728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Wednesday, May 9, 2012

    Mereka telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya

    Mereka telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya

     

    حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارِ بْنِ عُثْمَانَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي غَسَّانَ وَابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ أَلَا إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

    Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Al Misma’i, Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar bin Utsman, teks milik Ghassan dan Ibnu Al Mutsanna, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku ayahku dari Qatadah dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy Syakhir dari Iyadh bin Himar Al Mujasyi’i Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada suatu hari dalam khutbah beliau: Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)

    Jadi segala sesuatu itu hukum asalnya dihalalkan atau mubah (boleh) selama Allah ta’ala tidak melarangnya atau mengharamkannya. Hanya Allah ta’ala sajalah yang mengetahui sesuatu itu berdosa atau tidak berdosa.

    Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)

    Namun sayangnya mereka yang mengaku-aku memurnikan tauhid namun kenyataannya mereka telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya seperti  melarang sesuatu yang tidak dilarangNya.

    Contohnya mereka melarang bersholawat dengan sholawat yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

    Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan larangan menggunakan sholawat yang tidak pernah dicontohkannya maupun tidak pernah mewajibkan dan mengatakan seperti “sholawatlah sebagaimana yang aku telah contohkan

    PerintahNya hanyalah bersholawatlah.

    Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS Al Ahzab [33]: 56).

    Pemimpin atau imam ijtihad (imam mujtahid mutlak) seperti Imam Syafi’i ~rahimahullah pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.

    Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu

    atau

    Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.

    Tulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada

    http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/shalawat/allsub/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1.html http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/shalawat/allsub/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2.html http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/shalawat/allsub/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3.html http://pustaka.abatasa.com/pustaka/detail/shalawat/allsub/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4.html

    Begitupula mereka yang mengatakan bahwa  sholawat Nariyah atau Maulid Barzanji, isi atau matannya mengandung kesyirikan menunjukkan mereka  tidak menguasai ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) dan lain lain. Mereka telah terbiasa memahami Al Qur’an dan Hadits dengan makna dzahir atau terjemahannya saja atau hanya dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

    Mereka mencoba memahami isi dari sholawat Nariyah sebagaimana yang dapat kita kutip dari situs  http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html

    ***** awal kutipan *****

    Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah)

    Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar

    ***** akhir kutipan *****

    Marilah kita simak pendapat dari ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Habib Munzir Al Musawa tentang sholawat Nariyah.

    ***** awal kutipan *****

    Saudaraku yg kumuliakan,

    Mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yang bertentangan dengan syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik” adalah kiasan, bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam pembawa Al Qur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

    Ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dihadapan beliau shallallahu alaihi wasallam : “… dan engkau (wahai nabi shallallahu aalaihi wasallam) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yang terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

    Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

    Semua orang yang mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

    Mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau shallallahu alaihi wasallam para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

    Mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

    Demikian saudaraku yang kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a’lam

    Sumber: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=6466#6466

    ***** akhir kutipan *****

    Perlu kita ingat para ulama yang sholeh dari kalangan Ahlul Bait atau para Habib, mereka mendapatkan pengajaran agama dari orangtua-orangtua mereka terdahulu yang tersambung kepada Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari lisannya Rasulullah shallahu alaihi wasallam sehingga lebih terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan aqidahnya.

    Begitupula mereka mengatakan isi atau matan Maulid Barzanji  Syekh Ja’far Al-Barzanji, 1126-1177 H berisikan kesyirikan contohnya

    عَبْدُكَ المِسْكِيْنُ يَرْجُوْ فَضْلَكَ الجَمَّ الغَفِيْرُ

    Dengan makna dzahir , artinya “Hambamu yang pantas dikasihani ini mengharap keutamanmu yang begitu banyak

    Berikut penjelasan ust Ahmad Daerobiy dari http://arbabulhija.blogspot.com/2010/10/allah-swt-tidak-terhalang-untuk.htm

    ***** awal kutipan *****

    Lafadz Abduka (hambamu) menurut ilmu nahwu adalah “mubtada” dan lafadz Al-Miskin (yang pantas dikasihani) adalah “sifat” dari lafadz Abduka. Lafadz Yarju (mengharap) adalah fi’il mudlore dan fail-nya adalah dlomir yang kembali pada Abduka dan menjadi jumlah khobar-mubtada. Lafadz Jammal-ghofiru (banyak yang melimpah) adalah dua “sifat” untuk lafadz fadlika (keutamaanmu).

