728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Wednesday, August 17, 2011

    Meluncur dari busur

    Pemahaman mereka seperti anak panah yang meluncur dari busurnya

    Apa yang mereka perbincangkan sebagai perkara bid'ah dlolalah pada umumnya bukanlah perkara syariat atau amal ketaatan.

    Perkara syariat atau amal ketaatan adalah ibadah yang terkait dengan menjalankan kewajibanNya (perkara kewajiban) dan menjauhi laranganNya (perkara larangan dan pengharaman).
    Amal ketaatan adalah perkara mau tidak mau harus kita jalankan atau kita taati.
    Amal ketaatan jika tidak dijalankan atau tidak ditaati akan mendapatkan akibat/ganjaran baik ganjaran baik atau pahala maupun ganjaran buruk atau dosa.
    Amal ketaatan adalah bukti ketaatan atau “bukti cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.
    Amal ketaatan dikenal juga sebagai perkara syariat artinya syarat yang harus dipenuhi atau ditaati sebagai hamba Allah Azza wa Jalla.

    Amal kebaikan adalah ibadah diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.
    Amal kebaikan adalah perkara yang dilakukan atas kesadaran kita sendiri untuk meraih kecintaan atau keridhoan Allah Azza wa Jalla.
    Amal kebaikan adalah ibadah yang jika tidak dilakukan tidak berdosa.
    Amal kebaikan adalah “ungkapan cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.
    Amal kebaikan adalah upaya kita untuk mendekatkan diri  kepada Allah Azza wa Jalla.

    Bid’ah dlolalah adalah bid’ah dalam amal ketaatan, bid’ah dalam perkara kewajiban, larangan dan pengharaman.

    Bid’ah hasanah/mahmudah adalah bid’ah (perkara baru)  di luar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

    Imam as Syafi’i ~rahimullah membolehkan perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh), dikatakan beliau sebagai, “apa yang baru terjadi dari kebaikan“
    Imam Asy Syafi’i ~rahimullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)

    Contohnya pengunaan tasbih sebagai alat bantu dzikir, penggunaan sajadah walaupun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam namun bukanlah termasuk perkara syariat atau amal ketaatan.

    Begitupula pembacaan sholawat Nariyah atau sholawat Badar bukanlah perkara syariat atau amal ketaatan namun termasuk amal kebaikan (amal sholeh).

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan kewajiban bahwa sholawat harus sebagaimana yang dicontohkannya seperti sholawat Ibrahimiyah.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan larangan membuat matan/redaksi/lafaz sholawat sendiri.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan bahwa kita akan berdosa dan akan ditempatkan di neraka jika bersholawat dengan selain yang dicontohkannya.

    Imam Syafi’i pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.
    Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu
    atau
    Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.

    Tulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada
    http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1
    http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2
    http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3
    http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4

    Pada hakikatnya pada zaman ini seharusnya tidak ada lagi permasalahan bid'ah dlolalah karena para Imam Mazhab dan para ahli-ahli fiqih telah menghasilkan kitab-kitab fiqih. Jadi umat Islam pada zaman kini tinggal "menyantap" saja atau menjalankannya saja.

    Timbul permasalahan seputar bid'ah karena adanya segelintir ulama mencoba "menggali" sendiri dari Al Qur'an dan Hadits dan menetapkan hukum perkara (istinbat) untuk perkara syariat namun mereka belum berkompetensi sebagai Imam Mujtahid (pemimpin ijtihad)

    Jika seorang belum berkompetensi sebagai Imam Mujtahid melakukan istinbat (menetapkan hukum perkara) maka justru akan merusak atan menghancurkan agama dan akan porak porandalah hukum-hukum agama Islam yang suci.

