728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Saturday, July 23, 2011

    Pemalsuan kitab

    Judul buku: Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik
    Pengarang : Syaikh Idarham
    Penerbit : Pustaka Pesantren, Bantul Yogyakarta th 2011
    Tebal buku : 306 halaman
    Ukuran buku : 13,5 x 20,5 cm

    Sekapur Sirih Penulis (hal 23)
    Bukti Autentik Pemalsuan Kitab dan Penyelewengan Teks (hal 37)
    Bermula dari Rapuhnya Ajaran (hal 37)
    1. Pemusnahan dan pembakaran puluhan ribu buku yang tidak sejalan dengan paham mereka.
    2. Sengaja men-tahkik, men-takhrij dan meringkas kitab-kitab hadis yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyikan hadis-hadis yang tidak mereka sukai.
    3. Memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama terkenal sehingga menjadi tidak sempurna, untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya.
    4. Mengarang-ngarang hadis dan perkataan Ulama.
    5. Mencuri buku-buku induk dan manuskrip untuk dihilangkan sebagian isinya atau dimusnahkan semuanya.
    6. Membuang hadis-hadis yang tidak mereka sukai dalam buku-buku yang mereka terbitkan, sehingga tidak sesuai dengan buku asli yang diterbitkan penerbit lain.
    7. Membajak buku, membeli manuskrip dan menyogok penerbit.
    8. Memerintahkan ulama mereka untuk mengarang suatu buku, lalu mengatasnamakan buku itu dengan nama orang lain.
    9. Melakukan tindakan kekerasan, intimidasi dan provokasi terhadap penulis yang isi karangannya berseberangan dengan faham mereka.
    10. Mencetak suau kitab induk dengan menghilangkan syarah ulama atas kitab tersebut, padahal buku induk tersebut sangat terkait erat dengan syarahnya.
    11. Memalsukan buku-buku ulama yang mereka pandang strategis bagi umat dengan cara mencetak ulang buku tersebut, namun hal itu dilakukan setelah tangan-tangan terampil mereka meng-edit, mengubah dan memalsukannya sesuai keinginan, pesanan, faham dan cara berpikir mereka.

    - Perintah untuk membakar buku-buku dan memalsukannya (hal 49)
    - Pemalsuan kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi (hal 51)
    - Memalsukan perkataan Imam As-Subki dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah (hal 58)
    - Pemalsuan kitab Aqidah As Salaf Ashhabu Al-Hadits (hal 60)
    - Pemalsuan kitab Hasyiah Ash-Showi (hal 67)
    - Pemalsuan kitab Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari (hal 71)
    - Pemalsuan kitab Al-Ibanah karya Imam Asy'ari (hal 73)
    - Pemalsuan kitab Seputar Ahlul Bait, Kekhalifahan Sayyidina Ali k.w. Tasawuf dan Alam Kubur (hal 81)
    - Pemalsuan kitab Al Fawaid Al Muntakhabat karya Ibnu Jami Az Zubairi (hal 83)
    - Pemalsuan kitab Diwan Imam Syafii (hal 86)
    - Pemalsuan kitab Sahih Bukhari (hal 87)
    - Pemalsuan kitab Sahih Muslim (hal 91)
    - Penghapusan hadis-hadis dari kitab Musnad Ahmad (hal 93)
    - Pemalsuan kitab tafsir Ruh Al-Maani karya Mahmud Al Alusi (hal 94)
    - Pemalsuan kitab Ash-Shawaiq Al-Muhriqah (hal 95)
    - Pemalsuan kitab Hasyiah Ibnu Abidin (hal 97)
    - Memalsukan perkataan Al Hafizh Syaikh As Sakhawi melalui tahqiq kitab (hal 100)
    - Pemalsuan kitab Majmu Fatwa karya Ibnu Taimiyah (hal 100)
    - Pemalsuan kitab Nihayah Al Qaul Al Mufid (hal 101)
    - Penghapusan bab Istighotsah dari kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (hal 105)
    - Pemalsuan kitab Tarikh Al-Ya'qubi (hal 106)
    - Pemalsuan kitab Iqtidha Ash Shirat Al Mustaqim (hal 107)
    - Pemalsuan kitab Ahwal Al Qubur karya Ibnu Rajab (hal 108)
    - Pemalsuan kitab tafsir Bahr Al Muhith karya Abu Hayyan (hal 108)
    - 'Bermain-main' dengan hadis demi faham mereka (hal 109)
    - Akibat fatal pemalsuan kitab-kitab ulama klasik (hal 115)

