728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Monday, September 12, 2011

    Melihat Rabb

    Mereka bersikukuh dengan kesalahpahaman bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy dan turun ke langit dunia pada setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir ada kaitannya dengan mereka salah memahami dalil-dalil tentang keadaan di akhirat/surga nanti seperti

    Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Syihab dari Atha' bin Yazid al-Laitsi bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepadanya, bahwa manusia berkata, Wahai Rasulullah! Apakah kami (bisa) melihat Rabb kami pada Hari Kiamat? Beliau pun balik bertanya: Apakah kalian akan kesulitan  ketika melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awan? Mereka menjawab, Tidak wahai Rasulullah. Beliau bertanya lagi: Apakah kalian akan kesulitan ketika melihat matahari di siang hari yang terang tanpa awan di bawahnya? Mereka menjawab, Tidak wahai Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kalian bisa melihatNya seperti itu juga. (HR Muslim 267) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=259&action=display&option=com_muslim

    Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dari Jarir dari Ismail dari Qais bin Abu Hazim dari Jarir bin Abdullah dia berkata; Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di malam hari ke empat belas, beliau melihat bulan, kemudian bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan kesulitan ketika melihatnya. (HR Bukhari 4473). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=45&ayatno=360&action=display&option=com_bukhari

    Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Yusuf Al Yarbu'i telah menceritakan kepada kami Abu Syihab dari Ismail bin Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dari Jarir bin Abdullah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang." (HR Bukhari 6883) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=77&ayatno=61&action=display&option=com_bukhari

    Mereka berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy dan manusia kelak di akhirat nanti dapat melihat Rabb dengan mata kepala sebagaimana pemahaman mereka terhadap contoh ketiga dalil di atas bahwa manusia ketika itu melihat Rabb “dengan mata telanjang”, melihat Rabb sebagaimana “melihat bulan di saat purnama dan tidak berawan, tidak ada sesuatupun yang menghalangi penglihatan”

    Proses melihat terjadi ketika cahaya dipantulkan dari sebuah benda melewati lensa mata dan menimbulkan bayangan terbalik di retina yang berada di belakang otak. Setelah melewati proses kimiawi yang ditimbulkan oleh sel-sel kerucut dan batang retina, penglihatan ini pun berubah menjadi implus listrik. Implus ini kemudian dikirim melalui sambungan di dalam sistem syaraf ke belakang otak. Kemudian otak menerjemahkan aliran ini menjadi sebuah penglihatan tiga dimensi yang penuh makna.  Kita perhatikan bahwa “proses melihat terjadi ketika cahaya dipantulkan dari sebuah benda” dan Allah Azza wa Jalla bukanlah benda !

    Sampai kapan pun manusia tidak akan melihat Rabb dengan kasat mata (mata kepala) yang terproyeksikan / tergambarkan ke dalam benak (otak) nya karena Allah Azza wa Jalla tidak serupa dengan apapun yang terproyeksikan / tergambarkan dalam benak (otak) manusia. “Allah laysa kamitslihi syai’un”, “Allah tidak sama dengan segala sesuatu” (QS Assyura [42]:11)

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri (W. 245 H) salah seorang murid terkemuka al Imam Malik menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu Tauhid: Maknanya: “Apapun yang terlintas (tergambarkan) dalam benak (otak)  kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu“.

    Perkataan ini dikutip dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al Fadll at-Tamimi dalam kitabnya I’tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al Mishri oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Dan ini adalah kaidah yang merupakan Ijma’ (konsensus) para ulama. Karena tidaklah dapat dibayangkan kecuali yang bergambar. Dan Allah adalah pencipta segala gambar dan bentuk, maka Ia tidak ada yang menyerupai-Nya.

    Al Imam Asy-Syafi’i berkata: “Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benak (otak) nya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir.

    Firman Allah ta’ala menegaskan bahwa, yang artinya
    Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (QS Al An’am [6]:103)

    Allah ta’ala dapat dilihat dengan ruhani (ruhNya) yakni dengan hati

    Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
    “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
    Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
    “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
    Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …

    Rasulullah bersabda: “Kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian hingga kalian mati.” [Abu Dawud no. 4320, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (Dhilaalul-Jannah) no. 428, dan Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 848.]