    Mereka  "menggali" sendiri dari Al Qur'an dan Hadits karena  mereka  berpaling dari apa yang telah dihasilkan oleh Imam Mujtahid Mutlak atau para Imam Mazhab. Mereka akhirnya menjadi anti mazhab. Dr. Said Ramadhan Al-Buthy , menuliskan buku berjudul dalam bahasa arab adalah : Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam. Resensi bukunya dapat dibaca dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/11/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

    Ditengarai (diduga) sebenarnya inilah hasutan pusat-pusat kajian Islam yang didirikan oleh kaum non muslim atau orientalis yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi, agar umat Islam masing-masing berijtihad atau bahkan beristinbat tanpa mempertimbangkan kompetensi untuk menimbulkan perselisihan , pertengkaran bahkan pembunuhan di antara umat Islam sendiri sebagaimana terlukiskan dalam

    http://www.facebook.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629
    http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html
    http://www.facebook.com/notes/agus-sunyoto-ii/sejarah-keganasan-wahabi-1/157026171038435
    http://oase.kompas.com/read/2011/07/08/0537412/Menyingkap.Sisi.Gelap.Gerakan.Wahabi
    atau
    http://zulfiifani.wordpress.com/2011/03/09/review-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

    Hasutan untuk berijtihad masing-masing terhadap Al Qur'an dan Hadits tanpa memperdulikan kompetensi, dipergunakanlah semangat " mendobrak" pintu ijtihad  Ibnu Taimiyah walaupun beliau tidak dikenal sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Ibnu Taimiyah menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran kaum muslim yang dikatakannya tidak mencerahkan. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Selengkapnya baca tulisan yang berasal dari kaum liberal pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/  Kaum Liberal turut merasa senang dengan upaya Ibnu Taimiyah membuka pintu ijtihad tanpa mempermasalahkan kompetensi agar mereka dapat menyampaikan pemahaman mereka terhadap Al Qur'an dan Hadits dengan sebebas-bebasnya.

    Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab berjudul “Hasyiyah Al-’allaamah Ibn Hajar Al-Haitami ‘Alaa Syarh Al-Idlah Fii Manasik Al-Hajj”,  (Kitab Penjelasan terhadap Karya Imam an-Nawawi)  menuliskan (yang artinya)

    Bab VI: Menjelaskan tentang ziarah ke makam tuan kita dan baginda kita Rasulullah (Shallallaahu Alaihi Wa Sallam) dan segala permasalahan yang terkait dengannya
    (artinya): “… Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya dia adalah manusia yang telah disesatkan oleh Allah; sebagaimana kesesatannya itu telah dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn Jama’ah, juga sebagaimana telah panjang lebar dijelaskan tentang kesesatannya oleh Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya tersendiri untuk itu (yaitu kitab Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-Anam).

    Penghinaan Ibnu Taimiyah terhadap Rasulullah ini bukan sesuatu yang aneh; oleh karena terhadap Allah saja dia telah melakukan penghinaan, –Allah Maha Suci dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dengan kesucian yang agung–. Kepada Allah; Ibnu Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya dari keburukan-keburukan yang sangat keji. Ibn Taimiyah ini telah dikafirkan oleh banyak ulama, –semoga Allah membalas segala perbuatan dia dengan keadilan-Nya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya; yaitu mereka yang membela segala apa yang dipalsukan oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yang suci ini–”.

    Berikut pula kutipan dari Al Fatawa Al Haditsiyah 1/480 karya Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
    *****awal kutipan ****
    Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami pernah ditanya tentang akidah mereka yang semula para pengikut Mazhab Hambali, apakah akidah Imam Ahmad bin Hambal seperti akidah mereka ?
    Beliau menjawab:
    Akidah imam ahli sunnah, Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya meridhoi-Nya serta menjadikan taman surga sebagai tempat tinggalnya, adalah sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam hal menyucikan Allah dari segala macam ucapan yang diucapkan oleh orang-orang zhalim dan menentang itu, baik itu berupa penetapan tempat (bagi Allah), mengatakan bahwa Allah itu jism (materi) dan sifat-sifat buruk lainnya, bahkan dari segala macam sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan Allah.