    Teks-Teks Menyimpang Dalam Buku-Buku Salafi Wahabi (hal 119)
    - Memusyrikkan seluruh umat Islam dan ulamanya (hal 119)
    - Ikrar Syahadat tidak menjadikan seseorang Muslim (hal 126)
    - Keliru dalam menerapkan kata musyrik (hal 128)
    - Muslim yang beristighatsah dan bertawasul kafir serta kekal di neraka (hal 131)
    - Jawaban atas pengkafiran Bin Baz terhadap pelaku istighatsah dan tawasul (hal 134)
    - Beberapa dalil lain tentang istighatsah dan tawasul (hal 139)
    - Kesimpulan tentang polemik istighatsah dan tawasul (hal 147)
    - Ibnu Baz mengkafirkan Sahabat yang istighatsah kepada Nabi SAW (hal 150)
    - Secara tidak langsung Salafi Wahabi mengkafirkan Rasulullah SAW (hal 160)
    - Mengkafirkan Imam Nawawi dan Al Hafizh Ibnu Hajar Atsqolani (hal 163)
    - Menganggap kebenaran hanya ada di Salafi Wahabi (hal 166)
    - Mazhab yang empat sesat dan syirik (hal 170)
    - Menuduh penduduk Mesir, Yaman, Syiria, Irak, Oman, Hijaz dan seluruh umat Islam sebagai penyembah kuburan (hal 174)
    - Salafi Wahabi mengakui bahaya takfir pendirinya (hal 181)
    - Asy'ariyah dan Maturidiyah bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah (hal 185)
    - Berakidah Tasybih dan Tajsim kepada Allah SWT (hal 196)
    - Menolak ilmu pengetahuan, sain dan akal (hal 229)
    - Akidah Salafi Wahabi sangat mirip akidah Yahudi dan Nasrani (hal 240)
    - Tidak mencintai Rasulullah SAW dan keluarganya (Ahlul Bait) (hal 250)
    - Mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah SAW (hal 255)
    - Tidak obyektif dan penuh keberpihakan (hal 256)
    - Memerintahkan untuk membunuh para pengikut Tasawuf (hal 264)
    - Lebih mengutamakan hadis ketimbang AlQuran (hal 267)
    - Tidak mengakui ijma kecuali kepada masalah yang mereka klaim sebagai ijma (hal 268)
    - Memerangi akal dan menghindari dialog (hal 270)
    - Sangat fanatik, taklid buta dan terlalu melebih-lebihkan ulamanya (hal 276)
    - Klaim sebagai satu-satunya kelompok selamat (hal 277)
    - Non Muslim mereka rangkul, orang Islam mereka perangi dan caci maki (hal 280)
    - Memupuk dan mengajarkan benih-benih terorisme (hal 286)
    - Klaim bahwa kelompok mereka paling benar, yang lainnya salah semua (hal 287)

    Daftar Pustaka (hal 297)

    Sumber: http://myquran.com/forum/showthread.php/27212-Buku-Mereka-%28Salafi-Wahabi%29-Memalsukan-Kitab2-Karya-Ulama-Klasik
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    47 comments:

    1. abu syahid al asyahaniJuly 24, 2011 at 9:38 AM

      Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Jakarta.
      Tokoh ini khabarnya berbau Syi’ah. Pernah menggegerkan ketika ia berbicara dan menulis makalah yang isinya menuduh bahwa orang-orang Arab, begitu Nabi saw meninggal maka mereka meninggalkan agamanya, dan yang tidak hanya kaum Quraisy, dan itupun bukan karena Islam, tapi karena kesukuan. Karena berani memurtadkan orang-orang sekitar Nabi saw, maka khabarnya Said Agil Siraj ini dikafirkan oleh sekian kiai. Tetapi kemudian ia malah berpendapat lebih aneh lagi, dan dimuat di suatu majalah. Kata Agil Siraj, kalau seseorang berdo’a kepada batu secara khusyu’ maka Allah akan mengabulkan do’anya. Karena kalau tidak, maka Allah akan sama dengan batu.
      Ketika Agil Siraj bersaing mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dengan KH Hasyim Muzadi untuk menggantikan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang sedang jadi Presiden, ada slebaran di Muktamar NU di Jawa Timur. Isinya, jangan pilih orang yang suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke gereja. Slebaran itu artinya menolak Agil Siraj yang khabarnya suka ceramah di gereja. Akhirnya Agil Siraj kalah.

      Itulah kondisi sebagian mereka yang terdaftar dalam Jaringan Islam Liberal. Memang pendapat sebagian mereka itu membuat geger. Kadang membuat geger, dan memang pendapat yang menggegerkan itu adalah pendapat model orang Pluralis ataupun Islam Liberal. Tetapi sosok penulisnya ketika melontarkan gagasan yang menggegerkan kadang tidak ditampilkan.

      Kasus itu di antaranya sudah dua kali terjadi di koran Republika. Hingga Republika didemo oleh tokoh-tokoh Islam dari KISDI, Dewan Dakwah, As-Syafi’iyah, Khairu Ummah, BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia) dan lainnya.
      Kasus pertama, kaum Pluralis atau kini menyebut dirinya Islam Liberal itu menampilkan pemikiran pluralisme dalam buku Catatan Harian Ahmad Wahib, lalu dimuat panjang lebar oleh Republika.

