728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Monday, April 9, 2012

    Kafirkah orang tua Rasulullah

    Kafirkah orang tua Rasulullah

     

    Salah satu hasutan atau ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi adalah menyebarluaskan keyakinan bahwa orang tua Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kafir. Hal ini terlihat pada mereka yang terhasut, ketika mereka menggugat kitab Barzanji menuliskan sebagai berikut,

    ***** awal kutipan ***** Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.

    “Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli iman dan telah datang dalîl dari hadîts sebagai bukti-buktinya. Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat ini maka ucapkanlah salam karena sesungguhnya Allah Maha Agung. Dan sesungguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Qur’an)”.  (Lihat Majmûatul Mawâlid Barzanji, hal. 101)

    Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadîts dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di manakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia berada di Neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di Neraka”.

    Imam Nawawi rahimahullah berkata: ”Makna hadits ini adalah bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.” *****  akhir kutipan *****

    Imam Nawawi rahimahullah jelas menyampaikan bahwa orang kafir pada masa fatrah (jahiliyah) adalah yang menyembah berhala. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidaklah menyembah berhala. Silahkan baca tulisan tentang bagaimana akhlak kedua orangtua beliau pada http://www.facebook.com/note.php?note_id=189857864382154 atau pada http://www.facebook.com/notes/suara-al-fakir/sayyidah-aminah-binti-wahab-ibunda-rasulullah-saw/189857864382154

    Pada masa kedua orang tua Nabi , pada masa kekosongan syariat (fatrah). Para Nabi sebelum diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah diutus kepada kaumnya.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Para nabi diutus kepada kaumnya, sedang aku diutus untuk seluruh manusia“(HR.Bukhari)

    Sejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lahir berakhlak baik dan tujuan agama atau perkara syariat adalah untuk mencapai manusia berakhlak baik sehingga akan mendapatkan tempat yang baik (surga).

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Akan tetapi ketika syariat telah ditetapkanNya maka berakhlak baik saja tidak cukup namun wajib menjalankan perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah ta’ala.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang nasabnya bersabda,   “Allah telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”

    Rasulullah bersabda, ““Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

    “Saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar, tidaklah berpisah manusia menjadi dua kelompok(nasab ) kecuali saya berada di antara yang terbaik dari keduanya .Maka saya lahir dari ayah ibuku dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyah. Dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah). Tidaklah saya dilahirkan dari orang yang jahat sejak Adam sampai berakhir pada Ayah dan ibuku. Maka saya adalah pemilik nasab yang terbaik di antara kalian dan sebaik baik nasab (dari pihak) ayah  (HR.Baihaqi dlm dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas RA)Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya J. H.404 dan juga oleh Imam At Thobari dalam Tafsirnya j.11 H.76)

    Demikian pula Ucapan Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di perang Uhud ketika beliau shallallahu alaihi wasallam melihat seorang kafir membakar seorang Muslim  maka Rasulullah bersabda kepada Sa ad panahlah dia, jaminan keselamatanmu,  ayah dan ibuku , maka Saad berkata dengan gembira ,Rasulullah mengumpulkan aku dgn Nama Ayah dan Ibunya (HR.Bukhari bab Manaqib Zubair bin Awwam N.3442 hadis n.3446 bab Manaqib Saad bin Abi Waqqash)

    Pada masa kedua orang tua Nabi , pada masa kekosongan syariat (fatrah). Di dalam kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul fii Ahaditsir Rasul (التاج الجامع للأصول في أحاديث الرسول)” karya Syeikh Manshur Ali Nashif diterangkan

    ***** awal kutipan ***** Dari Abu Hurairah beliau berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak diidzinkan oleh-Nya. Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku. Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i “.

    Maksud hadits tersebut di atas sebagai berikut: Ketika Nabi Muhammad saw menziarahi ibunya yang bernama Sayyidah Aminah binti Wahab, beliau menangis karena ibunya tidak beragama Islam dan tidak mendapat kesenangan di dalamnya, dan Allah tidak mengidzinkan Nabi shallallahu alaihi wasallam memintakan ampunan untuk ibunya. Karena, permintaan ampunan itu syaratnya harus beragama Islam. Sedangkan ibunda Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat dalam keadaan menganut agama kaumnya sebelum beliau diangkat jadi Rasul. Hal ini bukan berarti ibunda Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak masuk surga, karena ibunda Nabi shallallahu alaihi wasallam itu termasuk ahli fatrah (masa kekosongan atau vakum antara dua kenabian).

