728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Friday, July 1, 2011

    Ma'rifatullah

    (tulisan dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj)

    Bertemu dan memandang Allah Azza wa Jalla



    Jika sebuah robot yang mempunyai kemampuan proses logika berpikir yang sangat baik kemudian kita masukkan perintah untuk mengucapkan syahadat dan kemudian kita masukkan  perintah untuk  melakukan gerakan dan bacaan sholat berdasarkan hadits-hadits yang shohih serta dimasukkan data waktu sholat wajib maka tentu robot tersebut dapat mengucapkan syahadat dan menjalankan sholat lima waktu termasuk bacaannya.

    Lalu apa yang tidak ada pada robot yang berakal (berpikir) tersebut dengan manusia yang menjalankan sholat lima waktu ?

    Robot tersebut dapat mencontoh perbuatan jasmani manusia namun robot tidak mempunyai ruhani.

    Diri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani.

    Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian.”  (HR Muslim)

    Ketika sesorang menjalankan sholat, secara dzahir kita dapat melihat adanya gerakan badan (jasmani)  namun Allah Azza wa Jalla akan melihat hati (ruhani) manusia adakah mereka lalai dalam sholat.  Apakah mereka mencapai apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa "Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin", “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.

    Mi'raj manusia, naiknya jiwa (ruhani) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik (jasmani) manusia menuju ke hadirat Allah ta’ala.

    Dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat (bertemu) dengan Tuhan

    Allah ta’ala berfirman yang artinya,
    Sesungguhnya sholat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).

    … maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”  (QS  Thaha 20: 14)

    waladzikrulaahi akbaru
    "Sholat adalah dzikrullah (mengingat Allah)  yang utama" (Al Ankabut [29]: 45)

    Jadi dapat kita simpulkan bahwa mi’raj (kendaraan/cara) kaum muslimin untuk sampai ke hadirat Allah Azza wa Jalla  adalah dengan dzikrullah dan yang lebih utama adalah dengan sholat.

    Dzikrullah (mengingat Allah) adalah yang membawa kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sehingga kita dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati .

    Rasulullah bersabda,  “Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)

    Seolah-olah melihat Allah” dijelaskan dalam riwayat berikut.

    Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
    “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
    Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.
     

    Sayyidina Ali r.a adalah khataman Khulafaur Rasyidin yang menguraikan secara lengkap tentang Ihsan atau  tentang akhlak  sebagai dasar Tasawuf dalam Islam.

    Oleh karena fitnah orang Zionis Yahudi, mengakibatkan sebagian umat muslim tidak memperhatikan tentang Ihsan / tentang Akhlak atau tentang Tasawuf dalam Islam karena takut dikatakan sebagai kaum Syiah.

    Selain fitnah tersebut,  akibat pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf berakibat makin sedikit saudara muslim kita yang dapat berma'rifat , memandang Allah ta'ala dengan hati.

    Begitu juga semakin sedikit saudara-saudara muslim kita yang selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita.

    Kalau kita belum dapat berma'rifat atau memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan, minimal meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita,

    Kalau kita meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita,

    Masihkah berani berakhlak buruk ?,
    Masihkah berani bersikap buruk ?,
    Masihkah berani melakukan perbuatan yang melanggar laranganNya?
    Masihkah berani melalaikan kewajibanNya ?
    Masihkah berani menghujat , memperolok-olok sesama saudara muslim sendiri ?

    Kaum Zionis Yahudi memang telah dianugerahkan kepandaian.
    Mereka tahu bahwa muslim yang terbaik (ihsan) adalah muslim yang berakhlakul karimah.
    Oleh karenanya mereka berupaya merusak kaum muslim dengan merusak akhlak.

    Mereka merusak akhlak kaum muslim melalui,
    Paham Hedonisme yang menuhankan kesenangan
    Paham Liberalism yang menuhankan kebebasan
    Pornografi
    Narkoba dan Miras
    Gaya hidup mewah atau gaya hidup bebas dan lain-lain

    Termasuk mereka merusak melalui pengetahuan tentang akhlak atau tentang Tasawuf dalam Islam dengan cara mencitrakan hal yang buruk terhadap Tasawuf.

    Pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf termakan pula oleh para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka menyusun kurikulum pendidikan bekerjasama dengan Amerika yang dibaliknya adalah Zionis Yahudi.

    Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani menyampaikan dalam makalahnya bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

    Sekarang banyak muslim tidak paham bagaimana muslim yang berakhlak baik atau muslim yang sholeh. Bahkan dapat kita temukan mereka yang meperolok-olok muslim yang sholeh.

    Sekali lagi kami sampaikan bahwa muslim yang berakhlak baik (muslim yang sholeh) adalah muslim yang minimal selalu meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla selalu melihat seluruh sikap dan perbuatan manusia.

    Muslim yang terbaik adalah muslim yang dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan atau muslim yang berma'rifat. Oleh karenanya agar kita dapat berma'rifat maka kita menjalankan syariat, tharekat, hakikat dan ma'rifat.

    Kalau sudah berma'rifat atau memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati tentulah tidak akan bertanya lagi "di mana Allah" dalam arti tempat bagi Allah Azza wa Jalla.

    Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

    Allah Azza wa Jalla tidak terhalang untuk dilihat, akan tetapi yang terhalang adalah maanusia untuk dapat melihat Allah, logikanya apabila Allah Azza wa Jalla terhalang sesuatu untuk dilihat maka penghalang itu menutupi wujud Allah, apabila wujud Allah terhalang maka keberadaan Allah Azza wa Jalla itu terbatas, dan setiap sesuatu yang terbatas niscaya ada sesuatu yang membatasi atau ada sesuatu yang menguasainya, ada yang menguasai Allah Azza wa Jalla itu mustahil.

    Sesungguhnya yang terhalang adalah manusia karena  manusia menyandang sifat jasad (jasmani), sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila kita  ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri kita, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah.  Inilah yang dinamakan buta mata hati. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan.

    Langkah-langkah dalam memperbaiki akhlak adalah untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji  (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI). Para Ulama Sufi menyebutnya Maqom Musyahadah artinya ruang kesakisan. Inilah keadaan bukan sekedar mengucapkan namun sebenar-benarnya menyaksikan bahwai, “tiada Tuhan selain Allah”.

    Bagi yang ketika di dunia belum dapat memandang Allah Azza wa Jalla, tidak perlu berkecil hati karena semua itu adalah kehendak Allah semata. Asalkan menjalankan syariat (menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya) serta selalu berkeyakinan bahwa Allah ta'ala melihat segala sikap dan perbuatan sehingga selalu berbuat amal kebaikan (amal sholeh) maka kelak akan masuk surga tanpa dihisab.

    Janji Allah swt dalam firmanNya yang artinya.
    ….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu’min [40]:40 )

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124 )

    Kemudian setelah masuk surga tanpa dihisab maka Alllah Azza wa Jalla menambahkan anugerah bisa melihat Allah Azza wa Jalla sebagaimana hadits qudsi yang diriwayatkan Syuhaib ra, bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda,
    "Ketika penghuni surga telah masuk ke surga. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman, "Jika kalian masih menginginkan sesuatu, Aku akan menambahkannya untuk kalian". Mereka menjawab,"Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami?" "Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Kemudian Allah membukakan tabir. Maka tidak ada pemberian yang lebih disenangi bagi mereka daripada anugerah bisa melihat Tuhan mereka."  (HR Muslim).

    Oleh karenanya mereka yang telah dapat berma'rifat atau mereka yang dapat memandang Allah Azza wa Jalla ketika di dunia , dzikrullah dan sholat mereka adalah kesenangan memandang Allah Azza wa Jalla.  sebagaimana yang diriwayatkan Anas Ra. , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  berkata “kesenanganku dijadikan dalam shalat” (HR Ahmad dan Al Nasa'i). Bagi mereka yang telah dapat berma'rifat, panggilan adzan adalah panggilan yang menyenangkan karena akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.