      Kasus kedua, menampilkan artis Nike Ardila, yang mati karena mobilnya menabrak tembok, secara besar-besaran dan berhari-hari. Sampai-sampai di koran Republika yang sahamnya dari umat Islam itu ditulis bahwa Nike Ardila kini tenang tidur di sisi Tuhan.
      Artis yang lakonnya sulit untuk diteladani tetapi diucapi dengan derajat setinggi itu (tidur di sisi Tuhan), menjadikan gerahnya para tokoh Islam. Tulisan itu khabarnya memang dibuat oleh orang yang kini ternyata terdaftar dalam Jaringan Islam Liberal tersebut.

      ReplyDelete
    2. Mas Abu Syahid, apa yang dibicarakan oleh Al Imam Al-Wansyarisi (wafat 914 H) dalam kitab Al-Mi ’yar yang memuat fatwa Al-Imam Al-Lakhmi sehubungan dengan firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat karena melakukan perbuatan bid'ah.

      Kemudian dalam buku Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya yang ditulis Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis memuat tentang firqoh Wahhabiyah bahwa Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

      Firqoh Wahhabiyah yang disampaikan di atas berbeda dengan paham Wahhabi yang disampaikan oleh Sulaiman bin Abdul Wahab (saudara kandung pendiri paham Wahhabi)

      Tesebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan.

      Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
      Muhammad menjawab: “lima”.
      Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan 6!
      Muhammad: Apa, ?
      Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
      mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
      Muhammad : Terdiam dan marah.

      Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah”, (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi)
      Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/10/muhammad-bin-abdul-wahab/

      Cobalah mas Abu Syahid al Asyahani lihat pada http://www.facebook.com/no​te.php?note_id=18841694450​8556&id=351534640896&ref=m​f apakah mereka membicarakan Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi atau ulama Muhammad bin Abdul Wahhab ?

      Wassalam

      ReplyDelete
    3. mamo cemani gombongJuly 24, 2011 at 9:38 PM

      mantab .....

      ReplyDelete
    4. KH Said Agil juga menuduh bahwa pelaku bom cirebon adalah pengikut wahabi.

      ya sudah, toh ini bukan kali pertamanya berdusta.

      ReplyDelete
    5. mamo cemani gombongJuly 25, 2011 at 10:35 PM

      mas Ajam terlepas dari tuduhan beliau kalau ana mecermati paham wahabilah yang cenderung mendekati dgn perkara tsb . bom bunuh diri ini dipahami oleh pelaku sesuai dgn perintah jihad .......nah kalau ini ana belum nemu di Al Qur'an dan As Sunnah atas peritah bom bunuh diri .......silahkan merujuk http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/27/bom-bunuh-diri/ ....

      ReplyDelete
    6. apanya yang "mencermati"? kapan antum bersikap cermat? antum hanya menuduh tanpa dasar. pertanyaan antum tentang dimana Alloh saja sangat nyeleneh, "di langit sebelah mana?". coba saja seandainya Rasulullah masih hidup saat ini, kemudian beliau bersabda: "Alloh istiwa' di atas langit", kemudian antum nyeletuk, "Ya Rasulullah, langit sebelah mana?", maka jangan harapkan Rasulullah akan tertawa mendengar pertanyaan antum yang konyol ini.

      bandingkan saja dengan sikap Imam Malik ketika ada orang yang bertanya "Bagaimana Alloh ber-istiwa'?", insyaAlloh sikap Rasulullah kepada antum akan sama dengan sikap Imam Malik kepada si penanya itu.

      masih menganggap diri antum orang yang cermat? kalau demikian, bukalah kitab2 wahabi, datangilah pengajian2 wahabi, tanyai ustadz2 wahabi, buka situs2 internet wahabi. ana tidak menyuruh antum untuk "termakan" oleh "doktrin" wahabi, namun hanya menyuruh untuk bersikap tabayyun (cek dan ricek). jangan hanya dengar berita yang mencocoki dan memuaskan hawa nafsu antum langsung dibenarkan begitu saja, namun buktikan dengan mata, telinga, hidung, lisan, hati dan akal antum sendiri.

      ReplyDelete
    7. susahnya "mencermati" wahabi karena banyaknya varian / dan golongan dalam faham tersebut , entah terpecah menjadi brp golongan wahabi ini , namun semuanya sama2 ber-makmum ke m. abdul wahhab dan ibnu taimiyah.