    Setiap manusia dapat melihat Rabb di dunia dan akhirat setelah mencapai kematian.

    Apakah yang dimaksud dengan manusia masih di dunia namun mencapai kematian ?

    Hal ini terkait dengan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lain yakni, “Muutu qabla an tamuutu”, “matilah sebelum mati”. Kita dapat mencapai kematian ketika di dunia adalah keadaan dimana ruhani (ruhNya) dapat sepenuhnya mengatasi jasmani. Ruhani yang terbebas dari jasmani , terbebas dari kukungan hawa nafsu. Hakikat mati adalah terbebasnya ruhani (ruhNya) dari jasmani atau jasad.

    Mereka yang memperturutkan hawa nafsu adalah mereka yang berpaling dari Allah Azza wa Jalla atau mereka yang tidak melihat Rabb. Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,
    …Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )

    Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya” (QS An Nisaa’ [4]:27)

    Satu-satunya cara agar kita dapat sampai (wushul) di hadapan Allah Azza wa Jalla dan melihatNya adalah dengan dzikrullah (mengingat Allah).

    Sholat adalah dzikrullah (mengingat Allah) yang utama
    Dengan sholat atau dzikrullah kita mi’raj ke hadapan Allah Azza wa Jalla

    Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah. “Naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu” yang dimakasud “mati”

    Sholat , Puasa, Zakat dan dzikrullah lainnya yang menghantarkan (mi’raj) hingga sampai (wushul) ke hadhirat Allah Azza wa Jalla dan melihat Rabb. Puasa adalah latihan mengendalikan hawa nafsu , latihan ruhani “melepaskan” dari jasmani . Dengan puasa menghantarkan (mi’raj) hingga sampai (wushul) ke hadhirat Allah Azza wa Jalla dan melihat Rabb atau bertemu Tuhan.

    Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).

    Manusia terhalang / terhijab melihat Rabb adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

    Sebagaimana firman Allah ta’ala  yang artinya,
    Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

    maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

    Mereka yang telah mencapai surga, seluruh dosa mereka sudah “diangkat” atau hijab untuk terhalang melihat Allah sudah “diangkat” sehingga mereka melihat Rabb.

    Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Maisarah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit al-Bunani dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: Bila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman: 'Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian? ' Mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? ' Beliau bersabda: Lalu Allah membukakan hijab pembatas, lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugrah (dapat) memandang Rabb mereka. (HR Muslim 266)

    Kenapa melihat Rabb di dunia berbeda dengan ketika di akhirat yang dikiaskan seperti “melihat bulan di kala purnama yang tidak ada awan” atau “melihat dengan mata telanjang”  yang maknanya melihat jelas tidak terhalang atau melihat tanpa kesulitan.

    Sebagaimana yang kami sampaikan sebelumnya bahwa terhalang manusia melihat Rabb adalah karena dosa. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Manusia ketika di dunia tidak ada satupun yag luput dari dosa kecuali yang dikehendaki Allah. Mereka yang dikehendaki Allah itulah yang dapat melihat Rabb.

    Firman Allah ta’ala yang artinya “Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS An Nuur 24:21)

    Rasulullah bersabda yang artinya “Setiap anak Adam (manusia) mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

    Bagaimana cara kita memperoleh kurnia Allah dan rahmatNya  sehingga termasuk manusia yang dikehendakiNya terbebas dari dosa sehingga tidak terhalang melihat Rabb ?