    Wassalam


    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    7 comments:

    1. mamo cemani gombongJuly 8, 2011 at 1:05 PM

      hal inilah yang tidak dipunyai oleh saudara2 muslim salafi wahabi kita bang Zon beberapa kali ana mengingatkan mereka dalam dialog namun kembali hanya dijawab bahwa hadist sholatnya orang mukmin adalah mi'rajnya termasuk hadist dhoif ..........wallohu'alam

      ReplyDelete
    2. Yup, mas Mamo tanyakan kepada mereka kenapa dibedakan ada hadits dhoif dan ada hadits palsu ?

      Kenapa hadits dhoif tidak dimasukkan saja kedalam hadits palsu ?

      Kalau hadits palsu kita sudah paham bahwa bukan perkataan atau bukan berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

      Lalu, apakah hadits dhoif pasti bukan perkataan atau bukan berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?

      Kalau kita tanyakan kepada ulama sufi yang memang dzikrullah mereka sudah "memperjalankan" (mi'raj) mereka.

      Atas izin Allah Azza wa Jalla mereka dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka dapat berjumpa dengan orang-orang sholeh yang telah mendahului kita. Mereka dapat berjumpa dengan Nabi-Nabi terdahulu, dengan para Syuhada, dengan para Shiddiqin termasuk berjumpa dengan Nabi Khidir as.

      Orang-orang yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla yakni para Nabi, para Shiddiqin , para Syuhada dan orang sholeh-sholeh walaupun mereka secara dzhahir telah wafat namun mereka hidup dan ditempatkan oleh Allah Azza wa Jalla ditempat/kedudukan (maqom) yang dikehendakiNya

      Anas bin Malik berkata, “Lalu dia menyebutkan bahwa dia mendapati pada langit-langit tersebut Adam, Idris, Isa, Musa, dan Ibrahim -semoga keselamatan terlimpahkan kepada mereka semuanya- dan dia tidak menyebutkan secara pasti bagaimana kedudukan mereka, hanya saja dia menyebutkan bahwa beliau menjumpai Adam di langit dunia, dan Ibrahim di langit keenam.” (HR Muslim)
      Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=229&action=display&option=com_muslim

      Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. ( QS Al Hujurat [49]:13 )

      Tentulah tempat/kedudukan (maqom) yang paling mulia, paling dekat, di sisi Allah Azza wa Jalla adalah manusia yang paling mulia, sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

      Para Sahabat menyampaikan bahwa “sesungguhnya jika kita mengucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit maupun di bumi“. Perkataan ini dilukiskan dalam hadits pada
      http://www.indoquran.com/index.php?surano=60&ayatno=25&action=display&option=com_bukhari

      Hamba-hamba shalih yang di langit adalah hamba-hamba shalih yang secara dzahir sudah wafat namun mereka hidup di sisi Allah Azza wa Jalla sebagaimana para Syuhada, sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla yang artinya.
      Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan(sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

      Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

      Atas izin Allah Azza wa Jalla, merekapun dapat sampai ke telaga Arasy atau melihat Arasy. Merka dapat menceritakan segala detailnya kepada kita dan cerita detailnya diantara mereka (ulama sufi) di seluruh dunia adalah sama karena mereka mengalami dan menyaksikan hal yang sama.

      Ulama sufi adalah mereka yang telah berjumpa atau kembali kepada Allah Azza wa Jalla ketika mereka hidup (sebelum mereka mati). Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Muutu qabla an tamuutu” (matilah sebelum mati). Wallahu a'lam

      ReplyDelete
    3. mamo cemani gombongJuly 8, 2011 at 8:12 PM

      sepakat bang Zon terimakasih pencerahannya .........insyaAlloh tambah iman .....salam

      ReplyDelete
    4. Senang rasanya Bang Zon...bisa membaca artikel2 anda..sangat menarik dan menambah wawasan tentang Agama Islam..maju terus Bang Zon...kita semua perlu berma'rifat ke pada Allah..supaya kita tidak tersesat kepada Tuhan2 yang lain..ada banyak Tuhan yang menjelma melalui akal kita karena duniawi mengusai hati...berikut kutipan dari lirik Syi'ir tanpa waton dari Gus Dur..yang mungkin bisa bermanfaat...