      ReplyDelete
    8. bukan susah, tapi memang tidak mau. kalau memang ada niat untuk mencermati, ada niat baik untuk meluruskan kesalahan (jika memang ada kesalahan), ada niat baik untuk amar ma'ruf nahi mungkar, tentunya tidak akan main fitnah (tuduhan dusta) seperti itu. coba antum jawab dengan 'adhil dan inshof jika antum mengaku sebagai muslim dan mu'min yang ihsan, sudahkah antum melakukan tabayyun untuk mendapati kebenaran dari tuduhan antum bahwa wahabi adalah golongan yang bertanggung jawab atas terjadinya teror bom?

      ReplyDelete
    9. `ajam , kalo mau Tabayyun kira kira ke golongan Wahabi yang mana...? yang turosy, quthby , haroki atau yang mana...?

      ReplyDelete
    10. berarti benar antum belum melakukan tabayyun? berarti benar antum hanya asal menuduh tanpa bukti?

      siapa yang antum tuduh, kepadanyalah antum bertabayyun. antum mau bilang turotsiy, harokiy, sururiy, yamaniy dll, terserah. kalo semuanya antum tuduh, maka kepada semuanya antum bertabayyun.

      ReplyDelete
    11. he he he kalau nt nggak bsa jawab ya udah Mas Ajam ana hanya mengikuti jalan berfikir nt yang "dhohir " .....ana nggak mau mengandai andai kalau rosullulloh masih hidup .........mengenai tabayyun maaf ya ana nggak mau berkeyakinan kalau bom bunuh diri itu jihad , ......kalau menurut nt noordin m top orang wahabi bukan @jam ???

      ReplyDelete
    12. `ajam : berarti benar antum belum melakukan tabayyun? berarti benar antum hanya asal menuduh tanpa bukti?

      saya katakan : emang saya nuduh apa jam....? yang jelas menuduh itu `ajam , menuduh KH. Said Aqil , apa ajam sudah tabayyun sama beliau....?

      ReplyDelete
    13. KH Said Agil menuduh wahabi adalah dalang di balik bom cirebon. perkataan beliau ini dimuat di berbagai media massa, seperti televisi, koran, situs internet, dan lain2. dan sejauh ini mengamati perkembangan berita, tidak ada bantahan dari beliau atas pemberitaan di media massa itu. artinya, beliau memang benar2 melontarkan tuduhan itu.

      tabayyun jangan diartikan harus mendatangi dan bertanya langsung pada obyek, namun bisa juga dengan melihat pada sumber2 berita yang terkait.

      nah, sekarang sudah jelas bahwa KH Said Agil main tuduh2an dusta. kenapa antum bela orang yang berdusta? apa hal itu karena antum juga suka berdusta ketika berdialog dengan ana?

      ReplyDelete
    14. mas mamo

      sebetulnya tuduhan dusta antum itu sama sekali tidak merugikan kami sebagai yang tertuduh. hal itu justru akan merugikan diri antum sendiri sebagai penuduh, terutama kerugian di akhirat. dan justru menjadikan kami semakin baik di hadapan Alloh.

      "Jangan kalian mengira hal itu (tuduhan dusta) adalah jelek bagimu, bahkan hal itu adalah baik bagimu." (An Nur 11)

      silakan antum menuduh wahabi ada kaitannya dengan teror bom atau tuduhan yang lain. polisi yang menjadi penyidik dan penyelidik saja tidak pernah menuduh wahabi seperti itu, ko kalian merasa lebih tau. kapan kalian menyidik dan menyelidik kasus ini?

      ReplyDelete
    15. @mas Ajam wallohua'lam perkataan nt pun perlu nt koreksi kira2 tulisan mana punya ana yang menuduh ????? memahami tulisan ana aja nt bisa keliru apa lagi ayat Alloh dan Hadits Nabi yang kata2nya dgn nilai sastra tingkat tinggi .....nah instrpeksi sebelum menuduh mas Ajam ....ana kan cuma tanya NOORDIN M TOP wahabi bukan .......apa ini nuduh mas Ajam .........

      ReplyDelete
    16. Muslim Cinta DamaiAugust 6, 2011 at 2:09 PM

      WOIII..... kalian muslim apa ga siiih....
      Jaman kayak gini koq masih RIBUT sendiri aja..... KAMPUNGAN banget sih...
      SUDAHLAH saudara-saudara muslimku.... (bagi yang merasa muslim)
      ga usah ribut melulu...
      biarlah yang Salafi Wahabi..tetep beramalan ma apa yang mereka yakini...
      yang NU tetep beramalan ma amalan khas muslim NU-nya...
      yang Muhamadiyah tetep berkeyakinan ma apa yang mereka pelajari dari Muhamadiyah...
      Yang Penting Akur...
      Ga usah saling mengkafirkan, Ga usah saling menjelekkan...
      kita itu muslim, muslim itu bersaudara...
      BIARLAH ALLAH yang akan MENILAI amalan kita nanti....
      Jadi buat semuanya DAMAI yah.... DAMAI itu INDAH loh....

