728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Thursday, July 7, 2011

    Lima puluh aqidah

    Marilah kita pahami kembali Aqidatul Khomsin, Lima puluh Aqidah

    Keadaan saat ini sangat mengkhawatirkan. Sebagian saudara-saudara muslim kita terindoktrinisasi oleh syaikh/ulama/ustadz yang beri'tiqod berdasarkan pemahaman secara dzahir / harfiah atau dengan metodologi "terjemahkan saja". Semua ini ditengarai adalah hasil ghazwul fikri (perang pemahaman) terhadap syaikh/ulama/ustadz mereka yang dilakukan oleh Zionis Yahudi (freemason, iluminati, lucifier atau apapun namanya). Mereka yang berpaling dari kitab Taurat dan mengikuti ajaran paganisme peninggalan Mesir kuno ). Allah Azza wa Jalla telah memperingatkan kita akan keberadaan "Zionis Yahudi" dalam firmanNya yang artinya,

    Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).” (QS Al Baqarah [2]: 101 )

    Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]:102 ).

    Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/24/perang-melalui-pemahaman/

    Salah satu dasar aqidah mereka adalah menerjemahkan hadits budak jariyah atas pertanyaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "di mana Allah" sebagai pertanyaan tentang tempat bagiNya.

    Pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “di mana Allah” kepada seorang budak Jariyah yang diriwayatkan oleh Mu`awiyah bin Hakam, janganlah dimaknai sebagai pertanyaan tentang tempat namun maknailah dengan hakikat keimanan.

    Pertanyaan Rasulullah “di mana Allah” adalah untuk menguji keimanan seorang Budak, mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya “di mana Allah” adalah tentang keberadaan dzatNya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”.

    Imam Sayyidina Ali kw mengatakan “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya” (diriwayatkan oleh Abu manshur al baghdadi dalam kitab alfarq baynal firoq hal 333)

    Imam Sayyidina Ali kw mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“ (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98)

    Pada hakikatnya Arsy diciptakan adalah agar manusia tidak menjadikan selain Allah Azza wa Jalla sebagai “Raja Manusia”

    Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia“,
    Raja Manusia”,
    Sembahan manusia”. (QS An Naas [114]: 1-3 )

    Seluruh perkataan/pendapat ulama Salaf atau seluruh lafadz-lafadz atau dalil naqli yang diterjemahkan sebagai Allah ta’ala “di langit” atau Allah ta’ala “di atas ArsyNya” atau “Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS Thaha, [20]:5 ) sebaiknyalah tidak dipahami sebagai tempat bagi Allah Azza wa Jalla atau keberadaan bagi dzatNya.

    Hakikat “di langit”, “di atas” bukanlah sebagai tempat bagi Allah Azza wa Jalla namun sebagai peruntukan atau pengagungan bagi Yang Maha Tinggi (Al ‘Aliy) dan Yang Maha Mulia (Al Jaliil)

    Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan/mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”

    Tulisan terkait silahkan baca pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/27/bukan-tempat-baginya/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/25/langit-dan-bumi/

    Kita sebaiknya kembali memahami ilmu Tauhid yang telah diuraikan oleh ulama-ulama kita yang bersanad-ilmu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Pada http://www.facebook.com/media/set/?set=a.199048993473069.49992.100001039095629 telah dijelaskan bahwa definisi Ilmu Tauhid adalah Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul-Nya, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja'iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja'iz ada 1 sifat. Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja'iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan "Aqidatul Khomsin" . Artinya: Lima puluh Aqidah.

    Salah satu buku tentang tauhid atau 'tiqod atau akidah yang baik salah satunya adalah Aqidatul Awam. Penjelasan singkat tentang buku tersebut ada dalam tulisan pada http://ummatiummati.wordpress.com/2011/06/25/aqidatul-awam-kitab-akidah-ahlussunnah-yang-bebas-virus-wahabi/

    Contoh berikut kami uraikan bagaimana memahami "Laa ilaaha illallah" dengan salah satu sifat wajib (sifat tidak mustahil) bagi Allah Azza wa Jalla, Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri), di mana ulama menetapkan sifat wajib ini berlandaskan di antaranya yang artinya,

    "Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman" ( QS Thaha [20]:111 )

    "Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." ( QS Faathir [35]:15 )

    "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi" (QS Al Baqarah [2]:255 )

    Allah Azza wa Jalla, Qiyamuhu bin Nafsi, Maha Berdiri Sendiri tidak membutuhkan apa-apa pun dari makhlukNya termasuk "tempat" atau "Arsy" atau "langit" atau "kursi", sebaliknya kita membutuhkan Allah Azza wa Jalla.

    Pada hakikatnya "Laa ilaaha illallah" dapat dimaknai sebagai "tiada selain Allah".

    Kita dan seluruh ciptaaNya, ada karena Allah Azza wa Ta'ala.
    Bagaimana meyakini ini semua ?

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”.

    Secara sederahana untuk meyakini bahwa kita berkehendak atau bergantung kepada Allah Azza wa Jalla bahwa seluruh ciptaanNya tergantung dengan nikmat cahaya. Tanpa nikmat cahaya maka tidak ada satupun yang hadir atau tampak pada mata kepala manusia.

    Kita ada karena Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Allah ta’ala

    Coba bayangkan jika seluruh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, penciuman/rasa itu tidak diberikan oleh Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, apakah kita ada ?

    Kita maujud karena Allah ta’ala , karena Ar Rahmaan dan Ar Rahiim Nya dalam berupa panca indera. Kita harus bersyukur untuk itu

    Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

    Begitu pula kita harus bersyukur atas nikmat Iman dan nikman Islam karena Allah ta’ala , karena karuniaNya, karena Taufiq dan HidayahNya.

    Oleh karenanya segala perbuatan kita (seorang hamba Allah yang bergantung padaNya) haruslah karena Allah ta’ala bukan karena hawa nafsu dan bukan pula karena selainNya

    Kita sholat karena Allah ta’ala bukan karena surgaNya. SurgaNya adalah ciptaanNya yang adanya pun karena Allah ta’ala.

    Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam“. (QS Al An’aam [6]:162 )

    SurgaNya bukan lah tujuan namun sebuah keniscayaan bagi “orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya”

    Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 comments:

    Item Reviewed: Lima puluh aqidah Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top