    Sebagaimana yang kami sampaikan di atas,  satu-satunya cara agar kita dapat sampai di hadapan Allah Azza wa Jalla dan melihatNya adalah dengan dzikrullah (mengingat Allah). Kita harus mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring yakni mencapai muslim yang ihsan atau muslim yang baik, muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlak baik. Muslim yang berakhlak baik terhadap Allah Azza wa Jalla dan terhadap ciptaanNya yang lain. Muslim yang bersikap dan berbuat sesuai dengan cahayaNya atau petunjukNya. Sikap dan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Jika mereka mereka akan mengambil sikap atau akan berbuat mereka mengembalikan kepada Allah ta’ala , mengembalikan kepada hati (jiwa) mereka yang telah diilhamkan oleh Allah Azza wa Jalla pilihan yang haq atau bathil dan mereka selalu mengikuti cahayaNya atau petunjukNya untuk selalu mememilih yang haq , jalan ketakwaan.

    Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan ” (pilihan haq atau bathil)(QS Al Balad [90]:10 )

    maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 ).

    Hakikat manusia dengan pilihan telah kami uraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/05/hakikat-manusia/

    Langkah-langkah dalam memperbaiki akhlak adalah membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI) atau melihat Rabb. Para Ulama Sufi menyebutnya maqom musyahadah artinya ruang kesakisan. Inilah keadaan bukan sekedar mengucapkan namun sebenar-benarnya menyaksikan bahwa, “tiada Tuhan selain Allah”. Mereka juga telah mencapai kasyaf (mukasyafah), terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.

    Kata ghoib, menurut beberapa kamus arab, seperti lisaanul arab berasal dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir) kebalikan dari kata hadhoro atau dhoharo (hadir atau nampak). Ghaib adalah sesuatu yang tidak tampak dengan panca indera seperti mata kita atau sesuatu yang tidak tampak secara kasat mata.

    Rasulullah tentulah manusia yang paling utama dan mengetahui hal-hal ghaib. Firman Allah ta'ala yang artinya, “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27)

    Beliau ditampakkan keadaan para Nabi yang secara dzahir telah wafat.

    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami al-Laits dari Abu az-Zubair dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Ditampakkan kepadaku para nabi, ternyata Musa adalah salah satu jenis laki-laki seperti laki-laki bani Syanu'ah, dan aku melihat Isa bin Maryam Alaihissalam, ternyata dia mirip dengan orang yang telah aku lihat memiliki kemiripan dengannya, Urwah bin Mas'ud. Dan aku melihat Ibrahim Alaihissalam, ternyata dia mirip dengan orang yang aku lihat memiliki kemiripan dengannya, yaitu sahabat kalian (maksudnya beliau sendiri). Dan aku melihat Jibril Alaihissalam, ternyata dia mirip dengan orang yang pernah aku lihat memiliki kemiripan dengannya, yaitu Dahyah. (HR Muslim 244) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=236&action=display&option=com_muslim

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengetahui berita tentang para sahabat. Kemudian beliau berdiri dan berpidato: 'Ketahuilah bahwa sesungguhnya surga dan neraka itu telah ditampakkan kepadaku. Aku tidak pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kalian dapat mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis.'  (HR Muslim 4351) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=44&ayatno=131&action=display&option=com_muslim

    Para Imam Mazhab yang empat pun telah mengetahui hal-hal yang ghaib (tidak tampak)

    Imam Malik ra pernah berkata, “Roh manusia itu sama saja bentuknya dengan jasad lahirnya.”

    Bagi mereka yang kasyaf dapat melihat perjalanan bentuk ruh. Bentuk ruh tidak langsung sama dengan bentuk jasad lahirnya (manusia) namun tergantung perjalananan ruhaninya. Mereka yang memperturutkan hawa nafsu atau sifat binatang maka bentuk ruhnya akan seperti binatang.  Mereka yang kasyaf dapat melihat ruh atau hati atau sirr al ghaib (rahasia/gerbang ghaib) manusia. Namun kasyaf atau melihat bukannya tanpa batas.  Batasannya adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yang artinya

    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Luqman [31]:34)

    Buya Hamka pun sudah dapat melihat "diri" nya yang terdiri dari jasmani dan ruhani. Buya Hamka yang kita kenal sangat berkompetensi dalam bidang syariat dan selalu berpegang pada dalil/hujjah yang tarjih (kuat) sebagaiman motto dari saudara-saudara kita kaum Muhammadiyah namun setelah menjalankan tharekat sudah dapat menyampaikan bahwa dirinya bukanlah Hamka, tetapi “hampa” sebagaimana terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/28/hampa/