      ReplyDelete
    17. Nurul Ahad Al-ManduriAugust 18, 2011 at 2:20 AM

      Sebaiknya Mas Abu Syahid baca sejarah, bagaimana trio Ibnu Saud, Ibnu Abdil Wahab dan Kolonial Ingris berkolaborasi. kok malah diputar balik seakan-akan Ibnu Abdil Wahab menentang kolonialisme. Lihat bagaimana perjanjian 1924 yg berujung pada masuknya Israil ke Palestina. Ini sejarah yg dijamin validitasnya lho.... krn dokumennya sampai sekarang ada ko'. Dan makna wahabi ya pengikut ibnu Abdil Wahab...karya-karya yg anda sebutkan kebetulan saya punya juga..bahkan karya-karya penerusnya yg saat ini masih hidup seperti shaleh fauzan bin fauzan, utsaimin, juga ada. Kalau anda butuh dokumen perjanjian itu.... saya bisa berikan. Buat mas Ajam... anda boleh membela diri, tdk dilarang ko'. Tapi ada beberapa kawan anda yg tobat nih dan mengaku semua perbuatannya serta doktrin ala wahabiahnya yg diyakininya ko'. Termasuk patron-patron mereka di saudi, di Sana'a dll. Sekarang juga ada tuh orang-orang... wis lah gak usah membela diri membabi buta. Mendingan introspeksi.

      ReplyDelete
    18. assalamu'alaikum......
      kayaknya ada ribut2....nyantai aja kang,yang pasti jika begini malah non moslim tepuk tangan,
      sekarang gini aja,...yg wahabiyin gak usah bikin masalah,gak usah menteror ummat dgn takfir,sesat dan sebagainya,berda'walah sesuai perintah Alloh bukan yg sesuai dgn faham antum pasti gak ribut.
      sekarang ana di saudi,yg pasti adalah kandang faham antum,tapi memang faham antum(wahabi) sangat jauh dari ikon antum sebagai pemurnian islam,
      ana ada kitab tentang firqoh2 yg di nyatakan sesat oleh penghulu faham antum yaitu TUBSHIRUL ADHAN yg juga memuat sejarah fatwa syeh muhammad bin abdul wahab an najdi......
      namun jujur ana heran,kenapa beliau(syeh muhammad annajdi) furu' mencaplok dari imam AHMAD BIN HAMBAL lalu knapa ushul beliau gak mengambilnya.....?????
      dan juga faham ini benar2 gak masuk akal,masalahnya memang mengajarkan kemunafikan,contoh Mengatakan SAYYIDINA PADA ROSUL di bilang bid'ah,tapi kalau kpada malik (raja) mereka gak papa,...apa ini ajaran/faham yg benar...????
      dan lagi faham ini sangat anti pada akhlaq,apakah ini benar...?????
      padahal rosul di utus untuk LI UTAMMIMA MAKARIMAL AKHLAQ,...!!!!
      banyak hal2 janggal yg terjadi di saudi slain tersebut di atas yg paling nurak dalam masalah keadilan,da'wah dll,sangat jauh dari alquran.
      muga yg sangat fanatiq dgn faham ini bisa berfikir jernih.

      ReplyDelete
    19. mas simakanku betul atau gak ya :

      “……Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
      Muhammad menjawab: “lima”.
      Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan 6!
      Muhammad: Apa, ?
      Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
      mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
      Muhammad : Terdiam dan marah.

      Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah”, (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi) ….. ”

      khan yang membuat rukun islam ada 6 adalah kakaknya kok yang disalahkan adiknya dan tambahan rukun islam yang ke-6 dari kakaknya:

      “….Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
      mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir… ”

      sehingga adiknya :

      “….Terdiam dan marah…”

      apakah hukumnya sih (buat sang kakak melakukan gitu) ? kalau terjadi kepada kita gimana ya ? maksudnya bila kata-kata sang kakak diucapkan kepada kita ?

      apa benar tindakan sang adik dengan ucapan kakaknya ?

      “…ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya…”

      apalagi kalau sang adik seorang hakim umpamanya, yang berhak mengadili dan menghukum…..????

      apa komentar anda bila anda dalam posisi sang adik…???

      ReplyDelete
    20. oh ya apakah simakanku benar :

      “….Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
      mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir… ”

      kalau benar dari sang adik, mengapa sang adik marah :

      "....Muhammad : Terdiam dan marah....."

      sehingga sang adik melakukan sesuatu yang sampai :

      ".... Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, ...."

      apakah simakanku benar ???? mengapa yang menjadi rujukan sang kakak dalam menyalahkan sang adik, sehingga kitabnya menjadi rujukan dalam menyalahkan sang adik ??? :

      "....tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah”, (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi) ….. ”

      mengapa wahabi yang dinisbatkan kepada kakeknya ??? yang merupakan nama kakeknya, mereka bukankah kakak beradik ???

      itulah mungkin keajaiban dari sang adik karena Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi) merupakan salah satu Asmaul Husna, Nama dari Nama-Nama Allah.

