728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Tuesday, July 5, 2011

    Perlukah kekhalifahan

    Bagi kami, kekhalifahan bukannya tidak perlu namun masih belum dapat diwujudkan selama batas-batas negara atau nasionalisme menjadi lebih utama dibandingkan Ukhuwah Islamiyah.

    Nasionalisme pada hakikatnya adalah individualisme dalam skala besar atau skala negara. Dengan terhasut paham nasionalisme (individualisme skala besar) mengakibatkan “keadaan perang” di negara atau wilayah saudara muslim lainnya seperti di Palestina, Afghanistan, dll, tidak dianggap atau dirasakan sebagai keadaan perang di negara kaum muslim lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan hadits pada awal tulisan, “tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)”. Selengkapnya telah kami uraiakan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/18/paham-individualisme/

    Sistem pemilihan penguasa negeri (presiden) yang saat ini pun kami tidaklah sepakat karena pemilihan dilakukan oleh rakyat kebanyakan yang belum berkompetensi memilih mana penguasa negeri yang baik berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits.

    Pemilihan penguasa negeri (presiden) pada saat ini yang kami katakan sistem demokrasi kebablasan

    Dahulu para pendiri bangsa menetapkan sistem demokrasi Pancasila berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.

    Pemilihan penguasa negeri (presiden) berdasarkan musyawarah mufakat dengan sistem perwakilan (seharusnya perwakilan yang berkompetensi). Hal ini yang sesuai dengan sistem "ahlu a-halli wa al-‘aqdi"

    Kita wajib memilih penguasa negeri (presiden) yang paling taat kepada Allah ta'ala dan RasulNya walaupun seorang budak yang terpilih.

    Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)

    Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at, biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu)

    Dalam hal ini hamba sahaya yang taat kepada Allah ta'ala dan RasulNya sebagai "wakil" penguasa di muka bumi.

    Kita tidak boleh memilih penguasa negeri (presiden) yang taat kepada orang non muslim menjadi kaki tangan orang Amerika yang dibelakangnya Zionis Yahudi.

    Allah ta’ala telah memperingatkan dengan firmanNya yang artinya
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

    Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

    Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)

    Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

    Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

    Kalau masalah menegakkan dan menjalankan syariat, tidak perlu menunggu terlampau lama perubahan sistem pemerintah.

    Cukup kesadaran penguasa negeri (presiden) untuk menerapkan syariat Islam seperti memperluas wewenang pengadilan agama (mukti). Berinisiatif untuk merubah produk-produk hukum peninggalan kaum non muslim alias peninggalan kolonialis Belanda dengan produk-produk hukum berlandaskan ketuhanan Yang Maha Esa alias syariat Islam.

    Untuk itulah kita perlu memilih penguasa negeri (presiden) yang mempunyai kemauan seperti itu.

    Selain itu perlu kita waspadai campur tangan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi dalam setiap pemilihan penguasa negeri (presiden) disetiap negara khususnya negara dengan mayoritas muslim.

    Berdasarkan masa lampau, ada sebuah analisa bahwa kejatuhan Suharto (semula “a good boy” Amerika) karena adanya kemungkinan jika kekuasaan Suharto “diperpanjang” maka akan terjadi kebangkitan Islam di Indonesia. Untuk itu Rakyat Indonesia harus “diusik” dengan sesuatu.

    Amerika mulai “terusik” oleh kelakuan Suharto, diawali pada tahun 1992, gerakan Non Blok putuskan untuk mengirim utusan Palestina ke negara-negara Arab adalah untuk langsung terlibat dalam negosiasi-negosiasi yang mendukung usaha Palestina memperoleh haknya kembali yang mana keputusan yang diambil oleh Ketua GNB – Presiden Soeharto mendapat dukungan dari Menlu Palestina Farouk Kaddoomi seusai sidang Komite Palestina GNB di Bali yang dalam hal ini menurutnya keputusan tersebut menunjukkan dukungan Gerakan Non Blok kepada rakyat Palestina dalam memperoleh haknya kembali dan akan berusaha membuat warga Israel mundur dari kawasan yang diduduki. Komite Palestina GNB terdiri dari Aljazair, India, Bangladesh, Senegal, Gambia, Zimbabwe, Palestina dan Indonesia, komisi GNB untuk Palestina diketuai oleh Indonesia.

    Para Futurolog memprediksikan pada abad ke-21 Islam akan bangkit mendunia yang diawali dari timur (Indonesia/Malaysia). Karena Soeharto (selaku kepala negara mayoritas muslim terbesar di dunia) merangkul Islam atau “menggunakan” Islam , maka sesegera mungkin sebelum memasuki abad ke-21 rezim Orba harus diturunkan. Langkah pertama yang diambil adalah menciptakan krisis moneter, lalu krisis ekonomi, lalu merembet pada krisis kepercayaan, lalu menggelombang menjadi krisis politik nasional yang mendesak untuk dilakukannya penjatuhan rezim dan reformasi total. Fakta krisis ini disetting dalam konteks kawasan, bukan semata Indonesia, sehingga tampak gelombang krisis ini bukan karena skenario tapi gelombang internasional yang bersifat natural.