    Mereka yang kasyaf  atau melihat Rabb adalah mereka yang dicintai Allah dan tertingginya/terbaiknya adalah menjadi wali Allah sebagaimana yang terurai dalam hadits qudsi

    Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya para-wali-Ku itu dari hamba-Ku dan kesayangan-Ku dari hamba-Ku, yaitu orang-orang yang berdzikir dengan menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebut mereka.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “ yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

    Mereka yang melihat Rabb adalah mereka yang selalu berdzikir (mengingat Allah), mereka yang bersikap dan berbuat selalu mengingat Allah (dzikrullah), mereka yang bersikap dan berbuat sesuai dengan cahayaNya atau petunjukNya. Mereka adalah kekasih Allah dan terbaiknya adalah menjadi wali Allah

    Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

    Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
    “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

    Mereka tidak khawatir dan dan tidak (pula) mereka bersedih hati karena mereka melihat Rabb mereka hanya takut kepada Allah. Mereka yang ihsan. Mereka yang baik. Mereka yang sholeh.

    Lalu dia bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.' (HR Muslim 11) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim

    Sekali lagi kami mengingatkan baik bagi diri kami pribadi maupun sudara-saudara muslim kami pada umumnya bahwa indikator pengikut Rasulullah atau indikator telah beragama dengan baik adalah berakhlak baik  karena tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus Allah ta’ala adalah menjadikan muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.

    Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Jadi dustalah mereka yang mengaku ittiba’ li rasulih atau mengikuti Salafush Sholeh namun mereka tidak berakhlak baik seperti mencela, menghujat, memperolok-olok saudara muslim sendiri.

    Rasulullah mengatakan, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).

    Mereka yang mencela saudara muslim sendiri adalah mereka yang tidak melihat Rabb atau minimal mereka tidak meyakini bahwa Allah ta’ala melihat perbuatan mereka. Mereka yang berpaling dari jalan Allah ta’ala karena mereka memperturutkan hawa nafsunya

    Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya “…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    5 comments:

    1. Ya akhi, bukankah Nabi sendiri, utusan Allah yang mengabarkan bahwa orang-orang beriman dapat melihat Allah kelak di hari kiamat...? Sudah terima saja berita ini, tidak sampai ilmumu kalau kemudian kamu terangkan melihat ini adalah e...manakala ada cahaya memantul ini dan itu... Nabi telah menerangkan bahwa orang beriman dapat melihat Rabb-nya di surga kelak, sudah imani dan yakini saja serta berusaha dan berdo'a semoga kita termasuk dari orang-orang beriman yang dapat melihat Rabb kita di surga kelak, amin ya rabbal 'alamin...

      ReplyDelete
    2. susilo Alhamdulillah ana ketemu nt ana bertanya sama mas Ajam belum terjawab "diakhirat itu jasad apa ruh ya nanti manusia ” melihat ” Alloh ??????? " emang manusia di akhirat masih punya mata dhohir ??? kan mata dhohir dah ancur dikuburan ??? nah tolong jawab mas susilo tentunya dgn disertai dalil n hadits SHOHIH ya........makasih jawabnya ....

      ReplyDelete
    3. mas saya mau na ny ni, soal isra' n mira', waktu nabi muhamad saw. menemui Allah swt,yg d prjalankan Allah itu jasad ny nabi muhamad atau roh ny?

      ReplyDelete
    4. Jumhur ulama sepakat bahwa peristiwa isra' terjadi dengan jasad dan ruh Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam. Wallahu a'lam

      ReplyDelete
    5. Adapun peristiwa mi'raj ulama berbeda pendapat, jumhur ulama muhaqqiqin berpendapat peristiwa mi'raj terjadi secara sadar dengan ruh dan jasad beliau dalam satu malam. Wallahu ta'ala a'lam

      Lebih lengkapnya silahkan baca http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=264&text

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Melihat Rabb Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top