      ReplyDelete
    21. Tapi berhati-hatilah kawan jangan kita menjelek-jelekan Muhammad bin Abdul Wahab... bisa jadi buku yang ditulis oleh orang-orang Su'udi itu hanya mengatasnamakan beliau yang sebenarnya beliau tidak pernah mengatakan seperti itu....hal tersebut bisa dilihat dalam buku karangan Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani (semoga Allah merahmati beliau) yang berjudul Mafahim Yajib an Tushohah. buku tersebut menjelaskan dan menyiratkan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab namanya banyak di catut untuk kepentingan Su'udi sehingga nama beliau menjadi rusak karena beliau sendiri tidak pernah mengatakan begitu...
      Kalu bagi saya Salafi yang sekarang ini harus diganti nama, jangan menggunakan kata WAHABI tapi ganti menjadi SALAFI SU'UDI...karena pemikiran2nya banyak bernuansa kepentingan Ibnu Saud.....kalo kita sepakat ganti nama Salafi wahabi menjadi SALAFI SU'UDI...

      ReplyDelete
    22. Apa yang disampaikan oleh DR Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani (semoga Allah merahmati beliau) tentang ulama Muhammad bin Abdul Wahhab adalah untuk beberapa kasus sehingga timbul fitnah dikarenakan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab mendekati pintu penguasa (dinasti Saudi)

      Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah” ( HR Abu Dawud [2859]).
      Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”

      Namun secara umum ulama Muhammad bin Abdul Wahhab mengangkat kembali pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, pemahaman yang ditolak oleh banyak ulama sejak dahulu kala karena menyalahi pemahaman jumhur ulama atau menyalahi pemahaman para Imam Mazhab yang empat

      ReplyDelete
    23. MUTIARAZUHUD berkata:

      Namun secara umum ulama Muhammad bin Abdul Wahhab mengangkat kembali pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, pemahaman yang ditolak oleh banyak ulama sejak dahulu kala karena menyalahi pemahaman jumhur ulama atau menyalahi pemahaman para Imam Mazhab yang empat

      komentar:

      kalo Muhammad bin Abdul Wahab menghidupkan kembali pemahaman Ibnu Taimiyah yang padahal telah digelari sebagai Syaikhul Islam oleh ulama panutan Asy'ariyah, maka Asy'ariyah sendiri menghidupkan kembali pemahaman Jahmiyah dan Mu'tazilah yang telah dikafirkan oleh ijma' (bukan hanya jumhur) ulama.

      ReplyDelete
    24. Itukan pendapat mas Ajam, yang jelas Asy'ariah adalah pengikut Imam Asy'ari dan Imam Maturidi

      ReplyDelete
    25. Tuan mutiara zuhud coba lihat web dibawah , dari penggunaan nama saja sudah kelihatan kalao saudara "MARHADI" alias "IDAHRAM" sudah melakukan penipuan publik apalagi tulisannya.... baca juga bantahan di : http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html#more-1368........Ihttp://makalah-artikel.blogspot.com/2007/12/ibnu-taimiyah-bukan-ulama-ahlusunnah.html....

      ReplyDelete
    26. padahal Imam Asy'ari berkata bahwa telah Ijma' ulama tentang melihat Alloh dengan MATA (a'yun). sedangkan antum mengingkari hal ini. demikian pula Jahmiyah. ko bisa-bisanya antum mengklaim sebagai pengikut Imam Asy'ari dan menolak disebut pengikut Jahmiyah?

      'alla kulli hal, kedustaan Asy'ariyah tentang klaim mereka sebagai pengikut Imam Asy'ari telah terbukti. mau taubat atau istiqomah dalam kesesatan, tidak ada hak bagi ana untuk mendatangkan taufiq dan hidayah

      ReplyDelete
    27. ana bertanya, jawablah dengan lugas dan jujur ya akhil karim. manakah yang lebih sesuai dengan aqidah antum tentang ru'yatulloh. apakah Imam Asy'ari ataukah Jamiyah?

      ana hanya memberi 2 pilihan, yaitu Imam Asy'ari atau Jahmiyah. mohon tidak menjawab selain dengan 2 pilihan ini, agar tidak bertele-tele

      ReplyDelete
    28. he he he mas Ajam kok maksa ???............

      ReplyDelete
    29. Penggunaan nama pena bukanlah penipuan publik namun sekedar menutupi identitas diri sebagai perlindungan diri semata

      Buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” menjelaskan bagaimana sikap ghuluw atau radikalisme karena perbedaan pendapat/pemahaman walaupun sulit ditelusuri kebenarannya.

