728x90 AdSpace

  • Latest News

    Powered by Blogger.
    Wednesday, January 9, 2013

    Bid’ah dalam urusan agama

    Bid’ah dalam urusan agama

    Apakah yang dimaksud dengan perkara baru (bid’ah) dalam urusan agama atau perkara baru (bid’ah) dalam urusan kami ?

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya (tidak turunkan keterangan padanya) maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya (tidak turunkan keterangan padanya) maka perkara itu tertolak.” (HR Bukhari 2499)

    Perkara baru (bid’ah) dalam urusan agama (urusan kami) adalah perkara baru (bid’ah) dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya dari Allah ta’ala. Contohnya

    1.  I’tiqod yang mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang menunjuki kepada sifat baharu (huduts) atau menunjuki atas tanda kekurangan contohnya bertempat, berpindah atau bergerak sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/08/tidak-terbatas-amal/   atau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/07/mustahil-sifat-baharu/   karena Allah ta’ala bersifat Qadim (terdahulu). Allah ta’ala sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya atau tidak berubah. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir” (QS Al Hadiid [57]:3)

    2.  Berfatwa tanpa ilmu yakni mengada-ada larangan yang tidak dilarangNya, mengharamkan yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya. Selengkapnya telah diuraikan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/14/jangan-membuat-larangan/

    Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Orang muslim yang paling besar dosanya (kejahatannya) terhadap kaum muslimin lainnya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan (dilarang) bagi kaum muslimin, tetapi akhirnya sesuatu tersebut diharamkan (dilarang) bagi mereka karena pertanyaannya.” (HR Bukhari 6745, HR Muslim 4349, 4350)

    Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf [7] : 33)

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)

    Mereka yang mengikuti larangan ulama yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dapat terjerumus kekufuran karena menjadikan ulama-ulama mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

    Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

    Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“

    Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

    Contohnya

    Fatwa ulama yang nyeleneh yang menetapkan haram bagi wanita bersinggungan atau makan pisang dan mentimun untuk mencegah timbulnya gairah sex. diperbolehkan dalam keadaan terpotong-potong. Mungkin maksud ulama tersebut wanita haram memakan pisang dan mentimun dalam keadaan utuh belum dipotong-potong. Silahkan periksa linknya pada http://assawsana.com/portal/pages.php?newsid=58893

    Fatwa ulama mengharamkan kue Samosa, makanan ringan berbentuk segitiga dengan isian daging cincang dan sayur. Alasan, makanan itu terlalu kebarat-baratan dan terlalu berbau Kristen. Linknya pada http://kabar-aneh.blogspot.com/2011/08/kue-ini-jadi-makanan-terlarang-di.html

    Mereka yang mengharamkan tomat dengan alasan tomat yang telah dipotong menjadi dua  maka akan memperlihatkan bentuk mirip salib di bekas potongan buah tomat itu. Linknya pada http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/06/19/m5ut77-makan-tomat-haram-di-lebanon-kok-bisa  atau pada http://www.nowlebanon.com/BlogDetails.aspx?TID=2451&FID=6

    Salah satu tanda-tanda akhir zaman adalah akan bermunculan fitnah dari orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi yakni orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu.

    Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan (HR Bukhari 98)

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bid’ah dalam urusan agama Rating: 5 Reviewed By: Jazari Abdul Hamid
    Scroll to Top