamaah ataupun sendiri.

    Bahkan baik sekali bersalam-salaman sesudah berdzikir berjama’ah diiringi sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sehingga memungkinkan kita lebih banyak bersholawat.

    Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : ”Orang yang paling dekat denganku nanti pada hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat untukku” (HR. Turmudzi)

    Dekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam artinya dekat pula kepada Allah Azza wa Jalla karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah Ar Rahmaan Ar Rahiim.

    Marilah kita perbanyak sholawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik dengan sholawat yang sebagaimana yang dicontohkannya atau dengan sholawat sebagaimana kita ingin mengungkapkan kecintaan kita kepada Allah ta’ala dan RasulNya.

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    4 comments:

    1. Mas Abu Syahid al Asyahani, kita sudah paham bahwa Agama telah sempurna. Pertanyaannya adalah apa inti dari agama atau perkara syariat atau "urusan kami" itu.
      Inti agama adalah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla yakni berupa kewajiban, larangan dan pengharaman. Bid'ah dalam agama atau bid'ah dalam hal kewajiban, larangan dan pengharaman adalah bid'ah dlolalah. Uraian kami lebih lanjut silahkan baca tulisan kami pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/20/perkara-dalam-agama/ dan
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/21/terkait-dengan-agama/

      Saat ini justru ada segilintir ulama terjerumus kedalam bid'ah dlolalah karena mereka membuat larangan-larangan tanpa dalil dari Al Qur'an dan Hadits dan diikuti oleh kaumnya . Hal seperti ini adalah penyembahan sesama manusia. Oleh karenanya dinamakan bid'ah yang sesat karena bid'ah yang mengakibatkan perbuatan menyekutukan Allah Azza wa Jalla.
      Betul! Tetapi mereka itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
      Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/04/terjerumus-bidah/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/05/membuat-perkara-baru/
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/07/bidah-dalam-larangan/

      ReplyDelete
    2. Untuk sebuah pembelaan, cukup bagus retorikanya. Tapi dominasi akal cenderung membabi buta untuk mencari pembenaran suatu amal yang sudah terlanjur biasa dilakukan ! Allahu a'lam bishawwab......

      ReplyDelete
    3. lanjut, ustadz. Kami faham apa yg anda sampaikan. Cuman orang yg terlalu fanatik pd golongannya yg tidak dapat menangkap maksud dr apa yg anda sampaikan.

      ReplyDelete
    4. Insyaallah, mas Bayu, mohon doa dan bantuan menyebarluaskannya untuk meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini

      Mereka adalah korban indoktrinisasi dari ulama-ulama yang mengaku-aku bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Memang ulama-ulama mereka membaca Al Qur'an , tafsir bil matsur, hadits shohih, sunan, musnad. Namun apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman mereka sendiri yang bisa benar dan bisa pula salah

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Bid'ah dan Ibadah Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top