      Buku karya al-Hafizh Ahmad al-Ghumari dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar juga menyampaikan adanya pembunuhan umat muslim karena perbedaan pemahaman. Cuplikan buku tersebut dapat dibaca pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html

      ReplyDelete
    30. Mas Ajam, kami telah menguraikannya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/12/melihat-rabb/

      ReplyDelete
    31. padahal pertanyaan ana sangat sederhana, kenapa malah ngasih artikel sampah? ya sudah, jika antum memang tidak bisa membuktikan bahwa antum sesuai dengan Imam Asy'ari dan berbeda dengan Jahmiyah, maka akuilah bahwa antum berbeda dengan Imam Asy'ari dan sesuai dengan Jahmiyah.

      ingat tanda Al Kibr itu apa, yakni menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. semoga ini menjadi bahan renungan. semoga Alloh mencurahkan taufiq dan hidayah-Nya

      ReplyDelete
    32. ana tidak maksa. justru sebetulnya itu kebutuhan antum sendiri. antum pasti tahu kaidah orang yang mengklaim atau menuduh wajib mendatangkan bukti. nah, antum kan mengklaim sebagai pengikut Imam Asy'ari. lalu mana buktinya?

      ana minta bukti bukan untuk ana sendiri, melainkan hanya untuk membuktikan bahwa kliam antum itu bukan dusta. jadi pada dasarnya, antum bisa membuktikan klaim tersebut atau tidak bukanlah urusan ana, melainkan urusan antum dengan Alloh tabaroka wa ta'ala

      ReplyDelete
    33. Bantahan Buku: Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 – Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik – Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc., M.ag.

      http://alqiyamah.wordpress.com/2011/10/15/bantahan-buku-serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-mereka-memalsukan-kitab-kitab-karya-ulama-klasik-ustadz-agus-hasan-bashori-lc-m-ag/

      ReplyDelete
    34. bagaimana kabarnya akhi MUTIARAZUHUD? masih sehatkah? kok tidak ada tanggapan?

      ReplyDelete
    35. Bantahan-bantahan yang telah dibuat pada hakikatnya tidak membantah inti dari apa yang hendak disampaikan oleh penulis Syaikh Idahram

      Walaupun kita tidak pernah mengetahui sosok sebenarnya dari Syaikh Idahram dan tidak jelas juga apakah pasti penulis adalah syiah dalam arti kata syiah yang terkena ghazwul fikri dari kaum yahudi, namun kita harus bisa mendapatkan inti dari apa yang hendak beliau sampaikan

      Buku 1 , "Sejarah sekte berdarah salafi wahabi", jelas beliau hendak menyampaikan bahwa karena perbedaan pemahaman, pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dapat membunuh saudara-saudara muslim lainnya. Hal ini tidak saja dapat kita ketahui dalam buku tersebut. Contoh lainnya sebagaimana yang terlukiskan dalam buku karya al-Hafizh Ahmad al-Ghumari dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar. Cuplikan buku tersebut dapat dibaca pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html

      Buku 2, "Mereka memalsukan kitab-kitab karya ulama klasik", apa yang disampaikan penulis juga disampaikan oleh Syeikh Al Azhar, Dr. Ahmad At Thayyib pada pertemuan Forum Alumni Al Azhar VI , Januari 2011.

      Dr. Ahmad At Thayyib juga memperingatkan adanya pihak-pihak yang jelas-jelas “mempermainkan” fiqih madzhab imam empat dan menggantinya dengan fiqih baru dan mewajibkannya kepada masyarakat.

      Beliau juga memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.”
      Hal ini telah kami ungkapkan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/

      Buku 3, "Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi", penulis hendak menyampaikan bahwa pemahaman pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyelisihi pemahaman jumhur ulama. Siapakah yang dimaksud jumhur ulama , kami telah sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/serahkan-kepada-ahlinya/

      Contoh ulama yang mengkritik pemahaman pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ulama kita terdahulu seperti Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi.

      Beliau adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dia memiliki peranan penting di Makkah al Mukarramah dan di sana menjadi guru para ulama Indonesia

      Syeikh Ahmad Khatib adalah tiang tengah dari mazhab Syafi’i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).

      Syaikh Ahmad Khatib dengan tegas menulis Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang diikuti oleh anak murid beliau Syaikh Abdul Karim Amrullah adalah sesat.

      Menurut Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, golongan tersebut sesat kerana keluar daripada pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah dan menyalahi pegangan mazhab yang empat. Antara tulisannya ialah ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain.

      Di antara nasihatnya: “Maka betapakah akan batal dengan fikiran orang muqallid yang semata-mata dengan faham yang salah dengan taqlid kepada Ibnu al-Qaiyim yang tiada terpakai qaulnya pada Mazhab Syafie. ……………Maka wajiblah atas orang yang hendak selamat pada agamanya bahawa dia berpegang dengan segala hukum yang telah tetap pada mazhab kita. Dan janganlah ia membenarkan akan yang menyalahi demikian itu daripada fatwa yang palsu.”

