728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Friday, July 29, 2011

    Pemutarbalikan perkataan ulama

    Mereka memutar balikan perkataan ulama terdahulu

    Dari hasil wawancara kami secara acak terhadap saudara-saudara kita, kaum muslim tentang pengetahuan atau pemahaman mereka tentang Ihsan, pada umumnya mereka tidak mengetahui tentang Ihsan.

    Kita dapat temui ada seorang muslim yang menjalankan sholat, zakat, puasa dan bahkan telah menunaikan ibadah haji namun tetap melakukan perbuatan korupsi.

    Hal ini terjadi karena mereka tidak memahami dan mengamalkan tentang Ihsan.

    Mereka yang korupsi atau perbuatan tercela lainnya pada hakikatnya mereka tidak ihsan atau tidak meyakini bahwa Allah Azza melihat sikap atau perbuatan mereka

    Tentang Ihsan atau tentang akhlak atau tentang berma’rifat dapat kita pahami melalui tasawuf dalam Islam.

    Segelintir ulama telah membuat citra buruk tentang tasawuf dalam Islam. Citra buruk tentang tasawuf dalam Islam ditengarai dilakukan oleh pusat-pusat kajian Islam yang didirikan oleh Zionis Yahudi.

    Hasutan pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf termakan pula oleh para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Para penguasa kerajaan dinasti Saudi mereka menyusun kurikulum pendidikan bekerjasama dengan Amerika yang dibaliknya adalah Zionis Yahudi. Hal ini telah kami sampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/01/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/


    Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani menyampaikan dalam makalahnya bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

    Tasawuf sejak dahulu kala pada perguruan tinggi Islam adalah tentang akhlak atau tentang ihsan.

    Dia (malaikat Jibril) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim)

    Muslim yang berakhlak baik adalah muslim yang Ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim yang sholeh (sholihin), muslim yang melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (hakikat keimanan) atau minimal muslim yang meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan manusia.

    Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih  (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia .,  hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar" .

    Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya".
    "Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?"
    [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

    Nasehat Imam Syafi’i seputar tasawuf atau seputar kaum sufi,  ada pula diputarbalikan oleh mereka sehingga menyesatkan orang banyak. Hal ini tercantum pula dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/23/pemalsuan-kitab/

    Mereka melakukan tahrif, memotong perkataan Imam Syafi’i. Bahkan mereka menyampaikan sebagai bahan celaan atau bahan olok-olokan

    Kami sudah sampaikan bahwa indikator seseorang telah beragama atau berpemahaman yang baik dan benar adalah diwujudkan dalam akhlak yang baik. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/12/20/2011/07/07/indikator-muslim-baik/

    Mereka yang gemar mencela atau memperolok-olok saudara muslim lainnya jelaslah bukan akhlak yang baik.

    Kalau kita mengaku mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka marilah kita hindari segala bentuk celaan maupun olok-olokan  kepada saudara muslim kita sendiri yang semua itu adalah termasuk celaan dan hal yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).

    Berikut kami ambilkan sebuah tulisan dari  http://www.facebook.com/notes/imam-nawawi/imam-syafii-dan-para-sufi/10150325352888203

    *****awal kutipan*****
    semoga dengan FAKTA ini, tidak ada lagi yang salah faham dengan maksud Imam Syafii yang termaktub dalam kitab Manaqib Al Imam as-Syafii karya Imam Baihaqi, beliau mencela itu hanya pada oknum sufi dan bukan sufi yang sesungguhnya.

    Di beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

    Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Beliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tashawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.

    Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

    Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

    Imam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

    Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang menyebutkan behwa beliau mengambil dari para sufi dua hal atau tiga hal dalam periwayatan yang lain, sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum ini,”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmahdan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian As Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)

    Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi

    Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

    Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.

    Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan data sejarah, juga tidak sesuai dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As Syafi’i.

    Rujukan:
    1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.
    2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.
    3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.
    ***** akhir kutipan *****

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 comments:

    1. mas zon ada berita penting nih, ummatipress.wp sbg blog kritik wahabi di blokir g tau di hack ato bagaimana. oleh karena itu ana mengusulkan agar blog mas zon ini dibukukan saja. (include komen2) atau setidaknya dibuat ebooknya. takutnya suatu saat terjadi hal yg tidak diinginkan

      ReplyDelete
    2. Alhamdulillah, telah mengingatkan kami untuk membackup blog mutiarazuhud.wordpress.com. Kami sedang mencoba membuat ebooknya berdasarkan petunjuk dari http://vandoyo.wordpress.com/2011/06/12/1163/

      ReplyDelete
    3. Patas saja beberapa hari ini ummatipress tidak bisa sy akses....!!!
      Semoga saja ummatipress kembali normal seperti biasa ya kang!!

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Pemutarbalikan perkataan ulama Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top