    Menurut ulama jumhur bahwa ahli fatrah itu adalah orang-orang yang selamat (orang-orang yang selamat dari api neraka dan mereka tetap dimasukkan ke dalam surga). Firman Allah subhanahu wa ta’ala  dalam surat Al-Isra ayat 15:

    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولاً۬

    Artinya: “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul“.

    Bahkan berlaku dan absah menurut ahli mukasyafah bahwa Allah ta’ala menghidupkan kembali kedua orangtua Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah beliau diangkat jadi Rasul. Kemudian, mereka beriman kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena itu, sudah pasti mereka termasuk ahli surga. ***** akhir kutipan *****

    Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” maka ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

    Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perawi Hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :

    Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam “ dimana ayahku ?, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menjawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

    Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka. Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

    Ada pula yang mengkaitkan keadaan orang tua Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” (QS At Taubah [9]:113)

    Asbabun Nuzul

    Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Said bin Musayyab dari ayahnya, yang menceritakan, bahwa sewaktu Abu Thalib sedang menghadapi kematiannya, masuklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguknya. Pada saat itu di sisi Abu Thalib telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda, “Wahai paman! Katakanlah tiada Tuhan selain Allah (laa ilaaha illallaah), kelak aku akan membelamu dengannya di hadapan Allah.” Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, “Hai Abu Thalib! Apakah engkau tidak menyukai agamanya Abdul Muththalib?” Kedua orang tersebut masih terus berbicara kepada Abu Thalib, sehingga pada akhirnya Abu Thalib mengatakan kepada mereka bertiga, bahwa dia berada pada agamanya Abdul Muthalib.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku sungguh akan tetap memohonkan ampun buatmu selagi aku tidak dilarang melakukannya buatmu.” Maka turunlah firman-Nya, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik…” (Q.S. At-Taubah 113).

    Selain itu ada yang mengkaitkan keadaan orang tua Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan firman Allah ta’ala yang artinya

    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka” (QS Al Baqarah [2]:119)

    Ayat itu tidak terkait dengan kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab.

    Ada beberapa Asbabun Nuzul diriwayatkan namun semuanya mursal (terputus sanadnya)

    Contohnya

    Berkata Abdurrazaq, diceritakan oleh As-Tsauri kepada kami dari Musa bin Ubaidah, dan Muhammad bin Kaab Al-Qurathi, katanya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai bagaimanakah kiranya nasib kedua orang tuaku?” Maka turunlah ayat, “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran, pembawa berita gembira dan pembawa peringatan. Kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang penghuni-penghuni neraka.” (Q.S. Al-Baqarah 119). Maka sampai wafatnya tidak pernah lagi Nabi menyebut-nyebut kedua orang tuanya itu. Riwayat ini mursal.

    Diketengahkan oleh Ibnu Jarir, dari jalur Ibnu Juraij, katanya, disampaikan kepadaku oleh Daud bin Abu Ashim bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Di manakah ibu-bapakku?” Maka turunlah ayat tersebut. Riwayat ini juga mursal

    Perlu diketahui kitab Barzanji ditulis oleh ulama yang sholeh dari keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni  Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a.

    Sayyid Ja’far adalah seorang mufti di Madinah , tentu kita tahu bagaimana kompetensi mufti pada zaman dahulu.

    Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya.

    Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah.

    Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.

    Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi.

    Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah.

    Pada hakikatnya ada di antara kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla dapat mengetahui keadaan manusia yang telah memasuki alam kubur.

    Contoh

    Di dalam syarah atas kitab Dalâ’il, bahwa seorang bertemu Imam Al-Syâfi’i , lalu dikatakan kepadanya, “Apa yang telah diperbuat Allah atas diri Anda?” Imam Al-Syâfi’i menjawab, Allah telah mengampuni diriku.” “Dengan amal apa?” orang itu bertanya lagi. “Dengan lima kalimat yang aku pergunakan untuk memberi shalawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam,” Jawab Imam Al-Syafi’i. “Bagaimana bunyinya?” Lantas beliau mengucapkan shalawat yang artinya “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebanyak jumlah orang yang bershalawat kepadanya,limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebanyak jumlah orang yang tidak bershalawat kepadanya, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana shalawat yang Engkau perintahkan kepadanya, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau suka agar dibacakan shalawat atasnya, dan limpahkanlah pula shalawat kepada Muahammd sebagaimana seharusnya shalawat atasnya.”