      ReplyDelete
    36. mas Ajam nt nggak berasa juga ????? rata2 para pengagum salafi wahabi apa gitu ya??? nt udah bilang artikel SAMPAH malaikat mencatat lho ........sombong nt Jam ........tobat lah Jam ,.....

      ReplyDelete
    37. lihatlah ........bang H zon tiap komen .....ana juga malu pernah ditegurnya .....makasih bang udah mengingatkan ana yang belum bisa mengendalikan hawa nafsu .......

      ReplyDelete
    38. afwan akhi...ana bilang artikel sampah karena MUTIARAZUHUD pernah menyampaikan hadits palsu untuk mendukung aqidah kufur Jahmiyah. ana kira jika disebut sampah itu masih ada kemuliaan baginya. harusnya lebih rendah dari itu.

      ReplyDelete
    39. kelihatannya lebih bermanfaat kalau kita meyakini masing2 keyakinan kita ...........

      ReplyDelete
    40. Biarkanlah mereka mas Mamo, sebaiknya jangan ikut terpancing emosi. Indikator orang yang beragama dengan baik dan benar adalah berakhlak baik. Rasulullah diutus agar kita beragama Islam tujuannya adalah berakhlak baik

      Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

      Sedangkan muslim yang berakhlak baik hanya dua kondisi yakni minimal muslim yang selalu merasa diawasi/dilihat oleh Allah Azza wa Jalla. Sedangkan yang terbaik adalah muslim yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla

      قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

      Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim

      Barangsiapa yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan (muslim yang baik , muslim yang sholeh) – , maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, sehingga ia tidak berzina, tidak korupsi, tidak zalim dalam kepemimpinan, tidak melakukan riba, tidak dengki, tidak iri, tidak mencela/menghujat/mengolok-olok saudara muslimnya sendiri, tidak menunda hak-hak manusia, tidak menyia-nyiakan hak keluarganya, familinya, tetangganya, kerabat dekatnya, dan orang-orang senegerinya, dan menghindari perbuatan keji dan mungkar lainnya

      ReplyDelete
    41. Alhamdulillah bang Haji ........terimakasih nasehat dan semua ilmu .......semoga menjadi amal sholih bang H Zon ......Aamiin .......

      ReplyDelete
    42. Mereka menulis komentar begini... begitu... semua adalah kehendak Allah ta'ala juga dan cobaan bagi kita.
      Allah ta'ala menghendaki mereka berperan seperti itu di dunia. Begitupula Alalh ta'ala menghendaki Iblis berperan sebagaimana yang kita ketahui.
      Tugas kita hanyalah menyampaikan sedangkan mereka mau menggunakan akal qalbu (hati / lubb) sebagaimana ulil albab atau tidak mau , itu terserah mereka

      ReplyDelete
    43. Tapi tidak mengapa identitas sudah ketahuan koq dan dari model ceramah serta buku memang berupa hasutan .... sebagaimana dulu saat kita belum mengenal liberalisme ... ulil dkk tidak populer atau sudah ketahuan belangnya sekarang muncul sdr Marhadi pake sebutan syeikh lagi seolah@olah memang berasal dari timur tengah .. jadi di tanah jawa ini ada 2 syaikh yg satu lagi sudah di bunuh yaitu syaik siti jenar.... setahu saya ulama salaf tidak pernah memakai nama pena dan tidak pernah merasa takut akan adanya intimidasi .. tapi karena sdr marhadi pake nama pena berarti saya anggap itu bukan kitab melainkan komik kali ... dan meskipun kita sekarang sudah mengetahui jati dirinya pak marhadi tdk usah takut Insya Allah anda akan selamat dari intimidasi.... tapi kami semakin bisa menilai tentang novel-novel nya yang agar laris manis dibumbui dengan dalil meskipun rela dengan menterjemahkan bahasa yang salah... apa boleh dikata mayoritas yang ada di negara kita adalah ORMAS muhammadiyah dan ORMAS nahtatul ulama... dan mereka semuanya bukan Madzab....

      ReplyDelete
    44. ana agak lupa, waktu itu ana dan al akh mutiarazuhud berdiskusi tentang Ru'yatulloh di topik apa. disitulah al akh Mutiarazuhud mengeluarkan jurus pamungkasnya, yaitu hadits palsu.

      ==============================================================

      di artikel sampah yang di-link-kan oleh al akh Mutiarazuhud, sama sekali tidak bisa memberikan bukti kesamaan aqidah Asy'ariyah dengan Imam Abul Hasan Al Asy'ari dalam Ru'yatulloh. kalo mau dikatakan bukti, seharusnya dinukilkan atsar Imam Abul Hasan, lalu sebutkan dalam kitab apa, bab berapa, halaman berapa, nomor berapa dll.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Pemalsuan kitab Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top