728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Wednesday, October 26, 2011

    Bukti korban

    Bukti akibat perang pemahaman

    Para pengikut ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim Al Jauziah, Muhammad bin Abdul Wahhab adalah korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Sebagaimana yang telah kami sampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/korban-perang-pemahaman/

    Begitu juga kaum Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) adalah korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Sebagaimana yang telah kami sampaikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

    Berdasarkan analisa kami, empat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi

    1. Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab

    2. Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi "terjemahkan saja"  hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan  nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll

    3. Paham anti tasawuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan

    4. Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat” .

    Contoh bukti korban ghazwul fikri adalah adanya yang memahami ayat-ayat mutasyabihat secara harfiah / dzahir  atau memahami dengan metodologi "terjemahkan saja" hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan  nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll

    Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

    Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”

    Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra  berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir."
    Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
    Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta'ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

    Contoh bukti lain korban ghazwul fikri yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi yang merupakan taktik "adu domba" adalah terjadinya  pergesekan, perselisihan diantara kaum muslim  diakibatkan  adanya mereka yang “membenci” Maulid Nabi dan tahlilan.

    Seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya.

    Firman Allah ta’ala yang artinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)

    Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (QS al Hijr [15] : 99)

    Ibadah terbagi dalam dua kategori yakni amal ketaatan dan amal kebaikan

    Amal ketaatan atau perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah adalah ibadah yang terkait dengan menjalankan kewajibanNya (perkara kewajiban) dan menjauhi laranganNya (perkara larangan dan pengharaman).

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

    Amal ketaatan adalah perkara mau tidak mau harus kita jalankan atau kita taati.
    Amal ketaatan jika tidak dijalankan atau tidak ditaati akan mendapatkan akibat/ganjaran, ganjaran baik (pahala) maupun ganjaran buruk (dosa).
    Amal ketaatan adalah bukti ketaatan atau “bukti cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.

    Amal kebaikan adalah ibadah diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.
    Amal kebaikan adalah perkara yang dilakukan atas kesadaran kita sendiri untuk meraih kecintaan atau keridhoan Allah Azza wa Jalla.
    Amal kebaikan adalah ibadah yang jika dilakukan dapat pahala (kebaikan) dan tidak dilakukan tidak berdosa.
    Amal kebaikan adalah “ungkapan cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.
    Amal kebaikan adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

    Hukum asal amal ketaatan adalah haram/terlarang selama tidak ada dalil yang menetapkannya
    Hukum asal diluar amal ketaatan adalah mubah/boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya


    Maulid Nabi


    Maulid Nabi bukanlah kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) atau bukanlah termasuk amal ketaatan atau perkara syariat (syarat)
    Maulid Nabi adalah  amal kebaikan (perkara diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits)
    Maulid Nabi umumnya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an, Sholawat, kajian dan ceramah seputar kehidupan Rasulullah dan implementasinya dalam kehidupan masa kini.

    Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok,  bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya,  “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )

    Kita mengingat tanggal kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok.  Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok

    Maulid Nabi adalah kebutuhan bagi kaum muslim pada umumnya yang zaman kehidupannya telah terpaut jauh dengan zaman kehidupan para Salafush Sholeh. Kami amat sangat merindukan untuk berkumpul bersama Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

    Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta'ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.

    Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.

    Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam

    Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah,
    dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.

    Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.


    Tahlilan


    Tahlilan bukanlah bukanlah kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) atau bukanlah termasuk amal ketaatan atau perkara syariat (syarat)
    Tahlilan adalah amal kebaikan (perkara diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits)
    Tahlilan adalah sedekah atas nama ahli kubur yang diselenggarakan oleh keluarga ahli kubur
    Peserta tahlilan bersedekah diniatkan untuk ahli kubur dengan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, pembacaan surah Yasiin, Al Fatihah, dzikir dan doa

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa kita boleh bersedekah atas nama orang yang telah meninggal dunia

    حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

    Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah aku boleh bershadaqah atas namanya? Beliau menjawab: Ya bershodaqolah atasnya. (HR Muslim 2554)

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674)

    Tahlilan hukum dasarnya adalah boleh, menjadi makruh jika keluarga ahli kubur merasa terbebani atau meratapi kematian, menjadi haram jika dibiayai dari harta yang terlarang (haram), atau dari harta mayyit yang memiliki tanggungan / hutang atau  dari harta yang bisa menimbulkan bahaya atasnya.

    Marilah kita kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengikuti sunnah Rasulullah yakni mengikuti kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham) dengan mengikuti dan mentaati pemahaman pemimpin ijtihad (imam mujtahid mutlak) atau para Imam Mazhab dan penejelasan dari pengikutnya terdahulu sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.

    Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS An Nisaa [4]:59 )

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan  (perbedaan pemahaman / berlainan pendapat) maka ikutilah kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

     

    Wassalam

     

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    14 comments:

    1. rusaknya akhlak ummat islam bukan akibat tidak bertasawuf, lagi2 anda ini mendahului Allah dan Rasul Nya.

      adakah guru anda atau anda benar-benar paham Al Qur'an secara utuh? kalau memang iya mari kita buka dialog dan diskusi secara tatap muka.

      Kalaulah anda itu memahami Qur'an secara utuh, tulisan2 anda di blog ini gakkan pernah ada.

      ReplyDelete
    2. Mas Andi, silahkan periksa kurikulum pendidikan di perguruan-perguruan tinggi Islam, bidang Tasawuf adalah bidang akhlak, jalan untuk mencapai muslim yang Ihsan
      Tasawuf berlandaskan pokok ketiga dari yang disampaikan oleh malaikat Jibril yakni Islam , Iman, Ihsan

      Tentang Ihsan

      قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

      Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim

      ReplyDelete
    3. saya tanyakan kembali kepada anda, kalau memang anda itu tidak mabuk, bagaimana proses untuk mencapai ihsan?

      tolong anda jelaskan, "takut" dalam hadist jibril itu, takut yg spt apa?