      Syi'ir Tanpo Waton
      al-magfurlah KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur)
      استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
      ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا

      يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
      عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم

      Ngawiti ingsun nglaras Syiiran
      Kelawan muji marang Pangeran
      Kang paring rahmat lan kenikmatan
      Rino wengine tanpo pitungan

      Duh bolo konco priyo wanito
      Ojo mong ngaji Syare'at bloko
      Gur pinter ndongeng, nulis lan moco
      Tembe mburine bakal sengsoro

      Akeh kang apal Qur'an haditse
      Seneng ngafirke marang liyane
      Kafire dewe gag di gatekke
      Yen isih kotor ati akale

      Gampang kabujuk nafsu angkoro
      Ing pepaese gebyare ndunyo
      Iri lan meri sugihe tonggo
      Mulo atine peteng lan nisto

      Ayo sedulur jo nglaleake
      Wajibe ngaji sak pranatane
      Nggo ngandelake iman tauhite
      Baguse sangu mulyo matine

      Kang aran soleh bagus atine
      Kerono mapan seri ngelmune
      Laku thoriqot lan ma'rifate
      Ugo hakikot manjing rasane

      Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo
      Tanpo ditulis biso diwoco
      Iku wejangan guru waskito
      Den tancepake ing njero dodo

      Kumantil ati lan pikiran
      Mrasuk ing badan kabeh jeroan
      Mu'jizat Rosul dadi pedoman
      Minongko dalan manjinge iman

      Kelawan Allah kang moho suci
      Kudu rangkulan rino lan wengi
      Ditirakati diriyadhohi
      Dzikir lan suluk jo nganti lali

      Uripe ayem rumongso aman
      Dununge roso tondo yen iman
      Sabar narimo najan pas pasan
      Kabeh tinakdir saking pengeran

      Kelawan konco dulur lan tonggo
      kang podo rukun ojo ngasio
      Iku sunahe Rosul kang mulyo
      Nabi Muhammad panutan kito

      Ayo nglakoni sakabehane
      Allah kang bakal ngangkat derajate
      Senajan ashor toto dhohire
      Ananging mulyo maqom drajate

      Lamun palastro ing pungkasane
      Ora kesasar roh lan sukmane
      Den gadang Allah swargo manggone
      Utuh mayite ugo ulese

      Demikian dari saya Bang Zon..mohon di maafkan atas segala sesuatu yang tidak berkenan...trimakasih.

      ReplyDelete
    5. Alhamdulillah, terima kasih mas Ivan atas kutipan "Syi’ir Tanpo Waton" , namun alangkah nyamannya jika dilengkapi dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia agar pengunjung blog kami dapat memahaminya.

      ReplyDelete
    6. Alhamdulillah, terima kasih mas Mamo atas terjemahannya. Semoga menjadi amal kebaikan bagi Mas Mamo, Mas Ivan dan tentu buat Gus Dur yang telah menasehatkannya.

      Inti nasehat terletak pada ojo "mung ngaji syareat bloko ….(jangan hanya mengaji sariat saja) sesuai dengan pendapat Imam Syafi'i ra dan Imam Malik ra

      Imam Syafi'i ~ rahimullah, "Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
      Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (syariat) tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih (syariat) , maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
      [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

      Imam Malik ra, “ dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih (syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih (syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .

      ReplyDelete
    7. saya suka sekali artikel ini, semakin menambah kesungguhan hati saya untuk mempelajari dan mempraktekkan ilmu tasawuf dalam kehidupan saya sehari-hari..terima kasih Mas Zon atas inspirasinya...

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ma'rifatullah Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top