    Ada pihak yang berpendapat lebih spesifik dari sekedar “Soeharto jatuh karena krisis ekonomi”. Mereka berpendapat “Soeharto jatuh karena IMF?” Pendapat ini antara lain dikemukakan Prof. Steve Hanke, penasehat ekonomi Soeharto dan ahli masalah Dewan Mata Uang atau Currency Board System (CBS) dari Amerika Serikat.

    Menurut ahli ekonomi dari John Hopkins University itu, Amerika Serikat dan IMF-lah yang menciptakan krisis untuk mendorong kejatuhan Soeharto. Ini dibuktikan dari pengakuan Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus sendiri.

    Dalam wawancara “perpisahan” sebelum pensiun dengan The New York Times, Camdessus yang bekas tentara Prancis ini mengakui IMF berada di balik krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

    “Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun,” ujarnya. Pengakuan ini tentu saja menyambar kesadaran banyak orang. Tak dinyana, krisis di Indonesia ternyata bukan semata kegagalan kebijakan ekonomi Soeharto, tapi juga berkat “bantuan” IMF.
    http://www.antara.co.id/print/1210836368

    Mereka dapat menciptakan krisis yang “nampaknya nyata” bagi kita. Palsu atau sengaja, krisis berfungsi untuk menakutkan kita dan membiarkan mereka mencapai tujuan mereka.

    Mereka memiliki semua media utama, barang cetakan, televisi, radio, musik, dan teater. Mereka menciptakan konglomerat-konglomerat dan monopoli. Dengan melakukan hal ini memberi mereka kendali terhadap segala hal yang kita lihat, baca dan dengar.

    Mereka bekerja keras melarang kita untuk membuat setiap referensi dalam aspek kehidupan yang dihubungkan kepada Tuhan (sekulerisme).

    Mereka dengan keanekaragaman mengacu pada paksaan terhadap kita untuk menunjukkan toleransi, pengertian dan penyetujuan untuk nilai-nilai yang kita tidak percayai (pluralisme).

    Mereka menentukan siapa yang akan menjadi penguasa negeri (presiden) atau perdana menteri berikutnya, siapa yang akan menerima dana bantuan, dana pemerintah dan yang lainnya, dimana hal ini mempengaruhi kita, baik secara personal maupun nasional.

    Mereka dapat mengatur dan menentukan penguasa negera pada sebagian besar negara di dunia. Mereka dapat membentuk ketaklukan para penguasa negera kepada mereka dan menciptakan penguasa negara “boneka”. Bahkan penguasa negera di mana tempat dua tanah suci berada yang seharusnya hanya takut kepada Allah Azza wa Jalla pun mereka dapat pengaruhi. Sebagaimana kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

    Dari keseluruhan raja-raja dinasti Saudi hanya Raja Faisal bin ‘Abd al ‘Aziz Al Sa’ud (1906-25 Maret 1975) yang mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, ketika beliau masih belum jadi raja dan dipanggil pangeran Faisal

    Namun desakannya itu ditolak oleh ayahandanya. Pangeran Faisal menjadi Raja setelah Raja Saud (putra sulung) di usir keluar dari Arab Saudi ke Yunani. Sedikit riwayat tentang Raja Saud bisa dibaca pada http://id.wikipedia.org/wiki/Saud_dari_Arab_Saudi

    Raja Faisal mewujudkan keinginannya untuk menghilangkan pengaruh Amerika Serikat seperti penghentian ekspor minyak Arab Saudi ke Amerika Serikat. Namun atas kehendak Allah ta’ala beliau terbunuh “melalui” anak adiknya, yaitu Faisal bin Musad, Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/bersekutu-dengan-amerika/

    Raja Faisal adalah satu-satunya Raja dari dinasti Saudi yang mentaati perintah Allah ta’ala untuk tidak menjadikan teman kepercayaan orang-orang yang tidak bersyahadat. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/05/penguasa-wahhabi/

    Begitu pula kita menyesalkan pemimpin-pemimpin negeri yang muslim mau menjadi “pemimpin boneka” Amerika seperti di Afghanistan, Palestina, Irak dan termasuk pemimpin seperti Husni Mubarak di Mesir yang telah tumbang. Begitupula kita menyesalkan Wakil Presiden Mesir, Omar Suleiman yang mempunyai “hubungan dekat” dengan Amerika.

    Mereka adalah para pemimpin yang mempunyai ”hubungan dekat” dengan Amerika. Mereka menjadi pemimpin yang ”memenuhi” kepentingan Amerika. Pada hakikatnya mereka berkawan dengan Amerika, yang sangat berperan didalamnya adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Amerika yang menginginkan menjadi pemimpin dunia, pemimpin seluruh manusia.

    Oleh karenanyalah kita perlu selalu mewaspadai mereka yang memang mempunyai rasa permusuhan kepada kaum muslim

    Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

    Kita harus mewaspadai mereka yang tidak saja mengadakan perang secara fisik namun mereka melancarkan perang informasi melalui penguasa media massa dan informasi dan pencitraan dan perang melalui pemahaman (ghazwul fikri) sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/24/perang-melalui-pemahaman/

    Wassalam

    Zon at Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Perlukah kekhalifahan Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top