    Kalimat “Hambamu yang pantas dikasihani”, ini bukan penghambaan hakiki yang masuk ke dalam bentuk menyembah Nabi shallallahu alaihi wasallam. (Ingat !! dalam tata bahasa ada istilah makna hakiki dan makna majazi) hamba di sini hanya penghambaan majazi (tidak hakiki), artinya hanya penghambaan dalam bentuk mengikuti, taat dan patuh saja, sebut sajalah sebagai pengikut.

    Kata Abdun (hamba) dalam bahasa Arab juga artinya budak atau sahaya dari majikan atau tuannya, dan tuannya itu tidak disembah. Ketika hamba dimaknai hakiki (menyembah) akan bertentangan dengan syahadat, “Tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah”.

    Wal-hasil hamba disini artinya adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wasallam dan cinta kepada Allah Swt dianggap dusta apabila tidak disertai dengan mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam Ciinta kepada Allah harus seiring dengan mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam , ini berdasarkan firman Allah ;

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

    Artinya :

    Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi shallallahu alaihi wasallam), niscaya Allah Swt mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran 31)

    Kalimat “Mengharap keutamanmu yang begitu banyak” dalam hal berharap dan harapan itu dijanjikan Allah Swt, bukanlah termasuk syirik, karena tetap berharap kepada Allah, hanya saja tidak dipungkiri (untuk kita manusia) prosesnya akan terjadi melalui sesama makhluk, tidak ada bedanya ketika anda mengalami musibah tenggelam di laut, anda terombang ambing di tengah laut dan melihat tim SAR, apa yang akan anda katakan pada tim SAR?, “Pak tolong kami” mungkin itu jawaban anda, apa itu syirik ?, ini juga maksudnya berharap bantuan (majazi).

    Salah satu keutamaan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah syafa’at (pertolongan) dan ini dijanjikan Allah atau seizin Allah adalah Nabi akan menolong umat pengikutnya, berikut haditsnya ;

    حَدَّثَناَ إِسْمَاعِيْلُ قاَلَ حَدَّثَنِيْ مَالِكْ عَنْ أَبِيْ الزَّناَدِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهَ T قاَلَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجاَبَةٌ يَدْعُوْ بِهاَ وَأُرِيْدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِيْ شَفاَعَةً ِلأُمَّتِيْ فيِ الآَخِرَةِ

    Artinya :

    Kami dapat khabar dari Ismail, kami dapat khabar dari Malik, dari Abi Az-Zanad, dari Al-‘Aroj, dan dari Abi Hurairoh, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ; Setiap Nabi memiliki do’a mustajab (dikabulkan) untuk mereka berdo’a, dan aku ingin persiapkan do’aku agar menjadi syafaat (penolong) kepada umatku di akhirat. (HR. Sohih Bukhori Muslim)

    Dalam firman Allah disebutkan ;

    مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    Artinya :

    Tiada yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) menurut Allah tanpa seizin-Nya ( QS. Al-Baqoroh 255)

    ***** akhir kutipan *****

    Perlu kita ingat Maulid Barzanji ditulis oleh ulama yang sholeh dari keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni  Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a.

    Sayyid Ja’far adalah seorang mufti di Madinah , tentu kita tahu bagaimana kompetensi mufti pada zaman dahulu.

    Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah.

    Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri. Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid

    Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi.

    Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah

    Jadi menjadi mustahil Sayid Ja’far Al-Barzanji seorang mufti di Madinah menuliskan dan menyampaikan sesuatu yang berisikan kesyirikan dalam Maulid Barzanji.

    Oleh karena mereka melarang sesuatu yang tidak dilarangNya berakibat mereka terjerumus menjadi ahli bid’ah.

    Ahli bid’ah adalah mereka yang mengada ada dalam urusan agama atau “urusan kami” atau mengada ada dalam perkara syariat yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla yang menetapkannya yakni melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya serta mereka yang melakukan sunnah sayyiah yakni mencontohkan atau meneladankan atau membuat perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

    Mereka adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga mereka bertasyabuh dengan kaum Nasrani, menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

    Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

    Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“

    Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mereka telah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top