    Adapun ungkapan-ungkapan yang terdengar dari orang-orang jahil yang mengaku-ngaku sebagai pengikut imam mujtahid agung ini, yaitu bahwa beliau pernah mengatakan bahwa Allah itu bertempat dan semisalnya, maka perkataan itu adalah kedustaan yang nyata dan tuduhan keji terhadap beliau. Semoga Allah melaknat orang yang melekatkan perkataan itu kepada beliau atau yang menuduh beliau dengan tuduhan yang Allah telah membersihkan beliau darinya itu.

    Al Hafizh Al Hujjah Al Imam, Sang Panutan, Abul Faraj Ibnul Jauzi, salah seorang pembesar imam mazhab Hambali yang membersihkan segala macam tuduhan buruk ini, telah menjelaskan tentang masalah ini bahwa segala tuduhan yang dilemparkan kepada sang imam adalah kedustaan dan tuduhan yang keji terhadap sang imam. Bahkan teks-teks perkataan sang imam telah menunjukkan kebatilan tuduhan itu, dan menjelaskan tentang sucinya Allah dari semua itu. Maka pahamilah masalah ini, karena sangat penting.

    Janganlah sekali-kali kamu dekati buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim dan orang seperti mereka berdua.

    Siapa yang bisa memberikan petunjuk orang seperti itu selain Allah?

    Bagaimana orang-orang atheis itu melampaui batas-batas, menabrak aturan-aturan dan merusak tatanan syariat dan hakikat, lalu mereka menyangka bahwa mereka berada di atas petunjuk dari tuhan mereka, padahal tidaklah demikian. Bahkan mereka berada pada kesesatan paling buruk, kemurkaan paling tinggi, kerugian paling dalam dan kedustaan paling besar. Semoga Allah menghinakan orang yang mengikutinya dan membersihkan bumi ini dari orang-orang semisal mereka.

    Sumber:  http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/02/upaya-menetralkan-suntikan-racun.html
    ***** akhir kutipan *****

    Begitu pula ulama-ulama kita terdahulu seperti Syaikh Ahmad Khatib menyampaikan bahwa pemahaman Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya telah menyelisihi pemahaman para Imam Mazhab atau menyelisihi pemahaman jumhur ulama atau menyelisihi pemahaman as-sawaad al-a’zhom.  Secara tidak langsung mereka menyelisihi atau mengingkari Sunnah Rasulullah bahwa jka kita berbeda pendapat / pemahaman maka kita wajib mengikuti as-sawaad al-a’zhom (jama’ah kaum muslimin yang terbanyak).

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

    Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi dengan tegas menulis bahwa Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan Wahhabiyah yang diikuti oleh anak murid beliau [Syaikh Abdul Karim Amrullah] adalah sesat  karena keluar daripada pemahaman Ahlussunnah wal  Jamaah dan menyalahi pegangan mazhab yang empat.  Beliau menuliskan pada ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain.

    Di antara nasihatnya: “Maka betapakah akan batal dengan fikiran orang muqallid yang semata-mata dengan faham yang salah dengan taqlid kepada Ibnu al-Qayyim yang tiada terpakai qaulnya (pendapatnya) pada kaum bermazhab Syafie.  Maka wajiblah atas orang yang hendak selamat pada agamanya bahwa dia berpegang dengan segala hukum yang telah tetap pada mazhab kita. Dan janganlah ia membenarkan akan yang menyalahi demikian itu daripada fatwa yang palsu.”

    Jadi pemahaman yang keluar dari pemahaman jumhur ulama atau as-sawaad al-a’zhom   adalah seperti mereka yang pemahamannya keluar seperti anak panah yang meluncur dari busurnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sepeninggalku kelak, akan muncul suatu kaum yang pandai membaca Al Qur`an tidak melewati kerongkongan mereka. mereka keluar dari agama, seperti anak panah yang meluncur dari busurnya dan mereka tidak pernah lagi kembali ke dalam agama itu. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk dan akhlak mereka juga sangat buruk.“  (HR Muslim)
    Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=13&ayatno=151&action=display&option=com_muslim

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Meluncur dari busur Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top