      ------------------------------------

      lebih baik anda ajukan diri anda atau guru anda untuk langsung bertatap muka kalau memang anda atau guru anda itu memahami Qur'an secara utuh.

      ReplyDelete
    4. bahasa arab adalah salah satu cara untuk memahami Al Quran dan As Sunnah. suatu lafadh itu dibawa pada makna dhohirnya sampai ada qorinah yang memalingkannya pada makna majaz.

      apa dalil bahwa bahasa arab adalah salah satu cara memahami Al Quran dan As Sunnah?

      Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (Thaahaa : 113)

      (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (Az-Zumar : 28)

      Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, (Al Fushilat : 3)

      Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam. (Asy Syuura : 7)

      ReplyDelete
    5. Mas Ajam, pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid Mutlak) yang diakui oleh jumhur ulama sampai masa kini hanyalah Imam Mazhab yang empat.
      Ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim al Jauziah, Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.
      Bahkan banyak ulama yang membuat buku untuk membantah pemahaman mereka.

      ReplyDelete
    6. andi,, dr cara coment anda dah ketuan kl anda sombong dan angkuh,,anda dr golongan salafy ya,,,?

      ReplyDelete
    7. zon,
      tanyakan pada dirimu, pada gurumu, pada ulama2 tiap aliran dan kelompok yang mempunyai fans2 nya masing, mengapa umat islam tidak bisa bersatu? mengapa mereka saling "bunuh"?
      Rasulullah SAW beserta para sahabat ra dalam kurun waktu 23 tahun bisa membuktikan/mewujudkan janji2 Allah dalam Al Qur'an! lalu butuh berapa lama para jumhur ulama sekarang ini, orang2 yang anda anggap para wali , syeikh tarekat or tasawuf dan orang yang anda anggap "suci" untuk mengulang sejarah tersebut????

      tidakkah anda berfikir secara mendalam zon????

      ReplyDelete
    8. Mas Andi apakah mereka yang mengaku-aku menisbatkan kepada Salafush Sholeh tidak saling "bunuh" ?

      Andaikata saja semua mengikuti pemimpin ijtihad (imam mujtahid) misalkan Imam Syafi'i , insyaallah umat Islam akan rukun

      Peselisihan pada masa kini pada hakikatnya disebabkan oleh ulama-ulama pembaharu seperti ulama Ibnu Taimiyyah.
      Pemikiran ulama Ibnu Taimiyyah dilanjutkan oleh dua aliran besar yakni

      1. aliran ulama Muhammad bin Abdul Wahhab
      2. aliran ulama Jamaluddin Al Afgani, Muhammad Abduh, Rasjid Ridha

      ReplyDelete
    9. apa hubungannya dengan komentar ana di atas?

      ReplyDelete
    10. antum ini sampai kapan menjadi orang yang keras kepala? antum berkata: "Ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim al Jauziah, Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak."

      padahal Ibnu Hajar Al Asqolani yang dijadikan oleh Asy'ariyah sebagai Imam telah menjuluki Ibnu Taimiyah sebagai Al Hafidz, Al 'Allamah, At Taqiyuddin, dan Asy Syaikhul Islam. menurut antum, sebutan2 itu untuk apa?

      ReplyDelete
    11. waduuuhhh...merasa jadi sgt bodoh ane,,
      Bgtu luasny ilmu Allah.
      Subhanallah..

      ReplyDelete
    12. anda ini selalu mendahului Allah dan Rasul Nya, jgn anda berangan2 dengan berandai2.

      Apakah ada jaminan dari Allah dengan mengikuti Imam Mazhab ummat islam bisa bersatu? Apa anda punya bukti Imam Syafi'e pernah menjamin spt yang anda katakan itu? apa iya Imam Mazhab mencetuskan mazhab dalam Islam?

      anda banyak mengutip ayat, tapi anda tidak bisa mengambil pelajaran, tidakkah anda menyadari? apakah anda ini buta atau rabun?

      ReplyDelete
    13. Mas Andi, justru perselisihan timbul dikarenakan umat muslim tidak lagi mentaati pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab

      Perselisihan timbul setelah ada ulama yang disebut sebagai mujaddid (pembaharu) yang pada hakikatnya baru dalam arti kata menyelisihi pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab

      Jumhur ulama dari dahulu sampai masa kini telah sepakat bahwa ulama yang terbaik memahami Al Qur’an dan Hadits serta perkataan Salafush Sholeh adalah Imam Mazhab yang empat. Memang ada imam mazhab selain yang empat namun sampai sekarang pendapat mereka tidak ada yang mengunakannya lagi.

      Ulama mujaddid (pembaharu) itu salah satunya adalah ulama Ibnu Taimiyyah. Beliaulah salah satu pelopor ulama yang tidak mau mengikuti pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab. Beliau menggunakan akal pikirannya sendiri.
      Selanjutnya diikuti oleh Ibnu Qoyyim al Jauziah (pengikut Ibnu Taimiyyah), Muhammad bin Abdul Wahhab (pengikut Ibnu Taimiyah), bahkan Al Albani (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab
      Selain jalur Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai pengikut Ibnu Taimiyyah adalah jalur utama lagi yakni Jamaludin Al-Afghany bersama muridnya ulama Muhammad Abduh kemudian dilanjutkan oleh ulama Rasjid Ridha, ulama Hasan Al Banna dll

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Bukti korban Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top