    Imam Al-Ghazali di dalam kitab Al-Ihyâ’ menuturkan hal berkut:

    Abu Al-Hasan Al-Syâfi’i menuturkan, “Saya telah bermimpi melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam., lalu saya bertanya, “Ya Rasulullah, dengan apa Al-Syâfi’i diberi pahala dari sebab ucapannya dalam kitab Al-Risâlah: Washallallâhu ‘alâ muhammaddin kullamâ dzakara al-Dzdâkirûn waghafala ‘an dzikrik al-ghâfilûn?’

    Rasulullah meniawab: ‘la tidak ditahan untuk dihisab.”

    Janji Allah ta’ala dalam firmanNya yang artinya

    ….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu’min [40]:40 )

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124)

    Begitupula para Wali Allah dan ulama yang sholeh dari kalangan habib atau sayyidi, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ada di antara mereka yang dizinkan Allah Azza wa Jalla bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dapat menanyakan langsung kepada Beliau tentang keadaan orang tua Beliau.

    Manusia di alam kubur, ditetapkanlah apa yang telah dicapainya selama perjalanannya di dunia menjadi ruh manusia beriman dan menjadi penduduk langit atau ruh manusia durhaka dan mendiami alam kubur yang sempit dan menghimpit.

    Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad dari Al-Bara’ ibn ‘Azib

    Kabar tentang ruh manusia beriman

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Allah berfirman: “Tulislah kitab hamba-Ku ini di dalam ‘Illiyyin lalu kembalikanlah dia ke bumi karena Kami telah menciptakan mereka dari bumi (tanah). Kepadanya Aku kembalikan mereka dan dari dalamnya Aku mengeluarkannya sekali lagi.”

    Ruhnya kemudian dikembalikan ke bumi, lalu datanglah dua orang malaikat yang kemudian mendudukkannya, Mereka lantas bertanya kepadanya, “Siapakah Tuhan Anda ?” Ia menjawab, “Tuhanku adalah Allah .” Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apakah agama Anda?” Ia menjawab, “Agamaku adalah Islam.” Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada Anda?” Jawabnya, “Beliau adalah (Muhammad) Rasulullah.” Malaikat itu bertanya, “Dari mana Anda tahu ?” Ia menjawab, “Aku telah membaca Kitab Allah. Aku mengimani dan membenarkannya.”

    Lalu terdengarlah sebuah panggilan dari langit, “Jika memang hamba-Ku ini benar, maka hamparkanlah untuknya (permadani) dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu yang menuju surga.” Kemudian ruh orang yang beriman dikembalikan ke jasadnya beserta bau wamgi-wangiannya, lalu diluaskan kuburannya sejauh mata memandang.

    Selanjutnya datanglah seorang laki-laki tampan yang berpakaian bagus dan berbau harum. Ia berkata, “Berbahagialah dengan segala yang membahagiakan Anda. Ini adalah hari kebahagiaan Anda yang telah Allah janjikan.” Orang beriman tersebut bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu tampan sekali.” Ia menjawab, “Aku adalah amal saleh Anda.”

    Kabar tentang ruh manusia durhaka

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda Allah berfirman “Tulislah buku catatan amalnya di Sijjin yang berada di bumi paling bawah.” Ruhnya kemudian dilemparkan begitu saja. Kemudian Rasulullah membacakan sebuah Firman Allah yang artinya, “Barangsiapa yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia adalah seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh seekor burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj (22): 31).

    Ruhnya kemudian dikembalikan ke jasadnya. Selanjutnya datanglah kepadanya dua orang malaikat lantas mendudukkannya.

    Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah Tuhanmu?” Ia menjawab, “Ee..ee..ee.. saya tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Ee..ee..ee.. saya tidak tahu.”

    Setelah itu terdedengar sebuah pamggilan dari langit, “Jika ia benar-benar berdusta, hamparkanlah untuknya sebuah hamparan yang terbuat dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu yang menuju ke neraka.” Ketika pintu itu dibuka, maka panas dan racunnya langsung menembus badannya dan kuburannya pun menjadi semakin sempit dan menghimpit badannya sehingga tulang-tulangnya berserakan.

    Ia kemudian didatangi seorang laki-laki yang berwajah buruk, berpakaian buruk dan berbau busuk. Orang itu berkata kepadanya, “Berbahagialah kamu dengan sesuatu yang membinasakanmu. Hari ini adalah hari kesengsaraanmu yang telah Allah janjikan!” Orang yang mati durhaka itu kemudian bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu sangat buruk.” Ia menjawab, “Aku adalah amal burukmu”.

     

    Wassalam

     

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kafirkah orang tua Rasulullah Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top